Maya tidak tidur sampai pagi.
Ia duduk di lantai ruang tamu sambil menata satu per satu dokumen dari kotak besi di atas meja.
Semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa yang dilakukan Ratna dan Hendra bukan sekadar mengambil uang pensiun Nenek Rahma.
Mereka sedang membangun sebuah skenario.
Ada salinan surat permohonan evaluasi kejiwaan.
Ada draf pengalihan kuasa.
Ada surat keterangan yang menyebut Nenek Rahma sering kehilangan orientasi, lupa nama anggota keluarga, dan tidak mampu mengelola keuangan.
Namun yang membuat Maya benar-benar marah adalah satu nama yang berulang kali muncul sebagai saksi.
Dr. Farid Prakoso.
Seorang dokter yang ternyata merupakan teman lama Hendra.
Maya langsung mengambil ponselnya.
Ia memotret seluruh dokumen.
Setelah itu, ia mengirimkan salinannya ke akun penyimpanan daring miliknya dan ke email kantor.
Ia tidak mau mengambil risiko satu-satunya bukti hilang.
Pukul enam pagi, Nenek Rahma terbangun.
Ia melihat tumpukan dokumen di meja, lalu wajahnya berubah pucat.
“Kamu menemukan kotak itu?”
Maya menoleh.
“Nenek tahu semua ini masih ada?”
Nenek Rahma mengangguk.
“Dokumen asli sengaja Nenek sembunyikan.”
“Kenapa tidak digunakan sejak dulu?”
Wanita tua itu tertawa hambar.
“Digunakan bagaimana? Kartu identitas Nenek dipegang ibumu. Telepon Nenek mereka ambil. Setiap kali Nenek ingin keluar, pintu dikunci.”
Maya duduk di sampingnya.
“Nilainya berapa sebenarnya?”
Nenek Rahma terdiam.
“Kalau dihitung semuanya, mungkin sekitar delapan puluh miliar.”
Maya merasa tenggorokannya kering.
“Delapan puluh miliar?”
“Sebagian besar bukan uang tunai. Tanah, deposito, dan saham lama.”
Nenek Rahma memandang jendela.
“Itu peninggalan kakekmu. Kami membeli tanah di Cikarang ketika kawasan itu masih belum seperti sekarang.”
Maya mulai memahami mengapa orang tuanya begitu nekat.
Delapan puluh miliar rupiah cukup untuk mengubah siapa pun.
Atau memperlihatkan siapa mereka sebenarnya.
“Ratna tahu nilai sebenarnya?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
“Nenek pernah bilang tanah itu sudah lama dijual.”
Maya menatapnya.
Nenek Rahma tersenyum kecil.
“Nenek sengaja berbohong.”
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, Maya hampir tertawa.
“Nenek ternyata bisa licik juga.”
“Kalau hidup bersama orang yang licik, kadang kita harus belajar menjaga diri.”
Namun senyum itu cepat menghilang.
Pukul tujuh pagi, telepon Maya mulai berdering.
Ratna.
Dua belas kali.
Lalu Hendra.
Kemudian pesan masuk.
Bawa Nenek pulang sekarang juga. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.
Maya tidak menjawab.
Lima menit kemudian, pesan lain datang.
Kalau kamu tidak mengembalikannya, kami akan laporkan kamu ke polisi karena membawa orang lanjut usia tanpa izin keluarga.
Maya memperlihatkannya kepada Nenek Rahma.
Wanita tua itu hanya menghela napas.
“Mereka mulai panik.”
Maya langsung menghubungi seorang teman kuliahnya, Raka, yang kini bekerja sebagai pengacara.
Dua jam kemudian, Raka datang ke apartemen.
Ia membaca semua dokumen tanpa banyak bicara.
Setelah hampir empat puluh menit, ia meletakkan kertas terakhir.
“Maya, ini serius.”
“Aku tahu.”
“Bukan cuma soal penguasaan uang.”
Raka menunjuk beberapa surat.
“Kalau dokumen ini asli, orang tuamu sudah mencoba membangun dasar hukum agar Nenek Rahma dinyatakan tidak cakap secara hukum.”
Nenek Rahma menggenggam ujung bajunya.
“Kalau mereka berhasil?”
Raka menatapnya.
“Mereka bisa meminta penetapan wali atau pengampu untuk mengelola aset Nenek.”
Maya merasa dadanya panas.
“Jadi selama ini mereka sengaja membuat Nenek terlihat pikun?”
“Bisa jadi.”
Raka kemudian mengambil satu dokumen lain.
“Dan ada masalah yang lebih besar.”
Ia menunjuk satu lembar fotokopi surat kuasa.
“Tanda tangan Nenek di sini tampaknya berbeda.”
Nenek Rahma melihatnya.
“Itu bukan tanda tangan saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Maya menatap Raka.
“Pemalsuan?”
“Sangat mungkin.”
Raka langsung menyarankan dua hal.
Pertama, memindahkan dokumen asli ke tempat aman.
Kedua, membawa Nenek Rahma menjalani pemeriksaan medis independen untuk membuktikan kondisi kognitifnya.
Mereka bergerak cepat.
Siang itu, Nenek Rahma menjalani pemeriksaan di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan.
Hasil awal menunjukkan ia sadar penuh, mampu memahami pertanyaan, mengenali orang, waktu, dan tempat, serta dapat membuat keputusan sendiri.
Dokter bahkan berkata perubahan kecil pada daya ingatnya masih wajar untuk usianya.
“Dia tidak menunjukkan tanda gangguan kognitif berat,” ujar dokter.
Maya hampir menangis karena lega.
Namun ketika mereka keluar dari rumah sakit, Hendra sudah menunggu di lobi.
Maya berhenti.
Hendra mengenakan kemeja putih dan celana gelap.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Kita perlu bicara.”
Maya berdiri di depan Nenek Rahma.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Hendra menatap Nenek.
“Ibu, ayo pulang.”
Nenek Rahma mundur selangkah.
“Tidak.”
Hendra menahan senyum.
“Rumah Ibu ada di Bintaro.”
“Itu rumahku,” kata Nenek Rahma.
Maya menoleh.
“Apa?”
Hendra langsung menatap tajam.
Nenek Rahma melanjutkan.

“Tanah dan rumah itu atas nama saya.”
Maya merasa kepalanya berdengung.
Selama ini ia pikir rumah besar di Bintaro milik Ratna dan Hendra.
Hendra maju.
“Ibu sedang bingung.”
Nenek Rahma berkata tegas, “Saya tidak bingung.”
Orang-orang mulai melihat ke arah mereka.
Hendra menurunkan suara.
“Jangan buat malu keluarga.”
Nenek Rahma menatapnya.
“Kamu sudah melakukan itu sendiri.”
Hendra kehilangan kendali untuk sesaat.
“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?”
Maya menjawab, “Kebenaran.”
Hendra tertawa.
“Kebenaran tidak membayar biaya hidup.”
Maya menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi pemalsuan tanda tangan bisa membuat orang masuk penjara.”
Wajah Hendra berubah.
Hanya sedikit.
Namun cukup.
Ia tahu kotak itu telah dibuka.
Malam itu, Ratna datang ke apartemen sendirian.
Ia menangis sejak pintu dibuka.
“Maya, Mama cuma ingin bicara.”
Maya membiarkannya masuk.
Ratna melihat Nenek Rahma duduk di sofa.
“Ibu.”
Nenek tidak menjawab.
Ratna kemudian berlutut di depannya.
“Mama salah.”
Maya hampir tidak percaya.
“Apa?”
Ratna menangis.
“Mama cuma takut kehilangan rumah.”
Nenek Rahma memandangnya lama.
“Rumah?”
Ratna mengangguk.
“Hendra terlilit utang.”
Maya menegang.
“Utang apa?”
“Bisnis properti.”
Ratna menutup wajah.
“Dia pinjam dari banyak orang. Ada proyek yang gagal. Bunganya terus jalan.”
“Berapa?”
Ratna tidak menjawab.
“Berapa, Ma?”
“Dua puluh tiga miliar.”
Maya terdiam.
Kini semuanya semakin jelas.
Hendra membutuhkan aset.
Dan Nenek Rahma adalah jalan tercepat.
Ratna melanjutkan dengan suara putus-putus.
“Awalnya Hendra cuma mau pakai rumah sebagai jaminan.”
Nenek berkata, “Tanpa izin saya.”
Ratna menangis.
“Lalu dia tahu soal tanah Cikarang.”
“Dari siapa?”
Ratna menunduk.
“Mama.”
Nenek Rahma menutup mata.
Pengkhianatan itu tampaknya jauh lebih menyakitkan daripada kamar pengap atau piring seng.
“Jadi anakku sendiri yang memberitahunya.”
Ratna memegang tangan ibunya.
“Saya cuma panik.”
Nenek menarik tangannya.
“Lalu kalian bilang saya gila.”
Ratna terdiam.
“Jawab.”
“Mama pikir cuma sementara.”
“Berapa lama sementara? Sampai saya mati?”
Ratna mulai terisak.
Maya merasa marah, tapi bagian dirinya yang masih melihat Ratna sebagai ibu ikut hancur.
“Ma, siapa yang memalsukan tanda tangan Nenek?”
Ratna langsung membeku.
Keheningan itu menjawab semuanya.
“Hendra?”
Ratna mengangguk perlahan.
“Dan dokter Farid?”
Ratna mulai menangis lebih keras.
“Dia dibayar.”
Maya menatap Nenek.
Nenek Rahma justru terlihat sangat tenang.
Terlalu tenang.
“Besok kamu bawa Hendra ke sini,” katanya.
Ratna mengangkat wajah.
“Ibu?”
“Suruh dia datang jam sepuluh.”
Maya hendak memprotes.
Namun Nenek menggenggam tangannya.
“Percaya sama Nenek.”
Keesokan paginya, Hendra datang.
Ia tampak kesal.
“Apa ini?”
Nenek Rahma duduk di ruang tamu dengan pakaian rapi.
Di depannya terdapat map besar.
Ratna duduk di sudut.
Maya berdiri di dekat jendela.
Raka ada di ruangan sebelah.
Hendra belum tahu.
Nenek berkata, “Kamu ingin aset saya?”
Hendra menyipitkan mata.
“Apa maksud Ibu?”
“Jangan berpura-pura.”
Nenek mendorong satu map ke meja.
“Tanah Cikarang. Rumah Bintaro. Investasi.”
Hendra menatap map itu.
“Apa syaratnya?”
Maya hampir tidak percaya betapa cepatnya ia bereaksi.
Tidak ada penolakan.
Tidak ada pura-pura tersinggung.
Hanya keserakahan.
Nenek tersenyum tipis.
“Akui semuanya.”
Hendra tertawa.
“Ibu sedang merekam saya?”
Nenek tidak menjawab.
Hendra berdiri.
“Saya tidak sebodoh itu.”
Ia berbalik hendak pergi.
Namun Nenek berkata, “Tanah Cikarang sudah saya hibahkan.”
Hendra berhenti.
“Apa?”
“Enam bulan lalu.”
Wajahnya berubah.
“Ke siapa?”
Nenek menatapnya.
“Yayasan.”
Maya ikut terkejut.
Ia tidak tahu.
Nenek melanjutkan.
“Yayasan yang mengelola rumah aman untuk lansia terlantar.”
Hendra tertawa pendek.
“Itu bohong.”
Nenek membuka dokumen asli.
Ada stempel notaris.
Tanggal.
Tanda tangan.
Semua lengkap.
Hendra mengambil kertas itu dengan tangan gemetar.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak?”
“Tanah itu milik keluarga.”
Nenek Rahma berdiri perlahan.
Untuk pertama kalinya, sosoknya tidak terlihat seperti wanita lemah yang dikurung di kamar belakang.
Ia terlihat seperti pemilik hidupnya sendiri.
“Tidak.”
Suaranya tenang.
“Itu milik saya.”
Hendra membanting dokumen ke meja.
“Anda menghancurkan kami!”
Nenek menatapnya.
“Saya?”
Hendra kehilangan kendali.
“Kalau Anda sejak awal mau tanda tangan, semua utang bisa selesai!”
Nenek berkata, “Jadi kamu mengurung saya karena saya tidak mau?”
Hendra diam.
“Mengambil kartu ATM saya?”
Diam.
“Memalsukan tanda tangan?”
“Cukup!”
“Membayar dokter untuk menyebut saya tidak waras?”
Hendra membentak, “Ya!”
Ruangan seketika sunyi.
Hendra baru sadar.
Terlambat.
Raka keluar dari kamar samping.
Di belakangnya ada dua petugas kepolisian yang sebelumnya telah dihubungi berdasarkan laporan awal.
Wajah Hendra pucat.
“Kalian menjebak saya.”
Nenek Rahma menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap menantunya.
“Kamu hanya akhirnya bicara jujur.”
Penyelidikan berjalan selama beberapa bulan.
Dr. Farid mengakui menerima pembayaran untuk membuat catatan medis yang menyesatkan.
Beberapa dokumen Hendra terbukti palsu.
Transaksi dari rekening Nenek Rahma juga diperiksa.
Hendra akhirnya menghadapi tuntutan terkait pemalsuan dokumen, penyalahgunaan aset, dan tindakan lain yang ditemukan penyidik.
Ratna tidak ikut dipenjara.
Namun hubungannya dengan ibunya berubah selamanya.
Nenek Rahma tidak mengusirnya sepenuhnya dari hidupnya.
Ia juga tidak langsung memaafkan.
“Ada luka yang tidak sembuh hanya karena orang bilang maaf,” katanya kepada Maya.
Rumah Bintaro kemudian dijual.
Bukan untuk membayar utang Hendra.
Nenek Rahma menggunakan sebagian hasilnya untuk memperbesar yayasan lansia yang selama ini diam-diam ia dukung.
Ia pindah ke apartemen kecil dekat Maya.
“Kenapa tidak tinggal denganku saja?” tanya Maya.
Nenek tersenyum.
“Karena Nenek baru saja mendapatkan kembali kebebasan. Jangan langsung suruh Nenek numpang lagi.”
Maya tertawa.
Beberapa bulan kemudian, mereka mengunjungi lahan di Cikarang.
Sebagian area sudah mulai dibangun menjadi pusat layanan lansia.
Ada taman.
Ruang terapi.
Klinik kecil.
Dan kamar-kamar dengan jendela besar.
Nenek Rahma berdiri lama di depan salah satu bangunan.
Maya memegang lengannya.
“Nenek menyesal?”
“Karena memberikan tanahnya?”
Maya mengangguk.
Nenek menggeleng.
“Harta paling berbahaya bukan yang sedikit.”
Ia menatap bangunan di depannya.
“Tapi yang cukup besar untuk membuat orang lupa siapa dirinya.”
Maya terdiam.
Nenek lalu tersenyum.
“Lagipula, tanah tidak pernah memeluk Nenek ketika Nenek takut.”
Ia menoleh kepada cucunya.
“Kamu yang melakukannya.”
Mata Maya mulai panas.
Pada Malam Natal tahun berikutnya, mereka tidak mengadakan pesta besar.
Hanya makan malam sederhana di apartemen.
Ada Maya.
Nenek Rahma.
Raka.
Beberapa penghuni lansia dari yayasan.
Dan Ratna.
Ratna datang paling akhir.
Ia membawa satu kotak kue.
Berdiri canggung di depan pintu.
Nenek Rahma melihatnya cukup lama.
Kemudian berkata, “Masuklah.”
Ratna menangis.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada penyelesaian ajaib.
Namun kursi tetap disediakan.
Bagi Maya, itu sudah cukup untuk permulaan.
Setelah makan malam, Nenek Rahma meminta satu piring kecil.
Maya melihatnya.
Piring seng lama.
Piring yang dulu digunakan Ratna untuk menyuruhnya makan sendirian di dapur.
Maya terkejut.
“Kenapa Nenek masih simpan?”
Nenek Rahma tersenyum.
Ia menaruh piring itu di rak kaca.
“Supaya Nenek ingat.”
“Ingat apa?”
Wanita tua itu menatap seluruh ruangan.
Bahwa seseorang bisa punya rumah besar, rekening penuh, dan keluarga lengkap, tapi tetap hidup seperti tahanan.
Ia lalu memandang Maya.
“Dan kadang, yang kita butuhkan untuk keluar bukan lebih banyak uang.”
Maya menggenggam tangannya.
Nenek Rahma tersenyum.
“Hanya satu orang yang percaya bahwa kita masih pantas diperlakukan sebagai manusia.”
