SUAMI PAMIT DINAS LUAR KOTA SELAMA 3 HARI, TAPI SAAT AKU MENGANTAR KUE KE RUMAH JANDA SAHABATNYA, JUSTRU DIA YANG MEMBUKA PINTU SAMBIL MEMEGANG SEGELAS ANGGUR!

Suara air dari kamar mandi masih mengalir ketika Maya memotret seluruh percakapan itu dengan ponselnya sendiri.

Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru terasa lebih jernih daripada sebelumnya.

Dia tidak tahu siapa ayah dari bayi yang disebut Anita. Dia juga belum tahu apa yang sebenarnya ditemukan Rian sebelum meninggal.

Namun Maya memahami satu hal.

Jika Dion bisa berbohong tentang perjalanan dinas selama tiga hari, menyimpan hubungan dengan istri sahabatnya, lalu dengan tenang menatap wajah Maya seolah tidak terjadi apa-apa, maka bertanya langsung kepadanya hanya akan memberinya kesempatan untuk menghapus bukti.

Maya menutup aplikasi pesan, meletakkan ponsel Dion persis seperti semula, lalu keluar dari kamar.

Beberapa menit kemudian Dion muncul dengan rambut masih basah.

“Kamu bangun cepat,” katanya.

Maya menuangkan kopi ke dalam cangkir.

“Aku sulit tidur.”

Dion mendekat dan mencium keningnya.

Gerakan itu membuat perut Maya terasa mual.

“Aku tahu kamu masih memikirkan kemarin. Nanti malam kita bicara lagi, ya?”

Maya tersenyum tipis.

“Tidak perlu. Aku percaya padamu.”

Dion terdiam sepersekian detik.

Kemudian bahunya terlihat lebih rileks.

Itulah saat Maya tahu bahwa suaminya memang sedang takut.

Bukan takut kehilangan dirinya.

Melainkan takut ketahuan.

Pukul 09.30, setelah Dion berangkat ke kantor, Maya menelepon satu-satunya orang yang mungkin mengetahui tentang sesuatu yang ditinggalkan Rian.

Namanya Arman.

Adik kandung Rian.

Arman tinggal di Depok dan bekerja sebagai konsultan pajak. Maya hanya beberapa kali bertemu dengannya dalam acara keluarga.

Ketika Maya menyebut nama Rian dan mengatakan ingin menanyakan sesuatu yang penting, suara Arman langsung berubah serius.

“Kita jangan bicara lewat telepon.”

Mereka bertemu satu jam kemudian di sebuah kedai kopi kecil di Cikini.

Arman datang membawa tas selempang hitam.

Wajahnya terlihat lelah.

“Ada apa, Mbak Maya?”

Maya tidak berputar-putar.

“Apakah Rian meninggalkan sesuatu untuk Dion sebelum meninggal?”

Arman membeku.

Tangannya yang hendak mengambil cangkir berhenti di udara.

“Dari mana Mbak tahu?”

Pertanyaan itu membuat dada Maya semakin sesak.

“Jadi memang ada?”

Arman menatap sekeliling sebelum merendahkan suaranya.

“Tiga hari sebelum meninggal, Mas Rian datang ke rumah saya. Dia kelihatan kacau. Dia menyerahkan sebuah flashdisk dan satu amplop.”

“Isinya?”

“Saya tidak tahu semuanya. Mas Rian cuma bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, saya harus memberikan amplop itu kepada seseorang bernama Maya Kirana.”

Maya merasa darah di wajahnya menghilang.

“Kepada saya?”

Arman mengangguk.

“Masalahnya, setelah pemakaman, amplop itu hilang.”

“Hilang bagaimana?”

“Seseorang masuk ke rumah saya. Tidak ada barang berharga yang diambil. Hanya laci tempat amplop itu disimpan yang dibongkar.”

Maya langsung teringat pesan Anita.

Rian meninggalkan sesuatu untukmu sebelum meninggal.

“Apa flashdisknya ikut hilang?”

Arman perlahan membuka tasnya.

“Tidak.”

Dia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna abu-abu.

“Karena ini saya simpan di tempat lain.”

Maya menatap benda itu lama sekali.

“Mbak yakin mau melihatnya?”

Maya mengambil napas.

“Saya sudah hidup sebelas tahun dengan seseorang yang mungkin tidak pernah benar-benar saya kenal. Saya rasa saya berhak tahu.”

Mereka meminjam ruang rapat kecil di sebuah coworking space tidak jauh dari sana.

Arman memasukkan flashdisk ke laptopnya.

Di dalamnya terdapat beberapa folder.

Rekening.

Kontrak.

Rekaman.

Dan sebuah folder dengan nama Maya.

Maya membukanya.

Ada rekaman suara Rian yang dibuat sembilan hari sebelum kematiannya.

Suara Rian terdengar lemah tetapi jelas.

“Maya, kalau kamu mendengar ini, berarti aku mungkin sudah terlambat menjelaskan semuanya secara langsung. Maaf karena selama bertahun-tahun aku diam.”

Maya menahan napas.

Rian melanjutkan.

“Aku menemukan bahwa Dion menggunakan perusahaan tempat kami menjadi pemegang saham untuk memindahkan uang melalui vendor fiktif. Awalnya aku pikir hanya masalah manipulasi laporan. Tapi kemudian aku menemukan tanda tanganku dipakai dalam beberapa dokumen tanpa izin.”

Arman langsung menoleh kepada Maya.

Maya tidak bergerak.

Suara Rian kembali terdengar.

“Aku menegur Dion. Dia bilang semua itu hanya sementara dan uang akan dikembalikan. Aku tidak percaya. Aku mulai mengumpulkan bukti.”

Rekaman berhenti beberapa detik.

Kemudian suara Rian terdengar lebih berat.

“Lalu aku menemukan hubungan Dion dengan Anita.”

Maya menutup mulutnya.

Meskipun sudah menduga, mendengar nama itu langsung dari Rian terasa seperti pukulan kedua.

“Aku tidak tahu kapan hubungan mereka dimulai. Anita mengaku semuanya terjadi ketika pernikahan kami sedang bermasalah. Aku marah kepada mereka berdua. Tapi kemudian Anita mengatakan bahwa dia hamil.”

Maya menatap layar tanpa berkedip.

“Dia bilang bayi itu anak Dion.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Arman memejamkan mata.

Maya menggenggam tepi meja.

Tetapi rekaman belum selesai.

“Aku berniat memberi tahu Maya. Namun sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu. Karena Dion ternyata melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada berselingkuh.”

Folder berikutnya berisi laporan transaksi.

Maya tidak memahami seluruh detailnya, tetapi Arman memahami.

Dia membaca beberapa dokumen dengan wajah semakin tegang.

“Ini serius sekali.”

“Apa?”

“Dion memindahkan dana perusahaan menggunakan perusahaan vendor milik orang lain. Salah satunya terdaftar atas nama Anita.”

Maya menatapnya.

“Anita terlibat?”

“Sepertinya begitu.”

Ada transaksi bernilai miliaran rupiah selama hampir dua tahun.

Rian ternyata mengetahui aliran dana itu beberapa minggu sebelum meninggal.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa dokumen menunjukkan bahwa Dion berencana menjadikan Rian sebagai pihak yang bertanggung jawab apabila audit internal menemukan penyimpangan.

Maya akhirnya mengerti mengapa Dion tiba-tiba mengaku harus pergi ke Surabaya untuk mengawasi audit divisi logistik.

Audit itu nyata.

Yang palsu adalah keberangkatannya.

Dia tetap berada di Jakarta karena sedang berusaha membereskan sesuatu sebelum auditor menemukan semuanya.

“Kita harus membawa ini ke polisi,” kata Arman.

“Belum.”

Arman terkejut.

“Mbak Maya, ini bukan lagi masalah rumah tangga.”

“Aku tahu.”

Maya menatap rekaman terakhir.

“Tapi aku ingin tahu kenapa Rian meninggal tepat setelah menemukan semua ini.”

Arman terdiam.

Maya tidak menuduh siapa pun.

Namun pertanyaan itu terlalu besar untuk diabaikan.

Mereka sepakat menyerahkan salinan dokumen kepada pengacara keluarga Arman dan membuat cadangan di beberapa tempat.

Sore harinya Maya pulang seperti biasa.

Dion sudah berada di apartemen.

Aneh sekali, laki-laki itu bahkan membawa bunga.

“Untukmu.”

Maya menerima buket itu.

“Makasih.”

Dion memeluknya.

“Aku benar-benar tidak ingin masalah kecil kemarin merusak kita.”

Masalah kecil.

Dua kata itu membuat Maya hampir tertawa.

Malam itu mereka makan bersama.

Dion bercerita tentang kantor.

Tentang rapat.

Tentang audit.

Tentang betapa stresnya dia.

Maya mendengarkan dengan tenang.

Setelah makan, Maya sengaja berkata, “Aku kepikiran Anita. Mungkin besok aku mau menemuinya dan minta maaf karena sudah salah paham.”

Sendok Dion berhenti bergerak.

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Dia masih berduka. Jangan menambah bebannya.”

Maya mengangguk.

“Baiklah.”

Pukul 23.40 Dion tertidur.

Maya menunggu sampai napas suaminya teratur.

Kemudian dia mengambil kunci mobil dan turun ke basement.

Dia tidak pergi jauh.

Dia hanya memasang perekam suara kecil di bawah kursi penumpang mobil Dion.

Keesokan siangnya, Dion keluar kantor selama hampir dua jam.

Ketika Maya mengambil kembali rekaman itu sore hari, dia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.

Suara Anita terdengar lebih dulu.

“Arman masih punya flashdisknya.”

Dion mengumpat pelan.

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku dengar dia bertanya kepada pengacara Rian.”

“Kamu seharusnya mengambil semuanya waktu itu.”

“Aku sudah mengambil amplopnya.”

“Dan kamu bilang di dalamnya tidak ada salinan lain.”

“Aku tidak tahu soal flashdisk.”

Kemudian terdengar suara Dion menghantam sesuatu.

“Kalau bukti itu sampai ke Maya, selesai semuanya.”

Anita mulai menangis.

“Aku tidak peduli soal uangmu lagi. Aku cuma ingin tahu apa yang akan kamu lakukan tentang anak ini.”

Dion menjawab begitu dingin hingga Maya tidak akan pernah melupakannya.

“Jangan pakai bayi itu untuk menekanku.”

“Dia anakmu.”

“Belum tentu.”

Anita terdiam.

Kemudian suaranya berubah.

“Kamu sendiri yang bilang Rian tidak mungkin punya anak.”

Dion tertawa pendek.

“Dan kamu percaya?”

Rekaman berakhir beberapa menit kemudian.

Maya duduk sendirian di dalam mobilnya.

Selama ini dia mengira Anita adalah perempuan yang bersama-sama dengan Dion menghancurkan pernikahannya.

Sekarang dia mulai melihat sesuatu yang lain.

Anita mungkin memang bersalah karena berselingkuh.

Namun sepertinya Dion juga sedang mempermainkannya.

Dua hari kemudian Maya akhirnya menemui Anita.

Bukan di rumah Menteng.

Mereka bertemu di sebuah restoran yang ramai di Grand Indonesia.

Anita datang dengan wajah pucat.

“Aku tidak tahu kenapa kamu masih mau bertemu denganku.”

Maya meletakkan ponselnya di atas meja.

“Aku tahu tentang bayi itu.”

Anita langsung membeku.

“Aku juga tahu tentang perusahaan yang memakai namamu.”

Mata Anita mulai berkaca-kaca.

“Dion bilang semuanya legal.”

“Rian tidak berpikir begitu.”

Maya menunjukkan foto beberapa dokumen dari flashdisk.

Anita menutup mulut.

Untuk pertama kalinya Maya melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah perempuan itu.

“Aku tidak tahu,” bisiknya.

“Kamu menandatangani dokumen.”

“Dion bilang itu untuk investasi.”

“Kamu mencuri amplop dari rumah Arman?”

Anita menangis.

“Aku mengambilnya karena Dion menyuruhku.”

“Kenapa?”

“Dia bilang Rian mau menghancurkan hidup kami.”

Maya menatapnya lama.

“Dan kamu percaya kepada laki-laki yang berselingkuh dengan istri sahabatnya?”

Anita tidak mampu menjawab.

Lalu Maya menanyakan hal yang paling berat.

“Apakah Dion ada bersama Rian pada hari Rian meninggal?”

Anita mengangkat kepala perlahan.

“Ada.”

Maya merasa tengkuknya dingin.

“Di mana?”

“Di kantor Rian.”

Anita mengaku Rian dan Dion bertengkar sore itu.

Rian mengancam akan menyerahkan dokumen kepada auditor dan polisi.

Dion pulang sekitar satu jam kemudian.

Malamnya, kondisi Rian tiba-tiba memburuk dan dia dibawa ke rumah sakit.

Tidak ada bukti bahwa Dion menyebabkan kematian Rian.

Dan Maya tidak mau membuat tuduhan tanpa dasar.

Namun fakta bahwa Dion menyembunyikan pertemuan terakhir itu membuat penyelidikan menjadi semakin penting.

Keesokan harinya, Arman menyerahkan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan auditor perusahaan.

Dion belum mengetahui apa pun.

Maya pulang dan menyiapkan makan malam seperti biasa.

Pukul 19.10 bel apartemen berbunyi.

Dion baru saja duduk di meja makan.

“Ada tamu?” tanyanya.

Maya berdiri.

“Mungkin.”

Ketika pintu dibuka, dua orang dari bagian investigasi perusahaan berdiri bersama pengacara Arman.

Wajah Dion langsung berubah.

“Ada apa ini?”

Salah seorang investigator menunjukkan surat resmi.

“Kami perlu berbicara dengan Bapak mengenai sejumlah transaksi perusahaan dan penggunaan identitas beberapa vendor.”

Dion menoleh kepada Maya.

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Maya melihat kepanikan telanjang di wajah suaminya.

“Kamu melakukan apa?”

Maya tidak menjawab.

Dion berdiri cepat.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang bisnis ini.”

“Benar,” kata Maya tenang. “Tapi Rian tahu.”

Wajah Dion memucat.

Maya melanjutkan.

“Dan dia meninggalkan cukup banyak bukti.”

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Audit menemukan sejumlah transaksi bermasalah yang terkait dengan Dion dan beberapa pihak lain.

Soal kematian Rian diperiksa kembali karena informasi baru mengenai konflik bisnis mereka, meskipun tidak pernah ditemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Dion bertanggung jawab atas kematian sahabatnya.

Namun kejahatan finansial adalah perkara lain.

Jejak transaksi, dokumen digital, rekaman komunikasi, dan pemalsuan tanda tangan tidak mudah dijelaskan dengan cerita yang rapi.

Dion kehilangan jabatannya.

Kasusnya kemudian masuk proses hukum.

Anita bekerja sama dengan penyelidik dan menyerahkan dokumen yang masih dimilikinya.

Beberapa bulan kemudian, hasil pemeriksaan kehamilannya mengungkap kejutan terakhir.

Bayi itu bukan anak Dion.

Anita datang menemui Maya setelah mendapatkan hasil pemeriksaan.

Matanya sembap.

“Rian ternyata ayahnya.”

Maya terdiam cukup lama.

Anita menangis.

Dokter yang pernah menangani Rian kemudian menjelaskan bahwa dugaan lama mengenai kesuburannya tidak pernah berarti kemungkinan memiliki anak benar-benar nol.

Anita sendiri mengakui bahwa hubungannya dengan Dion baru dimulai setelah dia sudah hamil, meskipun saat itu dia belum mengetahuinya.

Dion rupanya memanfaatkan ketakutan Anita.

Dia membuat Anita percaya bahwa bayi itu miliknya agar perempuan itu tetap berada di bawah kendalinya dan mau membantu menutupi dokumen perusahaan.

Maya tidak memaafkan Anita.

Setidaknya tidak saat itu.

Ada luka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf.

Namun ketika melihat perempuan itu memegang hasil pemeriksaan sambil menangis karena mengetahui bahwa sebagian kecil dari Rian ternyata masih hidup di dalam dirinya, kemarahan Maya berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Setahun kemudian, Maya resmi bercerai.

Dia pindah dari apartemen yang pernah menjadi rumah mereka selama sebelas tahun.

Pada hari terakhir sebelum menyerahkan kunci, Maya menemukan nampan perak yang dulu digunakannya untuk membawa bolu kukus ke rumah Anita.

Nampan itu terselip di bagian belakang lemari dapur.

Maya memegangnya sambil tersenyum kecil.

Betapa anehnya hidup.

Dia datang ke rumah seorang janda dengan membawa kue karena merasa kasihan kepadanya.

Dia pulang dengan pernikahan yang runtuh.

Namun justru dari keruntuhan itu, dia menemukan kebenaran yang selama bertahun-tahun disembunyikan darinya.

Beberapa minggu kemudian Arman memberikan sebuah amplop kepada Maya.

Amplop asli yang dicuri Anita dari rumahnya.

Anita akhirnya menyerahkannya kembali kepada penyidik.

Di dalamnya hanya terdapat satu lembar surat tulisan tangan Rian.

Maya membacanya sendirian.

Rian meminta maaf karena terlalu lama diam.

Dia menulis bahwa kebohongan sering bertahan bukan karena pelakunya sangat pintar, tetapi karena orang-orang baik terlalu lama memberikan kepercayaan tanpa batas.

Pada kalimat terakhir, Rian menulis sesuatu yang membuat Maya meneteskan air mata.

Jika suatu hari kebenaran membuat hidupmu runtuh, jangan salahkan kebenaran. Yang menghancurkan hidupmu adalah kebohongan yang sudah terlalu lama dibiarkan berdiri.

Maya melipat surat itu kembali.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia tidak merasa kehilangan sebelas tahun hidupnya.

Dia hanya merasa akhirnya terbebas dari sebelas tahun kebohongan.

Dan semuanya bermula dari sepiring bolu kukus keju yang tidak pernah sempat dimakan siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang