BAYI BERUSIA 7 HARI DEMAM TINGGI DAN ISTRI PINGSAN DI KAMAR! SAAT DOKTER MEMBUKA SELIMUT, BUKTI KEKEJAMAN IBU MERTUA TERBONGKAR DAN POLISI LANGSUNG DATANG!

Rendy berhenti tepat di ambang pintu.

Napasnya seolah terputus.

Nisa terbaring di sisi tempat tidur dengan wajah pucat dan rambut basah oleh keringat. Tubuhnya tampak terlalu lemah bahkan untuk mengangkat kepala.

Di sampingnya, Arka menangis lirih.

Tangisan bayi berusia tujuh hari itu bukan lagi suara keras seperti yang biasa Rendy dengar ketika anaknya lapar. Suaranya kecil, serak, dan sesekali berhenti terlalu lama.

“Nisa!”

Rendy berlari mendekat.

Kelopak mata Nisa bergerak perlahan.

“Mas…”

Hanya satu kata itu yang berhasil keluar.

Rendy menyentuh dahi Arka dan langsung menarik tangannya.

Panas.

Sangat panas.

“Kenapa kalian tidak dibawa ke rumah sakit?”

Nisa mencoba menjawab, tetapi suaranya nyaris tidak terdengar.

Rendy kemudian melihat meja kecil di samping tempat tidur.

Di sana terdapat botol minum kosong.

Kotak makanan masih tertutup.

Lembar petunjuk dari rumah sakit yang dulu ditempel Rendy di dinding justru terlipat di bawah sebuah tas.

Ia langsung menggendong Arka.

“Nisa, kita ke rumah sakit.”

Ketika hendak membantu istrinya berdiri, Nisa kehilangan kesadaran.

Rendy panik.

Ia menghubungi ambulans sambil berteriak meminta Bu Ratna membantu.

Namun ibunya justru muncul di depan pintu dengan wajah kesal.

“Tidak usah bikin heboh. Bayi memang kadang panas.”

Rendy menatap ibunya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

“Arka tujuh hari, Bu.”

“Terus?”

“Dia demam tinggi!”

Bu Ratna mendecakkan lidah.

“Dulu kamu waktu kecil juga sering begitu. Tidak semua sedikit-sedikit dibawa ke dokter.”

Sisca muncul dari ruang tamu sambil membawa ponsel.

“Kak, jangan terlalu panik. Nanti tetangga dengar.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Rendy runtuh.

“Yang kalian pikirkan sekarang tetangga?”

Tidak ada yang menjawab.

Ketika ambulans tiba, Rendy ikut naik sambil menggendong Arka.

Ia bahkan tidak menoleh lagi kepada ibu dan adiknya.

Di rumah sakit itulah dokter Amanda membuka selimut Arka, memeriksa kondisinya, lalu segera meminta tim medis bertindak.

“Bayi sekecil ini dengan demam tinggi harus diperiksa serius,” katanya.

Rendy berdiri di samping ranjang dengan wajah kosong.

“Dia akan baik-baik saja, Dok?”

“Kami sedang menanganinya.”

Dokter Amanda kemudian beralih memeriksa Nisa.

Beberapa menit berlalu sebelum dokter itu kembali menghampiri Rendy.

“Kapan terakhir kali istri Anda makan dengan baik?”

Rendy terdiam.

“Saya tidak tahu. Saya sedang keluar kota.”

“Minum?”

“Saya juga tidak tahu.”

Dokter Amanda menatapnya tajam, tetapi tidak menghakimi.

“Apakah setelah melahirkan dia mendapat bantuan untuk makan, minum, beristirahat, dan memeriksa kondisinya?”

Rendy meremas kedua tangannya.

“Ibu saya bilang semua baik-baik saja.”

Dokter Amanda mengambil napas panjang.

“Kondisi istri Anda menunjukkan bahwa pemulihannya tidak terpantau dengan baik. Kami juga menemukan tanda bahwa dia kemungkinan kekurangan cairan dan kelelahan berat.”

Rendy merasa lututnya lemas.

Kemudian dokter itu bertanya lagi.

“Apakah ada orang di rumah yang sengaja mencegah mereka mendapatkan pertolongan medis?”

Pertanyaan itu membuat Rendy langsung teringat pesan suara ibunya.

Istrimu cuma drama supaya kamu cepat pulang.

Ia mengeluarkan ponselnya.

“Saya punya rekamannya.”

Dokter Amanda meminta Rendy menyimpan semua bukti dan tidak menghapus apa pun.

Petugas sosial rumah sakit datang sekitar dua puluh menit kemudian.

Tak lama setelah itu, dua anggota polisi tiba.

Rendy sempat kebingungan.

“Kenapa polisi?”

Petugas sosial menjawab dengan tenang.

“Karena ada bayi baru lahir dan ibu pascapersalinan yang berada dalam kondisi berisiko. Kami perlu memastikan apakah ini murni kelalaian atau ada tindakan yang disengaja.”

Rendy menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa persoalan di rumahnya mungkin jauh lebih serius daripada sekadar ibu mertua yang suka berbicara kasar.

Polisi mulai mengumpulkan keterangan.

Rendy menyerahkan pesan suara dari Bu Ratna.

Ia juga memperlihatkan riwayat panggilan.

Setiap tiga jam selama berada di Banyuwangi, ia menelepon.

Sebagian besar hanya berlangsung satu sampai dua menit.

Jawabannya selalu sama.

Semua baik-baik saja.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Pada hari kedua, terdapat enam panggilan tidak terjawab dari Nisa.

Rendy tidak pernah melihatnya.

Ia membuka riwayat notifikasi.

Nomor Nisa ternyata sempat diblokir selama hampir satu hari.

Rendy mengerutkan kening.

“Saya tidak pernah memblokir istri saya.”

Salah seorang polisi mencatatnya.

“Siapa yang mengetahui kode ponsel Anda?”

Rendy berpikir.

“Sisca.”

Adiknya pernah meminjam ponselnya beberapa hari sebelum ia pergi untuk mengirim foto keluarga.

Rendy merasa dadanya sesak.

Pada pukul hampir sebelas malam, Nisa akhirnya sadar.

Rendy segera masuk ke ruang perawatan.

“Nisa.”

Mata istrinya perlahan terbuka.

Begitu melihat Rendy, air matanya langsung mengalir.

“Arka?”

“Sedang ditangani dokter.”

“Mas, tolong jangan biarkan Ibu masuk.”

Kalimat itu membuat Rendy membeku.

“Ibu melakukan apa?”

Nisa menutup mata sesaat.

Seolah membutuhkan tenaga hanya untuk mengingat tiga hari terakhir.

“Setelah kamu berangkat, Ibumu bilang aku harus belajar jadi ibu yang tidak manja.”

Rendy menggenggam tangan istrinya.

Nisa melanjutkan.

Pada pagi pertama, Bu Ratna masih terlihat biasa.

Ia membantu menggendong Arka.

Namun ketika Nisa meminta makanan, Bu Ratna menyuruhnya berjalan sendiri ke dapur.

“Katanya kalau aku terlalu banyak rebahan, aku akan makin malas.”

Hari berikutnya, keadaan semakin buruk.

Sisca mengambil alih kamar tamu dan menghabiskan sebagian besar waktunya membuat video bersama Arka untuk media sosial.

Ketika bayi mulai rewel, ia langsung menyerahkannya kembali kepada Nisa.

Bu Ratna juga beberapa kali menolak membantu ketika Nisa mengatakan tubuhnya terasa lemas.

“Dia bilang semua perempuan habis melahirkan juga lelah,” cerita Nisa.

Rendy menunduk.

“Kenapa kamu tidak telepon aku lebih awal?”

“Aku mencoba.”

Nisa menatapnya.

“Ponselku diambil.”

Rendy mengangkat wajah.

“Siapa?”

“Ibumu.”

Menurut Nisa, Bu Ratna mengatakan bahwa Rendy harus fokus bekerja dan tidak boleh terus diganggu.

Ketika Nisa meminta ponselnya kembali, Bu Ratna mengatakan baterainya sedang diisi.

Namun sampai malam, ponsel itu tidak pernah dikembalikan.

Baru pada malam ketiga Nisa berhasil mengambilnya ketika Bu Ratna dan Sisca sedang berada di ruang tamu.

Ia menelepon Rendy.

Lalu sambungan terputus karena Sisca masuk ke kamar.

“Dia merebut ponselku.”

Rendy mengepalkan tangan.

“Nisa, kenapa mereka melakukan ini?”

Pertanyaan itu membuat Nisa terdiam lama.

“Aku awalnya juga tidak mengerti.”

Kemudian ia meminta Rendy membuka laci tas bayi yang dibawanya dari rumah.

Di sana ada sebuah amplop cokelat kecil.

Rendy membukanya.

Isinya beberapa lembar fotokopi dokumen.

Salah satunya adalah surat kepemilikan rumah kecil di kawasan Waru.

Nama pemiliknya adalah Nisa Ayuningtyas.

Rendy terkejut.

“Ini rumah siapa?”

“Rumah peninggalan ayahku.”

Rendy tahu ayah Nisa meninggal beberapa tahun sebelumnya, tetapi ia tidak pernah tahu tentang rumah itu.

“Ayahku memberikan rumah itu kepadaku sebelum meninggal. Sekarang disewakan.”

“Apa hubungannya dengan Ibu?”

Nisa menangis.

“Dua minggu sebelum Arka lahir, Ibumu meminta aku menjual rumah itu.”

Rendy membeku.

“Ibu?”

Nisa mengangguk.

“Katanya Sisca mau buka salon. Mereka butuh modal.”

Rendy tidak pernah mendengar cerita itu.

“Aku menolak,” lanjut Nisa. “Aku bilang rumah itu akan disimpan untuk kebutuhan Arka nanti.”

Sejak hari itulah sikap Bu Ratna berubah.

Awalnya hanya sindiran.

Kemudian tekanan.

Bu Ratna mengatakan bahwa sebagai menantu, Nisa seharusnya membantu keluarga suami.

Nisa tetap menolak.

“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”

“Aku mau bilang setelah melahirkan. Tapi setiap kali mulai bicara, kamu selalu bilang Ibumu sebenarnya baik.”

Rendy merasa kata-kata itu menusuk jauh lebih dalam daripada kemarahan.

Ia teringat malam ketika Nisa mengatakan ibunya berubah.

Dan bagaimana ia menjawab.

Jangan terlalu dimasukkan ke hati.

Sekarang ia memahami bahwa kalimat itu bukan menenangkan.

Kalimat itu telah membuat istrinya merasa sendirian.

Pagi berikutnya, polisi mendatangi rumah kontrakan.

Bu Ratna awalnya marah besar.

Ia merasa semuanya dibesar-besarkan.

“Saya cuma mengajari menantu saya supaya tidak manja!”

Namun pemeriksaan rumah menemukan sesuatu yang membuat kasus tersebut berubah.

Ponsel Nisa ditemukan di dalam lemari kamar Bu Ratna.

Di dalamnya ada puluhan pesan yang belum terkirim kepada Rendy karena ponsel sempat dimatikan.

Ada pula percakapan antara Bu Ratna dan Sisca.

Sisca menulis bahwa kalau Nisa terus mempertahankan rumah warisannya, mereka akan kesulitan mendapatkan modal.

Bu Ratna menjawab bahwa Nisa akan menyerah kalau merasa tidak sanggup mengurus bayi sendiri.

Kalimat itu menjadi bukti penting.

Lebih mengejutkan lagi, polisi menemukan draf surat kuasa penjualan rumah.

Nama Nisa sudah diketik.

Hanya tanda tangan yang belum ada.

Rendy membaca salinan percakapan itu dengan tangan gemetar.

Sisca juga sempat mengirim pesan kepada ibunya.

Kalau Kak Rendy pulang karena Nisa sakit, semua rencana gagal.

Bu Ratna membalas.

Dia tidak akan pulang. Selama aku bilang semuanya baik, dia percaya.

Rendy memejamkan mata.

Kalimat terakhir itu terasa seperti pukulan.

Selama aku bilang semuanya baik, dia percaya.

Dan memang itulah yang terjadi.

Ia percaya.

Bukan karena ibunya begitu meyakinkan.

Tetapi karena selama bertahun-tahun Rendy selalu memilih penjelasan paling mudah daripada mendengarkan keluhan istrinya.

Bu Ratna dan Sisca kemudian dimintai keterangan lebih lanjut oleh polisi terkait dugaan penelantaran dan upaya pemaksaan dokumen.

Proses hukum berjalan.

Namun bagi Rendy, hukuman paling berat justru datang ketika ia kembali ke rumah sakit.

Nisa sedang duduk dengan Arka di pelukannya.

Kondisi bayi mereka mulai membaik setelah mendapat penanganan.

Rendy duduk di kursi dekat ranjang.

“Aku minta maaf.”

Nisa tidak menjawab.

“Aku seharusnya mendengarkanmu.”

Tetap tidak ada jawaban.

Rendy menunduk.

“Aku selalu berpikir menjadi anak yang baik berarti percaya pada ibuku.”

Nisa akhirnya menatapnya.

“Menjadi anak yang baik bukan berarti membiarkan orang tua menyakiti keluargamu, Mas.”

Rendy tidak membantah.

“Aku tahu sekarang.”

Nisa menggeleng.

“Jangan tahu sekarang saja.”

Kalimat itu membuat Rendy terdiam.

“Buktikan nanti.”

Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkan Nisa dan Arka pulang.

Namun mereka tidak kembali ke rumah kontrakan lama.

Rendy menyewa rumah kecil lain yang lokasinya dekat dengan rumah Bu Ratna tetapi cukup jauh untuk memberi batas yang jelas.

Ia mengganti semua kunci.

Tidak ada seorang pun boleh datang tanpa izin Nisa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rendy mengatakan sesuatu kepada ibunya yang selama ini tidak pernah berani ia katakan.

“Ibu tetap ibu saya. Tapi Nisa dan Arka adalah keluarga yang menjadi tanggung jawab saya.”

Bu Ratna menangis.

“Kamu memilih istri dibanding ibu?”

Rendy menggeleng.

“Saya memilih menghentikan sesuatu yang salah.”

Bu Ratna tidak menjawab.

Enam bulan berlalu.

Kasus hukum masih berjalan.

Hubungan keluarga mereka belum sepenuhnya pulih.

Namun Arka tumbuh sehat.

Nisa perlahan mulai menerima pesanan kue lagi.

Rendy juga mengubah kebiasaannya.

Ia tidak lagi menganggap diam sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja.

Suatu sore, ketika pulang kerja, Rendy menemukan Nisa sedang berdiri di dapur.

Aroma kayu manis kembali memenuhi rumah.

Arka tertidur di kursi bayi.

Rendy tersenyum.

“Rumah kita mulai bau toko kue lagi.”

Nisa tertawa kecil.

Sudah lama Rendy tidak mendengar tawa itu.

Kemudian Nisa mengambil sebuah map dari atas meja.

“Ada yang mau aku tunjukkan.”

Rendy membukanya.

Ternyata dokumen rumah warisan Nisa.

Namun di halaman baru tercantum sebuah keputusan.

Rumah tersebut tidak dijual.

Nisa justru mengubahnya menjadi rumah singgah sementara bagi ibu yang baru melahirkan dan tidak mempunyai tempat aman untuk menjalani masa pemulihan.

Rendy menatap istrinya.

“Kamu yakin?”

Nisa mengangguk.

“Dulu aku menyimpan rumah itu untuk Arka.”

Ia melihat putranya.

“Sekarang aku tetap menyimpannya untuk Arka, tapi dengan cara berbeda.”

Rendy tidak memahami.

Nisa tersenyum.

“Aku ingin suatu hari nanti dia tahu bahwa rumah peninggalan kakeknya pernah membantu orang lain.”

Beberapa bulan kemudian, rumah singgah itu resmi dibuka.

Tidak mewah.

Hanya memiliki empat kamar sederhana, dapur bersama, ruang menyusui, dan satu ruangan konsultasi kecil yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat.

Di pintu masuk terdapat sebuah kalimat pendek yang dipilih Nisa sendiri.

Tidak semua orang yang mengatakan baik baik saja benar benar baik.

Pada hari pembukaan, Rendy berdiri di depan tulisan tersebut cukup lama.

Ia baru memahami betapa mahal harga sebuah kalimat yang dulu ia abaikan.

Dulu Nisa sudah memberinya tanda.

Ia hanya tidak benar-benar mendengarkan.

Sekarang, setiap kali Arka menangis di malam hari, Rendy tidak pernah mengeluh karena harus bangun.

Ia justru menggendong anaknya sambil mengingat malam ketika hampir kehilangan dua orang sekaligus.

Dan dari semua hal yang terjadi, Rendy akhirnya belajar satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Keluarga bukanlah orang yang selalu harus dibela.

Keluarga adalah orang yang harus berani kita lindungi.

Bahkan ketika ancaman itu datang dari orang yang selama ini paling kita percaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang