IBU MERTUA JUTAWAN INI SUDAH 3 BULAN MOGOK MAKAN. SAAT KOKI BARU MENDUDUKKANNYA DI MEJA MAKAN DI SEBELAH MENANTUNYA, RAHASIA KELAM SENILAI 18 MILIAR TERBONGKAR!

Rendra tidak langsung bertanya.

Ia hanya berdiri di ambang ruang makan sambil memandangi selembar kertas yang kini sudah kembali diselipkan Siska ke dalam tasnya.

“Pemindahan permanen apa?” tanyanya akhirnya.

Siska tersenyum terlalu cepat.

“Bukan apa-apa, Mas. Dokumen dari tempat rehabilitasi. Aku sedang mencari opsi perawatan yang lebih baik untuk Ibu.”

Ibu Ratna yang sejak tadi memegang sendok tiba-tiba berhenti makan.

Matanya menatap meja.

Jari-jarinya kembali gemetar.

Siti memperhatikan perubahan itu.

Bukan gemetar karena lemah.

Itu adalah ketakutan.

Rendra mendekati ibunya.

“Bu, apa Ibu tahu soal pemindahan ini?”

Sebelum Ibu Ratna menjawab, Siska memotong.

“Mas, jangan membuat Ibu stres. Dokter sudah bilang kondisi psikologisnya rapuh.”

“Biar Ibu yang jawab.”

Nada suara Rendra tetap rendah, tetapi kali ini tidak memberi ruang untuk dibantah.

Ibu Ratna mengangkat wajahnya perlahan.

“Mereka bilang hari Jumat aku akan dibawa ke tempat yang jauh.”

Rendra mengernyit.

“Mereka siapa?”

Ibu Ratna menatap Siska.

Hanya itu.

Namun tatapan tersebut cukup membuat udara di ruang makan terasa membeku.

Siska tertawa kecil.

“Ya ampun, Mas. Ibu sudah beberapa kali salah mengingat. Perawat juga bilang begitu.”

“Nama tempatnya apa?”

Siska tidak menjawab.

Rendra mengulurkan tangan.

“Kasih dokumennya.”

“Aku sudah urus semuanya.”

“Siska.”

Nada itu membuat perempuan tersebut akhirnya membuka tas.

Namun bukannya menyerahkan kertas tadi, ia mengeluarkan ponsel.

“Aku telepon dokter saja supaya beliau yang menjelaskan.”

Siti menyela dengan hati-hati.

“Pak Rendra, maaf. Saya baru bekerja di sini. Tapi kalau boleh bicara, selama beberapa minggu saya melihat Ibu Ratna tidak pernah bebas berbicara dengan siapa pun.”

Siska langsung menoleh tajam.

“Kamu diam!”

“Tidak.”

Suara Ibu Ratna muncul pelan.

Semua orang terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, wanita tua itu menegakkan punggungnya.

“Biarkan Siti bicara.”

Wajah Siska berubah.

“Ibu sebaiknya istirahat.”

“Aku belum selesai makan.”

Kalimat sederhana itu terdengar seperti pemberontakan besar di dalam rumah tersebut.

Rendra menarik kursi lalu duduk di samping ibunya.

“Mulai malam ini, tidak ada siapa pun yang mengatur Ibu tanpa sepengetahuan saya.”

Siska menatap suaminya seolah tidak percaya.

“Mas, selama ini justru aku yang mengurus semuanya saat kamu sibuk.”

“Dan mungkin itu masalahnya.”

Siska mengambil tasnya lalu meninggalkan ruang makan.

Suara hak sepatunya terdengar cepat menuju lantai atas.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hampir tiga bulan, Ibu Ratna menghabiskan setengah porsi makanannya.

Namun sebelum Rendra sempat merasa lega, ibunya menggenggam tangannya.

“Jangan percaya siapa pun dulu.”

Rendra menatapnya.

“Termasuk Siska?”

Ibu Ratna tidak menjawab.

Air mata muncul di sudut matanya.

“Carilah Pak Harun.”

Nama itu terasa asing.

“Siapa Pak Harun?”

“Mantan notaris ayahmu.”

Rendra terdiam.

Ayahnya meninggal enam tahun lalu.

Ia hanya samar-samar mengingat seorang pria tua berkacamata yang pernah beberapa kali datang ke rumah saat dirinya masih muda.

“Kenapa harus mencari beliau?”

Ibu Ratna melirik ke arah tangga, memastikan Siska tidak kembali.

“Karena kalau aku dibawa pergi hari Jumat, delapan belas miliar akan hilang.”

Rendra merasa tengkuknya dingin.

“Uang apa?”

Ibu Ratna menutup matanya.

“Uang yang bahkan seharusnya bukan milikku.”

Keesokan paginya, Rendra membatalkan seluruh rapat.

Ia meminta sekretarisnya mencari Harun Santoso, mantan notaris yang pernah menangani urusan keluarga.

Menjelang siang, mereka mendapatkan alamat sebuah rumah sederhana di Bogor.

Rendra pergi sendiri.

Pak Harun kini berusia 72 tahun.

Begitu mendengar nama Ratna, pria tua itu langsung meminta Rendra masuk.

“Kupikir hari ini akhirnya akan datang juga,” katanya.

Rendra duduk di ruang tamu yang dipenuhi map-map lama.

“Maksud Bapak?”

Pak Harun mengambil satu berkas cokelat dari lemari besi kecil.

“Setahun lalu ibumu datang ke sini.”

Ia meletakkan berkas tersebut di meja.

“Beliau ingin mengubah pengelolaan sebuah dana amanah.”

Rendra membuka halaman pertama.

Matanya langsung tertuju pada angka.

Rp18.000.000.000.

“Apa ini?”

“Dana kompensasi.”

“Untuk siapa?”

Pak Harun menarik napas panjang.

“Dua puluh tujuh tahun lalu, perusahaan konstruksi milik ayahmu terlibat sengketa pembebasan lahan di Jawa Tengah. Beberapa keluarga kehilangan tanah karena dokumen yang ternyata bermasalah.”

Rendra membeku.

Ia pernah mendengar sengketa lama itu, tetapi ayahnya selalu mengatakan semuanya telah diselesaikan secara hukum.

Pak Harun melanjutkan.

“Secara hukum, perusahaan menang. Tapi ibumu mengetahui ada tanda tangan beberapa warga yang dipalsukan oleh salah satu perantara.”

Rendra menatapnya tajam.

“Siapa yang memalsukan?”

“Bukan ayahmu. Tapi ayahmu memilih menutup kasus itu demi menyelamatkan perusahaan.”

Rendra menundukkan kepala.

Pak Harun mendorong berkas lebih dekat.

“Setelah suamimu meninggal, ibumu menjual beberapa aset pribadinya. Tanah, saham, dua ruko. Nilainya terkumpul hampir delapan belas miliar. Beliau ingin uang itu disalurkan kepada keluarga-keluarga yang dulu dirugikan.”

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena ibumu takut kamu akan menganggapnya sedang merusak nama ayahmu.”

Rendra membalik halaman demi halaman.

Kemudian ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Sebuah surat kuasa.

Namanya bukan Ratna.

Bukan pula Rendra.

Nama penerima kuasa adalah Siska Prameswari.

Tanda tangan di bawahnya menyerupai tanda tangan ibunya.

“Ini apa?”

Pak Harun menatapnya serius.

“Salinan dokumen yang dikirim seseorang kepada saya tiga bulan lalu untuk meminta konfirmasi.”

“Siapa?”

“Sebuah lembaga pengelola lansia swasta.”

Rendra merasa dadanya sesak.

“Kenapa mereka menghubungi Bapak?”

“Karena dokumen itu menyatakan bahwa setelah ibumu dinyatakan tidak mampu mengambil keputusan sendiri, kuasa penuh atas dana tersebut akan dialihkan kepada Siska.”

Rendra berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Tidak mungkin.”

Pak Harun tetap tenang.

“Saya menolak mengesahkannya. Tanda tangan Ratna terlihat mirip, tetapi saya mengenal tanda tangannya puluhan tahun.”

“Palsu?”

“Saya yakin begitu.”

Rendra langsung menelepon rumah.

Tidak ada jawaban dari Ibu Ratna.

Ia menelepon Siti.

Suara koki itu terdengar panik.

“Pak, Ibu Ratna dibawa keluar.”

“Apa?”

“Bu Siska datang bersama dua petugas. Katanya ada pemeriksaan.”

“Ke mana?”

“Saya tidak tahu. Saya mencoba menahan, tapi mereka menunjukkan surat dari dokter.”

Rendra melihat jam.

Kamis, pukul 14.20.

Pemindahan yang tertulis untuk Jumat ternyata dimajukan.

Ia berlari keluar.

Di rumah, Siti dan Bi Inah sudah menunggu.

“Mobilnya ke arah mana?” tanya Rendra.

“Keluar menuju jalan utama,” jawab Siti.

Bi Inah tiba-tiba teringat sesuatu.

“Pak, perawat pribadi Ibu tadi meninggalkan amplop di kamar.”

Mereka bergegas ke lantai atas.

Di dalam kamar Ibu Ratna, laci-laci terbuka.

Beberapa dokumen telah hilang.

Namun sebuah amplop putih tergeletak di bawah meja kecil.

Di dalamnya terdapat daftar obat.

Siti membacanya.

“Pak, saya bukan dokter. Tapi ada yang aneh.”

“Apa?”

“Beberapa kali saya lihat Ibu Ratna diberi obat ini sebelum makan. Setelah itu beliau selalu mengantuk dan linglung.”

Rendra memotret daftar tersebut lalu mengirimkannya kepada salah satu dokter spesialis yang pernah memeriksa ibunya.

Lima menit kemudian telepon masuk.

“Pak Rendra, siapa yang memberikan kombinasi obat ini?”

“Perawat pribadi.”

“Dengan resep siapa?”

“Saya sedang cari tahu.”

Dokter terdiam.

“Dua jenis di antaranya tidak pernah saya resepkan. Efeknya bisa membuat pasien lansia sangat lemas dan kebingungan.”

Dunia Rendra seperti runtuh.

Selama ini ibunya bukan kehilangan semangat hidup.

Semangat itu perlahan-lahan dilumpuhkan.

Rendra meminta tim keamanan perusahaan melacak mobil berdasarkan rekaman CCTV depan rumah.

Nomor kendaraan ditemukan.

Tujuannya adalah sebuah fasilitas perawatan lansia privat di luar Jakarta.

Rendra pergi bersama Pak Harun, Siti, dan dua petugas kepolisian setelah menunjukkan dugaan pemalsuan dokumen.

Mereka tiba menjelang malam.

Di ruang administrasi, Siska sedang berdebat dengan seorang staf.

Begitu melihat Rendra masuk, wajahnya pucat.

“Mas?”

“Di mana Ibu?”

Siska mencoba mendekat.

“Dengar dulu. Aku bisa jelaskan.”

“Di mana Ibu saya?”

Seorang petugas fasilitas menunjukkan kamar di ujung koridor.

Ibu Ratna ditemukan duduk di tempat tidur dengan pakaian yang masih sama seperti siang tadi.

Begitu melihat anaknya, ia hanya berkata satu kalimat.

“Kamu akhirnya percaya.”

Rendra berlutut di depan ibunya.

Matanya memerah.

“Maaf, Bu.”

Di luar kamar, polisi memeriksa dokumen pemindahan.

Semakin banyak kertas dibuka, semakin jelas polanya.

Surat evaluasi psikologis telah dimanipulasi.

Ada tanda tangan dokter yang tidak sesuai.

Ada dokumen pemberian kuasa.

Dan ada formulir penempatan permanen yang menyatakan Ibu Ratna mengalami gangguan kognitif berat.

Rendra keluar dan menatap istrinya.

“Kenapa?”

Siska menangis.

Namun kali ini air matanya tidak mengubah apa pun.

“Aku terdesak.”

“Terdesak apa?”

“Investasiku gagal.”

Rendra tertawa pendek, nyaris tidak percaya.

“Jadi kamu mau mencuri uang Ibu?”

“Aku cuma pinjam!”

“Delapan belas miliar?”

Siska menutup wajahnya.

Perlahan, cerita sebenarnya terungkap.

Selama dua tahun terakhir, Siska diam-diam menanamkan uang dalam sebuah bisnis properti bersama teman lamanya.

Proyek itu gagal.

Ia menanggung utang besar kepada beberapa investor pribadi.

Ketika mengetahui Ibu Ratna memiliki dana amanah sebesar delapan belas miliar, Siska melihat jalan keluar.

Ia membujuk Ratna memberikan kuasa.

Ratna menolak.

Sejak saat itu, Siska mulai membatasi aksesnya kepada dunia luar.

Telepon diputus.

Teman-temannya dicegah berkunjung.

Agenda keluarga diubah.

Kemudian seorang perawat dibayar untuk memberikan obat tanpa sepengetahuan Rendra.

Tujuannya sederhana.

Membuat Ratna terlihat semakin tidak mampu mengambil keputusan.

Setelah itu, Siska berencana memasukkannya ke fasilitas perawatan permanen, memperoleh penetapan medis, kemudian menggunakan surat kuasa untuk mengendalikan dana tersebut.

“Dan kamu bilang kepada saya Ibu kehilangan semangat hidup,” ujar Rendra.

Siska menatap lantai.

“Aku panik.”

Rendra menggeleng.

“Tidak. Kamu merencanakannya.”

Kasus itu kemudian ditangani secara hukum.

Perawat pribadi mengakui bahwa ia menerima bayaran tambahan untuk memberikan obat tertentu dan membuat laporan kondisi harian yang dilebih-lebihkan.

Dokter yang namanya tercantum dalam beberapa dokumen membantah pernah menandatanganinya.

Siska akhirnya harus mempertanggungjawabkan pemalsuan dokumen, penyalahgunaan obat, serta upaya mengambil alih dana milik Ibu Ratna.

Namun kejutan terbesar baru muncul beberapa minggu kemudian.

Rendra mendampingi ibunya bertemu kembali dengan Pak Harun.

Ibu Ratna kini sudah bisa berjalan perlahan dengan tongkat.

Nafsu makannya kembali.

Wajahnya masih kurus, tetapi sorot matanya hidup lagi.

Pak Harun mengeluarkan dokumen asli dana amanah.

“Ibu yakin ingin meneruskan rencana ini?” tanyanya.

Ratna mengangguk.

“Lebih yakin daripada sebelumnya.”

Rendra memegang tangan ibunya.

“Kalau Ibu mau, saya bisa menambah jumlahnya.”

Ratna tersenyum.

“Bukan uangmu yang paling kubutuhkan.”

“Lalu?”

“Keberanianmu untuk tidak mengulang kesalahan ayahmu.”

Beberapa bulan kemudian, Rendra mengumumkan audit independen terhadap seluruh riwayat pembebasan lahan perusahaan keluarganya.

Temuan lama dibuka kembali.

Keluarga-keluarga yang dulu dirugikan dilacak satu per satu.

Dana delapan belas miliar digunakan untuk membayar kompensasi, beasiswa bagi keturunan mereka, dan bantuan kepemilikan lahan baru.

Keputusan itu membuat beberapa mitra bisnis marah.

Sebagian orang menyebut Rendra sedang menghancurkan reputasi perusahaan sendiri.

Namun Rendra menjawab sederhana.

“Reputasi yang hanya bisa bertahan dengan menutup kesalahan bukan reputasi. Itu kebohongan.”

Pada suatu Minggu sore, meja makan besar di rumah Pondok Indah kembali penuh.

Tidak ada jamuan mewah.

Siti hanya memasak ayam bumbu desa, nasi merah, sayur bening, sambal, dan tempe goreng.

Bi Inah duduk bersama mereka untuk pertama kalinya setelah 29 tahun bekerja di rumah tersebut.

Ibu Ratna berada di kursi utama.

Di depannya terletak semangkuk nasi hangat.

Ia memandang Siti dan tersenyum.

“Tiga bulan aku tidak mau makan.”

Siti tertawa kecil.

“Sekarang malah minta tambah.”

Ratna ikut tertawa.

Suara tawanya terdengar hingga taman belakang.

Persis seperti yang pernah diceritakan Bi Inah.

Rendra terdiam mendengarnya.

Baru saat itu ia memahami sesuatu yang selama ini gagal ia lihat.

Ibunya sebenarnya tidak pernah mogok makan karena ingin mati.

Ia berhenti makan karena itu satu-satunya bagian dari hidupnya yang masih bisa ia kendalikan ketika semua keputusan lain telah dirampas darinya.

Dan orang yang menyelamatkannya bukan tujuh dokter mahal, bukan rumah sakit terbaik, bahkan bukan putranya yang memiliki perusahaan besar.

Melainkan seorang koki yang cukup peduli untuk bertanya dalam hati mengapa seorang perempuan harus makan sendirian di rumah miliknya sendiri.

Ibu Ratna mengambil sepotong tempe goreng lalu berkata sambil tersenyum,

“Kadang rahasia terbesar tidak terbongkar karena seseorang terlalu pintar.”

Ia menatap Siti.

“Rahasia terbongkar karena akhirnya ada seseorang yang memperlakukan kita sebagai manusia.”

Tidak seorang pun di meja itu menjawab.

Mereka hanya melanjutkan makan.

Dan untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, tidak ada satu kursi pun yang sengaja dikosongkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang