Tangis Rina semakin keras ketika Hendra menggenggam tangannya di ruang perawatan.
“Aku minta maaf, Mas.”
Hendra menatap istrinya seolah tidak mengenali perempuan yang selama sebelas tahun tidur di sampingnya itu. Bukan karena wajah Rina berubah, melainkan karena baru hari itu dia menyadari betapa banyak luka yang selama ini disembunyikan di balik senyum istrinya.
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
Rina menunduk.
“Karena aku membiarkan semuanya terjadi.”
Hendra menarik kursi lebih dekat.
“Ceritakan semuanya.”
Rina terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka rahasia yang telah dia simpan bertahun-tahun.
Perlakuan Bu Marni ternyata dimulai sejak bisnis Hendra mulai berkembang.
Awalnya hanya berupa sindiran.
Bu Marni sering mengatakan bahwa Rina berasal dari keluarga sederhana dan tidak pantas menikmati hasil kerja keras Hendra.
Setelah mereka pindah ke rumah besar di BSD, perlakuannya semakin buruk.
Setiap kali Hendra pergi ke luar kota, Bu Marni mengambil alih rumah.
Rina dilarang duduk di ruang keluarga ketika teman-teman Bu Marni datang. Ia harus melayani mereka, membereskan meja, bahkan terkadang membersihkan rumah meskipun sudah ada dua asisten rumah tangga.
“Kenapa Mbak Sari dan Pak Darto tidak pernah bilang kepadaku?” tanya Hendra.
Rina menelan ludah.
“Mereka sudah diberhentikan tiga bulan lalu.”
Hendra tertegun.
“Tiga bulan?”
Rina mengangguk.
Bu Marni mengatakan kepada Hendra bahwa kedua pekerja itu pulang kampung karena urusan keluarga. Kenyataannya, mereka diberhentikan setelah mencoba membela Rina.
Penggantinya adalah orang-orang pilihan Bu Marni sendiri.
Ketika Rina akhirnya hamil, keadaan justru semakin buruk.
Bu Marni mulai mengontrol makanan yang boleh dikonsumsi Rina.
Setiap kali Hendra berada di rumah, makanan bergizi akan disajikan.
Namun begitu Hendra pergi bekerja, sebagian besar makanan itu dipindahkan ke kamar Bu Marni atau digunakan untuk menjamu teman-temannya.
Rina hanya diberi makanan seadanya.
“Kenapa kamu tidak telepon aku?”
Pertanyaan itu membuat Rina menangis semakin keras.
“Aku pernah mencoba.”
Hendra membeku.
Rina kemudian menceritakan kejadian lima bulan sebelumnya.
Suatu malam ketika Hendra berada di Makassar, Rina menghubunginya dan mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Belum sempat menjelaskan, Bu Marni masuk ke kamar.
Setelah telepon berakhir, Bu Marni menunjukkan sebuah amplop berisi fotokopi dokumen lama.
Dokumen itu berkaitan dengan pinjaman yang pernah diambil Hendra ketika perusahaan mereka hampir bangkrut sembilan tahun sebelumnya.
Bu Marni mengaku dialah yang diam-diam melunasi sebagian utang tersebut.
“Kalau kamu membuat Hendra membenciku,” ancam Bu Marni saat itu, “aku akan mengatakan kepadanya bahwa kamu yang menggunakan uang perusahaan untuk membayar utang keluargamu.”
Rina tahu tuduhan itu palsu.
Tetapi Bu Marni memiliki salinan bukti transfer yang tampak meyakinkan.
Rina takut masalah itu menghancurkan perusahaan yang dibangun Hendra dengan susah payah.
Yang lebih menakutkan, Bu Marni selalu mengulang satu kalimat.
“Hendra sudah kehilangan ayahnya. Jangan buat dia kehilangan ibunya juga.”
Rina akhirnya memilih diam.
Hendra bangkit dari kursi.
Wajahnya memerah.
“Aku harus pulang.”
Rina langsung memegang lengannya.
“Mas, jangan lakukan sesuatu karena emosi.”
Hendra menatapnya.
“Aku tidak akan melakukan apa pun karena emosi.”
Dia menarik napas panjang.
“Aku akan mencari kebenaran.”
Sore itu, Hendra tidak langsung menemui ibunya.
Dia menghubungi pengacara perusahaan, kepala keuangan, serta perusahaan keamanan yang memasang sistem kamera di rumahnya.
Hendra baru mengetahui bahwa beberapa kamera di area dalam rumah telah dimatikan sejak hampir setahun sebelumnya.

Anehnya, hanya satu kamera yang tetap aktif.
Kamera kecil di lorong menuju dapur.
Teknisi menjelaskan bahwa kamera tersebut menggunakan penyimpanan cadangan terpisah karena pernah dipasang sebagai perangkat uji coba.
Hendra meminta seluruh rekamannya.
Apa yang dilihatnya malam itu membuat tangannya gemetar.
Dalam puluhan rekaman, Bu Marni terlihat memperlakukan Rina seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Ada rekaman Rina berdiri berjam-jam melayani tamu meskipun sedang hamil.
Ada rekaman makanan dari lemari pendingin dipindahkan sebelum Rina masuk dapur.
Ada pula rekaman ketika Bu Marni memarahi Rina karena mengambil segelas susu yang menurutnya terlalu mahal.
Namun satu rekaman paling membuat Hendra terpukul.
Tanggalnya menunjukkan enam minggu sebelumnya.
Rina sedang duduk di lantai dapur sambil memegang perutnya.
“Aku pusing, Bu.”
Bu Marni berdiri di depannya.
“Jangan pura-pura lemah. Perempuan hamil zaman dulu tetap bekerja di sawah.”
“Aku hanya mau makan sedikit.”
Bu Marni meletakkan sepiring makanan di meja.
Kemudian menariknya kembali.
“Tunggu Hendra pulang. Biar dia lihat sendiri seolah aku merawatmu dengan baik.”
Hendra menghentikan video.
Dia tidak sanggup melihat lebih jauh.
Tetapi pengacaranya meminta dia memeriksa transaksi keuangan.
Keesokan harinya, kejutan lain muncul.
Kartu kredit tambahan yang diberikan Hendra kepada ibunya memiliki pengeluaran hampir tiga kali lebih besar dibandingkan perkiraannya.
Selama delapan bulan kehamilan Rina, Bu Marni menghabiskan ratusan juta rupiah.
Bukan untuk kebutuhan Rina.
Sebagian besar digunakan untuk restoran mahal, tas, perhiasan, perawatan kecantikan, dan pembayaran hotel.
Ada pula transfer rutin ke sebuah rekening atas nama Rian Rivas.
Adik Hendra.
Hendra segera menghubungi Rian.
“Besok pagi datang ke rumah sakit.”
“Ada apa?”
“Datang saja.”
Rian tiba pukul sembilan pagi.
Begitu melihat kakaknya, wajahnya langsung berubah.
Hendra meletakkan laporan transaksi di meja.
“Apa ini?”
Rian pucat.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Ternyata selama hampir dua tahun, Bu Marni rutin mengirim uang kepada Rian.
Rian memiliki usaha restoran yang gagal dan terlilit utang besar.
Bu Marni tidak ingin Hendra mengetahui keadaan anak bungsunya.
Karena itu, ia menggunakan kartu kredit dan uang rumah tangga Hendra untuk membantu Rian.
“Aku pikir itu uang Ibu sendiri,” kata Rian.
“Setelah tahu?”
Rian menunduk.
“Aku diam.”
Hendra tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena kecewa.
“Jadi semua orang memilih diam.”
Rian tidak sanggup menjawab.
Tiga hari kemudian, Rina diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dengan syarat menjalani pemeriksaan rutin.
Namun Hendra tidak membawanya kembali ke rumah utama.
Dia menyewa sebuah apartemen sementara dekat rumah sakit dan mempekerjakan perawat khusus untuk mendampingi Rina.
Kemudian dia mengundang Bu Marni dan Rian ke rumah.
Bu Marni datang dengan wajah penuh kemarahan.
“Kamu mengusir ibu kandungmu demi perempuan itu?”
Hendra duduk di ruang keluarga.
Di depannya terdapat laptop dan beberapa map.
“Aku tidak mengusir siapa pun.”
“Lalu kenapa kartu kredit Ibu diblokir?”
“Karena itu uangku.”
Bu Marni terdiam.
Hendra menyalakan laptop.
Rekaman dari kamera dapur diputar.
Wajah Bu Marni langsung pucat.
“Rekaman itu tidak menunjukkan semuanya.”
Hendra memutar video berikutnya.
Kemudian berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Bu Marni mulai menangis.
“Ibu melakukan semua ini demi kamu.”
“Demi aku?”
“Ibu takut dia mengambil semuanya.”
Hendra berdiri.
“Mengambil apa?”
“Perusahaanmu. Rumahmu. Hartamu.”
Hendra menatap ibunya lama.
Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Bu Marni terdiam.
“Perusahaan itu tidak mungkin berdiri tanpa Rina.”
Bu Marni mendengus.
“Dia cuma istrimu.”
“Tidak.”
Hendra mengambil sebuah map.
Dia mengeluarkan dokumen pendirian perusahaan sebelas tahun sebelumnya.
“Modal pertama perusahaan berasal dari uang hasil penjualan perhiasan nenek Rina.”
Kemudian dia menunjukkan dokumen lain.
“Ketika perusahaan hampir bangkrut sembilan tahun lalu, Rina mengambil pekerjaan tambahan dan menyerahkan seluruh tabungannya.”
Bu Marni mulai kehilangan kata-kata.
Namun Hendra belum selesai.
Dia membuka dokumen kepemilikan saham.
“Empat puluh persen saham perusahaan secara hukum adalah milik Rina.”
Bu Marni terbelalak.
Selama bertahun-tahun, ia mengira semua kekayaan itu sepenuhnya milik putranya.
Hendra menatap ibunya.
“Perempuan yang Ibu sebut menumpang hidup justru ikut membangun rumah tempat Ibu tinggal.”
Rian menutup wajahnya.
Bu Marni mulai menangis.
“Ibu cuma takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat kemarahan Hendra sedikit mereda.
Namun bukan berarti semuanya bisa dimaafkan begitu saja.
“Takut kehilangan anak tidak memberi Ibu hak untuk menghancurkan istrinya.”
Untuk pertama kalinya, Bu Marni tidak memiliki jawaban.
Hendra meminta ibunya pindah dari rumah tersebut.
Bukan ke jalanan.
Dia tetap menyediakan sebuah rumah kecil yang layak untuk Bu Marni.
Namun seluruh akses terhadap rekening, kartu kredit, dan perusahaan dihentikan.
Rian diminta bertanggung jawab atas utangnya sendiri.
Sementara enam teman Bu Marni yang hadir saat kejadian di ruang makan tidak pernah lagi diizinkan memasuki rumah Hendra.
Dua bulan kemudian, Rina melahirkan seorang bayi perempuan.
Persalinannya berlangsung lebih cepat dari perkiraan, tetapi ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis dengan selamat.
Hendra menangis ketika pertama kali menggendong putrinya.
Mereka menamainya Kirana.
Beberapa minggu setelah kelahiran Kirana, sebuah paket tiba di apartemen.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah kotak kecil.
Rina membukanya.
Isinya gelang emas sederhana.
Rina langsung mengenalinya.
Itu adalah salah satu perhiasan peninggalan neneknya yang ia jual sebelas tahun lalu untuk membantu Hendra membeli truk pertama.
Di bawah gelang tersebut terdapat secarik kertas.
Tulisan tangan Bu Marni.
Rina membaca perlahan.
“Ternyata selama ini aku takut kehilangan anakku sampai lupa bahwa aku sedang menghancurkan keluarga anakku sendiri.”
Rina terdiam.
Hendra yang berdiri di sampingnya tidak mengatakan apa-apa.
Mereka kemudian mengetahui bahwa Bu Marni mencari satu per satu perhiasan lama Rina melalui toko tempat barang-barang itu pernah dijual.
Dia hanya berhasil menemukan gelang tersebut.
Rina tidak langsung memaafkan Bu Marni.
Hendra juga tidak memintanya.
Luka bertahun-tahun tidak dapat diselesaikan dengan satu permintaan maaf.
Namun enam bulan kemudian, Rina akhirnya bersedia bertemu Bu Marni di sebuah taman.
Bu Marni datang tanpa perhiasan mahal, tanpa pakaian bermerek, dan tanpa teman-teman sosialitanya.
Ia duduk beberapa meter dari kereta bayi Kirana.
“Boleh Ibu melihatnya?”
Rina mengangguk.
Bu Marni mendekat perlahan.
Ketika melihat wajah cucunya, matanya berkaca-kaca.
Tangannya sempat terulur, tetapi kemudian berhenti.
Ia sadar bahwa hak untuk menyentuh cucunya bukan sesuatu yang bisa ia tuntut.
Rina memperhatikan perempuan itu cukup lama.
Kemudian dia mengangkat Kirana dan meletakkannya perlahan ke pelukan Bu Marni.
Bu Marni menangis.
“Maafkan Ibu.”
Rina menatapnya.
“Aku belum bisa melupakan semuanya, Bu.”
Bu Marni mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak ingin Kirana tumbuh dengan kebencian.”
Untuk pertama kalinya, Bu Marni memahami bahwa kesempatan kedua bukan berarti masa lalu telah dihapus.
Itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar berubah.
Setahun kemudian, Hendra menjual rumah besar di BSD tersebut.
Bukan karena mereka kekurangan uang.
Rina mengatakan rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan buruk.
Mereka membeli rumah yang lebih sederhana dengan halaman luas.
Di dapurnya terdapat meja makan bundar tanpa taplak panjang yang menjuntai sampai lantai.
Suatu malam, ketika Kirana mulai belajar berjalan, ia merangkak masuk ke bawah meja sambil tertawa.
Hendra spontan terdiam.
Kenangan tentang hari ketika dia menemukan Rina di tempat yang sama kembali menghantamnya.
Rina menyadarinya.
Ia menggenggam tangan suaminya.
Kemudian Kirana muncul dari bawah meja sambil membawa sendok plastik dan tertawa riang.
Hendra mengangkat putrinya.
Rina ikut tertawa.
Tempat yang dahulu menjadi simbol penghinaan kini dipenuhi suara tawa anak mereka.
Hendra akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh keberhasilan bisnis, uang, atau rumah mewah.
Keluarga bukan tentang siapa yang memiliki hubungan darah paling dekat.
Keluarga adalah orang-orang yang menjaga satu sama lain ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan terkadang, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing.
Melainkan dari seseorang yang begitu kita percaya sehingga kita lupa memastikan apakah orang yang kita cintai benar-benar aman di sisinya.
