SUAMI PAMIT DINAS LUAR KOTA 3 HARI, TAPI SAAT AKU MENGANTAR KUE KE RUMAH JANDA SAHABATNYA, DIA YANG MEMBUKA PINTU SAMBIL MEMEGANG GELAS ANGGUR

Maya hanya punya waktu beberapa menit sebelum suara shower berhenti.

Ia tidak mengambil foto seluruh percakapan. Itu terlalu berisiko.

Dengan tangan yang masih bergetar, Maya memilih bagian-bagian terpenting, pesan tentang bayi, kalimat Dion bahwa semuanya sudah dikendalikan, dan pesan Anita mengenai sesuatu yang ditinggalkan Rian sebelum meninggal. Semua ia kirim ke alamat email lamanya yang tidak pernah diketahui Dion, lalu ia menghapus jejak pengiriman dari ponsel suaminya.

Sesaat kemudian, suara air berhenti.

Maya meletakkan ponsel kembali tepat di posisi semula dan berjalan menuju dapur.

Ketika Dion keluar dengan rambut masih basah, ia menemukan istrinya sedang menuangkan kopi.

“Kamu bangun pagi sekali,” katanya.

Maya tersenyum tipis.

“Aku tidak bisa tidur.”

Dion menatapnya beberapa detik, seolah mencoba membaca wajahnya.

“Masih memikirkan kemarin?”

Maya menggeleng.

“Aku sudah bilang, kan? Aku percaya penjelasanmu.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maya merasakan betapa mudahnya sebuah kebohongan terdengar meyakinkan jika diucapkan tanpa emosi.

Dion mendekat dan mencium keningnya.

“Terima kasih sudah tidak memperbesar masalah.”

Maya menahan diri agar tidak menjauh.

Dalam hati ia hanya berpikir satu hal.

Sekarang giliranmu percaya padaku.

Dion berangkat ke kantor pukul 07.40.

Dua puluh menit kemudian, Maya menghubungi nomor Anita.

Tidak dijawab.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak dijawab.

Maya kemudian membuka media sosial milik Rian. Selama bertahun-tahun, Rian termasuk orang yang jarang mengunggah kehidupan pribadi. Namun setelah mencari hampir satu jam, Maya menemukan sebuah foto lama dari delapan bulan sebelumnya.

Foto empat orang sedang makan malam.

Rian, Anita, Dion, dan seorang pria yang tidak dikenalnya.

Di kolom komentar, Rian menulis singkat.

Terima kasih, Arif, sudah selalu jadi orang yang bisa dipercaya.

Maya memperbesar foto dan melihat kartu nama kecil di depan pria tersebut.

Tulisan yang terlihat hanya sebagian.

Arif Pranoto.

Notaris dan konsultan hukum.

Maya mencari namanya di internet.

Kantornya berada di Kuningan.

Tepat pukul 10.30, Maya sudah duduk di ruang tunggu sebuah kantor hukum di lantai dua belas gedung perkantoran.

Ketika Arif keluar, wajahnya langsung berubah saat melihat Maya.

“Ibu Maya?”

Maya berdiri.

“Anda mengenal saya?”

Arif tidak langsung menjawab.

Ia malah melihat ke kiri dan kanan sebelum mempersilakan Maya masuk ke ruangannya.

Setelah pintu tertutup, Arif menarik napas panjang.

“Rian pernah bilang suatu hari Anda mungkin datang.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Maya berdiri.

“Apa yang ditinggalkan Rian?”

Arif terdiam.

“Pertama, saya perlu memastikan. Apakah Dion tahu Anda ada di sini?”

“Tidak.”

“Anita?”

“Tidak.”

Arif mengangguk perlahan.

Kemudian ia membuka lemari besi kecil di belakang meja.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah disegel.

Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan.

Untuk Maya Kirana. Berikan hanya jika Maya datang sendiri.

Napas Maya tercekat.

“Kenapa Rian meninggalkan ini untuk saya?”

“Karena dia takut tidak sempat menjelaskannya sendiri.”

Maya menatap Arif.

“Takut kepada siapa?”

Arif menjawab pelan.

“Kepada Dion.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Arif lalu menjelaskan bahwa sekitar tiga bulan sebelum meninggal, Rian datang menemuinya dalam keadaan sangat gelisah.

Rian membawa salinan dokumen perusahaan, rekening bank, dan sejumlah rekaman percakapan.

Selama beberapa tahun, Rian dan Dion ternyata menjalankan sebuah perusahaan logistik tambahan yang tidak pernah diketahui Maya.

Di atas kertas, perusahaan itu dimiliki Rian.

Namun sebagian besar modal berasal dari aset bersama Dion dan Maya.

Maya mengernyit.

“Aset bersama?”

Arif mengangguk.

“Beberapa deposito atas nama Anda pernah dijadikan jaminan kredit menggunakan surat kuasa.”

“Saya tidak pernah menandatangani surat kuasa.”

“Itulah masalahnya.”

Arif mengeluarkan salinan dokumen.

Maya melihat tanda tangan menyerupai miliknya.

Sangat mirip.

Namun bukan miliknya.

Darah di wajah Maya seakan menghilang.

“Ini pemalsuan.”

“Rian juga mengatakan begitu.”

Ternyata perselingkuhan bukan satu-satunya rahasia Dion.

Dalam waktu empat tahun terakhir, Dion diam-diam menggunakan aset perkawinan mereka untuk menutup kerugian perusahaan sampingan yang dikelolanya bersama Rian.

Awalnya perusahaan itu menghasilkan keuntungan besar.

Lalu Dion mulai melakukan transaksi berisiko tanpa sepengetahuan Rian.

Ketika beberapa proyek gagal, kerugian membengkak.

Untuk menutup lubang keuangan, Dion memindahkan dana dari berbagai rekening, termasuk aset yang secara hukum juga menjadi hak Maya.

Rian baru mengetahuinya sekitar setahun sebelumnya.

“Kenapa Rian tidak langsung melapor?” tanya Maya.

“Karena Dion mengancam membuka masalah pajak perusahaan dan membuat seolah-olah Rian yang bertanggung jawab atas semuanya.”

Maya memejamkan mata.

“Tapi apa hubungannya Anita?”

Arif tampak ragu.

“Bagian itu lebih rumit.”

Ia menunjuk amplop.

“Lebih baik Anda melihat sendiri.”

Maya membuka segel.

Di dalamnya ada sebuah flashdisk kecil, surat tulisan tangan, dan fotokopi hasil pemeriksaan medis.

Maya membaca surat itu terlebih dahulu.

Tulisan Rian tidak rapi.

Maya, kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal membereskan semuanya sendiri. Aku minta maaf karena selama bertahun-tahun aku diam ketika Dion mulai menggunakan namamu dan aset kalian tanpa izin. Aku pikir aku bisa memaksanya mengembalikan semuanya. Aku salah.

Maya berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan.

Ada satu hal yang mungkin paling sulit kamu terima. Anita dan Dion sudah memiliki hubungan jauh sebelum aku mengetahuinya. Aku mengetahuinya delapan bulan lalu. Aku tidak menceraikan Anita karena aku ingin memastikan anak kami, Nara, tidak kehilangan rumah dan keamanan hidupnya. Tapi sejak tiga bulan terakhir, Anita hamil. Aku sudah melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Kehamilan itu bukan anakku.

Tangan Maya gemetar hebat.

Jadi bayi yang disebut dalam pesan itu memang anak Dion.

Namun surat Rian belum selesai.

Kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan langsung percaya bahwa seluruh masalahnya hanya soal perselingkuhan. Dion sedang berusaha mengambil kendali penuh atas perusahaan sebelum audit internal menemukan transaksi yang ia sembunyikan.

Maya menatap Arif.

“Audit Surabaya.”

Arif mengangguk.

“Rian menduga Dion akan menggunakan alasan audit luar kota untuk mengatur beberapa dokumen.”

Seketika Maya teringat.

Dion mengatakan ia harus pergi ke Surabaya untuk audit divisi logistik.

Tetapi ia tidak pernah benar-benar pergi.

“Jadi perjalanan dinas itu…”

“Mungkin hanya alibi.”

Arif lalu menyalakan laptop dan membuka isi flashdisk.

Ada rekaman suara Rian.

Suara itu terdengar lelah.

“Dion, aku sudah bilang, berhenti gunakan dokumen Maya.”

Kemudian terdengar suara Dion.

“Jangan sok suci. Kamu juga menikmati uangnya.”

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Kalau kamu buka mulut, perusahaanmu yang hancur duluan.”

Rekaman berikutnya lebih mengejutkan.

Suara Anita terdengar menangis.

“Aku hamil.”

Lalu Dion menjawab dengan sangat tenang.

“Jangan bilang ke Rian dulu.”

“Aku tidak bisa terus begini.”

“Kita hanya perlu tunggu sampai semuanya selesai.”

“Selesai apa?”

Dion terdiam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Sampai perusahaan pindah ke tanganku dan aku tidak lagi terikat pada Maya.”

Maya menutup laptop.

Ia merasa mual.

Selama sebelas tahun, Dion tidak hanya mengkhianatinya sebagai suami.

Pria itu ternyata sudah merancang kehidupan baru sambil perlahan-lahan menguras fondasi keuangan pernikahan mereka.

Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggu Maya.

“Rian meninggal mendadak enam minggu lalu.”

Arif memahami arah pikirannya.

“Saya tahu apa yang Anda pikirkan. Tapi saya tidak punya bukti bahwa kematiannya berhubungan dengan ini.”

Maya menatap hasil medis yang ada di amplop.

“Apakah polisi tahu soal dokumen ini?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Rian berpesan agar saya tidak bergerak kecuali Anda datang atau ada indikasi bahwa Dion mulai menghilangkan bukti.”

Maya menunduk.

Kemarin Dion berbohong tentang perjalanan dinas.

Artinya sesuatu sedang terjadi.

Maya mengambil keputusan saat itu juga.

“Hubungi polisi dan pengacara yang Anda percaya.”

Arif menatapnya.

“Anda yakin?”

“Sangat yakin.”

Namun Maya tidak langsung pulang.

Ia pergi ke bank tempat sebagian deposito keluarganya disimpan.

Setelah hampir dua jam memeriksa dokumen bersama manajer cabang, kecurigaannya terbukti.

Ada dua fasilitas pinjaman dengan total nilai hampir sembilan miliar rupiah menggunakan deposito atas nama Maya sebagai jaminan.

Tanda tangan otorisasinya palsu.

Sore itu, Maya meminta seluruh rekening yang secara hukum berada di bawah kendalinya dibekukan sementara karena dugaan pemalsuan dokumen.

Kemudian ia menemui pengacara.

Untuk pertama kalinya sejak membuka pintu rumah Anita, Maya merasa dirinya kembali mampu bernapas.

Bukan karena rasa sakitnya menghilang.

Tetapi karena ia tidak lagi berdiri dalam kegelapan.

Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Malam hari pukul 19.10, Dion menelepon.

“Kamu di mana?”

“Salon.”

“Kok lama?”

“Sedikit antre.”

Dion tertawa kecil.

“Jangan pulang terlalu malam.”

Maya memandang gedung kepolisian dari dalam mobil.

“Iya.”

Sebelum menutup telepon, Dion berkata,

“Aku sayang kamu.”

Maya hampir tertawa.

Tapi yang keluar justru air mata.

Esok malam, Maya menyiapkan makan malam seperti biasa.

Dion pulang pukul 20.00.

Ia terlihat sedikit gelisah.

“Ada masalah di kantor,” katanya sambil melepas dasi.

“Masalah apa?”

“Beberapa rekening perusahaan tiba-tiba diperiksa.”

Maya menuangkan air putih.

“Mungkin karena audit.”

Dion berhenti sejenak.

Tatapannya berubah.

“Siapa yang bilang audit?”

Maya menatapnya.

“Kamu sendiri.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Dion tersenyum.

“Benar juga.”

Mereka makan hampir tanpa percakapan.

Pukul 20.35, bel apartemen berbunyi.

Dion berdiri.

“Aku buka.”

Namun Maya lebih dulu berjalan ke pintu.

Ketika dibuka, Anita berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

Dion langsung membeku.

“Anita? Kenapa kamu datang?”

Anita menatap Maya.

“Aku perlu bicara.”

Dion berjalan mendekat.

“Besok saja.”

“Tidak.”

Suara Anita bergetar.

“Aku tidak mau terus berbohong.”

Dion mencengkeram lengannya.

“Anita.”

Maya melihat ketakutan di wajah perempuan itu.

Bukan ketakutan kepada seorang kekasih.

Melainkan kepada seseorang yang sudah terlalu lama memegang kendali atas hidupnya.

Maya membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Dion mengangkat suara.

“Maya, jangan buat drama.”

Maya berbalik.

“Drama?”

Ia mengambil sebuah map dari meja.

Kemudian meletakkan salinan dokumen bank di depan Dion.

Wajah pria itu langsung berubah.

“Ini dari mana?”

Maya menatapnya tanpa berkedip.

“Dari Rian.”

Ruangan menjadi sunyi.

Anita menutup mulutnya.

Dion berdiri kaku.

“Rian sudah meninggal.”

“Benar.”

Maya mengeluarkan flashdisk.

“Tapi suaranya belum.”

Dion maju satu langkah.

“Maya, dengarkan aku.”

“Sebelas tahun aku mendengarkanmu.”

Suara Maya tetap tenang.

“Sekarang kamu yang mendengarkan.”

Ia menyalakan rekaman.

Suara Rian memenuhi ruang makan.

Percakapan mengenai dokumen palsu.

Ancaman.

Perusahaan.

Kehamilan Anita.

Wajah Dion semakin pucat.

Ketika rekaman selesai, ia menatap Anita.

“Kamu yang memberi ini ke dia?”

Anita menggeleng cepat.

“Bukan.”

“Pembohong!”

Dion membentak.

Anita mundur.

Maya berdiri di antara mereka.

“Jangan sentuh dia.”

Dion tertawa pendek.

“Kalian pikir kalian mengerti semuanya?”

Ia menatap Maya.

“Perusahaan itu hampir bangkrut. Aku melakukan semua itu untuk menyelamatkan kita.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku akan mengembalikannya.”

“Dengan memiliki anak bersama istri sahabatmu?”

Untuk pertama kalinya, Dion kehilangan jawaban.

Kemudian bel pintu berbunyi lagi.

Dion menoleh.

Maya berjalan membukanya.

Dua penyidik berdiri di luar bersama Arif.

Wajah Dion seketika kehilangan warna.

“Apa ini?”

Maya menjawab sederhana.

“Konsekuensi.”

Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan.

Kasusnya jauh lebih besar dari yang semula dibayangkan Maya.

Ditemukan beberapa transaksi fiktif, pemalsuan dokumen, penggunaan aset tanpa persetujuan, dan aliran dana ke perusahaan lain yang dikendalikan Dion.

Namun penyelidikan juga menghasilkan satu fakta yang tidak disangka Maya.

Rian ternyata tidak sepenuhnya bersih.

Pada awal pendirian perusahaan, ia memang mengetahui beberapa transaksi abu-abu dan ikut menandatangani dokumen.

Hanya saja, ketika Dion mulai menggunakan aset Maya tanpa izin dan memperluas skema tersebut, Rian mencoba keluar.

Kesalahannya adalah terlambat.

Rasa bersalah itulah yang membuatnya mengumpulkan bukti sebelum meninggal.

Sementara kematian Rian akhirnya dinyatakan tidak berkaitan dengan tindak pidana.

Ia memang memiliki kondisi kesehatan yang tidak pernah diketahui banyak orang.

Kenyataan itu anehnya memberi Maya sedikit kelegaan.

Setidaknya tidak semua rahasia harus berakhir dengan kejahatan yang lebih gelap.

Enam bulan kemudian, perceraian Maya dan Dion resmi diputus.

Sebagian aset yang sempat terancam berhasil diamankan.

Proses hukum terhadap Dion masih berjalan.

Anita melahirkan seorang bayi perempuan.

Ia memilih pindah dari Jakarta bersama Nara dan bayinya.

Sebelum pergi, Anita menemui Maya di sebuah kafe kecil.

“Aku tidak berharap kamu memaafkanku,” katanya.

Maya menatap perempuan di hadapannya.

“Aku memang belum bisa.”

Anita mengangguk sambil menahan air mata.

“Tapi aku tetap ingin mengatakan bahwa aku menyesal.”

Maya tidak menjawab beberapa detik.

Kemudian ia berkata,

“Aku berharap suatu hari kamu berhenti membuat keputusan karena takut sendirian.”

Anita menangis.

Maya berdiri.

Ia tidak memeluknya.

Tidak juga mengucapkan kata-kata penghiburan.

Ada luka yang tidak perlu dipaksa menjadi persahabatan agar bisa disebut selesai.

Setahun kemudian, Maya kembali membuat bolu kukus keju.

Resep yang sama.

Aroma yang sama.

Namun kali ini ia membuatnya untuk ulang tahun ibunya.

Ketika mengeluarkan kue dari kukusan, Maya tiba-tiba teringat nampan perak yang dibawanya ke rumah Anita.

Dulu ia berpikir kue itu menghancurkan pernikahannya.

Sekarang ia memahami sesuatu yang berbeda.

Kue itu tidak menghancurkan apa pun.

Pernikahannya sudah retak jauh sebelum ia menekan bel rumah di Menteng sore itu.

Kue sederhana itu hanya membawanya ke sebuah pintu yang akhirnya memperlihatkan kenyataan.

Telepon Maya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari Arif.

Ada satu dokumen terakhir milik Rian yang baru ditemukan di arsip kantornya.

Bukan tentang Dion.

Bukan tentang perusahaan.

Melainkan sebuah surat pendek untuk Maya.

Maya membukanya.

Kalimat terakhir membuat matanya berkaca-kaca.

Kadang orang yang membongkar kebohongan dalam hidup kita bukanlah orang yang paling berani. Kadang hanya orang yang terlambat menyadari kesalahannya dan berusaha melakukan satu hal benar sebelum waktunya habis.

Maya membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian ia menutup ponselnya.

Di luar jendela, Jakarta sedang diguyur hujan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara hujan tidak membuat apartemennya terasa sepi.

Maya mengambil sepotong bolu yang masih hangat, duduk di dekat jendela, lalu tersenyum kecil.

Sebelas tahun sebelumnya, ia mengira mempertahankan pernikahan berarti mempertahankan rumah, kebiasaan, dan seseorang yang telah lama dikenalnya.

Sekarang ia tahu bahwa mempertahankan diri sendiri jauh lebih penting.

Karena pengkhianatan terbesar bukan ketika seseorang berhenti mencintai kita.

Melainkan ketika kita mengetahui kebenaran, tetapi memilih mengkhianati diri sendiri dengan tetap berpura-pura tidak melihatnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang