“Saya yakin.”
Jawaban saya membuat ruang tamu kembali sunyi.
Letnan Teguh Pratama tidak langsung membalas. Dia berdiri beberapa langkah dari pintu dengan tubuh tegap, masih mengenakan seragam dinas yang sedikit berdebu karena perjalanan jauh. Tatapannya tidak menunjukkan rasa senang ataupun terkejut. Dia hanya memandang saya cukup lama, seolah sedang memastikan apakah saya benar-benar memahami keputusan yang baru saja saya ambil.
Di sisi lain, wajah Tari mulai berubah.
“Kamu bahkan baru melihat dia hari ini, Nisa!” katanya cepat. “Jangan sok berani hanya karena ingin membuatku terlihat buruk.”
Saya belum sempat menjawab ketika Laksamana Broto menoleh kepada cucunya.
“Teguh, bagaimana pendapatmu?”
Teguh melepaskan topi dinasnya lalu meletakkannya di atas meja.
“Saya datang karena Kakek mengatakan keluarga Rahardjo masih menghormati janji lama,” katanya tenang. “Kalau Mbak Tari tidak bersedia, saya tidak punya alasan memaksanya.”
Tari berkedip.
Dia jelas tidak menyangka kalimat itu akan keluar.
“Tapi…”
“Saya juga tidak tertarik mengejar perempuan yang sudah menolak saya di depan dua keluarga.”
Wajah Tari langsung pucat.
Saya melihat jemarinya mencengkeram ujung kemeja putihnya.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, kesombongan di wajahnya retak.
Bu Wiwik segera menyela.
“Pak Broto, jangan terburu-buru. Tari hanya sedang emosi. Anak muda memang begitu. Besok juga pikirannya berubah.”
“Tidak, Bu,” sahut Teguh. “Orang berhak menolak pernikahan. Saya menghormati keputusan Mbak Tari.”
Tari menatap Teguh tak percaya.
“Teguh, saya bukan benar-benar…”
Dia berhenti.
Semua orang langsung memandangnya.
Ayah mengernyit. “Bukan benar-benar apa?”
Tari menggigit bibir.
Saya tahu dia hampir keceplosan.
Saya melirik dompetnya yang masih tergeletak terbuka.
Kertas biodata Teguh masih terlihat.
Tiba-tiba tulisan melayang muncul lagi di depan mata saya.
[Tari mulai panik.]
[Dia menghabiskan dua minggu mencari informasi tentang Teguh. Pangkat, gaji, rumah dinas, bahkan rumah sakit tempat keluarga tentara mendapatkan pelayanan.]
[Dia sengaja berlatih pidato penolakan bersama temannya karena yakin Teguh akan tertantang menaklukkannya.]
[Dua hari lalu dia bahkan membeli kain baru untuk dijahit menjadi kebaya setelah lamaran resmi diterima.]
Saya menahan napas.
Jadi bukan hanya biodata itu.
Semuanya memang sudah direncanakan.
Tari tiba-tiba melangkah mendekati Teguh.
“Saya cuma ingin melihat apakah Mas Teguh benar-benar serius.”
Teguh mengangkat alis.
“Maksudnya?”
“Saya tidak ingin menikah dengan laki-laki yang hanya menurut pada keputusan keluarga. Saya ingin tahu apakah Mas Teguh punya keberanian memperjuangkan perempuan yang diinginkan.”
Ayah tampak mulai memahami situasinya.
“Tari, tadi kamu bilang tidak mau menikah.”
Tari buru-buru menjawab, “Itu hanya ujian, Yah.”
Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
Laksamana Broto menghela napas panjang.
“Kamu menganggap pernikahan sebagai ujian permainan?”
Tari tampak gugup.
“Saya hanya…”
“Kalau sejak awal kamu ingin mengenal Teguh, kamu bisa mengatakannya. Tidak perlu mempermalukan dua keluarga.”
Nada suara pria tua itu tidak keras, tetapi cukup membuat Tari kehilangan kata-kata.
Saya sendiri seharusnya merasa puas.
Namun pikiran saya justru tertuju pada Nenek yang sedang batuk di kamar belakang.
Suara batuknya terdengar samar.
Dada saya langsung sesak.
Saya memberanikan diri berbicara.
“Pak Broto, sebelum membicarakan pernikahan lebih jauh, saya ingin jujur tentang alasan saya.”
Semua orang menoleh.
Saya menatap Teguh.
“Saya memang bersedia menikah, tetapi bukan karena saya langsung menyukai Mas Teguh.”
Bu Wiwik mendengus.
“Nah, akhirnya mengaku juga.”
Saya mengabaikannya.
“Nenek saya sakit paru-paru cukup parah. Kami tidak sanggup membawanya ke rumah sakit besar. Saya mendengar keluarga anggota militer mendapatkan akses pengobatan yang lebih baik.”
Teguh menatap saya tanpa berkedip.
Saya melanjutkan.
“Kalau saya menikah dengan Mas Teguh, saya berharap setidaknya saya bisa membantu Nenek.”
Ayah langsung berdiri.
“Nisa!”
Saya menatapnya.
“Apa saya salah mengatakan yang sebenarnya?”
Ayah terdiam.
Teguh justru bertanya, “Sejak kapan nenekmu sakit?”
“Hampir satu tahun.”
“Sudah pernah diperiksa dokter?”
Saya menggeleng.
“Hanya mantri desa.”
Teguh langsung mengambil topinya kembali.
“Ayo.”
Saya terpaku.

“Ke mana?”
“Melihat nenekmu.”
Tari mendadak berseru, “Mas Teguh!”
Namun Teguh sudah berjalan menuju kamar belakang.
Saya bergegas mengikutinya.
Di kamar kecil yang dindingnya mulai lembap, Nenek berbaring di atas dipan kayu. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat.
Teguh berdiri di ambang pintu cukup lama.
Kemudian dia berjongkok di sisi dipan.
“Nek, saya Teguh.”
Nenek membuka mata perlahan.
Dia menatap seragam Teguh lalu tersenyum lemah.
“Temannya Nisa?”
Saya hampir tertawa sekaligus menangis.
Teguh melirik saya sebentar.
“Mungkin calon suaminya.”
Mata Nenek langsung membesar.
Saya menunduk malu.
Namun Teguh segera kembali serius.
Dia memeriksa keadaan Nenek sebisanya, lalu keluar dan berbicara kepada kakeknya.
“Kita bawa beliau ke rumah sakit kota sekarang.”
Bu Wiwik langsung keberatan.
“Pak, biaya…”
“Saya tanggung dulu,” kata Laksamana Broto.
Ayah terlihat malu.
“Tidak perlu merepotkan.”
Teguh menatap Ayah.
“Orang sakit tidak menunggu harga diri keluarga selesai dibicarakan.”
Kalimat itu membuat Ayah terdiam.
Sore itu juga, Nenek dibawa dengan kendaraan dinas menuju rumah sakit.
Saya ikut mendampinginya.
Teguh duduk di depan.
Sepanjang perjalanan, kami hampir tidak berbicara.
Namun ketika kendaraan melewati jalan berkelok menuju kota, Teguh tiba-tiba berkata tanpa menoleh.
“Nisa.”
“Ya?”
“Jangan menikah denganku hanya karena rumah sakit.”
Saya terdiam.
“Kenapa?”
“Karena pernikahan jauh lebih panjang daripada masa rawat seseorang.”
Saya menunduk.
“Saya tahu.”
“Kalau setelah nenekmu sembuh kamu berubah pikiran, katakan.”
Saya menatap punggungnya.
“Mas Teguh juga boleh berubah pikiran.”
Dia tertawa kecil.
Itulah pertama kalinya saya melihat sisi lain dari pria yang sejak tadi terlihat kaku.
Dua minggu berikutnya mengubah banyak hal.
Dokter mengatakan kondisi Nenek serius tetapi masih bisa ditangani. Beliau harus menjalani pengobatan panjang dan pemeriksaan rutin.
Saya menghabiskan hampir seluruh waktu di rumah sakit.
Di luar dugaan, Teguh beberapa kali datang membawa buah, obat tambahan, bahkan buku bacaan untuk Nenek.
Dia tidak pernah berbicara soal pernikahan.
Justru itu yang membuat saya mulai memperhatikannya.
Dia membantu tanpa membuat saya merasa berutang.
Suatu sore, ketika saya sedang mencuci kotak makan di keran rumah sakit, Teguh datang dan menyerahkan sebungkus roti.
“Kamu belum makan.”
“Saya masih kenyang.”
“Itu jawaban ketiga hari ini.”
Saya menatapnya curiga.
“Mas Teguh menghitung?”
“Karena tiga kali saya datang, tiga kali kamu bilang kenyang.”
Saya akhirnya menerima roti itu.
“Terima kasih.”
Dia duduk di bangku semen.
“Nisa, kamu dulu sekolah sampai mana?”
“SMP.”
“Kenapa berhenti?”
Saya tersenyum hambar.
“Biaya.”
Sebenarnya bukan hanya biaya.
Tari diberi kesempatan melanjutkan sekolah karena dianggap lebih pintar dan lebih cocok hidup di kota.
Saya diminta tinggal karena ada ternak, dapur, kebun, dan Nenek yang harus diurus.
Teguh tidak bertanya lebih jauh.
Namun seminggu kemudian dia membawa beberapa buku pelajaran.
“Untuk apa?”
“Kalau kamu mau ikut ujian persamaan nanti, belajarlah.”
Saya menatap buku itu lama.
“Mas yakin saya bisa?”
“Bukan urusan saya menentukan kamu bisa atau tidak.”
“Terus?”
“Tugasmu mencoba.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa saya mengingatnya bertahun-tahun kemudian.
Sementara hubungan saya dengan Teguh perlahan menjadi lebih dekat, Tari semakin gelisah.
Dia beberapa kali datang ke rumah sakit dengan alasan menjenguk Nenek.
Tetapi saya tahu siapa yang sebenarnya ingin dia temui.
Setiap Teguh datang, Tari berubah menjadi sangat ramah.
Dia mengenakan pakaian terbaiknya, membawa makanan, bahkan sesekali berbicara tentang kehidupan kota dan pendidikannya.
Teguh tetap sopan.
Tidak lebih.
Suatu hari, Tari akhirnya kehilangan kesabaran.
Dia menunggu Teguh di lorong rumah sakit dan menghadangnya.
Saya kebetulan baru keluar dari kamar Nenek.
“Mas Teguh,” katanya, “boleh bicara sebentar?”
Teguh berhenti.
Tari melirik saya.
“Berdua.”
Saya hendak pergi, tetapi Teguh berkata, “Kalau soal perjodohan, Nisa boleh mendengar.”
Wajah Tari menegang.
“Saya sudah memikirkan semuanya.”
Teguh diam.
“Saya rasa keputusan saya waktu itu terlalu terburu-buru.”
Saya hampir bisa mendengar detak jantungnya.
Tari melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Kalau perjodohan masih bisa dikembalikan seperti semula, saya bersedia.”
Teguh menatapnya cukup lama.
“Kenapa?”
Tari tampak tidak siap ditanya begitu.
“Karena saya sadar Mas Teguh pria baik.”
“Atau karena rencana jual mahalmu gagal?”
Tubuh Tari membeku.
Saya ikut terkejut.
Teguh kemudian mengeluarkan selembar kertas dari saku map yang dibawanya.
Itu fotokopi surat.
“Saya tidak suka menyelidiki orang, tetapi beberapa hari setelah pertemuan pertama, seorang temanmu datang ke kantor saya.”
Wajah Tari seketika kehilangan warna.
“Siapa?”
“Rini.”
Tari mundur setengah langkah.
Teguh melanjutkan.
“Dia merasa bersalah karena ikut menyusun sandiwara penolakanmu.”
Saya baru mengetahui bahwa Rini ternyata ketakutan setelah mendengar Tari mengatakan akan membuat saya terlihat seperti perempuan miskin yang merebut calon suami kakaknya jika rencana mereka gagal.
Rini menyerahkan surat-surat Tari kepada Teguh.
Di antaranya ada catatan tentang gaji Teguh, fasilitas rumah dinas, jatah kebutuhan pokok, sampai perkiraan kenaikan pangkatnya.
Tari tidak tertarik pada Teguh sebagai manusia.
Dia tertarik pada kehidupan yang dibayangkannya bisa dia dapatkan.
Namun yang paling mengejutkan belum selesai.
Teguh menatap saya.
“Ada juga rencana lain.”
Tari langsung mencoba mengambil kertas itu.
“Mas, jangan!”
Teguh mundur.
Di sana tertulis bahwa jika Teguh akhirnya mengejar Tari setelah penolakan, Tari akan meminta syarat agar saya dikirim bekerja ke luar desa supaya tidak ikut tinggal bersama keluarga.
Alasannya sederhana.
Dia tidak ingin saya membawa Nenek yang sakit ke dalam kehidupan barunya.
Saya merasa seluruh tubuh saya dingin.
“Tari…”
Kakak saya menatap saya dengan wajah panik.
“Itu cuma tulisan waktu emosi.”
Saya menahan air mata.
“Jadi Kakak tahu Nenek sakit parah.”
“Tentu aku tahu!”
“Tapi Kakak tetap merencanakan pergi dan meninggalkannya?”
Tari tidak menjawab.
Nenek yang sejak tadi ternyata terbangun di balik pintu kamar mendengar semuanya.
Beliau tidak menangis.
Justru itu yang membuat hati saya semakin sakit.
“Nisa,” panggilnya pelan.
Saya masuk dan menggenggam tangannya.
Nenek hanya berkata, “Jangan benci kakakmu.”
Saya menunduk.
“Kenapa Nenek masih membelanya?”
“Karena orang yang salah tidak selalu perlu dibenci. Kadang dia hanya perlu dibiarkan menanggung akibat pilihannya.”
Beberapa bulan kemudian, kesehatan Nenek mulai membaik.
Perjodohan keluarga tidak langsung dilanjutkan.
Laksamana Broto justru meminta saya dan Teguh saling mengenal terlebih dahulu.
“Saya tidak mau cucu saya menikah hanya karena dokumen kakek buyut,” katanya.
Ayah awalnya keberatan.
Dia merasa keluarga akan kehilangan muka jika pernikahan tidak segera dilaksanakan.
Tetapi kali ini saya berani mengatakan tidak.
“Saya mau menikah kalau saya sendiri yakin.”
Untuk pertama kalinya, Ayah tidak bisa memaksa saya.
Setahun kemudian, saya mengikuti ujian persamaan dengan bantuan buku-buku dari Teguh.
Saya lulus.
Dua tahun berikutnya, saya melanjutkan pendidikan keperawatan.
Tari sendiri akhirnya pergi ke kota.
Dia bekerja di sebuah kantor perdagangan dan jarang pulang.
Hubungan kami tidak pernah kembali seperti dulu, tetapi perlahan kemarahan saya menghilang.
Suatu sore, hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama keluarga kami, Teguh datang ke rumah tanpa seragam.
Dia membawa satu cincin sederhana.
Nenek sudah duduk di teras, jauh lebih sehat dibandingkan hari ketika kami pertama kali membawanya ke rumah sakit.
Teguh berdiri di depan saya.
“Kali ini tidak ada surat perjodohan.”
Saya tersenyum.
“Tidak ada fasilitas rumah sakit?”
“Tidak.”
“Jatah beras?”
“Tidak.”
“Rumah dinas?”
Teguh tertawa.
“Kalau itu mungkin ada.”
Saya ikut tertawa.
Kemudian ekspresinya berubah serius.
“Saya cuma datang sebagai Teguh.”
Dia mengulurkan cincin.
“Nisa Rahardjo, mau menikah dengan saya?”
Saya belum sempat menjawab ketika sebuah suara terdengar dari halaman.
“Kalau kali ini kamu jual mahal, benar-benar keterlaluan.”
Saya menoleh.
Tari berdiri di dekat pagar sambil membawa tas perjalanan.
Sudah hampir satu tahun saya tidak melihatnya.
Dia terlihat berbeda.
Tidak ada lagi pakaian mencolok ataupun sikap angkuh seperti dulu.
Dia berjalan mendekat lalu menatap saya.
“Terima saja.”
Saya menatap kakak saya tanpa bicara.
Tari tersenyum pahit.
“Dulu aku pikir orang paling beruntung adalah orang yang berhasil mendapatkan kehidupan terbaik.”
Dia melihat Teguh sebentar.
“Ternyata aku salah.”
Kemudian dia menatap saya.
“Orang paling beruntung adalah orang yang tahu apa yang pantas diperjuangkan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Nisa, maaf.”
Saya tidak langsung memeluknya.
Ada luka yang terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan satu kata.
Namun saya menggenggam tangannya.
Itu sudah cukup untuk hari itu.
Kemudian saya kembali menatap Teguh.
Pria yang dulu hampir saya nikahi demi menyelamatkan Nenek, kini berdiri di hadapan saya bukan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, bukan pula sebagai pemenuhan janji dua keluarga.
Dia adalah orang yang melihat saya ketika hampir semua orang menganggap saya tidak punya masa depan.
Saya tersenyum.
“Saya mau.”
Nenek langsung bertepuk tangan kecil dari kursinya.
Tari tertawa sambil menghapus air mata.
Teguh memasangkan cincin di jari saya.
Dan pada saat itu, deretan tulisan aneh yang dahulu muncul di udara kembali terlihat untuk terakhir kalinya.
[Tari mengira Nisa mengambil sesuatu yang dia buang.]
[Padahal sebenarnya Nisa tidak pernah mengambil sisa milik siapa pun.]
[Dia hanya memilih kesempatan yang tidak berani dihargai orang lain.]
Saya membaca kalimat itu sampai perlahan menghilang.
Kemudian saya menatap rumah tua kami, Nenek yang tersenyum, Tari yang berdiri di samping saya, dan Teguh yang kini menggenggam tangan saya.
Hari ketika kakak saya menghantam meja dan menolak sebuah lamaran pernah saya kira sebagai hari keberuntungan terbesar dalam hidup saya.
Ternyata saya keliru.
Keberuntungan terbesar bukanlah mendapatkan seorang perwira, rumah dinas, ataupun fasilitas hidup yang lebih baik.
Keberuntungan terbesar saya adalah menemukan keberanian untuk memilih hidup saya sendiri.
Dan ironisnya, semuanya dimulai dari satu kalimat yang diucapkan Tari dengan penuh kesombongan.
Kalau ada yang mau, silakan ambil saja.
