SUAMI MENCERAIKANKU 3 HARI SETELAH PEMAKAMAN AYAHKU, LALU MENIKAHI IBU KANDUNGKU DEMI WARISAN. MEREKA TIDAK TAHU WASIAT AYAH MENGUBAH SEGALANYA!

Pak Hendra menarik satu lembar dokumen dari map biru tua, lalu meletakkannya tepat di hadapan Maya.

“Ini bukan sekadar surat wasiat,” katanya pelan. “Ayahmu menyusun perlindungan berlapis. Dia tahu kalau hanya mengandalkan pembagian warisan biasa, Desi bisa menggugatnya.”

Maya menatap rangkaian pasal yang dipenuhi istilah hukum. Kepalanya masih terasa berat akibat tiga hari terakhir yang seperti mimpi buruk tanpa jeda.

“Apa syaratnya?”

Pak Hendra melepas kacamatanya.

“Bu Desi tetap tercatat sebagai penerima manfaat dari sebagian dana keluarga selama hidupnya. Tapi hak itu gugur apabila terbukti melakukan tindakan yang merugikan kepentingan keluarga atau perusahaan bersama pihak yang memiliki hubungan kepentingan langsung dengan ahli waris utama.”

Maya mengernyit.

“Hubungan kepentingan?”

“Termasuk pasanganmu.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Pak Hendra kemudian menyodorkan lembar lain.

“Dan ada satu hal lagi. Ayahmu memindahkan saham pengendali PT Wijaya Medika ke dalam dana amanat. Kamu ditunjuk sebagai penerima manfaat utama sekaligus calon pengendali, tetapi hak suara penuh baru berpindah kepadamu setelah dewan pengawas memastikan tidak ada manipulasi terhadap keluarga setelah beliau meninggal.”

Maya menatap tanda tangan ayahnya di bagian bawah.

“Jadi Ayah sudah tahu?”

“Beliau curiga.”

“Sejak kapan?”

“Hampir satu tahun.”

Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada yang Maya duga.

Ternyata selama satu tahun terakhir, ketika Pak Bambang duduk makan malam bersama mereka, tersenyum melihat Rendy bercanda, atau membiarkan Bu Desi menggandeng lengannya di acara perusahaan, ia menyimpan kecurigaan seorang diri.

Pak Hendra membuka laci dan mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Beliau juga meminta tim audit internal memeriksa beberapa transaksi.”

Maya menatap benda kecil itu.

“Ada apa di dalamnya?”

“Bukti yang jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.”

Malam itu Maya baru mengetahui bahwa selama delapan bulan terakhir, firma konsultasi milik Rendy menerima pembayaran dari tiga vendor PT Wijaya Medika.

Secara resmi, pembayaran tersebut disebut biaya konsultasi.

Namun dua vendor ternyata telah menaikkan harga pengadaan alat medis hingga hampir dua puluh persen.

Sebagian selisih dana kemudian mengalir kembali ke perusahaan Rendy melalui serangkaian kontrak fiktif.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa dokumen persetujuan vendor ditandatangani menggunakan akses internal milik Bu Desi, yang masih duduk sebagai komisaris kehormatan perusahaan.

Maya membaca seluruh laporan tanpa bersuara.

Semakin banyak halaman yang ia balik, semakin dingin ekspresinya.

“Berapa besar?”

“Sekitar empat puluh tujuh miliar rupiah yang sudah teridentifikasi.”

Maya memejamkan mata sesaat.

Ia tiba-tiba teringat pada ayahnya yang beberapa bulan sebelumnya pernah berkata sambil sarapan, “Perusahaan besar tidak selalu dihancurkan oleh pesaing. Kadang justru oleh orang yang duduk paling dekat dengan meja makan.”

Saat itu Maya mengira ayahnya sedang membicarakan bisnis.

Ternyata bukan.

Tiga minggu kemudian, perceraian Maya dan Rendy mulai memasuki proses hukum.

Di depan keluarga dan teman-temannya, Rendy tampil percaya diri.

Ia bahkan pindah kembali ke rumah Menteng setelah Bu Desi menyatakan bahwa rumah itu akan segera menjadi miliknya melalui warisan.

Mereka belum menikah secara resmi, tetapi keduanya sudah tinggal seperti pasangan.

Beberapa foto mereka makan malam bersama bahkan tersebar di kalangan sosialita Jakarta.

Bu Desi tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun.

“Ayahmu sudah meninggal,” katanya ketika Maya menelepon untuk meminta beberapa dokumen pribadi yang tertinggal. “Orang mati tidak bisa mengubah keputusan lagi.”

Maya hanya menjawab singkat.

“Benar, Bu.”

Ia tidak memberi tahu bahwa keputusan itu justru sudah dibuat sebelum Pak Bambang meninggal.

Dua bulan kemudian, hubungan Rendy dan Bu Desi semakin terbuka.

Rendy mulai menghadiri pertemuan bisnis sambil memperkenalkan dirinya sebagai calon bagian dari keluarga pengendali Wijaya Medika.

Kepada seorang investor, ia bahkan mengatakan bahwa restrukturisasi kepemilikan perusahaan hanya tinggal menunggu proses administrasi.

Ia mulai mencari gedung untuk perusahaan investasi baru.

Ia memesan mobil mewah.

Bu Desi juga menjual beberapa koleksi perhiasan lama untuk membiayai renovasi vila Bali yang menurutnya akan segera menjadi miliknya.

Mereka hidup seolah seluruh kekayaan Pak Bambang sudah berada di tangan mereka.

Namun tidak satu pun saham berpindah.

Tidak satu pun properti strategis berhasil dibaliknama.

Setiap kali Bu Desi menanyakan alasannya, Pak Hendra hanya menjawab bahwa proses verifikasi dana amanat belum selesai.

Kesabaran Bu Desi akhirnya habis.

Suatu sore, ia datang ke kantor Pak Hendra bersama Rendy dan seorang pengacara.

“Kami ingin pembacaan wasiat resmi dilakukan minggu ini,” katanya tajam.

Pak Hendra tersenyum tipis.

“Justru saya sedang menunggu permintaan itu.”

Pembacaan wasiat dijadwalkan lima hari kemudian di ruang rapat utama kantor pusat Wijaya Medika.

Hadir seluruh anggota dewan direksi, auditor eksternal, pengacara keluarga, Maya, Bu Desi, dan Rendy.

Bu Desi datang mengenakan setelan putih mahal.

Rendy duduk di sampingnya dengan jam tangan emas pemberian Pak Bambang masih melingkar di pergelangan tangan.

Ketika Maya masuk, Rendy tersenyum kecil.

“Datang juga.”

Maya menarik kursi di seberang mereka.

“Aku tidak akan melewatkan acara keluarga.”

Bu Desi mendengus.

“Kamu tetap saja suka bersikap dramatis seperti ayahmu.”

Pak Hendra memasuki ruangan tepat pukul sepuluh.

Tanpa basa-basi, ia mulai membaca dokumen.

Beberapa bagian awal terdengar biasa.

Koleksi pribadi dibagi kepada beberapa yayasan.

Sebagian properti kecil diberikan kepada kerabat.

Dana pendidikan disiapkan untuk cucu-cucu keluarga di masa depan.

Kemudian tibalah bagian mengenai kekayaan utama.

Pak Hendra berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Seluruh saham pengendali PT Wijaya Medika yang dimiliki Bambang Wijaya telah dialihkan ke Wijaya Family Trust sebelum kematiannya.”

Wajah Bu Desi berubah.

“Apa maksudnya?”

Pak Hendra tetap membaca.

“Penerima manfaat utama dana amanat adalah Maya Wijaya.”

Rendy langsung menoleh kepada Bu Desi.

Bu Desi menepuk meja.

“Itu tidak mungkin. Saya istrinya!”

“Anda tetap memperoleh tunjangan seumur hidup sebagaimana dicantumkan dalam dokumen awal,” kata Pak Hendra.

Ekspresi Bu Desi sedikit melunak.

Sampai Pak Hendra menambahkan kalimat berikutnya.

“Dengan syarat tidak ditemukan tindakan penipuan, penggelapan, konflik kepentingan, atau kerja sama dengan pihak lain untuk merugikan kepentingan keluarga maupun perusahaan.”

Ruangan menjadi senyap.

Maya melihat jari Rendy perlahan berhenti bergerak.

Pak Hendra memberi isyarat kepada auditor.

Layar besar di ujung ruangan menyala.

Muncul daftar transaksi.

Nama firma milik Rendy terlihat jelas.

Di sampingnya terdapat sejumlah transfer dari vendor perusahaan.

Wajah Rendy seketika pucat.

“Ini tidak membuktikan apa-apa.”

Auditor membuka dokumen berikutnya.

Kontrak palsu.

Invoice fiktif.

Riwayat komunikasi.

Kemudian rekaman percakapan internal yang diperoleh secara sah dalam audit perusahaan.

Dalam salah satu pesan, Bu Desi menulis kepada Rendy:

Setelah Bambang tidak ada, semuanya lebih mudah.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu berbicara.

Bu Desi menatap layar seperti kehilangan kemampuan bernapas.

Rendy berdiri.

“Itu keluar dari konteks.”

Maya akhirnya berbicara.

“Konteks apa yang membuat mencuri uang perusahaan terlihat benar?”

Rendy menatapnya tajam.

“Kamu menjebak kami.”

Maya menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu semua ini sampai setelah Ayah meninggal.”

Pak Hendra kemudian mengeluarkan dokumen terakhir.

“Berdasarkan ketentuan dana amanat, pelanggaran tersebut otomatis menghapus hak penerima manfaat tambahan.”

Bu Desi membelalakkan mata.

“Tidak.”

“Tunjangan Anda dibatalkan.”

“Tidak mungkin!”

“Dan posisi komisaris kehormatan Anda dicabut sesuai keputusan dewan pagi ini.”

Bu Desi berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh.

“Kalian tidak bisa memperlakukan saya seperti orang asing! Saya menemani Bambang lebih dari tiga puluh tahun!”

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, Maya menatap ibunya lama.

“Kalau begitu seharusnya Ibu tahu apa yang paling dibenci Ayah.”

Bu Desi terdiam.

“Pengkhianatan.”

Rendy masih mencoba mempertahankan ketenangan.

“Baik. Anggap saja Desi kehilangan warisannya. Itu tidak ada hubungannya denganku.”

Pak Hendra menutup map.

“Justru Anda memiliki masalah yang lebih besar.”

Dua orang dari divisi hukum perusahaan masuk ke ruangan bersama penyidik yang sebelumnya telah menerima laporan resmi dari Wijaya Medika.

Rendy memandang mereka, lalu kembali menatap Maya.

“Kamu melaporkanku?”

Maya menjawab dengan tenang.

“Perusahaan yang melaporkan transaksi mencurigakan. Aku hanya tidak menghentikannya.”

Rendy tertawa pendek, tetapi suaranya terdengar gugup.

“Kamu pikir menang karena punya uang?”

Maya berdiri.

“Tidak.”

Ia melihat jam tangan emas di tangannya.

“Aku menang karena akhirnya berhenti melindungi orang yang tidak pernah melindungiku.”

Rendy mengikuti pandangannya.

Entah karena malu atau marah, ia akhirnya membuka jam tangan itu dan meletakkannya di atas meja.

“Ambil.”

Maya mengambilnya tanpa berkata apa-apa.

Enam bulan berikutnya mengubah hidup mereka sepenuhnya.

Proses perceraian selesai tanpa Rendy memperoleh bagian dari aset pribadi Maya.

Investigasi terhadap firma konsultasinya terus berjalan.

Beberapa klien memutuskan kontrak setelah skandal transaksi Wijaya Medika menjadi pembicaraan di dunia bisnis.

Bu Desi pindah dari rumah Menteng setelah pengadilan menegaskan kepemilikan rumah tersebut tetap berada di tangan Maya.

Hubungannya dengan Rendy juga tidak bertahan lama.

Ketika uang, akses perusahaan, dan harapan terhadap warisan menghilang, kenyamanan yang mereka banggakan ternyata tidak memiliki banyak hal untuk dipertahankan.

Tiga minggu setelah meninggalkan rumah Menteng, Rendy pergi.

Tanpa pernikahan.

Tanpa perpisahan yang layak.

Ia hanya meninggalkan dua koper dan sebuah pesan singkat.

Aku perlu menyelesaikan masalahku sendiri.

Bu Desi kemudian tinggal di sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia tidak memiliki sopir, staf rumah tangga, atau kartu perusahaan.

Maya tidak pernah mengunjunginya.

Namun setiap awal bulan, ia tetap mengirim sejumlah uang yang cukup untuk kebutuhan dasar ibunya.

Pak Hendra sempat mempertanyakan keputusan itu.

“Kamu tidak punya kewajiban.”

Maya hanya menjawab, “Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Maya menatap keluar jendela kantor ayahnya.

“Karena aku tidak mau kebencianku menentukan aku akan menjadi orang seperti apa.”

Setahun setelah kematian Pak Bambang, Maya resmi diangkat menjadi ketua dewan Wijaya Medika.

Pada hari pertamanya, ia tidak menggunakan ruang kerja besar milik ayahnya.

Ia memilih ruangan lebih kecil di sebelahnya.

Ruang kerja Pak Bambang dibiarkan hampir seperti semula.

Di atas meja masih ada foto keluarga lama ketika Maya berusia sepuluh tahun.

Ayahnya berdiri di tengah.

Bu Desi tersenyum di sampingnya.

Maya kecil memeluk keduanya.

Suatu sore, ketika membereskan beberapa dokumen, Maya menemukan amplop tipis terselip di bawah sebuah buku catatan.

Tulisan di depannya berbunyi:

Untuk Maya, kalau semuanya sudah selesai.

Maya membukanya.

Hanya ada satu halaman.

Tulisan tangan ayahnya memenuhi bagian tengah kertas.

Maya membacanya perlahan.

Ayahnya menulis bahwa warisan terbesar yang ia tinggalkan bukan perusahaan, rumah, vila, atau rekening investasi.

Semua itu bisa hilang.

Bisa direbut.

Bisa dihancurkan.

Yang tidak boleh hilang adalah kemampuan Maya untuk melihat manusia berdasarkan tindakan mereka, bukan gelar yang mereka miliki dalam keluarga.

Pada bagian akhir terdapat satu kalimat yang membuat Maya menangis untuk pertama kalinya sejak pemakaman.

Ayah tidak menyusun semua ini supaya kamu menang melawan mereka. Ayah menyusunnya supaya ketika mereka menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya, kamu punya kebebasan untuk pergi.

Maya duduk lama sambil memegang surat itu.

Kemudian ia membuka laci meja dan meletakkan jam tangan emas Pak Bambang di dalamnya.

Jam tangan yang dulu dikenakan Rendy dengan begitu bangga.

Jam itu sudah berhenti.

Jarumnya menunjuk pukul 07.42.

Maya tersenyum kecil.

Ia tidak berniat memperbaikinya.

Beberapa benda memang tidak perlu dibuat berjalan kembali.

Cukup disimpan sebagai pengingat bahwa ada masa yang pernah berakhir.

Dan setelah itu, hidup tetap harus berjalan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang