Tepat pukul tujuh lewat dua puluh menit, ketika halaman rumah mulai dipenuhi suara tamu dan musik dari pengeras suara, saya sudah selesai mengenakan kebaya merah sederhana itu.
Tanpa riasan profesional.
Tanpa sanggul rumit.
Tanpa perhiasan mencolok.
Saya hanya menyisir rambut, mengikatnya rendah, lalu menyematkan tusuk rambut milik almarhumah nenek di sisi kanan kepala.
Anehnya, saya justru merasa lebih tenang.
Dari kamar sebelah terdengar suara Sinta berteriak karena salah satu bunga di sanggulnya tidak terpasang sesuai foto referensi.
“Jangan miring begitu! Mas Rian bisa lihat jelek nanti!”
Beberapa orang berlarian memenuhi lorong.
Ibu membawa kotak perhiasan.
Mas Budi sibuk menelepon sopir.
Mas Yudi memeriksa susunan rombongan pengantin.
Tidak ada yang mengetuk kamar saya.
Saya memandang jam tangan.
Dimas mengatakan ia akan tiba sekitar pukul tujuh tiga puluh.
Tujuh menit kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah.
Saya mendengar Mas Budi berseru dari luar.
“Itu pasti keluarga Rian!”
Semua orang langsung bergerak.
Ibu bahkan berlari kecil menuju ruang depan.
Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara kebingungan.
“Bukan, Mas,” kata salah satu sepupu saya. “Mobilnya cuma sedan hitam biasa.”
Saya tersenyum tipis.
Saya mengenal suara mesin itu.
Dimas.
Ketika saya keluar kamar, Dimas sudah berdiri di dekat pintu utama.
Ia mengenakan setelan abu-abu gelap yang sederhana tanpa merek mencolok. Rambutnya ditata rapi, wajahnya terlihat tenang seperti biasa.
Di tangannya ada buket kecil bunga putih.
Tidak ada rombongan besar.
Hanya satu pria berusia sekitar lima puluhan yang berdiri dua langkah di belakangnya mengenakan jas hitam.
Mas Budi mengamati mereka dari ujung kepala sampai kaki.
“Cuma berdua?”
Dimas tersenyum sopan.
“Rombongan keluarga saya langsung menunggu di lokasi akad.”
Mas Yudi berbisik cukup keras kepada salah satu sepupu.
“Mungkin keluarganya malu datang ke sini.”
Saya mendengarnya.
Dimas juga pasti mendengarnya.
Namun ia tidak bereaksi.
Ketika melihat saya, tatapannya langsung berubah lembut.
“Kamu cantik.”
Saya tertawa kecil.
“Padahal tidak dirias.”
“Justru itu.”
Ia menyerahkan buket kepada saya.
Sederhana.
Namun untuk pertama kalinya pagi itu, saya merasa benar-benar diperlakukan sebagai pengantin.
Ibu muncul dari ruang tengah.
“Nisa, kamu berangkat saja sekarang. Jangan lewat jalan depan terlalu lama. Nanti bentrok dengan rombongan Sinta.”
Saya menatapnya.
“Maksud Ibu?”
“Sebentar lagi keluarga Rian datang. Jalan gang sempit. Kalau dua rombongan bertemu, repot.”
Dimas menoleh kepada saya, seakan menunggu keputusan saya.
Dulu saya pasti langsung mengangguk.
Namun pagi itu, entah kenapa saya ingin bertanya satu hal.
“Kalau yang datang lebih dulu adalah rombongan saya, kenapa saya yang harus pergi diam-diam?”
Wajah Ibu berubah.
Mas Budi langsung menyela.
“Nisa, jangan mulai bikin masalah di hari pernikahan.”
Saya tersenyum.
“Tenang. Saya memang akan pergi.”
Saya menggenggam tangan Dimas.
“Tapi bukan karena saya mengalah.”
Kami berjalan keluar rumah berdampingan.
Tidak ada yang menggendong saya.
Tidak ada keluarga yang mengantar sampai ujung gang.
Bahkan Bapak hanya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi sulit dibaca.
Namun ketika saya hendak masuk ke mobil, saya mendengar suara langkah tergesa.
“Nisa.”
Saya menoleh.
Bapak berdiri beberapa meter di belakang.
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku kemejanya.
“Bapak tidak punya banyak.”
Saya menatap amplop itu.
“Tidak perlu, Pak.”
Wajahnya terlihat kecewa.
“Bapak cuma ingin kasih.”
Saya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.
Bapak mendekat lalu berkata lirih.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Terlambat, mungkin.
Namun tetap membuat tenggorokan saya terasa sesak.
Saya mengangguk pelan lalu masuk ke mobil.
Selama perjalanan, saya baru sadar bahwa sedan hitam yang dikendarai Dimas bukan mobil yang biasa ia gunakan saat menemui keluarga saya.
Saya melirik logo kecil di setir.
“Mobil siapa?”
Dimas menjawab santai.
“Pinjaman kantor.”
Pria berjas hitam di kursi depan tiba-tiba batuk kecil.
Saya melihat bahunya bergetar seperti menahan tawa.
“Kenapa, Pak Arif?”
“Tidak apa-apa, Bu.”
Bu.
Saya menoleh kepada Dimas.
“Sejak kapan beliau panggil aku Bu?”
Dimas memegang tangan saya.
“Nanti aku jelaskan.”
Saya mengerutkan dahi.
Lokasi akad kami berada di sebuah hotel di kawasan Dago.
Dimas sebelumnya mengatakan ia mendapat harga murah dari kenalan sehingga kami bisa menggunakan ruang privat tanpa menghabiskan banyak biaya.
Namun begitu mobil memasuki area hotel, saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Petugas keamanan langsung berdiri tegak.
Begitu melihat nomor kendaraan kami, gerbang dibuka tanpa pemeriksaan.
Di depan lobi, sedikitnya dua puluh staf hotel sudah berbaris.
General manager berdiri paling depan.
Ketika mobil berhenti, ia sendiri yang membukakan pintu.
“Selamat datang, Pak Dimas. Selamat datang, Bu Nisa.”
Saya tidak langsung turun.
Saya menatap Dimas.
“Apa ini?”
Dimas tersenyum kikuk.
“Satu bagian kecil yang belum sempat aku ceritakan.”
Saya turun dengan kepala penuh pertanyaan.
Ketika memasuki ballroom, langkah saya berhenti.
Ruangan itu bukan ruang privat sederhana seperti yang saya bayangkan.
Langit-langitnya dipenuhi instalasi bunga putih.
Lampu kristal menyala hangat.
Di bagian depan terdapat dekorasi minimalis dengan nama kami.
Nisa dan Dimas.
Tidak ada ratusan tamu.
Hanya sekitar enam puluh orang.
Namun sebagian besar dari mereka tampak seperti orang-orang yang biasa saya lihat di berita bisnis.
Direktur bank.
Pengusaha.
Beberapa pejabat daerah.
Bahkan saya mengenali seorang tokoh industri properti nasional yang pernah muncul di televisi.
Saya menggenggam lengan Dimas.
“Mas.”
“Iya?”
“Sebenarnya kamu kerja apa?”
Ia menarik napas.

Namun sebelum sempat menjawab, seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun berjalan mendekati kami.
Anggun, tetapi sederhana.
Dimas langsung mencium tangannya.
“Ibu.”
Wanita itu memeluk saya.
“Jadi ini Nisa.”
Saya semakin bingung.
Dimas pernah mengatakan ibunya tinggal di luar negeri karena mengurus usaha keluarga.
Namun saya tidak pernah tahu usaha apa.
Wanita itu tersenyum.
“Maaf kalau Dimas terlalu banyak menyembunyikan hal. Dari kecil memang begitu. Ayahnya sampai sering kesal.”
Kemudian seseorang datang membawa sebuah kotak kecil.
Ibu Dimas membukanya.
Di dalamnya terdapat sepasang anting berlian.
Saya spontan menggeleng.
“Bu, saya tidak bisa menerima ini.”
“Kenapa?”
“Ini pasti mahal.”
Beliau malah tertawa.
“Tidak semahal saham perusahaan yang sudah dipindahkan ke nama kamu tadi pagi.”
Saya benar-benar tidak bisa berkata-kata.
“Saham?”
Dimas menutup mata sebentar.
“Ibu…”
“Apa? Kamu mau menyembunyikan sampai malam?”
Saya menatapnya.
“Dimas.”
Ia akhirnya menyerah.
“Aku direktur utama Adikara Nusantara.”
Saya masih diam.
Nama itu terasa familiar.
Sangat familiar.
Kemudian saya mengingatnya.
Adikara Nusantara adalah grup investasi dan properti yang memiliki jaringan hotel, perkebunan, perusahaan logistik, serta beberapa kawasan industri.
Saya pernah membaca artikel tentang perusahaan tersebut.
Nilai bisnisnya mencapai triliunan rupiah.
Saya memandang Dimas cukup lama.
“Direktur utama?”
Ia mengangguk.
“Keluarga kami pemegang saham mayoritas.”
“Berarti selama ini…”
“Aku memang tetap bekerja. Aku tidak pernah bohong soal pekerjaanku. Aku cuma tidak cerita siapa pemilik perusahaannya.”
Saya hampir tertawa karena terlalu terkejut.
“Terus rumah kontrakan yang kamu bilang kamu sewa?”
“Punya perusahaan.”
“Mobil tua yang kamu pakai?”
“Memang mobilku.”
“Dua kotak teh yang kamu bawa ke rumahku?”
Dimas tersenyum.
“Itu juga memang teh.”
Saya memukul lengannya pelan.
“Bukan itu maksudku.”
Untuk pertama kalinya pagi itu saya tertawa lepas.
Namun kejutan sebenarnya belum terjadi.
Sekitar satu jam setelah akad kami selesai, ponsel saya berdering.
Mas Budi.
Saya mengangkatnya.
“Nisa, kamu di mana?”
“Sudah selesai akad.”
“Apa?”
Suara di belakangnya kacau.
Terdengar orang berteriak.
Saya berdiri.
“Ada apa?”
Mas Budi menurunkan suaranya.
“Rian belum datang.”
Saya mengernyit.
“Belum datang?”
“Rombongannya batal masuk.”
“Kenapa?”
Hening beberapa detik.
Kemudian Mas Budi berkata dengan suara yang membuat saya tidak percaya.
“Keluarganya baru tahu kalau bisnis ayah Rian sedang diselidiki. Rekening perusahaan dibekukan sejak tadi malam.”
Saya terdiam.
“Terus Rian?”
“Tidak bisa dihubungi.”
Saya belum sempat menjawab ketika sebuah suara terdengar dari pintu ballroom.
“Nisa?”
Saya menoleh.
Ibu berdiri di sana.
Di belakangnya ada Bapak, Mas Budi, Mas Yudi, Sinta, dan belasan kerabat.
Wajah Sinta berantakan.
Riasannya masih sempurna, tetapi matanya merah.
Saya menutup telepon.
Bagaimana mereka bisa menemukan lokasi ini?
Mas Budi langsung menghampiri saya.
“Kamu akad di sini?”
Tatapannya menyapu ballroom.
Kemudian berhenti pada Dimas yang sedang berbicara dengan beberapa tamu.
Wajahnya berubah.
“Mereka siapa?”
Saya belum menjawab ketika salah satu tamu berjalan mendekati Dimas dan menjabat tangannya.
“Selamat sekali lagi, Pak Dimas. Senin nanti kita lanjut bahas akuisisi lahan Bandung.”
Mas Budi membeku.
Ibu menatap saya.
“Nisa… Dimas sebenarnya siapa?”
Dimas rupanya mendengar.
Ia berjalan mendekat.
Sebelum saya sempat bicara, Pak Arif muncul dari belakang.
“Pak Dimas, media bisnis sudah menunggu di lantai bawah. Mereka ingin konfirmasi pernikahan Bapak sebelum keberangkatan ke Singapura.”
Mas Yudi bahkan sampai menjatuhkan ponselnya.
“Pak Dimas?”
Pak Arif menatap mereka sejenak.
“Bapak belum tahu?”
Tidak ada yang menjawab.
Pak Arif tersenyum profesional.
“Pak Dimas Adikara, Presiden Direktur Adikara Nusantara.”
Hening.
Benar-benar hening.
Ibu menutup mulut.
Mas Budi menoleh kepada saya seperti ingin memastikan apakah ia salah dengar.
Sedangkan Sinta menatap Dimas dengan mata membesar.
“Adikara Nusantara?”
Dimas hanya mengangguk sopan.
Ekspresi keluarga saya berubah seketika.
Ibu bahkan langsung berjalan mendekat.
“Dimas, kenapa tidak pernah cerita sama kami?”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri saya terasa dingin.
Saya menatap Ibu.
“Kalau Dimas cerita sejak awal, apa yang akan berubah?”
Ibu terdiam.
“Apakah aku akan dapat perias sendiri?”
Tidak ada jawaban.
“Apakah Mas Budi dan Mas Yudi akan berebut mengantarku juga?”
Kedua kakak saya menunduk.
“Apakah pernikahanku masih disebut urusan kecil?”
Suasana semakin sunyi.
Saya menatap mereka satu per satu.
“Kalau jawaban semuanya iya hanya karena kalian tahu dia kaya, berarti masalahnya bukan kalian tidak sayang sama aku.”
Saya berhenti sebentar.
“Masalahnya kalian cuma menghargai orang kalau kalian tahu harga hartanya.”
Wajah Ibu langsung pucat.
Sinta menangis.
Namun untuk pertama kalinya, saya tidak merasa bersalah melihatnya menangis.
Ia mendekati saya.
“Mbak… Rian pergi.”
Saya menatapnya.
Suaranya bergetar.
“Tadi pagi dia mengirim pesan. Dia bilang pernikahan dibatalkan karena keluarganya harus menyelesaikan masalah perusahaan.”
Saya menghela napas.
Saya tidak membencinya.
Sinta memang sering egois, tetapi sebagian besar karena sejak kecil keluarga selalu mengajarinya bahwa keinginannya lebih penting daripada milik saya.
Saya memegang tangannya.
“Kalau begitu jangan mengejarnya.”
Ia menatap saya.
“Kenapa?”
“Karena laki-laki yang kabur saat keadaan buruk bukan pasangan hidup yang kamu butuhkan.”
Sinta menangis lebih keras.
Untuk pertama kalinya, ia memeluk saya bukan karena ingin meminta sesuatu.
“Mbak, maaf.”
Saya tidak langsung menjawab.
Memaafkan mungkin bisa dilakukan hari itu.
Melupakan jelas tidak.
Beberapa menit kemudian, keluarga saya diminta duduk dan makan bersama tamu lain.
Tidak ada yang mengusir mereka.
Tidak ada yang mempermalukan mereka.
Dimas bahkan memerintahkan staf menyiapkan ruang khusus agar Sinta bisa beristirahat.
Saat saya bertanya mengapa ia tetap bersikap baik setelah semua penghinaan itu, jawabannya sederhana.
“Aku menikah denganmu, bukan dengan dendammu.”
Kalimat itu terus saya ingat.
Sore harinya kami berangkat menuju bandara.
Saat mobil mulai meninggalkan hotel, saya membuka amplop yang diberikan Bapak pagi tadi.
Saya mengira isinya uang.
Ternyata hanya ada selembar surat.
Tulisan tangan Bapak terlihat sedikit gemetar.
Nisa, Bapak tahu uang tidak bisa mengganti semua hal yang tidak pernah Bapak berikan. Sejak kamu kecil, Bapak terlalu sering diam karena berpikir anak yang kuat tidak perlu dibela. Ternyata diamnya Bapak justru membuat orang lain merasa boleh memperlakukan kamu sesuka hati. Kalau setelah menikah kamu tidak ingin pulang, Bapak mengerti. Tapi kalau suatu hari kamu mau datang, rumah itu tetap rumahmu. Bukan karena siapa suamimu. Karena kamu anak Bapak.
Saya membaca surat itu sampai akhir tanpa bicara.
Dimas menggenggam tangan saya.
“Kamu mau balik?”
Saya menatap jalanan Bandung yang perlahan tertinggal di belakang.
“Tidak sekarang.”
Ia mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, saya mendengar kabar bahwa keluarga Rian benar-benar jatuh karena masalah utang dan manipulasi laporan keuangan. Rian sendiri sempat mencoba menghubungi Sinta lagi setelah situasi sedikit mereda.
Namun kali ini Sinta menolaknya.
Ia mulai bekerja di sebuah perusahaan desain dan untuk pertama kalinya menjalani hidup tanpa meminta keluarga membereskan semuanya.
Mas Budi dan Mas Yudi juga berubah perlahan.
Mereka tidak pernah lagi bercanda tentang harga pakaian Dimas atau membandingkan pekerjaan seseorang dari mobil yang digunakannya.
Sedangkan Ibu?
Ia beberapa kali menelepon saya.
Awalnya canggung.
Lama-lama ia mulai meminta maaf tanpa menyertakan alasan.
Saya belum sepenuhnya sembuh dari semua perlakuan mereka.
Namun saya juga belajar bahwa menetapkan batas bukan berarti harus hidup dengan kebencian.
Setahun setelah pernikahan, saya dan Dimas kembali ke Bandung untuk menghadiri ulang tahun Bapak.
Saat mobil berhenti di ujung gang, saya melihat Mas Budi dan Mas Yudi berdiri menunggu.
Begitu saya turun, keduanya langsung berjalan mendekat.
Mas Budi membungkukkan badan sedikit.
“Ayo.”
Saya mengernyit.
“Apa?”
Mas Yudi tertawa.
“Dulu kami sibuk berebut menggendong Sinta.”
Mas Budi menunjuk jalan menuju rumah.
“Sekarang giliran kakaknya.”
Saya tertawa sampai mata saya panas.
“Terlambat.”
“Iya,” jawab Mas Budi pelan. “Tapi boleh dicoba, kan?”
Saya menggeleng sambil tersenyum.
Kemudian berjalan sendiri menuju rumah.
Bukan karena tidak ingin menerima mereka.
Namun karena sekarang saya tahu satu hal.
Saya tidak membutuhkan siapa pun untuk menggendong saya menuju tempat yang ingin saya tuju.
Saya sudah belajar berjalan dengan kaki sendiri.
Dan ironisnya, setelah mengetahui Dimas adalah seorang pria yang kekayaannya jauh melampaui semua yang pernah mereka bayangkan, keluarga saya akhirnya memahami bahwa hal paling berharga yang ia berikan kepada saya ternyata bukan rumah, saham, perjalanan ke luar negeri, atau nama besar keluarganya.
Dimas hanya memberikan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah saya dapatkan di rumah sendiri.
Ia membuat saya merasa bahwa keberadaan saya tidak pernah menjadi urusan kecil.
