“AKU PERGI BUKAN KARENA TIDAK SAYANG KELUARGA, TAPI KARENA KAPAN AKU BISA HIDUP UNTUK DIRIKU SENDIRI?”

Aku Pergi Bukan Karena Tidak Sayang

Aku tidak tahu berapa lama aku menatap pesan dari Rina sebelum akhirnya layar ponselku mati sendiri.

Kalimat terakhirnya terus berputar di kepalaku.

Kamu tega ninggalin keluarga sendiri begitu aja?

Tega.

Kata itu terasa lucu.

Selama tiga tahun aku bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan bekal Lala karena Rina sering bangun kesiangan. Aku mengantar Raka ke dokter ketika demam sementara kakakku sibuk menghadiri acara kantor suaminya. Aku membayar sebagian tagihan listrik, internet, bahkan beberapa kali cicilan motor Rina ketika dia mengaku sedang kesulitan.

Tidak pernah ada yang menyebutku baik.

Tapi saat aku pergi satu malam saja, tiba-tiba aku disebut tega.

Taksi berhenti di depan Stasiun Gambir.

“Mbak yakin turun di sini?” tanya sopir.

Aku menatap gedung stasiun yang basah oleh hujan.

“Yakin, Pak.”

Padahal aku sama sekali tidak yakin.

Aku menarik koper, membayar ongkos, lalu berdiri sendirian di bawah atap stasiun. Malam itu Jakarta terasa jauh lebih besar daripada biasanya.

Aku membuka aplikasi pemesanan hotel. Harga kamar membuatku meringis.

Tabunganku sebenarnya cukup.

Masalahnya, selama bertahun-tahun aku selalu merasa bersalah menggunakan uang untuk diriku sendiri.

Sepatu baru terasa boros.

Makan enak terasa boros.

Liburan terasa tidak penting.

Sementara ketika Rina meminjam tiga juta untuk uang sekolah anaknya, aku mentransfernya tanpa berpikir dua kali.

Aku hampir menutup aplikasi ketika sebuah nama muncul di layar.

Sebuah hotel kecil di daerah Menteng.

Aku mengenalnya.

Bukan hotelnya.

Pemiliknya.

Dimas.

Pria yang tiga tahun lalu hampir menikah denganku.

Pria yang kulepaskan karena keluargaku.

Tanganku membeku.

Ingatan lama datang begitu saja.

Waktu itu Dimas mendapatkan tawaran membuka cabang usaha di Bandung. Dia meminta aku ikut.

“Kita mulai hidup kita sendiri,” katanya.

Tapi Ibu menangis.

Rina baru melahirkan Raka.

“Kamu tega meninggalkan Ibu sendirian?” katanya waktu itu.

Aku memilih keluarga.

Dimas tidak memaksaku.

Dia hanya berkata satu kalimat sebelum pergi.

“Suatu hari kamu akan sadar, membantu keluarga berbeda dengan menyerahkan seluruh hidupmu kepada mereka.”

Aku marah mendengarnya saat itu.

Sekarang aku baru mengerti.

Aku memesan kamar.

Bukan karena berharap bertemu Dimas.

Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih mengelola hotel itu.

Aku hanya terlalu lelah untuk mencari tempat lain.

Setengah jam kemudian aku tiba.

Seorang resepsionis muda menyambutku.

Aku sedang mengisi formulir ketika terdengar suara dari belakang.

“Nadia?”

Tanganku berhenti.

Aku mengenali suara itu bahkan setelah tiga tahun.

Aku menoleh.

Dimas berdiri beberapa meter dariku.

Kemeja putih, celana hitam, rambut sedikit lebih pendek dari yang kuingat.

Wajahnya berubah.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Tapi tatapan matanya masih sama.

Dia melihat koperku, lalu wajahku.

“Kamu sedang apa di sini?”

Aku mencoba tersenyum.

“Menginap.”

“Jam sebelas malam, bawa dua koper?”

Aku terdiam.

Dimas tidak bertanya lagi.

Dia hanya mengambil kartu kamar dari resepsionis.

“Kamar 507.”

“Aku sudah pesan kamar standar.”

“Itu kamar standar.”

Resepsionis menunduk menyembunyikan senyum.

Aku tahu dia berbohong.

Kamar 507 ternyata sebuah suite kecil.

Aku terlalu lelah untuk protes.

Begitu pintu tertutup, aku duduk di lantai dan menangis.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menangis bukan karena masalah keluarga.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang hampir tiga puluh tahun tetapi bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan.

Keesokan paginya, aku bangun karena puluhan notifikasi.

Tujuh belas panggilan dari Ibu.

Dua belas dari Rina.

Empat dari nomor suami Rina, Bagas.

Pesan terakhir datang pukul enam pagi.

“Nadia, pulang sekarang. Anak-anak terlambat sekolah karena kamu nggak ada.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu untuk pertama kalinya, aku mematikannya.

Aku mandi, mengenakan pakaian kerja, dan turun ke restoran hotel.

Dimas sedang minum kopi.

Dia menunjuk kursi di depannya.

“Sarapan.”

“Aku harus kerja.”

“Makan dulu.”

Aku duduk.

Tidak ada pertanyaan tentang keluargaku.

Tidak ada nasihat.

Itulah yang membuatku akhirnya bicara sendiri.

“Ibu mengusirku.”

Dimas menatapku.

“Karena?”

“Katanya aku harus bayar sewa.”

“Lalu kamu pergi?”

Aku mengangguk.

Dimas tersenyum tipis.

“Akhirnya.”

Aku mendelik.

“Kamu senang?”

“Sedikit.”

Aku hampir marah, tapi dia melanjutkan.

“Aku bukan senang kamu diusir. Aku senang kamu akhirnya memilih dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

“Aku merasa bersalah.”

“Karena?”

“Mereka membutuhkanku.”

Dimas meletakkan cangkir.

“Nadia, orang yang membutuhkanmu tidak selalu mencintaimu. Kadang mereka hanya terbiasa mendapatkan sesuatu darimu.”

Aku tidak menjawab.

Hari-hari berikutnya membuktikan perkataannya.

Aku menyewa apartemen studio kecil dekat kantorku.

Untuk pertama kalinya aku pulang tanpa harus mampir sekolah.

Tidak ada pekerjaan rumah anak-anak.

Tidak ada Ibu yang menyuruh membeli gas.

Tidak ada Rina yang mengetuk pintu kamar pukul sepuluh malam meminta menjaga Raka karena dia ingin pergi bersama teman-temannya.

Aku tidur delapan jam.

Sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama bertahun-tahun.

Seminggu kemudian, atasanku memanggilku.

“Posisi supervisor proyek Surabaya masih kosong,” katanya. “Dulu kamu menolak. Masih tertarik?”

Aku hampir menjawab tidak secara refleks.

Lalu aku berhenti.

“Kalau saya ambil?”

“Gaji naik tiga puluh persen. Akomodasi ditanggung enam bulan. Kalau performamu bagus, kamu bisa pegang divisi sendiri.”

Jantungku berdetak kencang.

Kesempatan itu persis seperti yang selalu kuinginkan.

“Aku ambil, Pak.”

Malamnya, aku membeli sepotong cheesecake untuk merayakannya sendirian.

Rasanya aneh.

Tapi menyenangkan.

Sampai pintu apartemenku diketuk.

Ketika kubuka, Rina berdiri di depan.

Wajahnya kusut.

“Nadia.”

Aku membeku.

“Bagaimana kamu tahu alamatku?”

“Ibu tanya teman kantormu.”

Aku langsung tidak suka mendengarnya.

“Ada apa?”

“Aku perlu bantuan.”

Tentu saja.

Bukan aku rindu kamu.

Bukan bagaimana keadaanmu.

Aku perlu bantuan.

“Pengasuh Raka berhenti. Lala juga nggak mau ikut antar jemput sekolah. Aku kewalahan.”

“Lalu?”

“Kamu pulanglah.”

Aku tertawa kecil.

Rina menatapku tidak percaya.

“Kamu kenapa?”

“Aku kira kamu datang untuk minta maaf.”

“Minta maaf soal apa?”

Aku menatap kakakku lama.

Saat itulah aku sadar.

Dia benar-benar tidak merasa melakukan sesuatu yang salah.

“Rina, aku pindah ke Surabaya minggu depan.”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Aku dapat promosi.”

“Kamu nggak bisa pergi.”

“Aku bisa.”

“Ibu bagaimana?”

“Masih sehat.”

“Anak-anak?”

“Mereka punya orang tua.”

Rina mulai meninggikan suara.

“Kamu berubah sejak keluar dari rumah!”

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Aku cuma berhenti membiarkan kalian menggunakan hidupku.”

Rina mundur seperti baru ditampar.

“Jadi selama ini kamu merasa dimanfaatkan?”

“Aku tidak merasa. Aku memang dimanfaatkan.”

Dia pergi sambil menangis.

Dua hari kemudian Ibu datang.

Aku sudah menduga.

Namun kali ini dia tidak marah.

Dia membawa makanan kesukaanku.

“Nasi rawon,” katanya sambil meletakkan wadah di meja.

Aku tahu strategi itu.

Setiap kali Ibu membutuhkan sesuatu, dia memasak.

“Kamu benar mau ke Surabaya?”

“Iya.”

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Ibu kenapa melarang?”

“Karena keluarga kita di sini.”

Aku tersenyum pahit.

“Ibu yang mengusir aku.”

“Itu cuma supaya kamu belajar bertanggung jawab.”

“Aku sudah bertanggung jawab sejak lama.”

Ibu menghela napas.

“Kamu belum punya suami. Belum punya anak. Untuk apa mengejar karier sejauh itu?”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.

“Jadi karena aku belum menikah, hidupku boleh dipakai untuk mengurus kehidupan orang lain?”

Wajah Ibu mengeras.

“Jangan bicara seperti itu.”

“Aku menolak pekerjaan tiga tahun lalu karena Ibu.”

“Itu keputusanmu.”

Aku terdiam.

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada semua tuduhan sebelumnya.

“Itu keputusanmu.”

Benar.

Tidak ada yang mengikat tanganku.

Aku sendiri yang selalu berkata iya.

Aku sendiri yang takut disebut anak durhaka.

Aku sendiri yang mengorbankan sesuatu lalu berharap mereka menghargainya.

“Ibu benar,” kataku.

Ibu tampak lega.

Tapi aku melanjutkan.

“Semua itu memang keputusan aku. Dan sekarang aku membuat keputusan baru.”

“Nadia.”

“Aku pergi.”

Ibu menatapku lama.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Dia menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang perlahan turun di pipinya.

“Ibu takut sendirian.”

Untuk pertama kalinya aku melihat bukan seorang ibu yang keras, melainkan perempuan berusia enam puluhan yang takut kehilangan kendali atas keluarganya.

Hatiku melunak.

Tapi aku tidak berubah pikiran.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku pergi bukan karena tidak sayang keluarga.”

Ibu menatapku.

“Tapi kapan aku bisa hidup untuk diriku sendiri kalau setiap kali aku memilih sesuatu, kalian membuatku merasa bersalah?”

Ibu tidak menjawab.

Seminggu kemudian aku berangkat ke Surabaya.

Dimas mengantarku ke bandara.

Kami tidak membicarakan hubungan lama kami.

Saat hendak masuk pemeriksaan keamanan, dia berkata, “Kalau tiga tahun lalu kamu ikut aku, mungkin hidupmu berbeda.”

Aku tersenyum.

“Mungkin.”

“Menyesal?”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak.”

Dia terlihat heran.

“Aku harus melalui semua ini supaya tahu bedanya dicintai dan dibutuhkan.”

Dimas mengangguk.

“Bagus.”

Aku baru berjalan beberapa langkah ketika dia memanggil.

“Nadia.”

Aku menoleh.

“Aku masih sendiri.”

Aku tertawa.

“Itu informasi atau lamaran?”

“Informasi dulu.”

“Bagus.”

Aku melambaikan tangan.

“Tunggu aku belajar hidup sendiri.”

Enam bulan di Surabaya mengubah banyak hal.

Aku memimpin proyek pertamaku.

Menyewa apartemen yang lebih nyaman.

Belajar memasak makanan yang kusukai.

Pergi ke Malang sendirian pada akhir pekan.

Aku bahkan membeli kamera yang kuinginkan sejak kuliah.

Hubunganku dengan keluarga perlahan membaik.

Aku tetap menelepon Ibu.

Mengirim hadiah ulang tahun untuk Lala dan Raka.

Tapi aku berhenti menjadi solusi otomatis untuk semua masalah.

Anehnya, keluarga mereka tetap berjalan.

Rina akhirnya mencari pengasuh tetap.

Bagas mulai mengantar anak-anak ke sekolah.

Ibu bergabung dengan kegiatan warga di kompleks.

Dunia tidak runtuh ketika aku berhenti mengurus semuanya.

Justru mereka belajar berdiri sendiri.

Suatu malam, tujuh bulan setelah aku pergi, Rina menelepon.

“Nad.”

Nada suaranya berbeda.

“Ada apa?”

“Aku mau minta maaf.”

Aku diam.

“Dulu aku pikir kamu memang nggak keberatan bantu aku. Aku terlalu terbiasa.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa tiba-tiba ngomong begini?”

“Lala.”

“Kenapa Lala?”

Rina tertawa kecil.

“Kemarin gurunya tanya dia ingin jadi apa kalau besar.”

Aku tersenyum.

“Dia jawab apa?”

“Dia bilang ingin seperti Tante Nadia.”

Dadaku menghangat.

“Terus?”

“Aku tanya kenapa.”

Suara Rina mulai bergetar.

“Dia bilang karena Tante Nadia berani pergi mencari hidupnya sendiri.”

Aku tidak bisa bicara beberapa detik.

Rina melanjutkan.

“Aku malu, Nad. Anak delapan tahun bisa memahami sesuatu yang aku sendiri nggak pahami.”

Air mataku jatuh.

Kali ini bukan karena kecewa.

Beberapa minggu kemudian aku pulang ke Jakarta untuk ulang tahun Ibu.

Rumah itu terlihat sama.

Meja makan yang sama.

Sofa yang sama.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Ketika masuk, Raka berlari memelukku.

Lala menyusul.

“Tante sekarang orang Surabaya?” tanyanya.

“Setengah.”

“Setengah lagi?”

“Masih tante kalian.”

Ibu keluar dari dapur.

Kami saling menatap.

Dia mendekat dan memelukku.

Tidak ada permintaan pulang.

Tidak ada pertanyaan kapan aku berhenti bekerja.

Hanya pelukan.

Saat makan malam, Ibu tiba-tiba berkata, “Kamar kamu sudah Ibu ubah.”

Aku berhenti mengunyah.

Rina menahan senyum.

“Jadi apa?”

“Ruang baca.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

Ibu terlihat ragu.

“Kamu tidak marah?”

“Kenapa marah?”

Ibu menatapku beberapa detik.

“Berarti kamu memang tidak berencana pulang tinggal di sini lagi?”

Aku tersenyum.

“Aku akan selalu pulang.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi pulang untuk berkunjung berbeda dengan kembali menyerahkan hidupku.”

Ibu mengangguk pelan.

Malam itu aku mengerti sesuatu.

Rumah bukan tempat kita harus mengorbankan diri agar dianggap keluarga.

Cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Dan keluarga yang benar-benar mencintai kita mungkin akan marah ketika kita membuat batas.

Mungkin mereka akan kecewa.

Mungkin mereka bahkan menyebut kita egois.

Tapi jika cinta itu nyata, perlahan mereka akan belajar menghormati batas tersebut.

Sebelum tidur, ponselku berbunyi.

Pesan dari Dimas.

Besok makan siang?

Aku tersenyum.

Tujuh bulan lalu mungkin aku akan langsung menjawab iya karena takut mengecewakan seseorang.

Sekarang aku membuka kalender terlebih dahulu.

Besok aku punya waktu.

Aku mengetik balasan.

Boleh. Jam satu.

Lalu kutambahkan satu kalimat.

Tapi jangan berharap aku pindah ke Bandung.

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

Tenang. Sekarang aku yang sedang mempertimbangkan pindah ke Surabaya.

Aku tertawa sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti kewajiban.

Ia terasa seperti pilihan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang