Malam itu aku tidak tidur.
Dua belas video di dalam folder bernama kerja terus berputar di kepalaku. Bukan hanya suara Mireya yang mengancam ibu, melainkan wajahku sendiri yang tidak pernah terlihat di dalam rekaman.
Aku selalu berdiri di luar bingkai.
Selama tiga minggu, aku sengaja membiarkan Mireya mengira aku masih menjadi suami yang bisa dia kendalikan. Aku mengangguk ketika dia bicara soal menjual rumah ibu. Aku diam ketika dia menyebut ibu keras kepala. Aku bahkan pura-pura setuju saat dia menyusun rencana membawa ibu ke notaris.
Semua itu kulakukan karena satu alasan.

Aku membutuhkan Mireya melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi dia bantah.
Pukul setengah dua dini hari, aku mendengar pintu kamar terbuka.
Mireya belum pulang.
Aku bangkit dan berjalan ke kamar anak-anak. Raka dan Nara tidur berdampingan, selimut mereka berantakan. Aku berdiri cukup lama di ambang pintu.
Aku sadar sesuatu yang selama ini tidak mau kuakui.
Aku bukan hanya sedang melindungi ibu.
Aku sedang menentukan seperti apa rumah yang akan diingat anak-anakku ketika mereka dewasa.
Apakah rumah adalah tempat seseorang harus takut mengatakan tidak?
Atau tempat seseorang berhak mengatakan tidak tanpa dihukum?
Pukul tujuh pagi, Mireya akhirnya pulang.
Dia masih mengenakan kemeja kantor. Rambutnya diikat asal dan wajahnya tampak lelah, tapi nada suaranya tetap sama.
“Jam sepuluh kita ke notaris.”
Aku sedang membuat kopi.
“Ibu belum tentu mau.”
Mireya mengambil gelas dari tanganku dan meneguk kopi itu seolah miliknya.
“Dia akan mau.”
“Kalau tidak?”
Mireya meletakkan gelas.
“Jangan mulai lagi, Tama.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma bertanya.”
Dia mendekat.
“Kau pikir aku melakukan ini untuk diriku sendiri?”
Aku hampir tertawa.
Mireya menunjuk ke arah kamar anak-anak.
“Rumah itu nilainya hampir enam miliar. Letaknya strategis. Kalau dijual, kita bisa beli rumah di cluster baru, sisanya masuk investasi. Anak-anak bisa sekolah lebih bagus. Hidup kita bisa naik kelas.”
“Dan ibu?”
“Kita carikan tempat yang nyaman.”
“Panti jompo?”
Mireya menghela napas panjang.
“Jangan gunakan kata itu seperti aku mau membuang dia ke jalan.”
“Tapi kau mengancamnya dengan itu.”
Wajah Mireya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Lalu dia tersenyum tipis.
“Ibumu menceritakan itu?”
“Tidak.”
Aku tidak menjelaskan lebih jauh.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, kami sampai di rumah ibu.
Aku datang bersama Mireya dan dua anak kami. Ibu sudah berpakaian rapi. Blus krem dan celana kain cokelat. Rambutnya disisir ke belakang.
Dia tidak bertanya apa pun.
Mireya tersenyum seolah kejadian di kamar mandi kemarin tidak pernah ada.
“Bu, ayo. Biar cepat selesai.”
Ibu mengambil tasnya.
“Kertasnya mana?”
Mireya menepuk tas tangannya.
“Sudah saya bawa.”
Kami berangkat dengan dua mobil.
Aku menyetir mobil bersama ibu. Mireya membawa anak-anak.
Sepanjang perjalanan, ibu tidak bicara.
Saat lampu merah di persimpangan, akhirnya aku bertanya, “Ibu percaya aku?”
Ibu memandang ke depan.
“Seharusnya itu bukan pertanyaannya.”
“Lalu apa?”
“Apakah kau percaya pada keputusanmu sendiri?”
Aku menelan ludah.
“Aku akan menyelesaikannya hari ini.”
Ibu akhirnya menoleh.
“Jangan menyelesaikan Mireya. Selesaikan ketakutanmu.”
Kalimat itu mengikutiku sampai kami tiba di kantor notaris di kawasan Jakarta Selatan.
Bangunan itu modern. Kaca di depan, ruang tunggu dingin, aroma kopi dan pendingin ruangan bercampur.
Mireya sudah duduk bersama seorang pria bernama Surya, pengacara yang selama ini sering membantunya mengurus kontrak perusahaan.
Ketika melihat ibu, Surya langsung berdiri.
“Bu Ratih, silakan.”
Ibu duduk di seberang meja.
Aku duduk di sampingnya.
Mireya memilih kursi paling dekat dengan dokumen.
Notaris membuka map.
“Jadi kita akan membahas pengalihan hak atas rumah di daerah Tebet.”
Ibu mengangkat tangan.
“Saya belum bilang setuju.”
Ruangan mendadak diam.
Mireya memaksakan senyum.
“Makanya kita bahas dulu, Bu.”
Notaris menatap ibu.
“Kalau Ibu tidak setuju, tidak ada yang bisa diproses.”
Mireya langsung menyela.
“Ibu sudah setuju secara lisan.”
Ibu menoleh padanya.
“Kapan?”
Mireya terdiam.
Aku bisa melihat rahangnya mengeras.
Surya mencoba mengambil alih pembicaraan.
“Mungkin ini hanya persoalan komunikasi keluarga.”
“Bukan,” kataku.
Semua mata beralih kepadaku.
Aku mengeluarkan ponsel.
Mireya menatap tanganku.
“Tama.”
Aku menaruh ponsel di meja.
“Aku punya rekaman.”
Wajah Mireya berubah seketika.
“Apa?”
Aku membuka salah satu video.
Suara Mireya terdengar dari speaker.
Tanda tangan sekarang. Besok aku kembali dengan pengacara.
Aku menghentikannya setelah beberapa detik.
Ruangan terasa lebih dingin.
Notaris menutup map.
Surya menatap Mireya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Mireya justru tertawa.
“Tama, serius?”
Aku diam.
Dia menunjuk ponselku.
“Kau merekam istrimu sendiri?”
“Ya.”
“Diam-diam?”
“Ya.”
“Selama berapa lama?”
“Tiga minggu.”
Mireya bersandar.
Aku mengira dia akan marah.
Tapi dia malah tersenyum.
Senyum yang membuat tengkukku dingin.
“Bagus.”
Aku mengerutkan kening.
“Bagus?”
Mireya membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel lain.
Bukan ponsel yang biasa dia gunakan.
“Aku juga merekam.”
Aku membeku.
Dia menaruh ponsel itu di meja.
“Karena ternyata kita sama-sama tidak saling percaya.”
Dia memutar sebuah rekaman suara.
Suara seorang pria terdengar.
Biarkan dia menekan ibu sedikit lagi. Saya butuh bukti yang lebih jelas. Jangan hentikan dulu selama belum ada ancaman langsung.
Dadaku serasa dihantam.
Itu suaraku.
Mireya menatapku.
“Masih mau lanjut?”
Ibu di sampingku tidak bergerak.
Surya mulai tampak gelisah.
Mireya melanjutkan rekaman.
Aku mendengar suaraku sendiri bicara dengan seseorang lewat telepon.
Kalau saya langsung menghentikan sekarang, dia akan tahu saya mengumpulkan bukti. Saya mau semuanya cukup kuat untuk pengaduan.
Aku memejamkan mata sesaat.
Aku memang pernah mengatakan itu kepada konsultan hukum yang kuhubungi tiga minggu lalu.
Tapi Mireya tidak tahu konteks lengkapnya.
Atau kupikir dia tidak tahu.
Mireya tersenyum puas.
“Kau membiarkan ibumu diperlakukan seperti itu karena kau ingin menjebakku.”
Aku menatapnya.
“Jangan putarbalikkan.”
“Apa yang diputarbalikkan? Suaramu sendiri bilang jangan hentikan.”
“Aku mencoba melindungi mereka.”
“Dengan membiarkan?”
Aku tidak punya jawaban cepat.
Dan justru itu yang membuat tuduhannya terasa lebih tajam.
Ibu akhirnya bicara.
“Cukup.”
Semua orang diam.
Dia menatapku lebih dulu.
“Tama memang salah.”
Aku menoleh kaget.
“Bu.”
“Dia salah karena mengira bukti lebih penting daripada martabat orang yang sedang terluka.”
Aku tidak mampu membantah.
Lalu ibu memandang Mireya.
“Tapi kesalahan Tama tidak menghapus perbuatanmu.”
Senyum Mireya menghilang.
Ibu membuka tasnya.
Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Aku sebenarnya tidak datang untuk menjual rumah.”
Notaris menerima amplop itu.
Di dalamnya ada dokumen lain.
Aku membaca halaman pertama dan langsung menatap ibu.
“Bu, ini apa?”
“Surat hibah.”
Rumah itu sudah dialihkan.
Bukan kepadaku.
Bukan kepada Mireya.
Melainkan kepada sebuah yayasan pendidikan yang selama ini dikelola ibu bersama beberapa guru pensiunan di lingkungan kami.
Mireya memucat.
“Kapan ini dibuat?”
“Enam bulan lalu.”
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa tidak?”
“Karena Tama bilang rumah itu masih atas nama Ibu.”
Ibu menoleh padaku.
“Aku memang tidak memberitahumu.”
Aku menatap dokumen itu lagi.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin tahu siapa yang menginginkan rumah itu setelah tahu nilainya naik.”
Mireya berdiri.
“Jadi ini jebakan?”
Ibu menatapnya tanpa berkedip.
“Bukan. Rumah itu memang sudah bukan milikku.”
“Lalu selama ini Ibu membiarkan saya bicara soal penjualan?”
“Aku ingin kau berhenti dengan kemauanmu sendiri.”
Mireya tertawa pendek.
“Kalian semua sama gilanya.”
Dia mengambil tas.
“Aku tidak punya urusan lagi di sini.”
“Tunggu.”
Suara Surya membuat Mireya berhenti.
Pengacaranya sendiri berdiri.
“Ada satu masalah.”
Mireya menatapnya tajam.
“Apa lagi?”
Surya menunjuk dokumen yang tadi dibawa Mireya.
“Draf yang Anda minta saya siapkan mencantumkan nilai transaksi dua koma delapan miliar.”
Aku menatap Mireya.
Nilai pasar rumah ibu hampir dua kali lipat.
Surya melanjutkan, “Kemarin Anda bilang sisanya akan ditulis sebagai biaya pengurusan dan pelunasan beberapa kewajiban.”
Mireya tidak menjawab.
Aku merasa sesuatu mulai menyatu.
Rumah baru.
Investasi.
Sekolah anak.
Semua alasan yang dia sebutkan tidak pernah jelas.
Aku menatap Mireya.
“Utang apa?”
“Tidak ada.”
“Mir.”
“Tidak ada.”
Surya menarik napas.
“Pak Tama, saya seharusnya tidak mengatakan hal ini di luar kepentingan klien, tetapi setelah melihat situasi ini, saya tidak bisa lagi terlibat.”
Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas kerjanya.
Ada daftar pinjaman.
Kartu kredit.
Pinjaman bisnis.
Dan sebuah investasi yang gagal.
Totalnya lebih dari dua miliar rupiah.
Nama Mireya tercantum hampir di semuanya.
Aku memandang istriku lama.
“Sejak kapan?”
Mireya menatap lantai.
“Setahun.”
“Kenapa kau tidak bilang?”
Dia tiba-tiba membentak.
“Karena kau selalu bilang kita baik-baik saja!”
Aku terkejut.
“Kita memang baik-baik saja.”
“Tidak buat aku.”
Air mata mulai memenuhi matanya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, wajahnya tidak terlihat seperti orang yang sedang mengatur sesuatu.
Dia terlihat lelah.
“Aku capek hidup menghitung semuanya, Tama. Capek lihat teman-temanku pindah rumah, anak mereka masuk sekolah mahal, liburan ke luar negeri. Sementara kita masih tinggal di rumah yang cicilannya belum selesai.”
Aku menatapnya.
“Jadi kau ingin mengambil rumah ibu?”
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
“Dengan memaksanya menjual?”
“Aku panik.”
“Dan menarik rambutnya?”
Mireya menutup mata.
Tidak ada pembelaan lagi.
Hanya diam.
Aku tiba-tiba mengerti sesuatu yang menyakitkan.
Selama ini aku menunggu Mireya mengakui bahwa dia monster.
Ternyata tidak.
Dia manusia yang takut, serakah, panik, dan terus membuat keputusan buruk sampai dirinya sendiri tidak tahu bagaimana berhenti.
Dan aku juga manusia yang pengecut.
Aku mengumpulkan rekaman saat seharusnya aku berdiri di antara dia dan ibu.
Tidak ada pemenang di meja itu.
Hanya orang-orang yang terlambat mengatakan kebenaran.
Mireya meninggalkan kantor notaris sendirian.
Anak-anak ikut denganku dan ibu.
Malamnya, setelah mereka tidur, aku duduk di ruang tamu rumah ibu.
Laptop terbuka di depanku.
Dua belas video masih ada.
Ibu membuat teh lalu duduk di sampingku.
“Jadi kau akan melaporkan Mireya?”
“Aku belum tahu.”
Ibu menyeruput teh.
“Kalau kau tidak tahu, jangan gunakan rekaman itu sebagai senjata.”
Aku menatapnya.
“Lalu untuk apa semua ini?”
Ibu memandang layar laptop.
“Untuk mengingatkanmu bahwa kau pernah berdiri diam.”
Aku menutup laptop perlahan.
Dua hari kemudian, aku mengajukan pisah rumah.
Bukan karena aku membenci Mireya.
Justru karena akhirnya aku berhenti berharap cinta bisa memperbaiki sesuatu yang tidak pernah kami berani bicarakan.
Kami menjalani mediasi.
Mireya mengakui utangnya.
Aku mengakui caraku mengumpulkan bukti telah membuat ibu berada lebih lama dalam situasi yang seharusnya kuhentikan sejak awal.
Tidak ada perebutan anak.
Tidak ada perang besar seperti yang kubayangkan.
Yang ada justru percakapan-percakapan panjang yang menyakitkan.
Tiga bulan kemudian, Mireya mulai mencicil utangnya sendiri setelah menjual saham kecilnya di perusahaan konsultan. Dia pindah ke apartemen sederhana. Hubungannya dengan anak-anak tetap dijaga dengan jadwal yang kami sepakati.
Ibu tetap tinggal di rumah lama itu.
Secara hukum rumah tersebut memang milik yayasan.
Tapi ada satu klausul yang tidak kuketahui.
Ibu memiliki hak tinggal di sana seumur hidup.
Suatu sore, aku membantu mengecat ulang kamar mandi.
Bekas noda di lantai sudah hilang.
Ibu berdiri di pintu membawa dua gelas es teh.
“Kau masih simpan videonya?”
Aku berhenti mengecat.
“Satu.”
“Kenapa satu?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah rekaman.
Bukan video saat Mireya menarik rambut ibu.
Bukan video ancaman.
Melainkan video yang kurekam seminggu setelah mediasi.
Raka dan Nara sedang bermain di halaman. Ibu duduk di teras. Mireya datang menjemput anak-anak. Sebelum pergi, dia berdiri cukup lama di depan ibu.
Lalu dia berkata, “Saya tidak minta Ibu memaafkan saya.”
Ibu menjawab, “Bagus. Karena aku belum bisa.”
Mireya mengangguk.
“Tapi saya minta maaf.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada musik seperti dalam film.
Hanya dua perempuan berdiri beberapa meter satu sama lain, sama-sama mengakui bahwa ada sesuatu yang sudah rusak dan mungkin tidak akan kembali seperti dulu.
Aku merekam dari dalam rumah.
Lalu ibu menoleh ke arah kamera dan berkata, “Tama, berhenti merekam. Datang ke sini.”
Di video itu, gambarnya bergoyang.
Lalu layar menjadi gelap.
Karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar meletakkan ponsel.
Aku keluar dari balik pintu.
Dan aku bergabung dengan mereka.
