PESTA MEWAH MILIARDER DI BALIK TUBUH MUNGKIL YANG MERAYAP DI TEMPAT SAMPAH

Sementara itu, di ballroom sebuah hotel bintang lima di kawasan Sudirman, Mama sedang berdiri di atas panggung dengan gaun berkilau berwarna emas.

Namanya, Helena Wijaya, terpampang besar di layar LED.

Di bawahnya tertulis Ketua Dewan Pembina Yayasan Cahaya Rafael.

Tepuk tangan memenuhi ruangan ketika Mama mengangkat gelas sampanye.

“Malam ini,” katanya dengan suara lembut yang selama bertahun-tahun selalu berhasil membuat orang percaya kepadanya, “kita berkumpul untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang harus tidur dalam keadaan lapar.”

Para tamu bertepuk tangan lebih keras.

Di meja-meja bundar, para pengusaha, selebritas, dan pejabat perusahaan duduk dengan pakaian mahal. Kamera media bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya.

Tak seorang pun tahu bahwa beberapa kilometer dari sana, cucu perempuan Helena sendiri baru saja ditemukan mengais makanan dari tempat sampah.

Aku juga belum tahu bahwa pesta malam itu akan menjadi malam terakhir Mama menikmati hidup yang dibangun dari kebohongan.

Setelah menemukan Maya dan Luna, aku tidak langsung mendatangi Mama.

Aku menelepon ambulans.

Dokter yang datang hampir tidak percaya melihat kondisi Maya.

“Tekanan darahnya sangat rendah,” katanya. “Kami harus membawanya sekarang.”

Aku ikut masuk ke ambulans sambil memangku Luna.

Sepanjang perjalanan, Luna memegang ujung kemejaku seolah takut aku akan menghilang lagi.

“Ayah jangan pergi lagi.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan apa pun.

Aku mengusap rambutnya.

“Ayah di sini.”

“Besok juga?”

“Iya.”

“Lusa?”

“Iya.”

Dia menatapku ragu-ragu.

“Kalau Nenek marah?”

Aku tidak langsung menjawab.

Luna sudah belajar takut pada seseorang yang selama ini kupikir sedang melindunginya.

Aku mencium keningnya.

“Nenek tidak akan bisa menyakiti Luna lagi.”

Di rumah sakit, Maya langsung dibawa ke ruang perawatan intensif. Dokter mengatakan ginjalnya mengalami gangguan serius akibat dehidrasi berkepanjangan dan malnutrisi. Kondisinya masih bisa ditangani, tetapi beberapa hari ke depan akan sangat menentukan.

Aku berdiri di lorong rumah sakit dengan kepala kosong.

Selama delapan bulan terakhir aku bekerja di Singapura karena proyek ekspansi perusahaan. Aku pulang dua atau tiga minggu sekali, tetapi tiga bulan terakhir kepulanganku selalu dibatalkan.

Bukan karena aku tidak ingin pulang.

Mama terus mengatakan kondisi Maya stabil.

Dia bahkan mengirimiku foto Maya sedang tersenyum.

Baru sekarang aku sadar foto-foto itu selalu diambil dari sudut yang sama.

Dengan pakaian yang sama.

Aku terlalu sibuk untuk memperhatikannya.

Ponselku bergetar.

Pengacaraku, Dimas.

“Rafael, saya sudah menemukan sesuatu.”

“Bicara.”

“Dana yang Anda transfer setiap bulan ke rekening operasional keluarga adalah lima ratus juta rupiah.”

Aku memejamkan mata.

Benar.

Lima ratus juta.

Bukan lima ratus ribu seperti yang dipahami Maya.

“Dan yayasan?”

Dimas terdiam sebentar.

“Lebih buruk.”

Aku berjalan menjauh dari Luna yang sedang tidur di kursi tunggu ditemani perawat.

“Apa maksudmu?”

“Selama dua tahun terakhir, perusahaan Anda mentransfer hampir dua puluh delapan miliar rupiah ke Yayasan Cahaya Rafael.”

Aku mencengkeram ponsel.

“Berapa yang benar-benar masuk program sosial?”

“Kurang dari tiga miliar.”

Dadaku terasa dingin.

“Sisanya?”

“Ada pembayaran hotel, perjalanan luar negeri, butik, kendaraan, bahkan sebuah apartemen di Jakarta Selatan.”

“Atas nama siapa?”

Dimas menarik napas.

“Helena Wijaya.”

Aku menutup mata.

Tiba-tiba semua potongan kecil yang selama ini tidak pernah kupedulikan mulai tersusun.

Tas Mama yang berganti setiap bulan.

Perjalanannya ke Paris.

Jam tangan baru.

Mobil mewah yang katanya hadiah dari kolega.

Acara amal yang semakin megah.

Aku selalu menganggap Mama menikmati hasil investasinya sendiri.

Aku tidak pernah bertanya.

Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan karena aku mempercayai orang lain.

Melainkan karena aku percaya tanpa pernah memeriksa.

“Dimas.”

“Ya?”

“Bekukan akses rekening yayasan.”

“Ada prosedur yang harus kita lakukan.”

“Lakukan sekarang.”

“Rafael, malam ini sedang ada acara penggalangan dana. Banyak investor perusahaan Anda hadir.”

“Aku tahu.”

Aku menatap pintu ruang perawatan Maya.

“Aku akan datang.”

Satu jam kemudian, seorang perawat menghampiriku.

“Pak Rafael?”

Aku berdiri.

“Istri Bapak sudah sadar.”

Aku masuk.

Maya terlihat lebih kecil daripada yang kuingat. Selang infus terpasang di tangannya.

Dia menatapku lama.

“Luna?”

“Aman. Sudah makan. Sekarang tidur.”

Maya mengembuskan napas lega.

Aku duduk di sampingnya.

“Aku minta maaf.”

Maya menggeleng pelan.

“Jangan sekarang.”

“Aku seharusnya tahu.”

“Kamu seharusnya pulang.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi aku tidak bisa membantahnya.

Aku menunduk.

Maya menatap langit-langit.

“Awalnya Mama baik.”

Aku mengangkat kepala.

“Tiga bulan pertama setelah kamu pergi, semuanya normal. Lalu Mama bilang perusahaanmu sedang bermasalah. Katanya kamu meminta kami berhemat.”

“Kenapa kamu tidak meneleponku?”

“Aku menelepon.”

Aku membeku.

“Nomormu selalu tidak aktif.”

Aku membuka ponsel.

Maya melanjutkan.

“Pesanku hanya centang satu. Beberapa minggu kemudian nomor Mama yang menghubungiku katanya itu nomor barumu.”

Aku langsung memahami sesuatu.

“Nomor itu siapa yang pegang?”

“Mama.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Mama telah membuat jalur komunikasi palsu.

Dia menjawab sebagai diriku.

Maya tiba-tiba berkata, “Ada satu hal lagi.”

Aku menatapnya.

“Mama bukan bekerja sendiri.”

Aku diam.

“Siapa?”

Maya menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ardi.”

Aku merasa seperti baru saja dipukul.

Ardi adalah direktur keuangan perusahaanku.

Sahabatku sejak kuliah.

Orang yang kupercayakan hampir seluruh aliran dana ketika aku berada di luar negeri.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Suatu malam aku mendengar mereka bertengkar di ruang kerja. Ardi bilang Mama terlalu banyak menggunakan uang yayasan. Mama bilang Ardi juga sudah mengambil bagiannya.”

Aku berdiri.

Ponselku kembali bergetar.

Dimas.

Aku menjawab.

“Ada perkembangan baru,” katanya cepat. “Kami menemukan transfer dari rekening yayasan ke perusahaan cangkang.”

“Pemiliknya?”

“Ardi Pranoto.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Keduanya tampaknya membagi dana.”

“Ardi ada di pesta malam ini?”

“Menurut daftar tamu, iya.”

Aku memandang Maya.

“Aku harus pergi.”

Maya langsung memahami.

“Jangan lakukan sesuatu karena marah.”

“Aku tidak akan marah.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku akan membuat mereka bicara sendiri.”

Ketika aku tiba di hotel, acara sudah mencapai puncaknya.

Dari luar ballroom terdengar suara Mama.

“Dan malam ini, berkat kemurahan hati kita semua, dana yang berhasil dikumpulkan telah mencapai enam miliar rupiah.”

Pintu ballroom terbuka.

Aku masuk.

Beberapa orang langsung mengenaliku.

Bisik-bisik terdengar.

“Pak Rafael?”

“Bukannya beliau di Singapura?”

Mama masih berada di atas panggung ketika melihatku.

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Kemudian senyumnya kembali.

“Rafael!”

Dia membuka kedua tangannya seolah aku adalah kejutan yang sudah direncanakan.

“Anakku akhirnya pulang.”

Aku berjalan perlahan menuju panggung.

Ardi duduk di meja terdepan.

Wajahnya pucat.

Aku naik ke panggung.

Mama mencoba memelukku.

Aku mundur.

Senyumnya mulai retak.

“Rafael?”

Aku mengambil mikrofon dari tangannya.

“Acara yang sangat indah.”

Para tamu terdiam.

Mama tertawa kecil.

“Tentu. Semua ini untuk anak-anak yang membutuhkan.”

“Benarkah?”

Aku menatap layar besar.

Kemudian aku memberi isyarat kepada Dimas yang berdiri dekat operator.

Layar berubah.

Muncul laporan rekening.

Transfer miliaran rupiah.

Pembayaran butik.

Hotel.

Apartemen.

Perusahaan cangkang.

Ballroom langsung gaduh.

Mama menoleh ke layar.

“Apa ini?”

Aku menatapnya.

“Dana anak-anak jalanan.”

“Rafael, kamu salah paham.”

“Dua puluh delapan miliar masuk.”

Aku menunjuk angka di layar.

“Kurang dari tiga miliar digunakan untuk program yayasan.”

Mama mulai gemetar.

“Semua pengeluaran itu bisa dijelaskan.”

“Bagus.”

Aku tersenyum tipis.

“Jelaskan.”

Tidak ada suara.

Aku menoleh ke Ardi.

“Atau mungkin Direktur Keuangan saya mau membantu?”

Semua kepala berbalik.

Ardi berdiri.

“Rafael, jangan membuat tuduhan di depan umum.”

“Tuduhan?”

Aku menekan tombol remote.

Sebuah rekaman suara terdengar dari speaker.

Suara Mama.

“Kamu ambil saja bagianmu, Ardi. Rafael tidak pernah mengecek rekening.”

Kemudian suara Ardi.

“Kalau dia pulang?”

Mama tertawa.

“Dia lebih percaya padaku daripada pada istrinya sendiri.”

Ballroom menjadi sunyi.

Mama menutup mulutnya.

Ardi langsung menuju pintu.

Namun dua petugas keamanan menghadangnya.

Aku belum memanggil polisi untuk menangkap mereka.

Belum.

Aku hanya ingin mereka tidak pergi sebelum melihat satu hal terakhir.

Aku membuka sebuah video.

Bukan dokumen bank.

Bukan rekaman percakapan.

Video dari kamera rumah.

Luna.

Anakku terlihat berjalan keluar dari pintu belakang dengan tubuh kurus.

Dia membuka tempat sampah.

Mencari makanan.

Aku mendengar seseorang di antara tamu menahan tangis.

Kemudian video berikutnya.

Pintu kamar Maya.

Terkunci dari luar.

Mama menatap layar dengan wajah tanpa warna.

Aku mendekatinya.

“Pesta ini katanya untuk anak-anak yang kelaparan.”

Suaraku mulai bergetar.

“Tapi cucumu sendiri kelaparan beberapa kilometer dari sini.”

Mama menggeleng.

“Tidak. Rafael, dengarkan Mama. Maya sakit. Dia sulit diatur. Anak itu juga sering membuat masalah.”

Aku memandangnya.

“Dia empat tahun.”

“Mama hanya mendidiknya.”

“Dengan membiarkannya mencari makanan di sampah?”

Mama mulai menangis.

“Semua ini Mama lakukan untuk keluarga.”

Aku tertawa pendek.

Untuk pertama kalinya aku memahami betapa mengerikannya sebuah kalimat ketika digunakan untuk membenarkan keserakahan.

“Keluarga?”

Aku mengeluarkan ponsel.

Aku membuka foto Luna yang tertidur setelah akhirnya mendapatkan makanan layak.

“Ini keluargaku.”

Kemudian foto Maya di rumah sakit.

“Ini juga.”

Aku menatap Mama.

“Dan mereka hampir mati ketika kamu berdiri di sini mengenakan gaun yang dibeli dari uang yang seharusnya menyelamatkan orang lain.”

Sirene terdengar di luar hotel.

Wajah Ardi berubah.

Mama menatapku panik.

“Kamu memanggil polisi?”

“Bukan aku.”

Dimas berjalan mendekat.

“Bank melaporkan transaksi mencurigakan setelah rekening dibekukan. Tim penyidik sudah menerima dokumennya.”

Mama memegang lenganku.

“Rafael, Mama ini ibumu.”

Aku menatap tangan yang mencengkeramku.

Dulu tangan itu mengajariku berjalan.

Tangan itu menyuapiku ketika aku kecil.

Mungkin itu yang membuat pengkhianatan terasa jauh lebih menyakitkan.

Aku melepaskannya perlahan.

“Karena Mama ibuku, aku mempercayai Mama.”

Aku menatap matanya.

“Dan karena itulah Mama bisa melakukan semua ini.”

Beberapa bulan berikutnya mengubah hidup kami.

Ardi akhirnya mengakui skema penggelapan setelah penyidik menemukan rekening lain yang tidak pernah kuketahui.

Mama juga tidak bisa lagi menyangkal.

Sebagian besar aset yang dibeli dari dana yayasan disita.

Tetapi ada sesuatu yang bahkan lebih mengejutkanku.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa perempuan yang pertama kali mengirim video pesta kepadaku adalah salah satu mantan staf yayasan.

Namanya Sinta.

Dia pernah mencoba melaporkan penyalahgunaan dana enam bulan sebelumnya.

Mama memecatnya.

Sinta kemudian mengikuti beberapa kegiatan yayasan secara diam-diam, mengumpulkan bukti, dan malam itu kebetulan merekam Luna di sudut ballroom ketika Mama membawanya ke hotel.

Luna ternyata dibawa bukan sebagai cucu.

Mama memperkenalkannya kepada staf sebagai anak salah satu pekerja rumah tangga.

Ketika Luna meminta makanan, dia disuruh menunggu di belakang.

Itulah alasan Luna terlihat dalam video.

Sebuah kebetulan kecil yang akhirnya membuka semuanya.

Maya menjalani perawatan selama beberapa bulan.

Ginjalnya perlahan membaik.

Luna mulai sekolah untuk pertama kalinya.

Pada hari pertama, dia memakai seragam merah putih dan berdiri di depan cermin hampir sepuluh menit.

“Ayah.”

“Ya?”

“Kalau Luna lapar di sekolah, boleh bilang ke Bu Guru?”

Aku tidak mampu langsung menjawab.

Aku berjongkok di depannya.

“Boleh.”

“Tidak dimarahi?”

“Tidak.”

Dia memikirkan jawabanku sebentar.

Kemudian tersenyum.

Senyum kecil itu adalah hal paling mahal yang pernah kumiliki.

Setahun kemudian, aku berdiri di sebuah bangunan yang jauh lebih sederhana daripada ballroom tempat pesta Mama pernah berlangsung.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada sampanye.

Tidak ada meja dengan bunga impor.

Di depan bangunan itu hanya ada sebuah papan.

Rumah Luna.

Tempat makan gratis dan pusat pendidikan untuk anak-anak dari keluarga yang sedang kesulitan.

Aku tidak menggunakan namaku.

Aku juga tidak membangun tempat itu untuk menebus rasa bersalah.

Maya yang memilih namanya.

“Kenapa nama Luna?” tanyaku ketika pertama kali melihat desain papan itu.

Maya tersenyum.

“Karena satu anak yang lapar berhasil membuka mata kita tentang ribuan anak lain yang mungkin mengalami hal serupa.”

Pada acara pembukaan, tidak ada wartawan.

Tidak ada selebritas.

Hanya beberapa relawan, guru, dokter, dan anak-anak.

Aku berdiri jauh dari pintu ketika Luna berlari membawa dua kotak roti.

Dia menghampiri seorang anak laki-laki yang duduk sendirian.

“Mau?”

Anak itu mengangguk.

Luna menyerahkan satu roti.

Lalu dia memberikan roti satunya lagi.

“Kenapa dua?” tanya anak itu.

Luna menjawab dengan sangat sederhana.

“Supaya nanti kalau lapar lagi, kamu tidak perlu cari di tempat sampah.”

Aku menunduk.

Maya menggenggam tanganku.

Saat itu aku akhirnya mengerti sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira kemiskinan terbesar adalah tidak memiliki uang.

Aku salah.

Ada orang yang hidup di rumah besar, memakai pakaian mahal, dan memegang miliaran rupiah, tetapi tetap miskin karena tidak pernah merasa cukup.

Dan ada seorang anak kecil yang pernah mengais makanan dari sampah, tetapi ketika akhirnya memiliki dua potong roti, hal pertama yang dipikirkannya adalah memberikan keduanya kepada orang lain.

Aku melihat Luna tertawa bersama anak-anak di halaman.

Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, aku tidak melihat tubuh mungil yang pernah kutemukan di belakang rumah.

Aku melihat seorang anak yang selamat.

Dan tanpa pernah menyadarinya, dialah yang sebenarnya telah menyelamatkan kami semua.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang