Ketika aku mendengar istriku yang sedang hamil hampir berbisik memohon kepada ibuku agar mengizinkannya beristirahat sehari saja karena perutnya sakit

“Kalau begitu siapa yang akan memasak? Aku?”

Nada suara Mama terdengar datar, seolah permintaan Noelle untuk beristirahat adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Noelle terdiam beberapa detik.

“Aku cuma takut, Ma. Sakitnya sejak tadi malam belum benar-benar hilang.”

Mama mendengus.

“Perempuan hamil memang begitu. Dulu waktu mengandung Mateo, aku masih mencuci baju dengan tangan, naik angkot ke pasar, bahkan mengangkat ember air. Tidak sedikit-sedikit mengeluh.”

Tanganku mengepal.

Aku berdiri di balik dinding lorong, hanya beberapa langkah dari dapur.

Lalu terdengar suara Liza.

“Lagipula keluarga Tante Mirna sudah mau datang. Masa makanannya beli? Nanti dikira kita tidak menghargai tamu.”

Arman ikut tertawa kecil.

“Masak saja yang sederhana. Rendang, ayam, sayur, sama gorengan. Selesai.”

Aku hampir masuk saat itu juga.

Namun sesuatu menahanku.

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan tombol rekam.

Bukan karena aku membutuhkan bukti untuk mempercayai istriku.

Aku membutuhkan bukti agar nanti tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan aku salah dengar.

Mama kembali bicara.

“Sekarang pergi ke pasar sebelum ramai. Pulangnya langsung masak. Jangan buat Mateo tahu soal beginian. Dia sudah capek kerja.”

Kalimat terakhir itu membuat dadaku terasa seperti dipukul.

Jangan buat Mateo tahu.

Berarti ini bukan pertama kalinya.

Noelle menjawab dengan suara hampir tak terdengar.

“Iya, Ma.”

Aku menutup rekaman.

Lalu berjalan kembali ke kamar seolah tidak pernah mendengar apa pun.

Beberapa menit kemudian, Noelle masuk sambil membawa tas belanja.

Wajahnya pucat.

Begitu melihatku masih di rumah, dia terkejut.

“Kamu belum berangkat?”

“Pengirimannya terlambat.”

“Oh.”

Dia segera tersenyum.

Senyum yang selama ini selalu berhasil menipuku.

“Mama minta aku beli beberapa bahan. Nanti keluarga mau datang makan siang.”

Aku menatap tas di tangannya.

“Kamu sakit?”

Tangannya langsung menyentuh perut.

“Hanya sedikit.”

“Sejak kapan?”

Noelle mengalihkan pandangan.

“Semalam.”

Aku mendekatinya.

“Kenapa tidak bilang?”

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lemah.

“Karena kamu sudah banyak pikiran.”

Saat itulah aku sadar betapa rusaknya keadaan di rumah kami.

Istriku yang sedang mengandung anakku merasa harus melindungiku dari rasa sakitnya sendiri.

Sementara keluargaku merasa berhak menggunakan tenaga dan rumah kami sesuka hati.

Aku mengambil tas dari tangannya.

“Kamu tidak pergi ke pasar.”

“Tapi Mama…”

“Masuk kamar. Ganti baju. Kita ke rumah sakit.”

Wajah Noelle berubah panik.

“Mateo, nanti Mama marah.”

Aku terpaku.

Bukan karena dia menolak ke rumah sakit.

Melainkan karena alasan pertama yang terlintas di kepalanya adalah Mama akan marah.

Aku menggenggam bahunya.

“Dengar aku. Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut Mama marah.”

Noelle menatapku lama.

Matanya perlahan berkaca-kaca.

Kami baru berjalan menuju pintu ketika Mama keluar dari dapur.

“Mau ke mana?”

“Rumah sakit.”

Mama mengernyit.

“Untuk apa?”

“Noelle sakit.”

“Oh, itu lagi.”

Aku berhenti.

Mama melanjutkan, “Kalau diperiksa setiap kali perut terasa tidak nyaman, habis uang kalian.”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku itu dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sedang melihat seseorang yang sama sekali berbeda.

“Mama tahu dia sakit sejak tadi malam?”

Mama terdiam sepersekian detik.

Kemudian menjawab santai.

“Dia bilang begitu.”

“Dan Mama tetap menyuruhnya ke pasar?”

Liza muncul dari ruang keluarga.

“Mas, jangan dibesar-besarkan. Kak Noelle juga tidak bilang sakitnya parah.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Wajah Mama berubah.

“Aku dengar semuanya.”

Tak seorang pun bicara.

“Aku juga merekamnya.”

Mama memelototiku.

“Kamu merekam Mama sendiri?”

“Aku merekam apa yang kalian lakukan kepada istriku ketika kalian kira aku tidak ada.”

Noelle memegang lenganku.

“Mateo, sudah. Kita ke rumah sakit saja.”

Aku mengangguk.

Saat melewati Mama, dia berkata dengan tajam,

“Kalau nanti ternyata tidak ada apa-apa, jangan salahkan Mama kalau keluarga malu karena acara berantakan.”

Aku tidak menjawab.

Di rumah sakit, dokter meminta Noelle berbaring dan melakukan pemeriksaan cukup lama.

Aku duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya.

Ketika dokter akhirnya kembali, ekspresinya serius.

“Untung Anda datang hari ini.”

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Dokter menjelaskan bahwa Noelle mengalami kontraksi dini yang dipicu kelelahan dan kurang istirahat. Kondisinya masih bisa dikendalikan, tetapi dia perlu mengurangi aktivitas secara drastis. Tidak boleh mengangkat barang berat, berdiri terlalu lama, apalagi melakukan pekerjaan rumah berlebihan.

“Kalau tadi dia tetap pergi ke pasar dan memasak berjam-jam?” tanyaku.

Dokter menatap kami bergantian.

“Risikonya bisa meningkat.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Aku tidak perlu.

Noelle akhirnya dirawat beberapa jam untuk observasi.

Saat dia tertidur, aku membuka ponselnya.

Bukan untuk memeriksa sesuatu secara diam-diam. Aku meminta izin lebih dulu.

“Aku mau tahu, apakah ini sudah sering terjadi.”

Noelle menatapku dengan rasa bersalah.

“Jangan marah sama mereka.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

Di WhatsApp, aku menemukan banyak pesan dari Mama.

Noelle, besok bangun lebih pagi. Arman mau sarapan sebelum wawancara.

Noelle, bajuku jangan dicampur dengan pakaian kalian.

Noelle, lantai dapur lengket.

Noelle, Tante Mirna mau datang. Buat makanan yang bagus.

Noelle, kalau tidur siang terus nanti badan tambah malas.

Lalu ada satu pesan dua minggu sebelumnya.

Jangan cerita kepada Mateo kalau kamu sering sakit. Dia kerja untuk menghidupi kita semua. Jangan menambah bebannya.

Aku menutup layar.

Tanganku gemetar.

“Kamu mengikuti semua ini?”

Noelle menatap langit-langit.

“Aku pikir kalau aku bisa membuat semuanya nyaman, mereka akhirnya akan menerima aku.”

“Apa maksudmu menerima?”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Mama pernah bilang aku membuatmu berubah. Katanya sejak menikah, uang yang kamu kirim berkurang. Liza juga pernah bilang rumah ini sebenarnya rumah keluarga karena uang muka dulu dibantu Mama.”

Aku berdiri.

“Uang muka rumah ini dari tabungan kita.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kamu tidak pernah membela diri?”

Noelle akhirnya menatapku.

“Karena setiap kali aku mencoba bicara, kamu selalu bilang, ‘Bersabar dulu.’”

Aku tidak bisa menjawab.

Tidak ada satu pun pembelaan yang pantas keluar dari mulutku.

Menjelang siang, dokter mengizinkan kami pulang dengan syarat Noelle benar-benar beristirahat.

Ketika mobil masuk ke halaman, aku melihat ada empat mobil lain terparkir di depan rumah.

Para kerabat sudah datang.

Dari dalam terdengar suara tawa.

Aku membantu Noelle turun.

“Masuk kamar dan istirahat.”

“Kamu?”

“Aku akan menyelesaikan sesuatu.”

Begitu aku membuka pintu, aroma makanan memenuhi ruang tamu.

Ternyata Mama memesan katering setelah kami pergi.

Tante Mirna duduk di sofa. Beberapa sepupu sedang makan. Arman memegang piring penuh. Liza tertawa sambil memainkan ponselnya.

Mama melihat kami dan langsung berkata,

“Nah, akhirnya pulang juga. Dokternya bilang apa? Tidak apa-apa, kan?”

Aku berjalan menuju televisi.

Menghubungkan ponselku ke speaker.

Lalu memutar rekaman pagi tadi.

Suara Noelle terdengar jelas.

“Ma… boleh tidak kalau hari ini aku istirahat dulu?”

Semua orang mulai diam.

Kemudian suara Mama.

“Kalau begitu siapa yang akan memasak? Aku?”

Aku membiarkan rekaman berjalan sampai selesai.

Tante Mirna menurunkan sendoknya.

Mama berdiri.

“Matikan itu!”

Aku mematikannya.

“Dokter bilang Noelle mengalami kontraksi dini karena kelelahan.”

Ruangan menjadi senyap.

“Mulai hari ini tidak ada lagi yang menyuruh dia memasak, mencuci, membersihkan rumah, pergi belanja, atau melayani siapa pun.”

Mama melipat tangan.

“Baik. Jadi sekarang kamu mau mempermalukan Mama di depan keluarga?”

“Tidak.”

Aku mengeluarkan tiga amplop dari tas yang sudah kusiapkan saat Noelle diperiksa.

“Aku mau mengakhiri sesuatu.”

Kuberikan amplop pertama kepada Mama.

“Itu bukti pembayaran sewa apartemen kecil dekat rumah Tante Mirna. Sudah kubayar tiga bulan.”

Mama membeku.

Amplop kedua kuberikan kepada Arman.

“Itu daftar lowongan kerja dan satu bulan biaya kos.”

Arman tertawa tidak percaya.

“Mas bercanda?”

“Tidak.”

Amplop ketiga untuk Liza.

“Itu tiket bus dan uang untuk menyewa kamar selama sebulan.”

Liza berdiri.

“Mas mau mengusir kami?”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Suara Mama meninggi.

“Ini rumah anakku!”

Aku menatapnya.

“Ini rumahku dan istriku.”

“Aku ibumu!”

“Dan dia istriku.”

Mama menepuk meja.

“Kamu memilih perempuan itu daripada keluarga sendiri?”

Aku merasakan tangan Noelle menyentuh lenganku dari belakang.

Aku menatap Mama tanpa ragu.

“Aku tidak sedang memilih antara istri dan keluarga. Aku sedang memilih untuk menghentikan orang-orang yang menyakiti istriku, siapa pun mereka.”

Tidak ada yang bergerak.

Aku menunjuk pintu.

“Kalian punya waktu sampai malam ini untuk mengambil barang.”

Tante Mirna mencoba menenangkan.

“Mateo, ini bisa dibicarakan baik-baik.”

“Sudah hampir satu tahun Noelle diam agar semuanya tetap baik-baik. Hasilnya dia hampir masuk rumah sakit lebih cepat karena harus melayani orang sehat yang bahkan tidak mau membawa piring sendiri ke wastafel.”

Arman meletakkan piringnya.

“Mas, aku memang belum kerja, tapi bukan berarti…”

“Sebelas bulan, Man.”

Dia diam.

“Sebelas bulan kamu bilang sedang mencari kerja. Tapi paket sepatu datang tiga kali bulan lalu dan semuanya dibayar menggunakan kartu kreditku.”

Wajahnya berubah.

Liza langsung menatap Arman.

Mama memotong.

“Kamu menghitung semuanya sekarang?”

“Seharusnya aku menghitung sejak awal.”

Lalu datang kejutan yang bahkan tidak kuketahui sebelumnya.

Liza tiba-tiba menatap Mama.

“Ma, bukankah Mama bilang Mateo memang meminta kita tinggal di sini?”

Aku menoleh.

“Apa?”

Liza terlihat bingung.

“Mama bilang Mas tidak keberatan. Bahkan katanya Noelle yang minta kami tetap tinggal supaya rumah ramai.”

Aku menatap Noelle.

Wajahnya sama terkejutnya denganku.

Arman ikut bicara.

“Mama juga bilang uang yang Mas kirim setiap bulan adalah biaya rumah ini untuk kami.”

Aku perlahan menghadap Mama.

“Mama?”

Dia tidak menjawab.

Aku membuka aplikasi bank.

Selama hampir setahun, aku memang mengirim uang rutin kepada Mama.

Aku kira uang itu untuk renovasi rumah lamanya di Bulacan dan kebutuhan pribadi.

“Mama bilang rumah lama sedang direnovasi.”

Tante Mirna mendadak mengerutkan kening.

“Renovasi apa?”

Semua mata menoleh kepadanya.

“Rumah itu sudah dijual sembilan bulan lalu.”

Seakan udara di dalam ruang tamu menghilang.

Aku menatap Mama.

“Dijual?”

Tante Mirna kelihatan menyesal sudah bicara, tetapi terlambat.

Mama duduk perlahan.

Akhirnya semuanya terbongkar.

Rumah lama memang sudah dijual.

Sebagian uangnya dipakai melunasi utang Arman yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Sebagian lagi digunakan Mama sebagai modal investasi yang ternyata gagal.

Dia takut memberitahuku.

Karena itu dia mempertahankan cerita tentang renovasi dan terus tinggal di rumah kami.

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena ternyata aku telah bekerja sampai larut malam untuk membiayai kebohongan yang secara perlahan menghancurkan rumah tanggaku sendiri.

“Mama bisa meminta bantuan.”

Mama mulai menangis.

“Kamu akan marah.”

“Mungkin.”

Aku menelan sesuatu yang berat di tenggorokan.

“Tapi setidaknya Noelle tidak harus membayar kebohongan Mama dengan tubuhnya.”

Hari itu, makan siang keluarga berakhir sebelum satu pun orang menyentuh makanan penutup.

Menjelang malam, koper-koper mulai keluar dari rumah kami.

Mama tidak bicara kepadaku saat pergi.

Arman juga tidak.

Liza berhenti di depan pintu.

Dia menatap Noelle.

“Maaf, Kak.”

Noelle hanya mengangguk.

Setelah mobil terakhir meninggalkan halaman, rumah kami terasa aneh.

Sunyi.

Aku masuk ke kamar dan menemukan Noelle duduk di tepi tempat tidur.

Aku berlutut di depannya.

“Aku minta maaf.”

Dia mengusap rambutku.

“Aku juga seharusnya bicara lebih keras.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu sudah bicara. Aku yang tidak mau mendengar.”

Tiga minggu kemudian, Mama mengirim pesan.

Bukan permintaan maaf.

Hanya satu kalimat.

Kalau kamu sudah tenang, datanglah menemui Mama.

Dulu, aku pasti langsung pergi.

Kali ini aku membalas,

Aku akan datang ketika Mama siap meminta maaf kepada Noelle, bukan ketika Mama merasa aku sudah cukup tenang untuk melupakan semuanya.

Pesan itu tidak dibalas.

Dua bulan kemudian, anak kami lahir dengan selamat.

Seorang perempuan kecil yang kami beri nama Amara.

Di hari kedua setelah persalinan, seorang perawat masuk membawa bunga.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya sebuah kartu.

Untuk Noelle.

Maaf karena dulu Mama menganggap kesabaranmu sebagai kewajiban.

Aku berharap suatu hari bisa menjadi nenek yang lebih baik daripada mertua yang pernah kamu kenal.

Mama.

Noelle membaca kartu itu dua kali.

Kemudian dia memberikannya kepadaku.

“Menurutmu dia sungguh-sungguh?”

Aku melihat Amara yang sedang tidur di pelukannya.

“Aku tidak tahu.”

“Lalu?”

“Kita tidak perlu buru-buru memutuskan.”

Noelle tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, senyumnya tidak terlihat seperti sedang berusaha menjaga perasaan siapa pun.

Aku baru mengerti sesuatu hari itu.

Keluarga bukan tempat kita dipaksa bertahan hanya karena memiliki hubungan darah.

Rumah juga bukan tempat yang otomatis aman hanya karena pintunya bisa dikunci.

Rumah menjadi aman ketika orang yang tinggal di dalamnya tahu kapan harus saling mengalah, kapan harus saling melindungi, dan terutama kapan harus berkata cukup.

Aku terlalu lama mengira menjadi anak yang baik berarti tidak pernah mengecewakan ibuku.

Padahal pada saat yang sama, aku sedang gagal menjadi suami yang baik bagi perempuan yang telah memilih membangun hidup bersamaku.

Aku tidak bisa mengubah hampir satu tahun ketika Noelle diperlakukan seperti tamu yang harus membayar tempat tinggalnya dengan tenaga.

Namun aku bisa memastikan satu hal.

Amara tidak akan tumbuh di rumah tempat ibunya harus berbisik ketika merasa sakit.

Dan sejak hari itu, tidak pernah lagi ada kata “sementara” yang boleh masuk ke rumah kami tanpa batas yang jelas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang