MERTUAKU MEMBERIKU MAKAN SISA NASI DAN SARDEN DARI KALENG LAMA DI SAMPING KANDANG ANJING SAAT PESTA KELUARGA TAPI MEREKA TERKEJUT KETIKA KUTEMUKAN SURAT RAHASIA YANG DISIMPAN SUAMIKU DI BAWAH ALTAR

Namun nama yang tercantum sebagai ayah Andi bukan nama lelaki yang selama ini kukenal sebagai ayahnya.

Aku menatap akta itu sampai huruf-hurufnya seperti bergerak.

Nama ayah yang tertulis di sana adalah Santoso Pranoto.

Nama ayahku.

Tanganku langsung dingin.

Aku mengangkat wajah menatap Andi.

Dia berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah pucat seperti orang yang baru kehilangan darah.

“Andi,” suaraku nyaris tidak keluar. “Apa ini?”

Ibu Siti bergerak lebih cepat. Dia membungkuk hendak mengambil akta itu, tetapi aku menginjak ujung kertasnya.

“Jangan sentuh.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengannya tiga tahun lalu, aku melihat Ibu Siti kehilangan ketenangannya.

“Maya, kamu tidak tahu apa-apa. Itu dokumen lama.”

“Dokumen lama dengan nama ayahku?”

Andi menelan ludah.

“Maya, dengarkan aku dulu.”

Aku menatap suamiku. Lelaki yang setiap malam tidur di sampingku. Lelaki yang selalu berkata aku terlalu sensitif ketika ibunya menghinaku. Lelaki yang membiarkan keluarganya memperlakukanku seperti pembantu.

Sekarang aku bahkan tidak tahu siapa dirinya.

“Apakah kamu anak ayahku?”

Andi buru-buru menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu kenapa namanya ada di sini?”

Ibu Siti mendesis.

“Sudah, Andi. Jangan bicara.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa? Takut dia mengatakan sesuatu yang tidak sempat Ibu sembunyikan?”

Ibu Siti maju dan menarik lenganku.

“Berikan semua surat itu.”

Aku menepis tangannya.

Di belakang kami terdengar suara tamu-tamu di lantai bawah. Musik masih menyala. Orang-orang tertawa. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa pesta keluarga itu sedang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.

Andi akhirnya berkata, “Aku baru tahu enam bulan lalu.”

Aku tertawa pendek. Rasanya pahit.

“Enam bulan?”

“Maya, aku bisa jelaskan.”

“Enam bulan kamu tahu ada sesuatu tentang ayahku, tapi kamu tetap membiarkan ibumu menyuruhku menandatangani surat?”

Andi terdiam.

Diamnya adalah jawaban.

Aku membuka surat ayahku lagi.

Tulisan tangannya sedikit miring, persis seperti yang kuingat ketika dia dulu menuliskan daftar belanja untukku.

Aku membaca baris berikutnya.

Jika Siti menunjukkan dokumen yang menyatakan Andi adalah anakku, jangan langsung percaya. Aku tidak pernah mengakui Andi sebagai anak biologisku. Bertahun-tahun lalu, Siti mencoba mencantumkan namaku dalam dokumen untuk mendapatkan hak atas tanah keluarga. Pak Hendra mengetahui semuanya dan berjanji menyimpan bukti jika suatu hari aku tidak bisa melindungimu.

Aku berhenti bernapas sesaat.

Pak Hendra.

Ayah Andi yang selama ini kukenal.

Jadi dia mengetahui semuanya.

Aku terus membaca.

Tanah di Bogor bukan sekadar kebun. Di bawah namamu tersimpan hak kepemilikan atas lahan yang sedang dalam proses pembebasan untuk proyek jalan dan kawasan komersial. Nilainya mungkin jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Jangan pernah menandatangani pelepasan hak tanpa pengacara sendiri.

Kakiku terasa lemas.

Aku memandang Andi.

“Berapa nilainya?”

Andi tidak menjawab.

“Berapa?”

Ibu Siti membentak, “Tidak penting!”

Aku berteriak balik untuk pertama kalinya.

“Berapa?”

Suasana di lantai bawah mendadak sunyi.

Musik berhenti.

Beberapa langkah kaki mulai terdengar mendekati tangga.

Andi menutup wajahnya sebentar.

“Terakhir sekitar dua puluh delapan miliar.”

Aku merasa seluruh ruangan berputar.

Dua puluh delapan miliar.

Selama tiga tahun aku menghitung uang untuk membeli sampo.

Aku pernah menjual cincin peninggalan ibuku untuk membantu Andi membayar cicilan mobil.

Aku makan nasi dingin dari kaleng bekas di samping kandang anjing karena Ibu Siti bilang aku tidak pantas makan bersama tamu.

Sementara mereka mengetahui ada tanah atas namaku bernilai puluhan miliar.

Tika muncul di pintu bersama beberapa anggota keluarga.

“Ada apa?”

Ibu Siti segera menunjukku.

“Maya mengamuk. Dia mengambil dokumen keluarga.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Aku sudah terlalu sakit untuk menangis.

“Dokumen keluarga?”

Aku mengangkat surat itu.

“Yang tertulis nama saya?”

Tika melihat Ibu Siti.

“Tante?”

“Turun semua!” bentak Ibu Siti.

Tapi tidak ada yang bergerak.

Aku mengambil ponselku dari tangannya.

Anehnya, dia tidak sempat menahanku.

Layar masih menampilkan video saat aku makan di belakang rumah.

Video itu rupanya direkam Tika.

Aku menatap wajahnya.

“Kamu merekam ini untuk mempermalukanku?”

Tika mulai gugup.

“Cuma bercanda.”

“Bagus.”

Aku menyimpan ponsel ke saku.

“Berarti sekarang aku punya bukti.”

Wajahnya berubah.

Aku turun ke ruang tamu.

Semua tamu memandangku.

Di meja panjang masih ada rendang, sate, ayam goreng, buah, dan kue yang belum habis.

Aku berjalan melewati semuanya dan menuju pintu depan.

Andi mengejarku.

“Maya, jangan pergi dulu.”

Aku berhenti.

“Kenapa? Belum sempat membuatku tanda tangan?”

Dia menunduk.

“Aku memang salah.”

“Bukan salah, Andi. Kamu memilih.”

Aku membuka pintu.

Pak Joko masih berada dekat pos depan.

Begitu melihat wajahku, dia langsung menghampiri.

“Pak,” kataku, “pengacara yang kemarin datang, Bapak tahu namanya?”

Pak Joko mengangguk.

“Pak Daniel. Dia meninggalkan kartu nama karena bilang urusannya penting.”

Dia mengambil kartu kecil dari dompetnya.

Aku menelepon nomor itu.

Seorang lelaki menjawab.

“Dengan Daniel.”

“Pak, saya Maya Santoso.”

Di seberang sana langsung diam beberapa detik.

“Bu Maya?”

“Iya.”

“Saya sudah mencoba mencari Ibu tiga kali.”

Aku menatap rumah di belakangku.

Andi dan Ibu Siti berdiri di teras.

“Dokumen yang Bapak bawa kemarin, apakah mengenai tanah ayah saya?”

“Iya. Dan ada hal lain yang jauh lebih serius. Kita harus bertemu.”

“Katakan sekarang.”

Pak Daniel menarik napas.

“Beberapa minggu lalu ada permohonan pengalihan hak yang diajukan menggunakan tanda tangan atas nama Ibu.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Saya tidak pernah menandatangani apa pun.”

“Itulah sebabnya saya mencari Ibu. Tanda tangan itu diduga palsu.”

Aku memejamkan mata.

Di belakangku terdengar Ibu Siti berkata kepada Andi, “Ambil teleponnya.”

Aku berbalik.

“Jangan mendekat.”

Andi berhenti.

Pak Daniel masih berbicara.

“Saya juga memegang surat pernyataan Pak Hendra sebelum beliau meninggal. Beliau datang ke kantor saya dua tahun lalu.”

Aku langsung menatap altar kecil di lantai dua.

“Apa isinya?”

“Beliau mengatakan istrinya pernah memalsukan dokumen kelahiran Andi dengan mencantumkan nama ayah Ibu untuk menciptakan dasar klaim waris. Pak Hendra mengetahui itu setelah menikah dengan Bu Siti.”

Aku menatap perempuan yang selama ini kupanggil Ibu.

Wajahnya kini benar-benar pucat.

Pak Daniel melanjutkan.

“Pak Hendra mengumpulkan bukti dan menghubungi ayah Ibu. Mereka sepakat menjaga dokumen asli sampai Ibu cukup dewasa untuk mengurus tanah tersebut sendiri.”

“Kenapa ayah saya tidak pernah mengatakan apa-apa?”

“Karena sebelum sempat menyelesaikan semuanya, beliau meninggal.”

Ayahku meninggal karena serangan jantung ketika aku berusia dua puluh dua tahun.

Enam bulan kemudian, aku bertemu Andi.

Mendadak semua terasa terlalu rapi.

Aku memandang Andi.

“Kapan pertama kali kita bertemu?”

Dia mengerutkan kening.

“Kamu tahu.”

“Jawab.”

“Di acara bazar di Depok.”

“Secara kebetulan?”

Andi tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Ibu Siti akhirnya berteriak, “Memangnya kenapa kalau aku mengenalkan kalian?”

Semua mata beralih kepadanya.

Aku merasa dadaku seperti dihantam.

“Jadi memang Ibu yang mengatur?”

Dia tertawa getir.

“Kamu pikir Andi akan memperhatikan perempuan seperti kamu tanpa bantuan?”

Kalimat itu seharusnya menyakitiku.

Anehnya, tidak lagi.

Aku hanya merasa kasihan pada diriku sendiri yang selama bertahun-tahun percaya cinta harus dibayar dengan kesabaran.

Andi memegang kepalanya.

“Bu, cukup.”

“Diam!” bentak Ibu Siti. “Semua ini hampir selesai kalau kamu tidak lembek!”

Hampir selesai.

Aku mengangkat telepon.

“Pak Daniel, saya ingin membuat laporan.”

Ibu Siti langsung maju.

“Maya!”

Pak Joko berdiri di antara kami.

“Bu Siti, jangan menyentuh dia.”

Tamu-tamu mulai berbisik.

Tika perlahan mundur menuju tangga.

Aku menunjuknya.

“Dan jangan hapus video tadi.”

Wajahnya membeku.

Sore itu pesta berakhir tanpa ada yang menyentuh kue ulang tahun Ibu Siti.

Aku pergi hanya membawa tas kecil, dokumen dari altar, dan pakaian yang bisa kumasukkan ke dalam satu koper.

Aku tidak kembali malam itu.

Pak Daniel membantuku mengurus semuanya.

Dalam beberapa minggu, pemeriksaan dokumen menemukan bahwa tanda tanganku memang dipalsukan dalam surat pelepasan hak.

Lebih mengejutkan lagi, rekening yang dicantumkan untuk menerima pembayaran awal bukan atas namaku.

Rekening itu milik sebuah perusahaan kecil yang direktur utamanya adalah Andi.

Saat aku melihat dokumennya, aku tidak menangis.

Aku hanya bertanya satu hal kepadanya ketika kami bertemu di kantor pengacara.

“Kamu tahu?”

Andi duduk di seberang meja.

Matanya merah.

“Aku tahu rekening itu.”

“Berarti kamu tahu.”

“Ibu bilang uangnya akan dikembalikan setelah proyek selesai.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu masih memanggilnya uang yang akan dikembalikan. Padahal itu uangku.”

Dia menunduk.

“Aku mencintaimu, Maya.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin.”

Dia mengangkat kepala.

“Tapi kamu lebih mencintai kenyamananmu.”

Air matanya jatuh.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa akhirnya bisa bernapas.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Pengalihan hak dibatalkan.

Dokumen palsu diperiksa.

Ibu Siti dan pihak yang membantu pengurusannya harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Andi memilih bekerja sama dalam penyelidikan. Itu meringankan posisinya, tetapi tidak menyelamatkan pernikahan kami.

Aku mengajukan perceraian.

Pada hari sidang terakhir, Andi menungguku di luar.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

“Aku seharusnya melindungimu,” katanya.

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Kalau aku bisa mengulang semuanya…”

“Kamu tidak bisa.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan, “Tapi kamu masih bisa memilih hidup seperti apa setelah ini.”

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Setahun kemudian, sebagian tanah di Bogor akhirnya dibebaskan secara resmi. Nilainya bahkan lebih tinggi daripada perkiraan awal.

Namun aku tidak membeli rumah besar.

Aku tidak membeli mobil mewah.

Hal pertama yang kulakukan justru membeli sebuah rumah sederhana untuk diriku sendiri dan membuka usaha katering kecil bersama tiga perempuan yang kukenal dari tempat penampungan korban kekerasan rumah tangga.

Suatu sore, Pak Daniel datang membawa sebuah kotak kayu.

“Ini ditemukan saat rumah lama Pak Hendra dikosongkan.”

Di dalamnya ada foto ayahku bersama Pak Hendra.

Mereka berdiri di depan sebidang tanah luas, tersenyum ke kamera.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahku.

Harta paling berbahaya bukan tanah yang bisa direbut orang. Harta paling berbahaya adalah harga diri yang kita serahkan karena takut ditinggalkan.

Aku memegang foto itu lama.

Kemudian Pak Daniel mengeluarkan satu amplop lagi.

“Ada surat terakhir.”

Aku membukanya.

Tulisan itu bukan milik ayahku.

Itu tulisan Pak Hendra.

Maya, jika kamu membaca ini, maafkan aku karena tidak berhasil menghentikan semuanya lebih cepat. Andi bukan anak Santoso. Aku ayah biologisnya. Siti memalsukan dokumen itu bertahun-tahun lalu. Namun ada satu hal yang mungkin perlu kamu ketahui. Andi awalnya memang dikenalkan kepadamu karena rencana Siti. Tetapi sebelum aku meninggal, Andi datang kepadaku dan berkata dia ingin membatalkan semuanya karena benar-benar jatuh hati kepadamu. Aku menyuruhnya mengatakan kebenaran. Dia tidak pernah cukup berani.

Tanganku gemetar.

Jadi perasaannya mungkin pernah nyata.

Tapi kenyataan itu tidak mengubah apa pun.

Cinta yang tidak memiliki keberanian untuk melindungi kebenaran pada akhirnya hanya menjadi alasan lain untuk membiarkan seseorang terluka.

Aku melipat surat tersebut.

Dari dapur terdengar suara para pekerjaku tertawa. Aroma ayam bakar memenuhi ruangan.

Salah seorang dari mereka memanggilku.

“Mbak Maya, makan dulu. Nanti keburu dingin.”

Aku berjalan ke meja.

Di sana tersedia satu piring nasi hangat untukku.

Bukan sisa.

Bukan di dalam kaleng bekas.

Bukan di samping kandang anjing.

Aku duduk bersama mereka.

Saat menyuapkan nasi pertama ke mulut, entah kenapa air mataku jatuh.

Namun kali ini aku tidak menghapusnya.

Aku tersenyum.

Karena akhirnya aku mengerti.

Hari ketika mereka memberiku makanan sisa untuk merendahkanku ternyata bukan hari ketika aku kehilangan martabat.

Itulah hari ketika aku menemukannya kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang