Aku seharusnya merasa puas melihat senyum Arga malam itu.
Lima tahun lalu, lelaki yang sama telah merancang agar masa depanku berhenti sebelum sempat dimulai. Kini ia duduk beberapa meter di depanku, menyebutku sampah sambil dikelilingi orang-orang yang tertawa demi menyenangkan dirinya.
Namun anehnya, aku tidak marah.
Aku hanya merasa kasihan.

Siska menyentuh lenganku ketika suasana meja mulai terasa tidak nyaman.
“Ras, kamu enggak apa-apa?”
Aku tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa.”
Arga mendengus.
“Masih sama. Selalu pura-pura kuat.”
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Dan kamu juga masih sama, Ga.”
Senyumnya menghilang sedikit.
“Apa maksudmu?”
Aku berdiri.
“Tidak ada. Semoga besok menjadi hari yang menyenangkan untukmu.”
Vania tertawa sinis.
“Kenapa? Mau kabur lagi?”
Aku menatapnya sebentar, kemudian beralih kepada Arga.
“Tidak. Besok justru aku akan datang.”
Aku meninggalkan ruangan tanpa menjelaskan apa pun.
Keesokan paginya, pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, aku sudah berada di ruang rapat lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman.
Di hadapanku terdapat laporan setebal hampir empat ratus halaman.
Pradana Biomedika membutuhkan suntikan dana Rp65 miliar untuk restrukturisasi utang, modernisasi fasilitas produksi, dan memenuhi kewajiban kepada pemasok.
Tanpa dana itu, pinjaman Rp48 miliar mereka akan jatuh tempo.
Bank sudah memberikan tenggat terakhir.
Tujuh puluh dua jam.
Secara teori, perusahaan itu masih bisa diselamatkan.
Mereka memiliki jaringan distribusi yang luas, kontrak dengan puluhan fasilitas kesehatan, dan hampir empat ratus karyawan.
Masalahnya bukan bisnis mereka.
Masalahnya adalah angka-angka yang terlalu sempurna.
Aku menunjuk salah satu laporan.
“Kenapa tingkat kegagalan produk di laporan internal hanya 0,8 persen, sementara data keluhan distributor menunjukkan hampir enam persen?”
Rendi, analis forensik di timku, menggeleng.
“Itu yang sedang kami telusuri.”
Pintu ruang rapat terbuka tepat pukul delapan.
Pak Surya Mahendra masuk terlebih dahulu.
Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya memutih, tetapi langkahnya masih tegas.
Di belakangnya berjalan direktur keuangan, penasihat hukum, dan Arga.
Langkah Arga berhenti begitu melihatku.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Laras?”
Pak Surya menoleh kepadanya.
“Kalian saling kenal?”
Aku berdiri dan mengulurkan tangan.
“Selamat pagi, Pak Surya. Laras Wening. Saya memimpin proses due diligence dari Arunika Health Ventures.”
Pak Surya menjabat tanganku.
Arga tidak bergerak.
Tatapannya turun ke kartu identitasku, kemudian ke tumpukan dokumen di depan meja.
“Kamu?”
Aku mengangguk.
“Saya.”
Pak Surya terlihat bingung.
“Arga, ada masalah?”
“Tidak, Pa.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Arga kesulitan menyusun kalimat.
Rapat dimulai.
Aku tidak menyinggung kejadian malam sebelumnya.
Aku juga tidak menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk menyerangnya.
Sebaliknya, aku memaparkan kondisi perusahaan dengan setenang mungkin.
“Secara operasional, Pradana masih memiliki nilai yang cukup kuat. Namun kami menemukan ketidaksesuaian pada dokumentasi pengujian tiga produk.”
Direktur keuangan langsung membantah.
“Mungkin hanya kesalahan administrasi.”
“Mungkin,” jawabku.
Aku menekan tombol laptop.
Sebuah tabel muncul di layar.
“Tapi kesalahan administrasi biasanya tidak menghapus 214 laporan keluhan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Surya menatap Arga.
“Apa ini?”
Arga menggeleng cepat.
“Saya perlu melihat datanya.”
Rendi kemudian menjelaskan bahwa tim kami menemukan folder tersembunyi di server cadangan yang sebelumnya tidak dimasukkan dalam dokumen due diligence.
Folder itu bernama Archive QC.
Di dalamnya terdapat laporan pengujian asli.
Beberapa produk ternyata pernah menunjukkan tingkat kegagalan jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang dilaporkan kepada investor.
Lebih buruk lagi, ada rangkaian surat elektronik yang memerintahkan staf mengubah klasifikasi keluhan agar tidak tercatat sebagai kegagalan produk.
Nama pengirimnya membuat seluruh ruangan membeku.
Arga Mahendra.
Pak Surya membaca layar dengan wajah pucat.
“Kamu melakukan ini?”
“Pa, dengarkan dulu.”
“Kamu memalsukan laporan?”
“Bukan begitu.”
Arga berdiri.
“Kondisi perusahaan waktu itu buruk. Kalau data itu keluar, distributor akan menghentikan kontrak. Kita bisa kehilangan semuanya.”
Pak Surya menghantam meja.
“Jadi kamu berbohong?”
“Aku menyelamatkan perusahaan!”
“Dengan mempertaruhkan orang lain?”
Arga terdiam.
Aku menutup laptop.
“Masih ada satu masalah.”
Semua mata beralih kepadaku.
Rendi menyerahkan dokumen lain.
Kami menemukan pembayaran rutin kepada sebuah perusahaan konsultan bernama Meridian Strategic Solutions.
Selama tiga tahun, Pradana Biomedika telah mentransfer hampir Rp11 miliar kepada perusahaan tersebut.
Tidak ada hasil pekerjaan yang jelas.
Alamat kantornya ternyata sebuah virtual office.
Pemilik manfaat akhirnya adalah seseorang bernama Vania Kusuma.
Wajah Arga berubah.
Pak Surya hampir tidak bersuara ketika bertanya, “Vania?”
Aku tidak perlu menjawab.
Arga sendiri sudah memberikan jawabannya melalui ekspresinya.
Pak Surya menatap putranya lama sekali.
“Kamu mengambil uang perusahaan?”
“Itu bukan seperti yang Papa pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Arga tidak menjawab.
Pak Surya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Lelaki tua di depanku mungkin memang membesarkan Arga dalam kemewahan, tetapi kehancuran di wajahnya bukan sandiwara.
Ia benar-benar tidak tahu.
Rapat dihentikan selama tiga puluh menit.
Ketika aku keluar menuju lorong, Arga mengejarku.
“Laras.”
Aku terus berjalan.
Ia menarik pergelangan tanganku.
Aku langsung melepaskannya.
“Jangan sentuh saya.”
Arga menatap sekeliling.
“Kamu melakukan ini karena malam tadi?”
Aku hampir tertawa.
“Kamu benar-benar berpikir perusahaan senilai puluhan miliar dinilai berdasarkan pertengkaran mantan pacar?”
“Kamu dendam.”
“Aku memang punya alasan untuk membencimu. Tapi semua dokumen itu dibuat jauh sebelum aku kembali ke Indonesia.”
Arga mendekat.
“Kamu bisa menghentikan penyelidikan.”
“Tidak.”
“Aku tahu kamu.”
Aku menatap matanya.
“Tidak, Ga. Kamu tahu Laras yang berusia dua puluh tiga tahun. Perempuan yang percaya ketika kamu bilang cinta berarti menyerahkan masa depan kepada seseorang.”
Rahangnya mengeras.
“Kamu mau apa?”
“Tidak ada.”
“Uang?”
Aku terdiam.
Ia semakin panik.
“Aku bisa membayar.”
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama lima tahun tidak pernah kupahami.
Arga tidak pernah benar-benar mengenalku.
Karena bagi lelaki seperti dia, semua orang memiliki harga.
“Aku tidak ingin uangmu.”
“Lalu apa?”
“Pertanggungjawaban.”
Wajahnya berubah dingin.
“Kamu pikir kamu suci?”
Aku hendak pergi ketika ia berkata pelan.
“Kamu juga tidak punya bukti tentang apa yang terjadi lima tahun lalu.”
Langkahku berhenti.
Aku menoleh.
Arga tersenyum tipis.
“Sampai sekarang kamu masih menyimpan cerita itu?”
Aku tidak menjawab.
“Tidak ada yang akan percaya,” lanjutnya. “Dimas juga tidak akan berani bicara.”
Aku membuka tas dan mengambil ponsel.
“Aku tidak membutuhkan keberanian Dimas hari ini.”
Senyumnya lenyap.
“Dia sudah memberikannya lima tahun lalu.”
Aku memperlihatkan salinan arsip digital yang kusimpan.
Rekaman suara.
Foto.
Dokumen pemeriksaan klinik.
Tanggal.
Pesan.
Semuanya.
Arga membeku.
“Kamu menyimpannya?”
“Setiap bagian.”
Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya benar-benar runtuh.
“Kamu mau menghancurkan hidupku?”
Aku memasukkan kembali ponsel.
“Tidak. Hidupmu sedang dihancurkan oleh keputusanmu sendiri.”
Sore itu, dewan investasi membuat keputusan.
Arunika tidak akan memberikan dana kepada keluarga Mahendra dalam bentuk penyelamatan biasa.
Namun kami juga tidak akan membiarkan empat ratus karyawan kehilangan pekerjaan karena tindakan beberapa orang di jajaran manajemen.
Kami menawarkan restrukturisasi bersyarat.
Investor akan mengambil saham pengendali. Manajemen lama harus mundur. Audit independen dilakukan. Temuan terkait laporan produk dan transaksi ke Meridian harus diserahkan kepada pihak yang berwenang serta regulator terkait.
Pak Surya menerima.
Arga menolak.
“Perusahaan ini milik keluarga kami!”
Pak Surya menatap putranya.
“Perusahaan ini dibangun oleh ratusan orang. Bukan hanya keluarga kita.”
Arga menatapku.
“Kamu puas sekarang?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak datang ke sini untuk melihatmu jatuh.”
“Lalu untuk apa?”
“Memastikan orang-orang yang tidak bersalah tidak ikut jatuh bersamamu.”
Tiga hari kemudian, restrukturisasi ditandatangani.
Arga diberhentikan dari seluruh jabatan.
Vania menghilang dari apartemen mereka pada malam sebelum audit dimulai. Belakangan diketahui bahwa sebagian dana dari Meridian telah dipindahkan ke rekening lain tanpa sepengetahuan Arga.
Ironis.
Lelaki yang merasa paling pandai mempermainkan orang ternyata dipermainkan oleh perempuan yang ia banggakan di hadapanku.
Namun kejutan terbesar datang seminggu kemudian.
Dimas menghubungiku.
Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Menteng.
Ia tampak jauh lebih kurus dibandingkan lima tahun lalu.
“Aku harus minta maaf,” katanya.
“Kamu sudah membantuku.”
“Belum cukup.”
Ia mengeluarkan sebuah flash drive.
“Ada sesuatu yang tidak pernah kukirim waktu itu.”
Aku menatapnya.
Dimas menjelaskan bahwa perilaku Arga terhadapku bukan kejadian pertama.
Bertahun-tahun lalu, ada seorang mantan karyawan perempuan Pradana yang pernah mengadukan Arga karena intimidasi setelah menolak hubungan pribadi dengannya. Laporan itu menghilang sebelum sampai kepada Pak Surya.
Dimas mengetahui hal tersebut karena pamannya pernah bekerja di bagian sumber daya manusia.
“Kenapa baru sekarang?”
Ia menunduk.
“Karena dulu aku takut kehilangan pertemanan, koneksi, pekerjaan. Semua alasan pengecut yang terdengar masuk akal saat kita masih muda.”
Aku tidak langsung mengambil flash drive itu.
“Aku tidak bisa menentukan apa yang harus kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kalau ada orang lain yang dirugikan, mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk bicara.”
Dimas mengangguk.
Informasi itu kemudian diserahkan melalui jalur hukum yang tepat bersama bukti lain yang relevan.
Aku tidak mengikuti setiap prosesnya.
Aku sudah terlalu lama membiarkan Arga hidup di salah satu sudut pikiranku.
Sebulan kemudian aku pulang ke Bantul.
Rumah Ibu sudah direnovasi sederhana dari tabunganku selama bekerja di Melbourne. Teras yang dahulu bocor kini dipenuhi tanaman cabai dan melati.
Ibu sedang menyiram tanaman ketika aku datang.
“Sudah selesai urusan perusahaan itu?”
“Sudah.”
“Perusahaannya selamat?”
“Semoga.”
“Orangnya?”
Aku tahu siapa yang beliau maksud.
Untuk pertama kalinya, aku menceritakan seluruh kejadian lima tahun lalu.
Tentang apartemen.
Tentang percakapan di balik pintu.
Tentang pengaman yang sengaja dirusak.
Tentang klinik.
Tentang ketakutanku di dalam taksi.
Ibu tidak mengatakan apa-apa cukup lama.
Kemudian beliau memelukku.
“Kenapa dulu tidak cerita?”
“Aku malu.”
Ibu melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Malu karena apa?”
Aku tidak bisa menjawab.
Beliau menggenggam kedua tanganku.
“Orang yang menyakitimu yang seharusnya malu. Bukan kamu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Arga.
Bukan karena masa lalu.
Melainkan karena selama lima tahun, ternyata masih ada sebagian kecil diriku yang menyalahkan perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu karena pernah begitu mudah percaya.
Malamnya, aku membuka laptop di kamar lamaku.
Ada satu surel dari Pak Surya.
Ia mengabarkan bahwa produksi dihentikan sementara untuk evaluasi, tetapi sebagian besar karyawan tetap dipertahankan. Ia juga memutuskan mundur setelah masa transisi selesai.
Pada bagian terakhir, ia menulis sesuatu yang membuatku lama menatap layar.
“Saya tidak meminta Anda memaafkan anak saya. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena ketika Anda memiliki kesempatan menghancurkan seluruh perusahaan kami, Anda justru menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah di dalamnya.”
Aku menutup laptop.
Dari ruang depan terdengar suara Ibu memanggilku makan.
Aku berdiri, tetapi sebelum keluar kamar, mataku jatuh pada sebuah bingkai lama di meja.
Foto keberangkatanku ke Melbourne.
Aku berdiri di bandara dengan mata sembap dan senyum yang dipaksakan. Ibu berdiri di sampingku.
Di belakang foto itu masih terselip salinan surat penerimaan beasiswa.
Dulu aku menganggap surat tersebut sebagai bukti bahwa aku berhasil meninggalkan Arga.
Sekarang aku tahu aku salah.
Kemenangan terbesarku bukan ketika perusahaan Arga akhirnya bergantung pada tanda tanganku.
Bukan ketika kebohongannya terbongkar.
Bukan pula ketika lelaki yang pernah menyebutku sampah kehilangan jabatan dan nama besar yang selama ini melindunginya.
Kemenanganku terjadi lima tahun sebelumnya.
Pagi ketika aku keluar dari apartemen itu dengan tangan gemetar, menaiki taksi seorang diri, mencari pertolongan, menerima beasiswa yang hampir kubuang, lalu memilih naik pesawat meskipun hatiku hancur.
Hari itu aku tidak sedang meninggalkan seorang lelaki.
Aku sedang menyelamatkan diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memandang perempuan muda di dalam foto itu tanpa rasa malu.
Aku justru ingin memeluknya dan mengatakan satu hal.
Terima kasih karena hari itu kamu memilih pergi.
