Jaket abu-abu itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku tidak perlu bertanya lagi siapa perempuan yang duduk di samping Dimas dalam rekaman mediasi. Tidak perlu menunggu polisi memeriksa kamera pengadilan atau membandingkan postur tubuhnya.
Celine sendiri membawa bukti itu ke rumahku.
Tatapanku berpindah dari jaket di dalam tasnya ke wajah Dimas.
“Aku boleh tahu kenapa jaketku ada di tas dia?”
Senyum Dimas menghilang.

Celine buru-buru menutup tas.
“Ini bukan urusanmu.”
“Justru sangat menjadi urusanku.”
Dimas berjalan mendekat.
“Alya, jangan bikin drama. Semuanya sudah selesai. Kita sudah resmi bercerai.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu, melainkan karena baru saat itu aku memahami betapa sempurnanya kesalahan yang dibuat laki-laki di depanku.
Selama berbulan-bulan ia merencanakan cara menyingkirkanku.
Dan tanpa disadarinya, setiap langkah yang ia ambil justru menyelamatkanku dari kehilangan hampir dua triliun rupiah.
Aku mengambil ponsel dan memotret jaket itu.
Celine langsung berdiri.
“Eh, ngapain difoto?”
“Kenang-kenangan.”
Dimas meraih pergelangan tanganku, tetapi aku menariknya sebelum ia sempat menyentuhku.
“Jangan pernah sentuh aku lagi.”
Wajahnya berubah.
Mungkin untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, ia melihat sesuatu dalam mataku yang tidak bisa ia kendalikan.
Aku tidak menangis.
Tidak memohon.
Tidak bertanya mengapa.
Aku hanya mengambil koper dari bawah tempat tidur dan memasukkan beberapa pakaian.
Dimas tampak kebingungan.
“Kamu mau ke mana?”
“Kamu tadi menyuruhku pergi.”
“Aku cuma bilang unit ini akan dipakai Celine.”
Aku berhenti memasukkan pakaian.
“Bukankah itu sama saja?”
Ia terdiam.
Celine tersenyum tipis seperti seseorang yang baru memenangkan pertandingan.
Aku membiarkannya menikmati kemenangan itu.
Sebelum keluar, aku mengambil mangkuk mi instan yang sudah dingin dari meja, membuang isinya ke tempat sampah, lalu mencuci mangkuk itu.
Entah mengapa aku ingin meninggalkan tempat itu dalam keadaan bersih.
Tempat yang pernah kusebut rumah.
Pak Hendra sedang duduk di pos RT ketika melihatku membawa koper.
“Alya?”
“Saya pindah sementara, Pak.”
Ia langsung berdiri.
“Dimas mengusirmu?”
Aku tersenyum.
“Anggap saja dia sedang membantu saya.”
Pak Hendra tidak mengerti.
Aku juga belum siap menjelaskan.
Malam itu aku menginap di hotel kecil dekat Tunjungan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, aku tidur tanpa menunggu suara kunci pintu tengah malam.
Keesokan paginya Adrian datang membawa kabar bahwa dokumen penerimaan warisan telah diverifikasi.
Namun ada satu masalah.
“Klausul pasangan sah sedang diperiksa lebih ketat karena nilai asetnya sangat besar,” katanya.
“Perceraian saya sudah tercatat.”
“Benar. Tapi pengelola wasiat ingin memastikan tidak ada sengketa.”
Aku tahu maksudnya.
Jika Dimas mengetahui warisan itu sebelum proses selesai, ia mungkin akan mencoba membatalkan perceraian yang dibuatnya sendiri.
Ironis sekali.
Karena itu aku bergerak cepat.
Aku membuat laporan terkait dugaan pemalsuan tanda tangan, penggunaan identitas tanpa izin, dan dokumen palsu. Bukti absensi kantor menunjukkan bahwa pada hari mediasi aku berada di kantor sampai malam.
Rekaman kamera kantor memperlihatkan wajahku dengan jelas.
Sementara kamera pengadilan menunjukkan perempuan lain yang berpura-pura menjadi aku.
Polisi kemudian meminta keterangan Dimas dan Celine.
Dimas masih menganggap semuanya dapat diselesaikan dengan uang.
Ia mengirimiku pesan malam itu.
Alya, jangan lebay. Kita sama-sama sudah tidak bahagia. Aku cuma mempercepat prosesnya.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Mempercepat.
Seolah memalsukan tanda tangan istrinya hanyalah memotong antrean di minimarket.
Aku tidak membalas.
Tiga hari kemudian, Adrian menelepon.
“Transfer tahap pertama sudah disetujui.”
Aku duduk di tepi tempat tidur hotel.
“Berapa?”
“Dana likuid yang bisa segera dialihkan sekitar seratus delapan puluh miliar rupiah. Sisanya berupa saham perusahaan, properti, obligasi, dan beberapa kepemilikan investasi yang proses perpindahannya bertahap.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Seratus delapan puluh miliar.
Aku teringat dua minggu sebelumnya ketika kartu debitku ditolak di supermarket karena saldo tidak cukup setelah membayar tagihan kartu kredit Dimas.
“Ada satu hal lagi,” kata Adrian.
“Apa?”
“Pengelola wasiat telah menerima bukti status perceraian. Karena Anda secara hukum tidak memiliki pasangan saat hak waris efektif, bagian dua puluh lima persen otomatis kembali kepada Anda.”
Aku memejamkan mata.
“Jadi semuanya?”
“Seluruh hak manfaat sesuai wasiat menjadi milik Anda.”
Aku tidak langsung merasa bahagia.
Yang muncul justru wajah nenek.
Perempuan sederhana yang dahulu menjual kue basah setiap pagi dan selalu mengatakan bahwa keluarga bukan orang yang datang ketika meja penuh, melainkan orang yang tetap duduk ketika piring kosong.
Mungkin Maya Kertanegara mengingat keluarga dengan cara yang sama.
Seminggu kemudian, rahasia itu akhirnya terbongkar.
Bukan dariku.
Dimas menemukannya sendiri.
Rupanya ia menerima telepon dari seorang mantan teman kuliah yang bekerja di perusahaan properti di Jakarta. Perusahaan itu sedang menangani salah satu aset peninggalan Maya dan nama pemilik manfaat baru muncul dalam proses administrasi internal.
Namaku.
Pukul tujuh malam, Dimas datang ke hotel.
Ia menelepon berkali-kali sampai akhirnya aku turun ke lobi bersama Adrian.
Dimas berdiri di dekat pintu masuk.
Wajahnya pucat.
“Alya.”
Aku duduk tanpa mempersilahkannya.
“Ada apa?”
“Kita perlu bicara.”
“Bicara.”
Matanya melirik Adrian.
“Berdua.”
“Pak Adrian pengacara saya.”
Dimas menelan ludah.
“Aku dengar kamu dapat warisan.”
Aku tidak menjawab.
“Katanya besar.”
Masih diam.
“Berapa?”
Adrian akhirnya berkata, “Informasi mengenai aset klien saya bersifat pribadi.”
Dimas menatapku tajam.
“Jadi benar?”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Berapa?”
“Sekitar tujuh koma enam triliun.”
Wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Ia duduk tanpa diminta.
Selama beberapa detik hanya terdengar musik pelan dari restoran hotel.
“Tujuh koma enam… triliun?”
“Iya.”
Dimas menatap meja.
Aku bisa melihat pikirannya bekerja.
Menghitung.
Mencari celah.
Kemudian ia bertanya sesuatu yang sudah kuduga.
“Bukankah aku suamimu ketika kerabatmu meninggal?”
Adrian menjawab tenang.
“Wasiat menggunakan status pasangan sah pada tanggal hak waris efektif, bukan tanggal kematian pewaris.”
Dimas mengangkat kepala.
“Terus?”
“Pada tanggal tersebut, Anda sudah resmi bercerai dari Ibu Alya.”
Ruangan seolah mendadak sunyi.
Aku melihat detik ketika Dimas memahami semuanya.
Mulutnya sedikit terbuka.
Tatapannya kosong.
“Kalau kami belum bercerai?”
Adrian tidak segera menjawab.
Aku yang menjawabnya.
“Kamu akan mendapatkan bagian keluarga.”
“Berapa?”
“Dua puluh lima persen.”
Dimas menghitung dalam kepala.
“Sekitar satu koma sembilan triliun?”
Aku mengangguk.
Tangannya mencengkeram tepi meja.
Untuk pertama kalinya aku melihat penyesalan di wajahnya.
Namun aku tahu penyesalan itu bukan karena telah menyakitiku.
Ia menyesali uang yang hilang.
“Alya.”
Nada suaranya berubah.
Lembut.
Nada yang dahulu ia gunakan ketika kami masih mahasiswa.
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Aku hampir tidak percaya.
“Memperbaiki apa?”
“Pernikahan kita.”
Adrian menatapnya, lalu menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
Aku tertawa kecil.
“Kamu memalsukan perceraian kita.”
“Aku salah.”
“Kamu membawa perempuan lain berpura-pura menjadi aku di pengadilan.”
“Aku sedang kacau waktu itu.”
“Kamu mengusirku supaya dia tinggal di rumah kita.”
“Aku menyesal.”
“Karena kehilangan aku?”
Dimas terdiam.
Aku menatapnya.
“Atau karena kehilangan satu koma sembilan triliun?”
Ia tidak mampu menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Dimas kemudian mencoba mengajukan keberatan terhadap status perceraian. Namun tindakannya justru memperburuk posisinya.
Pengacaranya sendiri akhirnya menyarankan agar ia berhenti.
Jika perceraian dibatalkan karena terbukti diperoleh melalui pemalsuan, penyelidikan pidana tetap berjalan. Selain itu, ketentuan wasiat telah menetapkan status pada tanggal hak waris efektif. Perubahan setelah tanggal tersebut tidak otomatis memberinya hak apa pun.
Celine juga mulai panik.
Dalam pemeriksaan, ia awalnya mengaku tidak mengetahui apa-apa. Tetapi penyidik menemukan percakapan antara dirinya dan Dimas.
Ada foto KTP-ku.
Contoh tanda tanganku.
Bahkan pesan ketika Dimas mengirimkan foto jaket abu-abuku.
Pakai ini. Alya sering pakai kalau keluar. Dari CCTV tidak akan terlalu kelihatan.
Celine akhirnya mengakui bahwa ia datang ke pengadilan menggantikanku.
Hubungan mereka runtuh bahkan sebelum proses pemeriksaan selesai.
Dua bulan kemudian, aku kembali ke rusun Wonokromo.
Bukan untuk tinggal.
Aku datang menemui Pak Hendra.
Ia sedang menyiram tanaman di depan pos ketika sebuah mobil berhenti.
Saat aku turun, ia memandangku beberapa detik.
“Alya?”
Aku tersenyum.
“Masih kenal, Pak?”
“Katanya kamu jadi orang kaya?”
Aku tertawa.
“Berita di rusun cepat sekali.”
Aku menyerahkan sebuah map.
Pak Hendra membuka dan membaca isinya.
Matanya membesar.
“Apa ini?”
“Saya membeli dua blok rusun ini dari pemilik lama.”
Ia hampir menjatuhkan map.
Aku menjelaskan rencanaku.
Bangunan akan direnovasi, tetapi penghuni lama tidak akan diusir. Sewa tidak akan dinaikkan selama masa renovasi. Lift diperbaiki, saluran air diganti, sistem keamanan diperbarui, dan sebagian lantai dasar akan dijadikan ruang belajar gratis serta tempat penitipan anak bagi penghuni yang bekerja.
Pak Hendra menatapku lama.
“Kenapa justru beli tempat ini? Dengan uang sebanyak itu kamu bisa tinggal di mana saja.”
Aku memandang ke lantai lima.
Ke jendela kecil tempat aku pernah duduk sambil makan mi instan dan menghitung sisa uang sampai gajian.
“Karena saya tidak mau lupa rasanya hidup di sini.”
Aku memang pindah ke apartemen yang lebih nyaman setelah itu.
Namun aku tidak membeli rumah sebesar istana.
Aku juga tetap bekerja selama beberapa bulan sampai akhirnya mengundurkan diri dan membantu mengelola yayasan yang kubentuk atas nama nenek dan Maya.
Sebagian dana digunakan untuk beasiswa perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah dan bantuan hukum bagi korban pemalsuan identitas serta kekerasan finansial dalam rumah tangga.
Orang sering bertanya apakah aku berterima kasih kepada Dimas.
Pertanyaan itu terdengar aneh.
Bagaimana mungkin seseorang berterima kasih kepada orang yang mengkhianatinya?
Namun hidup kadang mempunyai cara yang ganjil untuk mengubah luka menjadi pintu keluar.
Hampir setahun setelah sore ketika Adrian datang ke rusunku, aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat surat pendek dari Dimas.
Ia menulis bahwa hidupnya berantakan. Pekerjaannya hilang setelah kasus pemalsuan diketahui perusahaan. Celine meninggalkannya. Ia meminta maaf dan mengatakan baru sekarang memahami apa yang telah ia buang.
Aku membaca sampai selesai.
Kemudian kusimpan surat itu.
Bukan karena masih mencintainya.
Bukan pula karena membencinya.
Aku menyimpannya sebagai pengingat bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh saldo rekening yang dimilikinya.
Dimas tidak kehilangan aku ketika aku menerima tujuh koma enam triliun rupiah.
Ia kehilangan aku jauh sebelumnya.
Ketika aku masih perempuan yang duduk di rusun sempit, makan mi instan, membayar utangnya, dan tetap membuka pintu setiap malam berharap suamiku pulang.
Beberapa hari kemudian aku kembali ke rusun untuk melihat renovasi.
Lift baru akhirnya berfungsi.
Aku naik ke lantai lima dan berdiri di depan unit lamaku.
Pintunya terbuka.
Di dalam, seorang ibu muda sedang makan bersama anak perempuannya. Di meja kecil terdapat dua mangkuk mi instan yang masih mengepul.
Perempuan itu melihatku.
“Maaf, Bu. Cari siapa?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak cari siapa-siapa.”
Aku berjalan menuju lift.
Untuk pertama kalinya, ketika pintu unit itu tertutup di belakangku, aku tidak merasa sedang meninggalkan rumah.
Aku justru merasa akhirnya pulang kepada diriku sendiri.
