DUA PULUH ENAM MENIT SEBELUM AKAD, TUNANGANKU MENGUNCI RUANG RIAS UNTUK SAHABAT WANITANYA; SAAT AYAH MEMOHON AGAR KEBAYAKU DIKEMBALIKAN, IA MALAH MENGHAPUS SUNGKEMAN—LALU PANTULAN DI FOTO MEMPERLIHATKAN SIAPA YANG SEDANG BERDANDAN SEBAGAI PENGANTIN DI BALIK PINTU

“Biarkan Selma memakainya sebentar.”

Kalimat itu membuat lorong Hotel Arunika terasa lebih dingin daripada pendingin udara yang sejak tadi menusuk kulitku.

Aku menatap Fajar begitu lama sampai wajahnya perlahan kehilangan keyakinan.

“Sebentar?” tanyaku.

Fajar mengangguk. “Dia cuma ingin tahu rasanya.”

“Rasanya menjadi aku?”

“Nadya, jangan dipelintir.”

Aku tertawa kecil, tetapi suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Di balik pintu itu ada perempuan lain mengenakan kebaya yang kupilih bersama Ibu, bros peninggalan Nenek, riasan yang dibayar keluargaku, dan mungkin sekarang sedang berdiri di depan cermin tempat seharusnya aku bersiap menjadi istri Fajar.

Yang lebih menyakitkan bukan Selma.

Yang lebih menyakitkan adalah Fajar mengetahui semuanya.

Ayah mendekat.

“Fajar,” katanya pelan, “ambilkan kebaya anak saya sekarang.”

Fajar mengusap wajahnya.

“Om, tolong jangan memperbesar masalah.”

Ayah tidak meninggikan suara.

“Saya meminta pakaian milik anak saya.”

“Selma sedang rapuh.”

“Dan anak saya tidak?”

Fajar terdiam.

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku melihat sesuatu pada wajah Ayah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan marah. Bukan kecewa.

Penyesalan.

Seolah ia sedang menyalahkan dirinya karena hampir menyerahkan putrinya kepada laki-laki seperti ini.

Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.

Kemudian suara perempuan.

“Jar?”

Semua orang menoleh.

Selma jelas tidak tidur.

Fajar mendekati pintu.

“Selma, kamu baik-baik saja?”

Tidak ada jawaban beberapa detik.

Lalu suara Selma terdengar lembut.

“Aku nggak mau keluar kalau mereka masih di situ.”

Tari langsung tertawa sinis.

“Mereka? Ini keluarga pengantin, Mbak. Justru Anda yang seharusnya tidak ada di dalam.”

“Tari,” bentak Fajar.

Aku mengangkat tangan, meminta Tari berhenti.

“Aku ingin bicara dengan Selma.”

Fajar berdiri di depanku.

“Jangan sekarang.”

Aku menatapnya.

“Minggir.”

“Nadya.”

“Minggir.”

Entah karena tatapanku atau karena semua orang mulai memperhatikan, Fajar akhirnya bergeser.

Aku mendekati pintu.

“Selma, buka.”

Suasana hening.

“Aku tidak akan meneriakimu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku.”

Dari dalam terdengar isakan.

“Aku cuma pinjam kebayanya.”

Aku memejamkan mata.

“Kenapa?”

Kali ini jawabannya lama.

“Karena aku ingin tahu bagaimana rasanya kalau hidupku tidak berantakan.”

Aku menelan ludah.

Ada bagian kecil dalam diriku yang hampir merasa kasihan.

Hampir.

Kemudian Selma menambahkan, “Fajar bilang kamu pasti mengerti.”

Aku berbalik.

Semua mata tertuju kepada Fajar.

Wajahnya memucat.

“Kamu yang menawarkan kebayaku?”

Fajar membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Nadya, situasinya tidak seperti itu.”

“Jawab.”

“Semalam Selma menangis. Dia bilang tidak sanggup melihatmu menikah di tanggal yang seharusnya menjadi tanggal pernikahannya. Aku cuma berusaha menenangkannya.”

“Dengan kebayaku?”

“Aku bilang dia boleh mencobanya sebentar.”

Ibu menutup mulutnya.

Ayah bahkan tidak bergerak.

Aku justru merasa sangat tenang.

Aneh sekali. Setelah titik tertentu, sakit hati tidak lagi terasa seperti tusukan. Ia berubah menjadi kejernihan.

Aku melihat jam.

Tujuh belas menit sebelum akad.

Wedding organizer, Mbak Sinta, berdiri di ujung lorong sambil memegang radio dengan wajah tegang.

Aku menghampirinya.

“Mbak Sinta, ballroom sudah penuh?”

“Hampir semua tamu sudah duduk.”

“Livestream?”

“Sudah aktif.”

“Penghulu?”

“Sudah tiba.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Fajar mengerutkan kening.

“Kamu mau apa?”

Aku menoleh kepada manajer hotel.

“Pak, apakah hotel bisa membuka pintu secara paksa kalau barang pribadi tamu tertahan di dalam?”

Manajer itu terlihat lega karena akhirnya mendapat pertanyaan yang bisa dijawab dengan prosedur.

“Bisa, Mbak. Kalau pemilik reservasi utama meminta dan ada saksi keamanan.”

“Nama reservasinya?”

Ia memeriksa tablet.

“Nadya Kusumawardani.”

“Buka.”

Fajar langsung maju.

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Kamu bukan pemilik kamar.”

“Tapi Selma ada di dalam.”

“Dan barangku juga.”

Fajar meraih lenganku.

Ayah segera menepis tangannya.

“Jangan sentuh anak saya.”

Nada Ayah masih tenang, tetapi kali ini membuat Fajar mundur.

Dua petugas keamanan datang. Manajer memasukkan kode darurat ke panel.

Dari dalam Selma berteriak.

“Fajar!”

Fajar menoleh kepadaku seperti aku baru melakukan kejahatan.

“Nadya, kalau sesuatu terjadi pada dia karena kalian paksa masuk, aku tidak akan memaafkanmu.”

Aku menatap calon suamiku dan akhirnya memahami enam tahun hubungan kami dalam satu kalimat.

Selama ini aku selalu diminta menjaga perasaannya, menjaga keluarganya, menjaga situasi, menjaga Selma, menjaga reputasi.

Tidak pernah ada yang bertanya siapa yang menjaga aku.

Pintu terbuka.

Semua orang membeku.

Selma berdiri di tengah kamar.

Ia mengenakan kebayaku lengkap dengan kain, selop, bros Nenek, bahkan kerudung pengantin yang belum selesai dipasang.

Di meja rias, ponselnya berdiri di atas tripod kecil.

Layar masih menyala.

Ia sedang merekam dirinya sendiri.

Dan di samping ponsel itu tergeletak buket bunga yang seharusnya kubawa setelah akad.

Selma buru-buru melepas kerudung.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku masuk.

Di ranjang ada beberapa foto cetak.

Aku mengambil salah satunya.

Foto itu memperlihatkan Selma dalam kebayaku, tersenyum di depan cermin.

Fajar berdiri di belakangnya.

Tangannya berada di bahu Selma.

Di foto lain, Fajar sedang memasangkan bros Nenek ke dada Selma.

Tanggal digital di sudut kamera menunjukkan pukul empat lewat dua puluh tujuh pagi.

Aku menatap Fajar.

“Kamu masuk ke sini?”

Ia tidak menjawab.

Selma mulai menangis.

“Dia cuma bantu.”

“Jadi sejak pukul empat pagi kamu sudah tahu dia memakai semuanya.”

Fajar mengepalkan rahangnya.

“Aku tahu.”

“Dan kamu membiarkanku berdiri di lorong seperti orang bodoh.”

“Aku berniat membereskan semuanya sebelum kamu datang.”

“Dengan cara apa?”

“Selma pakai sebentar, lalu dilepas. Kamu tidak perlu tahu.”

Jawaban itu lebih buruk daripada semua dugaan.

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Ibu menyentuh lenganku.

“Nadya…”

Aku memeluk Ibu sebentar.

Lalu aku mengambil bros Nenek dari kebaya Selma.

Tanganku gemetar ketika melepas pengaitnya.

Selma menahan kain di dadanya.

“Aduh, pelan.”

Aku berhenti dan menatapnya.

“Maaf. Aku lupa hari ini semua orang harus berhati-hati terhadap perasaanmu.”

Wajah Selma memerah.

Aku menyerahkan bros kepada Ibu.

“Kita pulang.”

Fajar langsung berdiri di depan pintu.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Karena kebaya?”

“Bukan.”

Aku menunjuknya.

“Karena kamu.”

Wajah ibunya berubah panik.

“Nadya, pikirkan baik-baik. Tiga ratus orang menunggu.”

Aku mengangguk.

“Mereka memang menunggu.”

Aku berbalik kepada Mbak Sinta.

“Boleh saya pinjam mikrofon?”

Fajar langsung menggeleng.

“Nggak perlu bikin pengumuman.”

“Aku tidak mau tamu mendengar versi bahwa aku gugup.”

“Nadya.”

“Kamu sudah berbohong atas namaku. Sekarang aku akan bicara atas namaku sendiri.”

Mbak Sinta tidak menjawab, tetapi ia berjalan bersamaku menuju lift.

Ayah dan Ibu mengikuti.

Tari tersenyum tipis.

Ketika pintu lift hampir menutup, Fajar masuk.

“Nadya, dengarkan aku.”

Aku menatap angka lantai yang turun.

“Katakan.”

“Aku memang salah.”

“Lanjut.”

“Tapi tidak ada perselingkuhan.”

Aku menoleh.

Menarik sekali bahwa pikirannya langsung menuju ke sana.

“Aku tidak menuduhmu selingkuh.”

Fajar terdiam.

Tari mengangkat alis.

Aku bertanya, “Kenapa kamu merasa perlu membantah sesuatu yang belum kutanyakan?”

Wajahnya memucat.

Pintu lift terbuka.

Di depan ballroom, suara MC terdengar dari speaker.

Kami masuk dari pintu samping.

Ratusan kepala menoleh.

Aku masih memakai pakaian persiapan sederhana, tanpa rias pengantin, rambut hanya diikat, sementara calon suamiku mengenakan beskap lengkap.

Ruangan berbisik.

Mbak Sinta menyerahkan mikrofon kepadaku.

Tanganku dingin.

Ayah berdiri di sampingku.

Aku melihat tiga ratus tamu, keluarga, teman kantor, tetangga, dosen lama, orang-orang yang mungkin akan membicarakan pagi ini selama bertahun-tahun.

Anehnya, aku tidak takut lagi.

“Selamat pagi,” kataku.

Ruangan langsung hening.

“Terima kasih karena sudah datang untuk menyaksikan pernikahan saya dan Fajar.”

Fajar berdiri beberapa meter di belakangku.

Aku menarik napas.

“Namun akad hari ini tidak akan dilaksanakan.”

Suara gaduh langsung memenuhi ballroom.

Ibu Fajar hampir berlari ke depan.

Aku melanjutkan.

“Bukan karena saya gugup. Bukan karena saya terlambat berdandan. Dan bukan karena masalah teknis.”

Aku menatap Fajar.

“Dua puluh enam menit sebelum akad, saya tidak bisa masuk ke ruang rias karena ruangan tersebut dikunci untuk sahabat perempuan calon suami saya.”

Beberapa tamu saling berpandangan.

“Barang-barang pengantin saya ada di dalam. Kebaya saya dipakai olehnya. Bros peninggalan nenek saya juga dipakaikan kepadanya oleh Fajar.”

Suara bisik semakin keras.

Fajar merebut mikrofon dari tanganku.

“Cukup.”

Ia menatap para tamu.

“Ini salah paham. Selma sedang mengalami tekanan mental karena pernikahannya sendiri batal. Saya hanya membantu seorang teman.”

Aku mengambil kembali mikrofon.

“Benar. Dan untuk membantunya, Fajar memutuskan foto saya dengan orang tua harus dibatalkan, pidato Ayah dihapus, sungkeman dipotong, janji pernikahan dibatalkan, dan saya diminta memakai riasan seadanya.”

Ayah menunduk.

Di barisan depan, beberapa kerabat mulai menangis.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Seorang laki-laki berdiri dari meja tamu sebelah kanan.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Aku mengenalnya samar.

Namanya Reza.

Mantan tunangan Selma.

Ruangan mendadak sunyi.

Reza menatap Selma yang baru saja masuk ke ballroom dengan mantel hotel menutupi kebayaku.

“Saya rasa mereka perlu tahu kenapa pernikahan saya dan Selma batal.”

Selma langsung pucat.

“Reza, jangan.”

Fajar maju.

“Ini bukan urusanmu.”

Reza tertawa pendek.

“Justru sebagian besar masalah ini urusan saya.”

Ia mengeluarkan ponsel.

“Tiga minggu sebelum saya menikahi Selma, saya menemukan percakapan mereka.”

Fajar membeku.

Dadaku seperti dijatuhkan dari ketinggian.

Reza menatapku.

“Saya membatalkan pernikahan bukan karena saya berubah pikiran. Saya membatalkannya karena Selma mengaku masih mencintai Fajar.”

Selma menangis.

“Itu sudah lama.”

Reza menggeleng.

“Tidak. Pesan terakhirnya dikirim dua malam sebelum pernikahan kami batal.”

Aku menoleh kepada Fajar.

Ia tidak berani menatapku.

“Isinya apa?” tanyaku.

Reza diam sejenak.

Kemudian berkata, “Selma bilang, kalau Fajar memintanya menunggu, dia akan membatalkan semuanya.”

Aku merasa lututku lemas.

Tari langsung memegang siku tanganku.

Reza melanjutkan.

“Fajar membalas bahwa dia tidak bisa meninggalkan Nadya karena keluarga dan persiapan pernikahan sudah terlalu jauh. Tapi dia juga menulis bahwa Selma adalah orang yang selalu paling memahami dirinya.”

Suara orang menarik napas terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Aku tidak membutuhkan bukti lain.

Bukan karena pesan itu otomatis berarti mereka berselingkuh secara fisik.

Namun enam tahun bersamaku, Fajar masih menyimpan perempuan lain di tempat yang seharusnya ditempati kesetiaan.

Tiba-tiba semua kejadian pagi itu masuk akal.

Kenapa ia hafal makanan Selma.

Kenapa ia tahu alerginya.

Kenapa ia lebih takut Selma terbangun daripada aku kehilangan akad.

Kenapa ia tidak terkejut melihat kebayaku dipakai perempuan lain.

Dan kenapa Selma merasa cukup berhak untuk mengunci pintuku.

Karena selama ini Fajar membuatnya merasa bahwa selalu ada ruang untuknya.

Bahkan di hari pernikahan kami.

Aku menyerahkan mikrofon kepada MC.

Lalu aku berjalan menuju Ayah.

“Ayah.”

Ayah menatapku dengan mata merah.

Aku mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya.

Pidato yang tidak sempat dibacakan.

“Ayah masih mau membacanya?”

Bibir Ayah bergetar.

“Untuk apa?”

“Untuk saya.”

Kami berdiri di tengah ballroom yang seharusnya menjadi tempat akad.

Ayah membuka kertas.

Tangannya gemetar.

“Nadya,” katanya, lalu berhenti karena suaranya patah.

Ruangan begitu sunyi sampai aku bisa mendengar isak Ibu.

Ayah mencoba lagi.

“Hari ini Ayah bukan menyerahkanmu kepada laki-laki lain.”

Ia menatapku.

“Ayah sedang memperluas rumah tempatmu pulang.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Ayah menurunkan kertas.

“Tapi ternyata Ayah salah.”

Ia merobek bagian bawah pidatonya perlahan.

“Ayah tidak akan memperluas rumahmu dengan pintu yang membuatmu harus meminta izin untuk masuk.”

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, tepuk tangan terdengar.

Bukan untuk pernikahan.

Untuk keputusan meninggalkannya.

Enam bulan kemudian, aku menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.

Di dalamnya ada bros Nenek yang selama kekacauan hari itu sempat kukira hilang.

Ada juga secarik kertas.

Tulisan tangan Selma.

Aku minta maaf. Ternyata menjadi perempuan yang dipilih diam-diam jauh lebih menyakitkan daripada menjadi perempuan yang tidak dipilih sama sekali.

Aku mengetahui belakangan bahwa Fajar dan Selma sempat mencoba menjalin hubungan setelah pernikahan kami batal.

Hubungan itu hanya bertahan tiga bulan.

Mereka mulai saling curiga.

Selma takut Fajar akan menyimpan perempuan lain seperti dulu ia menyimpannya.

Fajar tidak tahan Selma terus mempertanyakan kesetiaannya.

Ironisnya, hubungan yang dibangun dari perasaan menjadi pilihan kedua akhirnya hancur karena keduanya tidak pernah merasa menjadi pilihan pertama.

Aku tidak pernah kembali kepada Fajar.

Aku juga tidak membenci Selma selamanya.

Karena setelah waktu berlalu, aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Pagi itu aku hampir kehilangan pernikahan.

Padahal sebenarnya aku sedang diselamatkan dari sebuah pernikahan.

Dua puluh enam menit sebelum akad, ketika pintu ruang rias menolakku masuk, aku mengira hidupku sedang runtuh.

Bertahun kemudian aku baru mengerti.

Kadang-kadang pintu yang tertutup tepat sebelum kita masuk bukanlah penghinaan.

Ia adalah peringatan terakhir.

Dan cinta yang benar tidak akan pernah membuat kita berdiri di depan hidup kita sendiri sambil mengetuk, memohon agar diizinkan masuk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang