Namaku Maya.
Usia kandunganku 36 minggu 2 hari ketika aku akhirnya mengerti bahwa rumah tangga tidak selalu hancur karena perselingkuhan. Kadang, rumah tangga hancur pada detik ketika seorang istri menyadari bahwa nyawanya dan nyawa anaknya bahkan tidak lebih berharga daripada sepasang sepatu dan kotak uang kondangan.
Aku masih terduduk di lantai dekat meja penerima tamu ketika Dimas menggunakan kain bedong bayi kami untuk membersihkan sepatu Intan.

Kain putih bergambar awan kecil itu sudah kucuci tiga kali. Aku bahkan menyetrikanya sendiri sambil membayangkan tubuh mungil anakku nanti terbungkus di dalamnya.
Sekarang kain itu berada di tangan ayahnya, mengusap noda di sepatu adiknya.
Kontraksi berikutnya datang.
Aku menggigit bibir agar tidak berteriak.
Lalu seseorang dari antara tamu berseru, “Mbak, darahnya tambah banyak!”
Suasana mendadak berubah.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menerobos kerumunan. Belakangan aku tahu namanya Dokter Ratih, dokter kandungan yang kebetulan hadir sebagai tamu dari pihak besan.
Ia berjongkok di depanku.
“Usia kandungan berapa?”
“Tiga puluh enam minggu.”
“Sejak kapan ketuban pecah?”
“Mungkin… lima belas menit.”
Tatapannya langsung berubah ketika melihat cairan di lantai.
“Ini harus ke rumah sakit sekarang.”
Bu Lastri berdiri menghadang.
“Dok, sebentar saja. Ada uang keluarga yang hilang. Tinggal delapan ratus ribu belum ketemu.”
Dokter Ratih menatapnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Bu, saya tidak peduli uangnya hilang berapa. Ibu ini mengalami perdarahan dan ketuban sudah pecah. Kita tidak tahu kondisi bayinya sebelum diperiksa.”
“Ya paling lahiran biasa.”
“Bukan Ibu yang menentukan itu.”
Suara Dokter Ratih meninggi.
Beberapa tamu mulai mengeluarkan ponsel.
Bu Lastri langsung gelisah.
“Jangan direkam! Ini urusan keluarga!”
Saat itulah terdengar sirene dari halaman gedung.
Wajahku panas dan dingin bersamaan.
Bagas datang.
Kakakku masuk hampir berlari bersama dua petugas medis. Di belakang mereka ada dua polisi dan petugas keamanan gedung.
Begitu melihatku terduduk di lantai dengan kebaya basah dan bercak darah, wajah Bagas berubah.
Ia tidak berteriak.
Justru itu yang membuatku takut.
Bagas berjalan lurus ke arah Dimas.
“Mana tas rumah sakit Maya?”
Dimas berdiri perlahan.
“Mas Bagas, jangan bikin keributan. Ini sebenarnya cuma salah paham.”
“Mana tas adikku?”
Dimas menunjuk ke pojok.
Bagas mengambilnya.
Ia membuka tas itu, melihat kain bedong yang hilang, kemudian menatap kain kotor di tangan Dimas.
“Kamu pakai perlengkapan anakmu buat lap sepatu?”
Intan buru-buru menyela.
“Mas Bagas, itu cuma kain. Bisa beli lagi.”
Bagas menatapnya beberapa detik.
“Benar. Kain bisa dibeli lagi.”
Kemudian ia menoleh kepada Dimas.
“Tapi harga diri adik saya tidak.”
Petugas medis membaringkanku di tandu.
Bu Lastri tiba-tiba memegang pinggir tandu.
“Sebentar! Dia belum boleh pergi. Uangnya belum ketemu!”
Salah satu polisi maju.
“Bu, lepaskan tandunya.”
“Tapi dia bawa uang keluarga!”
“Kalau ada dugaan pencurian, laporkan. Bukan menahan orang yang membutuhkan pertolongan medis.”
Bu Lastri menunjukku.
“Kami menemukan dua juta di tasnya!”
Aku hampir tidak punya tenaga menjelaskan.
Namun Bagas mengambil amplop merah yang tadi sudah disobek Bu Lastri.
Di bagian depan masih jelas tertulis nama sebuah layanan pendampingan persalinan dan tanggal pembayaran.
“Ini uang Maya sendiri,” kata Bagas.
“Belum tentu!”
Bu Lastri memeluk kotak mika semakin erat.
Aku dibawa menuju ambulans.
Saat tandu melewati pintu, aku melihat Dimas.
Entah kenapa, bagian diriku yang paling bodoh masih berharap dia akan ikut.
Dia tidak bergerak.
“Mas,” panggilku pelan.
Dimas menatapku.
“Ikut aku.”
Ia melihat ibunya.
Lalu melihat Intan.
“Aku nyusul. Ini uang belum selesai.”
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang kudengar sebelum pintu ambulans ditutup.
Di dalam ambulans, Dokter Ratih ikut membantu petugas.
Monitor dipasang.
Aku mendengar suara yang membuat semua orang mendadak serius.
Denyut jantung bayiku melambat.
Petugas mengatakan sesuatu yang tidak sepenuhnya kupahami.
Aku hanya menangkap kata gawat janin.
Aku meraih tangan Bagas.
“Kak…”
“Aku di sini.”
“Kalau anakku kenapa-kenapa…”
“Jangan pikir begitu.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku menangis tanpa berusaha menahannya.
“Aku takut.”
Bagas menggenggam tanganku.
“Takut boleh. Tapi kamu tidak sendirian.”
Setibanya di rumah sakit, semuanya berlangsung cepat.
Aku dibawa masuk.
Dokter menjelaskan bahwa perdarahan dan perubahan denyut jantung janin membuat mereka harus bertindak segera.
Aku menandatangani persetujuan dengan tangan gemetar.
Dimas belum datang.
Teleponku berdering.
Bu Lastri.
Aku tidak mengangkat.
Masuk pesan.
Maya, uangnya masih kurang delapan ratus ribu. Kalau memang kamu tidak ambil, bilang uang dua juta yang tadi asalnya dari mana. Jangan bikin keluarga Intan malu.
Aku menatap layar lama sekali.
Kemudian mematikannya.
Beberapa saat sebelum tindakan dimulai, seorang perawat bertanya, “Suaminya belum datang, Bu?”
Aku menggeleng.
“Kakak saya ada.”
Bagas berdiri di luar.
Itu cukup.
Anakku lahir sore itu.
Seorang bayi laki-laki kecil yang harus mendapat pengawasan ketat karena lahir lebih awal dari perkiraan.
Ketika akhirnya mendengar tangisnya, seluruh tubuhku gemetar.
Aku tidak memikirkan gedung resepsi.
Tidak memikirkan uang.
Tidak memikirkan Dimas.
Aku hanya menangis.
“Anak saya hidup?”
Perawat tersenyum.
“Hidup, Bu.”
Dua jam kemudian, ketika kondisiku mulai stabil, Dimas baru muncul.
Masih mengenakan batik resepsi.
Hal pertama yang dikatakannya bukan menanyakan anak kami.
“May, uang delapan ratus ribunya ketemu.”
Aku menatapnya.
Dimas menarik kursi.
“Ternyata salah hitung. Ada delapan amplop masing-masing seratus ribu yang sudah dicatat di buku tapi belum dimasukkan ke kotak karena Tante Rini taruh di laci meja.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dimas tersenyum kaku.
“Jadi sudah selesai.”
“Sudah?”
“Iya. Ibu juga sudah tenang.”
Aku menatap lelaki yang sudah kunikahi empat tahun itu.
Aneh sekali.
Selama bertahun-tahun aku takut kehilangan pernikahanku.
Sore itu aku justru merasa tidak ada lagi yang bisa hilang.
“Mas.”
“Hm?”
“Uang dua juta milikku?”
Dimas terdiam.
“Ibu bilang nanti diganti.”
“Nanti kapan?”
“Ya jangan bahas uang dulu. Kamu baru melahirkan.”
Aku tertawa kecil.
Bekas operasi terasa sakit ketika aku tertawa, tetapi aku tidak bisa menghentikannya.
“Beberapa jam lalu kalian menahan perempuan hamil yang berdarah karena uang. Sekarang kamu bilang jangan bahas uang?”
Wajah Dimas mengeras.
“Maya, jangan mulai.”
Pintu kamar terbuka.
Bagas masuk bersama seorang polisi dan seorang pria berkemeja putih yang kukenal sebagai manajer gedung.
Dimas berdiri.
“Ada apa?”
Manajer gedung membawa tablet.
“Kami sudah mengambil rekaman CCTV sesuai permintaan kepolisian.”
Bu Lastri yang baru tiba di belakang Dimas langsung pucat.
“Rekaman apa?”
“Area meja penerima tamu.”
Petugas memutar video.
Rekaman menunjukkan aku duduk hampir sepanjang waktu.
Kemudian sekitar pukul sebelas lewat, ketika aku pergi beberapa menit ke toilet, Bu Lastri membuka kotak mika menggunakan kunci yang tergantung di lehernya.
Ia mengambil beberapa amplop.
Bukan satu.
Bukan dua.
Ia memasukkannya ke tas tangan.
Ruangan menjadi sunyi.
Dimas menoleh kepada ibunya.
“Ibu?”
Bu Lastri tergagap.
“Itu… uang buat bayar vendor. Ibu cuma ambil sementara.”
Manajer gedung menjawab, “Kami juga punya rekaman dari koridor. Ibu menyerahkan amplop itu kepada seseorang.”
“Saudara sendiri!”
“Siapa?”
Bu Lastri tidak menjawab.
Bagas kemudian mengeluarkan ponselnya.
“Orangnya sudah kami temukan.”
Ternyata laki-laki yang menerima amplop itu adalah Pak Yanto, saudara sepupu Bu Lastri yang bertugas membayar kekurangan dekorasi.
Jumlahnya tepat dua juta delapan ratus ribu rupiah.
Tidak ada uang hilang.
Bu Lastri sendiri yang mengambilnya.
Ia lupa memberi tahu orang yang memegang pembukuan.
Lalu ketika hitungan tidak cocok, ia menuduhku.
Lebih buruk lagi, ketika uang dua juta ditemukan di tasku, ia memasukkan uang pribadiku ke kotak untuk menutupi kesalahannya sendiri.
Dimas memandang ibunya.
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
Bu Lastri menangis.
“Ibu lupa! Resepsi ramai. Ibu pikir Maya yang ambil karena dari pagi dia pegang kotak.”
Aku menatapnya.
“Bukan.”
Semua orang diam.
Aku mengulanginya.
“Ibu tidak berpikir saya mengambilnya. Ibu butuh seseorang untuk disalahkan.”
Bu Lastri menatapku tajam.
“Kamu sekarang mau kurang ajar sama mertua?”
Aku tidak marah.
Anehnya, aku sudah terlalu lelah untuk marah.
“Saya hampir kehilangan anak saya.”
“Kan bayinya selamat.”
Kalimat itu membuat bahkan Dimas menoleh kepada ibunya.
Aku tersenyum tipis.
“Iya, Bu. Anak saya selamat.”
Aku melihat Dimas.
“Dan karena itu saya tidak akan membiarkan dia tumbuh menganggap perlakuan seperti hari ini adalah hal normal.”
Dimas membeku.
“Maksudmu apa?”
“Aku mau pisah.”
Bu Lastri langsung mendengus.
“Halah. Baru melahirkan sudah ngomong cerai.”
Dimas mendekat.
“Maya, jangan emosional. Kita bisa bicarakan di rumah.”
“Aku sudah bicara berkali-kali di rumah.”
Aku mengingat semua hal kecil yang selama ini kumaafkan.
Saat aku demam dan tetap diminta memasak karena ibunya datang.
Saat tabungan persalinanku dipinjam untuk membantu cicilan mobil Intan.
Saat Dimas selalu mengatakan aku terlalu sensitif setiap kali keluarganya merendahkanku.
Hari ini bukan awal kehancuran pernikahan kami.
Hari ini hanya hari ketika aku akhirnya berhenti menutup mata.
Dimas menurunkan suara.
“Aku ayah anakmu.”
“Benar.”
Aku menatapnya lurus.
“Karena itu kamu seharusnya orang pertama yang melindunginya.”
Dimas tidak menjawab.
Tiga hari kemudian, bayiku boleh kupeluk lebih lama.
Kami menamainya Arka.
Aku sedang memandangi wajahnya ketika Bagas datang membawa kantong plastik kecil.
“Ada barangmu.”
Ia mengeluarkan kain bedong bergambar awan.
Kain yang digunakan Dimas membersihkan sepatu Intan.
Sudah dicuci.
Aku menyentuhnya sebentar.
Lalu menggeleng.
“Buang saja.”
Bagas tampak heran.
“Itu kan kamu beli khusus.”
“Aku bisa beli yang baru.”
Beberapa bulan kemudian, proses perpisahanku dengan Dimas berjalan.
Tidak mudah.
Ada permintaan maaf.
Ada tangisan.
Ada janji berubah.
Bahkan Bu Lastri datang bersama keluarga besar dan mengatakan semuanya hanya kesalahpahaman karena kepanikan saat resepsi.
Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa mereka hapus.
Rekaman CCTV.
Bukan hanya rekaman kamera gedung.
Melainkan rekaman di kepalaku sendiri.
Suamiku berjongkok membersihkan sepatu adiknya sementara aku, istrinya yang sedang mengandung anaknya, merosot sendirian ke lantai.
Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Arka, Bagas memberikan sebuah kotak.
Di dalamnya ada kain bedong baru bergambar awan.
Mirip dengan yang dulu kubeli.
Aku tertawa sambil menangis.
“Kenapa beli ini?”
Bagas mengangkat bahu.
“Supaya kamu ingat sesuatu.”
“Apa?”
“Barang yang pernah dipakai untuk merendahkanmu tidak menentukan nilai hidupmu.”
Aku memeluk Arka.
Anakku sudah bisa berdiri sambil berpegangan pada sofa.
Ia tertawa, menarik kain bedong itu, lalu menyembunyikan wajah di baliknya.
Untuk pertama kalinya, gambar awan kecil itu tidak lagi mengingatkanku pada sepatu putih Intan.
Aku melihatnya sebagai sesuatu yang lain.
Hari ketika Arka hampir lahir dalam keluarga yang menganggap uang lebih penting daripada manusia ternyata menjadi hari ketika aku menyelamatkan kami berdua.
Dokter menyelamatkan nyawa anakku.
Bagas membawaku keluar dari gedung itu.
Tetapi keputusan untuk tidak kembali ke kehidupan lama adalah keputusan yang harus kubuat sendiri.
Dan baru saat itu aku mengerti.
Menjadi ibu bukan berarti bertahan di mana pun demi anak.
Kadang, menjadi ibu berarti berani pergi agar anak kita tidak tumbuh belajar bahwa cinta adalah nama lain dari penghinaan yang harus terus dimaafkan.
