Nama Kirana Cantik di layar ponsel Bima terasa lebih menyakitkan daripada semua bisikan yang kudengar di pemakaman Ibu.
Aku tidak langsung marah.
Aku hanya menatap layar itu sampai panggilannya berhenti sendiri.
Bima buru-buru membalik ponselnya.
“Spam,” katanya.
Aku tertawa pendek.

“Spam sekarang pakai nama Kirana Cantik?”
Wajahnya berubah.
“Alya, jangan mulai.”
“Kasih HP-mu.”
“Aku capek.”
“Kasih HP-mu, Bima.”
Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
Dan saat itulah aku tahu.
Orang yang tidak menyembunyikan apa-apa tidak akan terlihat setakut itu.
Bima membawa ponselnya ke kamar mandi. Lima menit kemudian dia keluar dan meletakkannya di meja dengan santai.
“Kalau mau cek, cek.”
Aku tidak menyentuhnya.
Percuma.
Lima menit cukup untuk menghapus satu kehidupan.
Malam itu kami tidur membelakangi satu sama lain. Punggungku terasa seperti ditusuk dari dalam, tetapi sakit itu kalah oleh satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Sejak kapan?
Besok paginya Bima berangkat lebih awal.
Aku menelepon kantor distributor alat kesehatan tempatnya bekerja.
Resepsionis menjawab bahwa Bima sedang cuti.
“Cuti sejak kapan, Mbak?”
“Kalau tidak salah sejak Senin.”
Sudah empat hari.
Empat hari dia keluar rumah memakai kemeja kantor, mencium keningku, lalu mengatakan akan lembur.
Tanganku gemetar.
Aku membuka laptop lama yang biasa kami gunakan bersama. Akun Google Bima masih tersambung.
Riwayat lokasinya sudah dimatikan.
Namun surelnya belum.
Aku mengetik satu nama.
Kirana.
Muncul tiga hasil.
Dua notifikasi pembayaran transportasi online.
Satu bukti transfer Rp4.500.000 dengan catatan singkat.
Untuk laptop dan kebutuhan kerja K.
Tanggalnya tiga hari setelah pemakaman Ibu.
Aku menutup mulut.
Uang itu berasal dari rekening tabungan bersama kami.
Tabungan yang kukumpulkan untuk program kehamilan setelah dua tahun menikah.
Aku belum selesai.
Di folder sampah ada sebuah bukti reservasi apartemen harian di Kalibata.
Dua malam.
Nama pemesan Bima Saputra.
Aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Ketika pengkhianatan baru berupa dugaan, aku menangis.
Ketika buktinya sudah berada di depan mata, air mataku justru habis.
Sore itu aku mengikuti Bima.
Dia tidak pergi ke Kuningan.
Motornya berhenti di sebuah kedai kopi di Pejaten.
Kirana sudah menunggu.
Rambut ash grey-nya diikat. Dia mengenakan kemeja biru dan celana hitam. Tidak ada wajah perempuan yang baru kehilangan pekerjaan karena aku.
Dia tertawa.
Bima duduk di depannya.
Lalu Kirana menyodorkan tangannya melewati meja.
Bima menggenggamnya.
Aku berdiri di balik kaca selama beberapa detik.
Ternyata pandangan di makam Ibu bukan awalnya.
Aku salah.
Mereka sudah saling mengenal.
Aku masuk.
Wajah Kirana langsung pucat.
Bima berdiri.
“Alya.”
Aku menarik kursi.
“Duduk.”
“Alya, kita bisa jelaskan.”
“Duduk.”
Mereka akhirnya duduk.
Aku meletakkan cetakan transfer dan reservasi apartemen di atas meja.
“Kalian mau mulai dari yang mana?”
Kirana menangis.
Bima malah terlihat marah.
“Kamu bongkar emailku?”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu pakai uang tabungan kita buat perempuan lain, dan masalahmu adalah aku buka email?”
“Kirana lagi susah.”
“Empat setengah juta?”
“Dia kehilangan kerja gara-gara kamu!”
Aku menatap Kirana.
“Kamu tahu itu uang untuk program hamil kami?”
Kirana menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu, Kak.”
“Jangan panggil aku Kak.”
Bima memukul meja pelan.
“Sudah. Jangan serang dia terus.”
Kalimat itu mengubah sesuatu dalam diriku.
Selama ini aku mengira masalah terbesar dalam hidupku adalah Kirana.
Ternyata bukan.
Masalah terbesarku adalah laki-laki yang selalu memilih berdiri di antara aku dan orang yang menyakitiku, tetapi tidak pernah berdiri di antara aku dan rasa sakit itu sendiri.
Aku menunjuk bukti apartemen.
“Ini apa?”
Bima terdiam.
Kirana menjawab lebih dulu.
“Kami tidak melakukan apa yang Kak Alya pikirkan.”
“Terus?”
Kirana menatap Bima.
Bima mengusap wajahnya.
“Aku membantu dia ketemu seseorang.”
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa, Bima?”
Kirana menangis semakin keras.
“Ayah kandung Mas Bima.”
Dunia seperti berhenti.
Aku menatap mereka bergantian.
“Apa?”
Bima menunduk.
Kemudian dia mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh kebencianku selama sebulan terakhir terasa seperti potongan kecil dari rahasia yang jauh lebih besar.
“Bu Lastri itu tanteku.”
Aku tidak memahami kalimat itu.
Bima melanjutkan.
“Ayahku dan Bu Lastri kakak adik.”
Aku merasa mual.
Ternyata sebelum menikah denganku, Bima sudah tahu siapa Bu Lastri.
Dia juga tahu Kirana.
Bahkan jauh sebelum pemakaman Ibu.
Pertemuan kami dulu bukan kebetulan seperti yang selalu dia ceritakan.
Bima bekerja di perusahaan distributor alat kesehatan yang pernah memasok beberapa kebutuhan rumah sakit tempat Ibu berobat. Dari sanalah dia mengenal ayahku.
Pak Hendra.
Ayahku sendiri yang mengenalkan Bima kepadaku.
Semua seperti kepingan kaca yang tiba-tiba menyatu.
“Jadi kalian sudah kenal?”
Kirana mengangguk.
“Sejak kecil.”
Aku berdiri.
“Kalian bohong dua tahun kepadaku?”
Bima ikut berdiri.
“Aku mau cerita setelah keadaan tenang.”
“Kapan keadaan tenang? Setelah Ibu mati?”
Orang-orang di kedai mulai melihat kami.
Aku tidak peduli.
Bima akhirnya mengaku.
Ayahku sudah lama membantu keluarga Bu Lastri. Bukan hanya membiayai Kirana. Dia juga pernah membantu Bima mendapatkan pekerjaan.
Sebagai gantinya, Bima diminta tidak pernah menceritakan hubungan keluarga mereka kepadaku dan Ibu.
“Kenapa?”
Suaraku hampir tidak keluar.
Bima memandangku.
“Karena ibumu tahu sebagian.”
Jantungku berdegup kencang.
“Ibu tahu Kirana?”
“Tahu.”
Aku menggeleng.
Tidak mungkin.
Kalau Ibu tahu, kenapa dia diam?
Bima mengeluarkan amplop kecil dari tasnya.
“Ini yang sebenarnya ingin diberikan Kirana.”
Di dalamnya ada kunci.
Kunci loker bank.
Ibu ternyata membuka safe deposit box enam bulan sebelum meninggal.
Namaku tercantum sebagai penerima kuasa setelah kematiannya.
Dua hari kemudian aku datang ke bank ditemani pengacara yang namanya tercantum dalam dokumen Ibu.
Di dalam kotak itu tidak ada emas.
Tidak ada uang tunai.
Hanya sebuah flashdisk, sertifikat rumah Ciganjur, beberapa bukti transfer, dan surat tulisan tangan Ibu.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Alya, kalau kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak bisa menjelaskan sendiri.
Ibu tahu tentang Lastri dan Kirana sejak Kirana masih kecil.
Aku berhenti membaca.
Dadaku sesak.
Ibu ternyata mengetahui perselingkuhan Ayah bertahun-tahun.
Namun ada hal yang lebih mengejutkan.
Rumah Ciganjur bukan milik Ayah.
Sertifikatnya atas nama Ibu.
Bisnis katering yang selama ini disebut milik Ayah ternyata dibangun dengan modal warisan kakekku.
Dan selama hampir enam tahun, Ayah mengambil uang dari rekening usaha tanpa izin.
Jumlahnya bukan puluhan juta.
Lebih dari satu miliar rupiah.
Uang sekolah Kirana hanya sebagian kecil.
Sisanya digunakan untuk membayar utang usaha Ayah, mencicil sebuah rumah di Bekasi atas nama Bu Lastri, dan menutupi berbagai pengeluaran yang tidak pernah diketahui Ibu.
Dalam surat itu Ibu menulis satu kalimat yang membuatku menangis untuk pertama kalinya sejak menemukan perselingkuhan Bima.
Jangan hukum Kirana atas dosa ayahmu. Ibu pernah melakukannya dalam hati selama bertahun-tahun dan Ibu menyesal.
Aku teringat bagaimana aku datang ke Puskesmas.
Bagaimana aku menyebutnya anak pelakor.
Bagaimana aku menikmati wajahnya yang pucat.
Untuk pertama kalinya, aku malu.
Tetapi rasa bersalah itu tidak menghapus pengkhianatan Bima.
Aku pulang malam itu dan meletakkan surat Ibu di meja.
Bima sudah menunggu.
“Aku mau kita bicara.”
“Tidak perlu.”
“Alya.”
“Aku tahu aku salah sama Kirana.”
Dia terlihat lega.
Namun aku melanjutkan.
“Tapi itu tidak membuat kamu benar.”
Wajahnya kembali tegang.
“Kamu bohong sejak sebelum kita menikah. Kamu menerima bantuan Ayah. Kamu sembunyikan hubungan keluargamu. Kamu pakai tabungan kita tanpa izin.”
“Aku cuma mau bantu.”
“Dan apartemen?”
Bima diam.
Aku sudah menemukan jawabannya dari pesan Kirana yang akhirnya dia kirim kepadaku.
Bima memang membawa Kirana menemui ayah kandung Bima yang sedang datang dari Semarang.
Tetapi hanya satu kamar yang dipesan.
Kirana mengaku dia pulang malam itu.
Bima tidak.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
Dan aku tidak membutuhkan detailnya.
Kepercayaan tidak selalu mati karena satu perselingkuhan.
Kadang ia mati karena seribu kebohongan kecil yang sengaja dipelihara.
“Aku mau cerai.”
Bima menangis.
Untuk pertama kalinya selama kami menikah, aku melihatnya benar-benar ketakutan.
“Aku sayang kamu.”
“Orang yang sayang tidak membuat istrinya hidup di dalam cerita palsu.”
Seminggu kemudian, aku meminta Ayah, Bu Lastri, dan Kirana datang ke rumah Ciganjur.
Ayah datang dengan percaya diri.
Dia belum tahu tentang safe deposit box.
Aku menaruh sertifikat rumah di meja.
“Mulai bulan depan, rumah ini disewakan.”
Ayah tertawa.
“Kamu ngomong apa? Ini rumah keluarga.”
“Rumah ini milik Ibu.”
Wajahnya berubah.
Aku meletakkan bukti transaksi berikutnya.
“Dan pengacara Ibu sudah mengaudit rekening usaha.”
Bu Lastri langsung memandang Ayah.
Rupanya dia pun tidak tahu seluruhnya.
“Ada apa, Mas?”
Ayah membentak.
“Kamu diam!”
Kirana memegang tangan ibunya.
Aku menatap Ayah.
“Dua minggu untuk keluar.”
“Alya, saya ayahmu!”
“Dan Ratih istrimu.”
Dia terdiam.
“Itu tidak menghentikan Ayah mengambil uangnya ketika dia sedang berobat.”
Ayah mencoba mendekatiku, tetapi Kirana tiba-tiba berdiri di depanku.
“Jangan bentak dia.”
Kami semua terkejut.
Kirana menangis.
Kemudian dia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya dan meletakkannya di meja.
“Semua uang yang Papa kasih ke aku enam bulan terakhir masih ada. Aku tidak mau.”
Ayah memandangnya tidak percaya.
“Kirana.”
“Aku capek jadi alasan Papa menyakiti orang.”
Bu Lastri ikut menangis.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Kirana bukan sebagai anak perempuan dari perempuan yang merebut suami Ibu.
Aku melihatnya sebagai seorang gadis yang lahir ke dalam kekacauan yang dibuat orang dewasa.
Aku mendekatinya.
“Maaf soal pekerjaanmu.”
Kirana menghapus air matanya.
“Aku juga minta maaf karena datang ke makam Ibu Ratih.”
Aku menggeleng.
“Bukan makamnya yang salah kamu datangi. Hidup kita saja yang sejak awal dibangun di atas kebohongan.”
Tiga bulan kemudian gugatan ceraiku diproses.
Ayah pindah dari Ciganjur.
Rumah itu akhirnya kujual sesuai pesan terakhir Ibu. Sebagian uangnya kugunakan melunasi biaya rumah sakit yang masih tersisa. Sebagian lagi kumasukkan ke rekening yang dulu dibuat Ibu untukku.
Kirana mendapat pekerjaan baru di sebuah klinik swasta di Depok tanpa bantuan siapa pun.
Kami tidak menjadi saudara yang tiba-tiba akrab.
Hidup tidak bekerja seperti sinetron.
Kadang dia mengirim pesan.
Kadang aku membalas.
Itu cukup.
Suatu sore, sebelum meninggalkan rumah Ciganjur untuk terakhir kalinya, aku menemukan satu foto lama terselip di belakang lemari Ibu.
Foto Ibu ketika masih muda.
Di belakangnya ada tulisan tangannya.
Kalau suatu hari Alya tahu semuanya, semoga dia tidak mewarisi kemarahanku.
Aku duduk di lantai dan menangis lama.
Selama berbulan-bulan aku mengira warisan terakhir Ibu adalah rumah.
Ternyata bukan.
Warisan terakhirnya adalah kesempatan untuk menghentikan sesuatu.
Ayah mewariskan kebohongan.
Bima mewariskan pengkhianatan.
Aku hampir meneruskan semuanya menjadi kebencian kepada Kirana.
Hari pemakaman Ibu memang menjadi hari ketika pernikahanku mulai terkubur.
Tetapi ternyata ada sesuatu yang lain yang ikut dikuburkan di sana.
Versi diriku yang percaya bahwa menyakiti orang yang pernah menyakitiku akan membuat luka terasa adil.
Tidak.
Luka tidak pernah menjadi adil hanya karena dibagi rata.
Dan ketika akhirnya aku berdiri lagi di depan makam Ibu, tanahnya sudah kering dan rumput kecil mulai tumbuh di atasnya.
Aku menaruh bunga.
Kali ini Kirana berdiri beberapa langkah di belakangku.
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau mau tabur bunga, tabur saja.”
Dia menatapku seolah tidak percaya.
Lalu berjalan mendekat.
Kami berjongkok di depan makam perempuan yang pernah menjadi korban dari dosa orang tua kami, tetapi memilih meninggalkan satu pelajaran terakhir untuk anaknya.
Kirana menaburkan bunga lebih dulu.
Aku tidak menarik tangannya.
Aku justru menggenggamnya.
Karena akhirnya aku mengerti.
Memaafkan bukan berarti mengizinkan orang yang sama menghancurkan hidup kita dua kali.
Kadang memaafkan justru berarti menutup pintu bagi mereka yang berkhianat, lalu membuka pintu lain bagi orang yang selama ini kita benci hanya karena mereka lahir dari kesalahan yang tidak pernah mereka pilih.
