Darahku seperti berhenti mengalir ketika Bima berkata bahwa barang yang ditemukan orang lain bukan lagi milik pemilik sebelumnya.
Aku menatap laki-laki yang selama delapan tahun membuatku percaya bahwa suatu hari ia akan menjadi rumah bagiku.
Ternyata aku salah.

Rumah tidak seharusnya membuatmu berdiri sendirian ketika seseorang merampas peninggalan ibumu.
Aku menarik napas panjang.
“Bima, kamu tahu jam itu.”
Wajahnya berubah sepersekian detik.
Aku menangkapnya.
Matanya sempat turun ke pergelangan tangan Sari sebelum kembali menatapku.
“Aku enggak tahu apa-apa.”
“Kamu pernah bantu aku menjahit kantong kecil di bajuku supaya jam itu tidak hilang.”
Bima terdiam.
Sari buru-buru menyela.
“Jangan ngarang. Aku nemu di jalan dekat pasar.”
“Pasar mana?”
Sari berkedip.
“Ya pasar desa.”
“Jam itu mati sejak dua tahun lalu. Jarumnya berhenti pukul empat lewat tujuh belas menit. Ada goresan berbentuk bulan sabit di kaca karena pernah jatuh waktu banjir. Di belakangnya ada ukiran J K.”
Beberapa orang di balai desa mulai mendekat.
Sari spontan menutupi bagian belakang jam.
Gerakan kecil itu justru membuat semua orang semakin curiga.
Aku mengulurkan tangan.
“Kembalikan.”
Bima berdiri di depannya.
“Sudah, Kir. Jangan bikin keributan.”
Aku tertawa kecil.
Entah kenapa, setelah bertahun-tahun menangis karena mereka, hari itu aku justru tidak bisa menangis.
“Aku yang bikin keributan?”
“Kamu selalu begini. Semua hal dibesar-besarkan.”
Aku mengangguk pelan.
Lalu aku bertanya, “Kalau begitu, kenapa kamu bohong?”
Wajah Bima menegang.
“Bohong apa?”
“Tadi kamu bilang tidak tahu jam itu.”
Aku menatap langsung ke matanya.
“Padahal tiga malam lalu kamu datang ke bedengku dan bertanya apakah aku masih menyimpan jam Ibu.”
Suasana mendadak sunyi.
Bima membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Sari memegang lengannya.
“Mas, ayo pergi.”
Aku melihat tangan mereka.
Terlalu akrab.
Bukan seperti dua orang yang kebetulan menjadi dekat setelah sebuah banjir.
Ada sesuatu yang selama ini sengaja tidak kulihat.
Aku mengeluarkan ponsel murah dari tas.
“Pak, saya mau lapor kehilangan.”
Petugas desa yang menerima berkas UTBK-ku tadi berdiri.
Sari langsung tertawa.
“Lapor polisi cuma gara-gara jam butut?”
“Buat kamu mungkin butut.”
Aku menatap jam itu.
“Buatku itu satu-satunya benda yang masih menyimpan sentuhan tangan ibuku.”
Untuk pertama kalinya wajah Sari kehilangan senyumnya.
Bima mendecakkan lidah.
“Jangan lebay.”
Kalimat itu menghapus sesuatu dalam diriku.
Bukan cinta.
Cintaku mungkin sudah mati berbulan-bulan lalu.
Yang hilang hari itu adalah rasa bersalah karena ingin meninggalkannya.
Aku membuka galeri ponsel.
Ada foto lama tahun 2017. Aku berdiri di depan bedeng dengan Bima. Jam itu terlihat jelas di pergelangan tanganku.
Kemudian foto tahun 2019.
Jam yang sama.
Petugas desa mendekat.
“Kalau memang ada bukti kepemilikan, sebaiknya dikembalikan dulu, Sar.”
Sari memerah.
“Bapak membela pendatang?”
Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang.
Aku sudah mendengar kata pendatang ribuan kali.
Hari itu kata tersebut tidak lagi menyakitiku.
Aku hanya berkata, “Saya memang pendatang. Tapi mencuri tetap mencuri.”
Sari mendadak melepaskan jam itu.
Jam warisan Ibu jatuh ke lantai semen.
Aku refleks hendak mengambilnya.
Namun sebuah sepatu lebih cepat menginjak talinya.
Bima.
“Cukup!”
Aku membeku.
Dia tampaknya baru sadar apa yang dilakukannya.
Bima segera mengangkat kaki.
Aku berjongkok mengambil jam itu.
Kacanya retak.
Jarum yang selama dua tahun mati di pukul empat lewat tujuh belas menit terlepas.
Tanganku gemetar.
Bima berbisik, “Kir, aku enggak sengaja.”
Aku mengusap kaca jam itu dengan ibu jari.
Anehnya, aku masih tidak menangis.
Aku berdiri.
“Terima kasih.”
Bima mengernyit.
“Terima kasih apa?”
“Karena akhirnya kamu bikin aku berhenti menunggu.”
Aku memasukkan jam itu ke tas.
Kemudian berjalan meninggalkan balai desa.
Bima mengejarku.
“Kirana!”
Aku tidak berhenti.
Dia menarik tanganku di halaman.
“Kita belum selesai.”
“Sudah.”
“Kita sudah punya rencana delapan tahun!”
“Itu rencanamu.”
“Kamu mau ke UI sama aku.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya aku mengatakan kebenaran.
“Aku enggak daftar UI.”
Wajahnya langsung pucat.
“Apa?”
“Aku daftar Universitas Pertahanan.”
Bima tertawa seolah aku baru mengatakan sesuatu yang mustahil.
“Kamu bercanda.”
“Aku serius.”
“Kamu mau ninggalin Lampung?”
“Iya.”
“Ninggalin aku?”
Aku menatap bale bambu di seberang jalan.
Di sana, delapan tahun lalu, Bima pernah mengikat benang merah di jari kelingkingku dan berjanji akan melamarku setelah kami selesai belajar.
Aku menyimpan janji itu seperti orang bodoh.
“Aku tidak meninggalkanmu, Bim. Kamu yang pergi duluan. Aku cuma baru sadar.”
Sari muncul dari balai desa.
“Mas Bima, biarkan saja dia pergi.”
Bima menoleh kepadanya.
Dan satu detik itu sudah cukup.
Cara mereka saling memandang menjelaskan semuanya.
Aku tersenyum pahit.
“Kalian pacaran?”
“Enggak,” jawab Bima terlalu cepat.
Sari justru terdiam.
Aku menatapnya.
“Kapan?”
Bima membentak, “Sudah kubilang enggak!”
Namun Sari tiba-tiba berkata, “Sejak delapan bulan lalu.”
Bima berbalik tajam.
“Sari!”
Dadaku seperti dihantam benda keras.
Delapan bulan.
Berarti ketika Bima masih duduk bersamaku di bale bambu, membicarakan kos di Depok dan rencana pernikahan setelah kuliah, ia sudah bersama perempuan lain.
Sari menatapku dengan kepuasan aneh.
“Mas Bima cuma kasihan sama kamu. Dia takut kamu enggak punya siapa-siapa.”
Aku melihat Bima.
“Kamu bilang begitu?”
Dia tidak menjawab.
Diamnya cukup.
Aku pulang ke bedeng dan mengemas seluruh barang malam itu.
Tidak banyak.
Tiga stel pakaian.
Buku biologi bekas.
Catatan ramuan jamu milik Ibu.
Sertifikat mengajar.
Dan jam rusak.
Pukul sebelas malam, pintuku diketuk.
Bima berdiri di luar.
Matanya merah.
“Aku putus sama Sari.”
Aku hampir tertawa.
“Terus?”
“Kita bisa mulai lagi.”
“Tidak.”
“Aku salah.”
“Benar.”
“Kirana, aku ikut kamu ke Bogor.”
Aku menggeleng.
“Dulu kamu ikut aku ke Lampung karena merasa harus menjagaku. Setelah itu kamu menggunakan pengorbananmu untuk membuatku merasa berutang seumur hidup.”
Wajahnya mengeras.
“Aku dicambuk Kakek gara-gara kamu.”
“Nah.”
Aku tersenyum tipis.
“Itulah masalahnya. Setiap kita bertengkar, kamu selalu mengingatkanku soal itu. Seolah luka di punggungmu adalah kuitansi kepemilikan atas hidupku.”
Bima diam lama.
Kemudian berkata pelan, “Aku cinta kamu.”
“Dulu mungkin.”
Aku menutup pintu.
“Sekarang kamu cuma takut kehilangan seseorang yang selalu menunggumu.”
Tiga minggu kemudian, pengumuman seleksi keluar.
Tanganku gemetar saat membuka laman dari komputer warnet kecamatan.
Aku diterima.
Aku membaca namaku berulang kali.
Kirana Ayuningtyas.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis bukan karena kehilangan.
Aku menangis karena punya masa depan.
Kabar itu cepat menyebar.
Malam sebelum keberangkatanku, seseorang datang ke bedeng.
Bukan Bima.
Sari.
Wajahnya pucat dan lipstik merah yang biasanya menyala tidak ada.
Dia meletakkan sebuah kantong plastik di meja.
“Apa ini?”
“Barangmu.”
Di dalamnya ada buku catatan ramuan Ibu yang kukira terselip di koper.
Aku langsung berdiri.
“Kamu mencuri ini juga?”
Sari menunduk.
“Aku masuk ke bedengmu hari itu.”
“Kenapa?”
Dia menggigit bibir.
“Bima yang kasih kuncinya.”
Aku merasa udara di ruangan habis.
“Apa?”
Sari mulai menangis.
“Dia bilang cari formulir pendaftaranmu.”
Aku tidak mengerti.
“Untuk apa?”
“Dia curiga kamu mau daftar kampus lain.”
Sari mengusap wajah.
“Dia mau tahu sebelum kamu sempat pergi.”
Jadi Bima mengetahui kemungkinan kepergianku dan mengirim Sari membongkar kamarku.
Jam Ibu ditemukan saat itu.
“Kenapa jamnya kamu pakai?”
Sari tertawa pahit.
“Karena aku bodoh. Aku mau bikin kamu sakit hati.”
Dia menatapku.
“Tapi aku enggak tahu itu warisan ibumu.”
Aku tidak memaafkannya.
Tidak malam itu.
Mungkin tidak akan pernah.
Namun setidaknya akhirnya aku tahu seluruh kebenaran.
Sari berdiri hendak pergi, lalu berhenti di pintu.
“Ada satu hal lagi.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada salinan formulir.
Formulir UTBK milik Bima.
Pilihan universitasnya bukan UI.
Aku membaca nama kampus itu dua kali.
Universitas Lampung.
“Dia tidak pernah mau pergi dari sini,” kata Sari.
Aku tercekat.
“Kenapa dia bilang akan ke UI?”
“Supaya kamu tetap menunggu.”
Kalimat itu jauh lebih mengerikan daripada perselingkuhan mereka.
Bima tidak sekadar mengkhianatiku.
Dia berusaha mengatur masa depanku agar aku tetap berada dalam jangkauannya.
Keesokan pagi aku naik bus menuju Bogor.
Bima berdiri di terminal.
Dia tidak mengejar.
Mungkin akhirnya sadar tidak semua orang bisa ditahan dengan janji masa kecil.
Aku duduk di dekat jendela.
Ketika bus mulai bergerak, aku mengeluarkan jam Ibu.
Kacanya masih retak.
Talinya rusak.
Aku hampir membuangnya.
Namun seorang tukang reparasi jam tua di terminal tadi pagi mengatakan sesuatu yang membuatku berubah pikiran.
“Mesinnya masih bagus, Mbak. Yang rusak cuma bagian luarnya.”
Aku membayar perbaikannya dengan uang tabungan terakhir.
Sekarang jam itu kembali berdetak.
Tik.
Tik.
Tik.
Aku memasangnya di pergelangan tangan.
Dulu aku mengira pesan Ibu berarti aku harus menjaga benda itu agar tidak kehilangan dirinya.
Sekarang aku memahami sesuatu yang berbeda.
Warisan terbesar Ibu bukan jam tersebut.
Bukan warung jamu.
Bukan pula nama keluarga.
Warisan terbesar Ibu adalah keberanian untuk terus hidup ketika orang lain berusaha menentukan siapa dirimu.
Delapan tahun aku menunggu Bima memenuhi janji di sebuah bale bambu.
Ternyata orang yang seharusnya kutunggu bukan dia.
Orang itu adalah diriku sendiri.
Kirana yang berani pergi.
Kirana yang berani belajar.
Kirana yang akhirnya mengerti bahwa dicintai bukan berarti harus berutang.
Bus memasuki jalan lintas menuju Jawa.
Aku melihat jarum detik jam Ibu terus bergerak.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan kedua orang tuaku, bunyi kecil itu tidak terdengar seperti masa lalu.
Ia terdengar seperti waktu yang akhirnya kembali menjadi milikku.
