Aku terbangun setelah mengalami koma selama tiga bulan. Hal pertama yang dilakukan suamiku bukan memelukku. Sebaliknya, dengan suara pelan dia bertanya, ‘Apa kamu masih ingat apa yang terjadi malam itu?

Dua hari kemudian, polisi datang.

“Bu Lena.”

“Ya, Pak?”

Dua orang berdiri di dekat pintu kamar. Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Inspektur Raka dari Polres Jakarta Selatan. Pria di sebelahnya membawa map hitam tipis.

Aaron yang sedang menuangkan air langsung berdiri.

“Istri saya baru sadar dari koma. Dokter bilang dia belum boleh terlalu banyak menerima tekanan.”

Inspektur Raka mengangguk.

“Kami mengerti, Pak Aaron. Kami hanya perlu memastikan beberapa hal.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Ini tentang kecelakaan saya?”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Inspektur Raka menarik kursi.

“Bu Lena, apakah Ibu ingat berada di Jalan Kemang Raya sekitar pukul sebelas malam tiga bulan lalu?”

Aku mencoba menggali ingatanku.

Hujan.

Aspal mengilap.

Tangisan anak kecil.

“Aku ingat hujan,” jawabku pelan. “Tapi tidak tahu kenapa aku ada di sana.”

“Apakah Ibu ingat seorang perempuan bernama Nadia Prameswari?”

Aku menggeleng.

Aaron tiba-tiba menjatuhkan gelas plastik di tangannya.

Air tumpah ke lantai.

Aku menoleh kepadanya.

Wajahnya pucat.

“Kamu kenal Nadia?” tanyaku.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Inspektur Raka menatap Aaron beberapa detik sebelum kembali menghadapku.

“Bu Lena ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil yang menabrak pembatas jalan. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat.”

“Lalu kenapa polisi masih menyelidikinya?”

Pria itu membuka map.

“Karena sekitar dua puluh menit sebelum kecelakaan, seorang perempuan bernama Nadia menelepon layanan darurat.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa katanya?”

Inspektur Raka tidak langsung menjawab.

Dia melirik Aaron.

“Dia mengatakan seorang anak dalam bahaya.”

Aku merasa ujung jariku dingin.

Anak kecil.

Tangisan.

Potongan gambar itu kembali muncul.

Seorang anak laki-laki memakai jaket kuning berdiri di bawah hujan.

Tangannya menggenggam pagar besi.

Lalu seorang perempuan menariknya.

Aku mencengkeram selimut.

“Kepalaku sakit.”

Aaron segera mendekat.

“Sudah. Cukup.”

Namun aku menahan lengannya.

“Tidak. Aku ingin tahu.”

Inspektur Raka mengeluarkan sebuah foto.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun tersenyum di depan kamera. Rambutnya sebahu. Wajahnya sederhana, tetapi matanya terasa sangat familiar.

Begitu melihat foto itu, napasku tercekat.

Aku pernah melihatnya.

Bukan hanya malam itu.

Aku pernah melihat perempuan ini sebelumnya.

“Aku kenal dia.”

Aaron membeku.

“Dari mana?” tanya polisi.

Aku memejamkan mata.

Sebuah kafe.

Meja dekat jendela.

Nadia duduk di depanku.

Dia menangis.

Tangannya memegang ponsel.

Kemudian terdengar suaranya.

“Tolong jangan beri tahu Aaron kalau aku menemui kamu.”

Aku membuka mata.

“Aaron.”

Suamiku menatapku.

“Apa hubunganmu dengan perempuan ini?”

“Lena, kamu sedang bingung.”

“Jawab.”

Aaron mengusap wajahnya.

Polisi tidak berkata apa pun.

Akhirnya Aaron duduk.

“Nadia pernah bekerja di kantor lama aku.”

“Cuma itu?”

“Iya.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu bohong.”

Tidak ada yang menjawab.

Setelah polisi pergi, Aaron berusaha meyakinkanku bahwa aku mungkin mencampur potongan ingatan dengan mimpi.

Aku tidak percaya.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Sekitar pukul dua pagi, aku mengambil ponsel yang sudah dikembalikan keluargaku.

Sebagian datanya hilang karena rusak saat kecelakaan.

Namun akun cloud masih menyimpan beberapa foto.

Aku mencari nama Nadia.

Tidak ada.

Aku membuka pesan.

Tidak ada juga.

Kemudian aku mencari folder sampah.

Kosong.

Sampai aku menemukan satu email yang dikirim kepada diriku sendiri tiga bulan lalu.

Subjeknya hanya satu kata.

Aaron.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Ada satu kalimat.

Kalau sesuatu terjadi padaku malam ini, buka folder “Pajak 2024” di drive.

Aku hampir berhenti bernapas.

Aku membuka drive.

Folder Pajak 2024 ternyata terkunci.

Aku mencoba tanggal lahirku.

Salah.

Tanggal pernikahan.

Salah.

Kemudian entah kenapa aku mengetik tanggal ketika aku pertama kali bertemu Aaron.

Berhasil.

Di dalamnya ada puluhan tangkapan layar.

Percakapan.

Transfer uang.

Foto.

Dan sebuah rekaman suara.

Aku memasang earphone.

Suara Nadia terdengar.

“Aku tidak meminta kamu meninggalkan istrimu. Aku cuma mau kamu berhenti memakai nama anakku untuk menutupi uang yang kamu ambil.”

Lalu suara Aaron.

“Aku sudah bilang semuanya akan selesai.”

“Kapan? Setelah perusahaan tahu kamu memalsukan laporan?”

Aku melepas earphone.

Dunia terasa berputar.

Aaron bukan sekadar mengenal Nadia.

Mereka terlibat dalam sesuatu.

Aku terus membuka file.

Sedikit demi sedikit aku mulai memahami.

Nadia adalah staf keuangan di perusahaan tempat Aaron bekerja dua tahun lalu.

Dia menemukan transaksi mencurigakan yang menggunakan beberapa vendor fiktif.

Sebagian uang itu masuk ke rekening yang ternyata terhubung dengan Aaron.

Aaron selalu mengatakan kepadaku bahwa dia mengundurkan diri karena ingin mencari suasana baru.

Ternyata dia dipecat diam-diam sebelum audit selesai.

Tetapi ada hal lain.

Nadia pernah menjalani hubungan singkat dengan Aaron sebelum aku mengenalnya.

Mereka memiliki seorang anak.

Namanya Rio.

Usianya enam tahun.

Aku terpaku pada layar.

Enam tahun.

Aaron dan aku menikah lima tahun lalu.

Artinya anak itu lahir sebelum pernikahan kami.

Tetapi selama lima tahun, suamiku tidak pernah mengatakan bahwa dia mempunyai seorang putra.

Aku menutup mulut agar tidak bersuara.

Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.

Bukan karena dia mempunyai anak.

Aku bisa menerima masa lalu.

Yang menghancurkanku adalah bagaimana dia menguburnya begitu dalam sampai aku hidup di sampingnya tanpa pernah mengenal siapa dia sebenarnya.

Aku melanjutkan rekaman.

Suara Nadia kembali terdengar.

“Rio sakit beberapa minggu lalu. Aku meminta bantuan bukan karena aku mau kembali sama kamu. Aku cuma ingin kamu bertanggung jawab.”

“Aku sudah transfer.”

“Dari uang perusahaan?”

Hening.

“Kalau kamu terus begini, aku akan lapor.”

Rekaman berhenti.

Aku tidak tidur sampai pagi.

Ketika Aaron datang membawa bubur, aku sudah duduk tegak.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang kamu punya anak?”

Sendok di tangannya berhenti.

Wajahnya berubah.

“Lena…”

“Rio.”

Dia menutup pintu kamar perlahan.

“Kamu ingat?”

“Belum semuanya.”

Aaron duduk di kursi.

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Jadi kamu memilih berbohong selama lima tahun?”

“Aku ingin mengatakan semuanya.”

“Kapan? Setelah aku mati?”

Dia menunduk.

Aku menunjukkan layar ponsel.

“Aku menemukan file.”

Wajah Aaron kehilangan warna.

Untuk pertama kalinya sejak aku bangun, aku melihat sesuatu yang lebih besar daripada kekhawatiran di wajahnya.

Ketakutan.

“Lena, kamu tidak mengerti situasinya.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Aaron menarik napas panjang.

“Aku memang punya anak dengan Nadia. Kami putus sebelum aku bertemu kamu. Nadia tidak pernah meminta apa pun selama bertahun-tahun.”

“Sampai Rio sakit.”

Dia mengangguk.

“Aku membantu.”

“Dengan mencuri uang perusahaan?”

“Aku mengembalikannya.”

“Setelah ketahuan?”

Aaron berdiri.

“Aku panik!”

Suaranya meninggi.

Kemudian dia langsung menurunkannya.

“Aku kehilangan pekerjaan. Aku punya utang. Nadia mengancam akan melapor. Aku takut semuanya hancur.”

Aku menatapnya.

“Dan malam kecelakaan?”

Aaron tidak menjawab.

Itulah jawabannya.

“Apa yang terjadi malam itu?”

“Lena…”

“Apa yang terjadi?”

Dia berjalan ke jendela.

“Aku tidak ada di sana.”

“Kamu tahu sesuatu.”

“Aku hanya tahu kamu menemui Nadia.”

Potongan ingatanku datang lebih kuat.

Aku duduk di kafe bersama Nadia.

Dia menyerahkan flashdisk.

“Aku minta maaf,” katanya. “Aku tidak tahu Aaron tidak pernah cerita tentang Rio.”

Aku menjawab bahwa anak itu tidak bersalah.

Kemudian Nadia menerima telepon.

Wajahnya langsung berubah.

“Rio keluar dari rumah.”

Hujan deras.

Kami berlari keluar.

Kami mencari Rio.

Kami menemukannya berdiri di dekat halte.

Kemudian…

Seseorang datang.

Aaron.

Aku memegang kepalaku.

Napas semakin pendek.

Suara Aaron dari masa lalu terdengar.

“Serahkan flashdisk itu.”

Nadia berteriak.

“Sudah cukup, Aaron!”

Rio menangis.

Aku berdiri di depan Nadia.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Wajah Aaron saat itu berbeda.

Bukan suami yang kukenal.

Dia marah.

Panik.

Putus asa.

Aku berlari ke mobil.

Nadia menarik Rio menjauh.

Aaron mengejarku.

Aku masuk ke mobil dan mengunci pintu.

Kemudian aku melihat sesuatu di spion.

Aaron berdiri di belakang mobil.

Tangannya memegang batu.

Kaca belakang pecah.

Aku terkejut.

Kakiku menekan pedal.

Mobil melaju.

Hujan begitu deras.

Aku membelok terlalu cepat.

Lalu pembatas jalan.

Kegelapan.

Aku kembali ke kamar rumah sakit sambil terengah.

“Aku ingat.”

Aaron berbalik.

Air matanya jatuh.

“Aku tidak bermaksud membuat kamu kecelakaan.”

Aku menatapnya.

“Kamu memecahkan kaca mobil.”

“Aku cuma ingin mengambil flashdisk.”

“Dan setelah aku kecelakaan?”

“Aku menelepon ambulans.”

“Kenapa kamu tidak mengaku kepada polisi?”

Aaron menangis.

“Aku takut.”

“Kenapa pertanyaan pertama kamu setelah aku sadar adalah apakah aku masih ingat malam itu?”

Dia tidak mampu menjawab.

Aku memencet tombol panggil perawat.

Aaron mendekat.

“Lena, jangan.”

“Menjauh dariku.”

“Aku mencintai kamu.”

Aku tertawa pendek.

Aneh sekali.

Selama bertahun-tahun kalimat itu adalah kalimat yang paling ingin kudengar darinya.

Pagi itu, kalimat tersebut terdengar kosong.

“Orang yang mencintai tidak membuat pasangannya hidup di dalam kebohongan.”

Perawat masuk.

Aku meminta mereka memanggil polisi.

Aaron tidak mencoba lari.

Dia hanya duduk sambil menutupi wajahnya.

Beberapa jam kemudian, Inspektur Raka kembali.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Nadia.

Rio.

Flashdisk.

Folder tersembunyi.

Dan ingatanku tentang malam itu.

Setelah pemeriksaan lanjutan, aku akhirnya mengetahui satu fakta lain yang membuatku terdiam lama.

Nadia masih hidup.

Dia tidak pernah menghilang seperti yang selama ini kubayangkan.

Setelah malam kecelakaan itu, dia membawa Rio pergi dari Jakarta karena merasa tidak aman.

Dialah yang terus berkomunikasi dengan polisi dan mengirim salinan bukti transaksi Aaron.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kuketahui.

Dialah orang pertama yang berlari menuju mobilku setelah kecelakaan.

Dialah yang menahan kepalaku agar tetap stabil sambil menunggu ambulans.

Dan Rio kecil duduk di bawah hujan sambil menangis memanggil namaku.

Dua minggu kemudian, Nadia datang menemuiku.

Dia berdiri canggung di depan pintu kamar.

“Boleh aku masuk?”

Aku mengangguk.

Rio berada di sampingnya.

Anak kecil yang selama tiga bulan muncul sebagai potongan samar di kepalaku.

Dia memandangku lama.

Kemudian berkata pelan.

“Tante Lena sudah bangun.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Iya.”

Dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

Sebuah gelang kain biru.

“Ini punya Tante. Waktu malam itu jatuh.”

Aku menerimanya.

Ingatan terakhir muncul.

Sebelum aku masuk ke mobil malam itu, Rio pernah memegang tanganku.

Dia bertanya apakah ayahnya akan masuk penjara.

Aku berjongkok di depannya.

Aku tidak menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku hanya mengatakan sesuatu yang akhirnya kembali kuingat dengan sangat jelas.

“Kesalahan orang dewasa bukan tanggung jawab anak-anak.”

Aku menatap Rio sekarang.

Kalimat itu masih benar.

Beberapa bulan kemudian, aku mengajukan perceraian.

Aaron menghadapi proses hukum terkait penggelapan dana dan tindakannya pada malam kecelakaan. Aku tidak pernah datang untuk melihatnya.

Banyak orang bertanya apakah aku membencinya.

Aneh, tapi jawabannya tidak.

Kemarahan ada.

Kekecewaan ada.

Tetapi kebencian hanya akan membuat hidupku tetap berputar mengelilingi Aaron.

Aku tidak ingin memberikan sisa hidupku untuk itu.

Setahun setelah kecelakaan, aku kembali ke jalan tempat semuanya terjadi.

Tidak sedang hujan.

Aku berhenti di trotoar.

Mobil berlalu-lalang seperti biasa.

Di sampingku berdiri Nadia dan Rio.

Rio kini berusia tujuh tahun dan sangat cerewet.

Dia menunjuk toko es krim di seberang jalan.

“Tante Lena, boleh?”

Nadia tertawa.

“Baru juga lima menit jalan.”

Aku ikut tertawa.

“Ya sudah. Satu.”

Kami menyeberang ketika lampu pejalan kaki berubah hijau.

Aku sempat menoleh ke belakang.

Selama berbulan-bulan aku menganggap malam itu sebagai malam ketika hidupku hancur.

Ternyata aku salah.

Malam itu memang mengambil tiga bulan dari hidupku.

Mengambil pernikahanku.

Mengambil kepercayaanku kepada orang yang paling dekat denganku.

Tetapi malam itu juga mengembalikan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak kusadari telah hilang.

Diriku sendiri.

Kadang-kadang kita mengira hal paling menakutkan adalah kehilangan ingatan.

Padahal yang jauh lebih menakutkan adalah mengingat seluruh hidup kita dengan jelas, tetapi baru menyadari bahwa selama ini kita hidup di dalam kebohongan orang lain.

Aku pernah bangun dari koma dan tidak tahu apa yang terjadi pada malam itu.

Sekarang aku tahu semuanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat panjang, aku tidak ingin melupakannya.

Karena ada beberapa kenangan yang tidak datang untuk menghancurkan kita.

Mereka datang untuk menunjukkan pintu keluar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang