Wanita terkaya di kota itu menikahi seorang tukang kayu miskin. Pada malam pertama mereka tinggal di rumah yang sama, pria itu melepaskan pakaian lamanya… dan wanita itu diam-diam menelepon pengacara.

“Lalu?”

Dario mengangkat bahu seolah jawabannya sederhana.

“Burung seharusnya bisa terbang.”

Aku menatap ukiran kecil itu cukup lama.

“Aku tidak bisa terbang.”

“Bisa.”

“Bagaimana caranya?”

Dia tersenyum tipis.

“Berhenti meminta izin kepada orang-orang yang ingin kamu tetap berada di dalam sangkar.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku jauh lebih lama daripada yang kuinginkan.

Enam bulan kemudian, aku menikah dengannya.

Tidak ada pesta besar di ballroom hotel milikku.

Tidak ada daftar tamu seribu orang.

Tidak ada wartawan.

Kami menikah sederhana di sebuah taman kecil milik yayasan, dihadiri anak-anak panti asuhan, beberapa karyawan yang benar-benar dekat denganku, Bibi Beatriz yang memasang wajah seperti sedang menghadiri pemakaman, serta seorang lelaki tua bernama Mang Arturo yang diperkenalkan Dario sebagai mantan mandornya.

Dario mengenakan jas abu-abu yang jelas bukan baru.

Aku tahu karena bagian siku kirinya sudah pernah dijahit.

Bibi Beatriz melihatnya dan berbisik di telingaku.

“Kamu masih bisa membatalkan semuanya sebelum tanda tangan.”

Aku hanya tersenyum.

“Sudah terlambat, Bibi. Aku bahagia.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah menikah, Dario tinggal di rumahku.

Rumah yang bahkan terlalu besar untuk kusebut rumah.

Tiga lantai.

Enam kamar tidur.

Ruang makan untuk dua belas orang.

Kolam renang yang hampir tidak pernah kugunakan.

Empat asisten rumah tangga dan dua petugas keamanan.

Dario berdiri di ruang utama dengan sebuah tas kanvas lusuh dan kotak perkakas tuanya.

“Semua barangmu cuma itu?” tanyaku.

“Yang penting muat dibawa sendiri.”

Aku tertawa.

“Kamu sudah menjadi suami pemilik tiga hotel. Kamu boleh punya koper.”

“Besok saja.”

“Kenapa besok?”

“Hari ini aku masih tukang kayu.”

“Besok?”

Dia tersenyum.

“Besok juga.”

Aku seharusnya menyadari sesuatu ketika itu.

Namun aku terlalu bahagia.

Setelah makan malam, Dario masuk ke kamar utama.

Aku sedang melepaskan anting ketika melihatnya membuka kemeja lama yang dipakainya sejak pagi.

Dan saat kain itu terlepas dari tubuhnya, tanganku berhenti bergerak.

Di punggungnya terdapat bekas luka panjang.

Bukan satu.

Ada beberapa.

Sebagian tipis, sebagian terlihat lebih dalam.

Di bahu kirinya ada bekas luka berbentuk tidak beraturan yang tidak mungkin berasal dari pekerjaan pertukangan biasa.

Aku berdiri.

“Dario.”

Dia membeku.

“Bekas apa itu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Tangannya perlahan mengambil kaus dari dalam tas.

“Kecelakaan.”

“Kecelakaan apa?”

“Kecelakaan lama.”

“Kapan?”

“Sudah bertahun-tahun.”

Aku berjalan mendekat.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Dario menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat sesuatu di wajah lelaki itu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Takut.

Bukan takut kepadaku.

Takut terhadap sesuatu yang akhirnya mengejarnya.

“Ada hal-hal yang lebih baik ditinggalkan di masa lalu, Bela.”

Dia hanya memanggilku Bela ketika sedang serius.

Aku tidak bertanya lagi.

Aku pura-pura menerima jawabannya.

Namun ketika Dario masuk ke kamar mandi, aku mengambil ponsel dan berjalan ke balkon.

Aku menelepon pengacaraku, Ramon.

Dia menjawab pada dering kedua.

“Isabela? Ada apa? Ini malam pernikahanmu.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa menelepon pengacara?”

Aku memandang pintu kamar mandi.

“Cari tahu siapa sebenarnya Dario.”

Ramon terdiam.

“Isabela.”

“Semua yang bisa kamu temukan.”

“Dia suamimu sekarang.”

“Itulah sebabnya aku harus tahu.”

Dua hari berlalu.

Dario menjalani hidup seolah tidak ada yang berubah.

Pukul enam pagi dia bangun.

Membuat kopi sendiri.

Memperbaiki engsel pintu dapur yang selama tiga tahun dibiarkan rusak oleh teknisi rumah.

Kemudian dia pergi bekerja.

Aku menawarinya posisi di yayasan.

Dia menolak.

Aku menawarkan modal membuka bengkel sendiri.

Dia menolak.

“Aku tidak menikahimu untuk berhenti bekerja.”

“Aku juga tidak mengatakan begitu.”

“Kamu hampir mengatakannya.”

Aku mendengus.

“Kamu menyebalkan.”

“Kamu juga.”

Hubungan kami terasa terlalu normal untuk sesuatu yang dicurigai semua orang.

Sampai Ramon menelepon.

“Datang ke kantor. Jangan bawa Dario.”

Nada suaranya membuat dadaku langsung terasa berat.

Satu jam kemudian, aku duduk di ruangannya.

Di meja terdapat sebuah map cokelat.

Ramon tidak langsung menyerahkannya.

“Apa pun yang kamu baca, jangan mengambil keputusan terburu-buru.”

“Berikan.”

“Isabela.”

“Berikan.”

Aku menarik map itu.

Halaman pertama berisi nama lengkap.

Dario Sebastian Valdez.

Tanggal lahir cocok.

Namun pekerjaan yang tercatat dua belas tahun lalu bukan tukang kayu.

Insinyur struktur.

Aku menatap Ramon.

“Apa ini?”

“Teruskan.”

Perusahaan tempat Dario bekerja bernama Valdez Engineering and Construction.

Namanya terasa familiar.

Lalu aku melihat foto lama di halaman berikutnya.

Dario memakai helm proyek putih, berdiri di samping seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun.

Di belakang mereka terdapat logo perusahaan.

“Valdez?” bisikku.

Ramon mengangguk.

“Perusahaan itu dulu milik ayahnya.”

Aku membalik halaman.

Nilai kontrak.

Proyek pemerintah.

Gedung tinggi.

Jembatan.

Kompleks perumahan.

Mereka bukan keluarga miskin.

Tidak pernah.

Lalu aku menemukan berita lama.

KECELAKAAN KONSTRUKSI MENELAN KORBAN.

Bangunan parkir bertingkat runtuh saat pengerjaan.

Tujuh pekerja tewas.

Dua belas terluka.

Dario termasuk korban luka berat.

Ayahnya, Alejandro Valdez, dituduh menggunakan material di bawah standar.

Beberapa bulan kemudian perusahaan bangkrut.

Ayahnya meninggal karena serangan jantung sebelum persidangan selesai.

Aku merasa tenggorokanku mengering.

“Jadi Dario melarikan diri?”

“Tidak.”

Aku menatap Ramon.

“Apa maksudmu?”

“Dia justru menjadi orang yang menyerahkan dokumen internal perusahaan kepada penyidik.”

Aku membeku.

Ramon melanjutkan.

“Dokumen itu membuktikan bahwa pembelian material murah dilakukan tanpa persetujuannya. Yang menandatangani pengadaan adalah direktur keuangan perusahaan.”

“Siapa?”

Ramon mendorong satu lembar terakhir ke arahku.

Ketika membaca namanya, jari-jariku dingin.

Esteban Monteluna.

Pamanku.

Adik mendiang ayahku.

Orang yang selama bertahun-tahun menjadi komisaris senior Monteluna Holdings.

Orang yang setiap Natal duduk semeja denganku.

“Tidak mungkin.”

“Dia bekerja sama dengan Valdez sebelum bergabung penuh dengan perusahaan keluargamu.”

Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi bergeser.

“Dario tahu?”

“Sepertinya tahu.”

“Sejak kapan?”

“Sulit dipastikan.”

Aku pulang dengan kemarahan yang hampir membuatku tidak dapat bernapas.

Dario sedang berada di garasi, membuat rak kayu untuk tempat sepatu.

Aku melempar map itu ke meja kerjanya.

Dia melihat map tersebut.

Kemudian melihatku.

Tidak ada keterkejutan.

Itu yang paling menyakitkan.

“Kamu sudah tahu aku akan menemukan ini.”

Dario meletakkan amplas.

“Ya.”

“Dan kamu tetap menikahiku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Dia diam.

“Jawab aku!”

Petugas keamanan di luar sampai menoleh.

Dario berdiri.

“Karena aku mencintaimu.”

Aku tertawa pendek.

Pahit.

“Jangan hina aku dengan jawaban itu.”

“Itu kebenaran.”

“Kamu tahu keluargaku terlibat dalam kehancuran keluargamu.”

“Ya.”

“Kamu tahu pamanku mungkin bertanggung jawab atas kematian pekerja-pekerja itu.”

“Ya.”

“Dan kamu mendekatiku?”

“Aku tidak mendekatimu untuk itu.”

“Lalu untuk apa?”

Dario berjalan ke kotak perkakasnya.

Dia membuka bagian bawah yang selama ini kukira hanya papan biasa.

Ternyata ada ruang tipis tersembunyi.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan amplop plastik tua.

“Aku memang datang ke proyek panti asuhan itu karena Monteluna Foundation.”

Jantungku jatuh.

“Nah.”

“Tapi bukan untuk mendekatimu.”

Dia menyerahkan dokumen kepadaku.

“Aku ingin menemukan bukti ini.”

Itu salinan transaksi bank lama.

Beberapa pembayaran dari perusahaan milik keluarga Valdez masuk ke sebuah perusahaan cangkang.

Pemiliknya bukan Esteban secara langsung.

Namun nama penerima akhirnya membuat pandanganku berkunang.

Monteluna Capital Services.

Aku mengenal perusahaan itu.

Perusahaan lama milik ayahku.

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Ayahku tidak mungkin.”

“Baca tanggalnya.”

Aku membaca.

Ayahku sudah meninggal enam bulan sebelum transaksi tersebut.

Aku memandang Dario.

“Esteban menggunakan perusahaan ayahmu setelah kematiannya.”

“Kenapa?”

“Untuk menyembunyikan uang.”

Aku duduk.

Semua kemarahan tiba-tiba berubah menjadi rasa mual.

Dario berjongkok di depanku.

“Aku datang ke panti asuhan karena tahu yayasan menyimpan arsip proyek lama di gudang mereka. Aku hanya ingin mencari dokumen. Setelah itu aku akan pergi.”

“Tapi kamu bertemu aku.”

“Ya.”

“Dan kamu tidak pernah mengatakan apa pun.”

“Aku mencoba.”

“Kapan?”

“Setiap kali aku hampir mengatakannya, kamu sedang tertawa.”

Aku menatapnya.

Dario tersenyum sedih.

“Aku egois. Aku ingin punya beberapa hari lagi sebelum kamu melihatku sebagai bagian dari masalah keluargamu.”

Mataku panas.

“Kamu seharusnya memberitahuku sebelum kita menikah.”

“Aku tahu.”

“Itu pengkhianatan.”

“Aku tahu.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan panjang.

Justru itu membuatku lebih marah.

Aku berdiri.

“Malam ini kamu tidur di kamar tamu.”

Dario mengangguk.

Keesokan paginya dia pergi sebelum sarapan.

Namun dia meninggalkan burung kayu kecil itu di meja.

Di bawahnya ada secarik kertas.

Aku minta maaf karena menyembunyikan masa laluku. Tapi cintaku kepadamu bukan bagian dari rencana apa pun.

Aku meremas kertas itu.

Lalu telepon kantor berbunyi.

Sekretaris pribadiku terdengar panik.

“Ma’am, Pak Esteban meminta rapat direksi darurat.”

“Untuk apa?”

“Katanya ada masalah serius terkait reputasi perusahaan dan… Pak Dario.”

Aku langsung tahu.

Esteban sudah mengetahui penyelidikan Ramon.

Dua jam kemudian, ruang rapat penuh.

Esteban duduk di ujung meja dengan wajah muram.

Di layar besar terdapat foto Dario dari berita kecelakaan lama.

“Keponakanku telah menikahi seseorang yang memiliki motif balas dendam terhadap keluarga kita,” katanya.

Beberapa direktur mulai berbisik.

Esteban menatapku dengan tatapan seolah sedang menyelamatkanku.

“Isabela, lelaki itu mendekatimu untuk menghancurkan Monteluna.”

Aku menahan wajah tetap tenang.

“Bukti?”

“Dia menyembunyikan identitas.”

“Bukti bahwa dia ingin menghancurkan perusahaan?”

Esteban terdiam sesaat.

Lalu mengeluarkan dokumen.

“Dia mencuri arsip.”

Aku melihatnya.

Itu daftar dokumen yang kutemukan bersama Dario.

Kesalahannya hanya satu.

Daftar itu tidak pernah diberikan kepada Esteban.

Artinya dia tahu persis dokumen mana yang dicari.

Aku bersandar.

“Paman.”

“Ya?”

“Bagaimana Paman tahu arsip itu?”

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup.

Semua orang di ruangan melihatnya.

Aku mengeluarkan rekaman transaksi yang sudah disiapkan Ramon.

“Ayahku sudah meninggal saat uang ini dipindahkan.”

Esteban berdiri.

“Ini fitnah.”

“Lalu tanda tangan siapa?”

Dia menatap dokumen.

Tangannya mulai gemetar.

Ramon masuk bersama dua penyidik yang sejak tadi menunggu di luar.

Wajah Esteban pucat.

“Apa ini, Isabela?”

Aku menatap lelaki yang selama puluhan tahun kupanggil Paman.

“Aku sedang membuka sangkar.”

Penyelidikan yang berlangsung setelah itu mengubah banyak hal.

Esteban akhirnya terbukti menggunakan perusahaan lama ayahku untuk menyamarkan keuntungan dari pengadaan ilegal. Kecelakaan yang menghancurkan keluarga Dario bukan satu-satunya proyek yang bermasalah.

Beberapa orang di Monteluna Holdings ikut diperiksa.

Aku kehilangan dua direktur.

Harga saham perusahaan turun.

Media mengepung gerbang rumahku selama berminggu-minggu.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak takut kehilangan nama baik keluarga.

Aku lebih takut mempertahankan kebohongan hanya karena nama keluarga terdengar terhormat.

Dario tidak pernah kembali ke rumah selama proses penyelidikan.

Dia tinggal lagi di kamar kontrakannya.

Kami berbicara sesekali.

Formal.

Pendek.

Canggung.

Sampai tiga bulan kemudian aku datang ke sebuah bengkel kecil di pinggir kota.

Dario sedang mengamplas meja.

Dia mengangkat kepala ketika melihatku.

“Ada yang rusak di rumah?”

“Ada.”

“Apa?”

“Suamiku hilang tiga bulan.”

Tangannya berhenti.

Aku meletakkan burung kayu di atas meja.

“Kamu bilang burung seharusnya terbang.”

Dario menunduk.

“Bela, kalau kamu datang karena merasa berutang kepadaku, jangan.”

“Aku tidak berutang.”

“Kalau karena kasihan—”

“Aku juga tidak kasihan.”

Dia menatapku.

Aku menarik napas.

“Aku masih marah.”

“Aku tahu.”

“Aku mungkin akan marah cukup lama.”

“Aku pantas mendapatkannya.”

“Tapi aku juga mencintaimu.”

Matanya memerah.

Aku menunjuk burung kayu itu.

“Aku tidak ingin hidup di sangkar lagi. Termasuk sangkar yang kubuat sendiri.”

Dario menatapku beberapa saat sebelum bertanya pelan,

“Jadi sekarang bagaimana?”

Aku mengeluarkan satu amplop.

Wajahnya langsung berubah.

“Bukan surat cerai,” kataku.

“Lalu?”

Dia membuka amplop.

Di dalamnya terdapat akta sebuah bangunan kecil.

Bukan atas namanya.

Bukan atas namaku.

Atas nama sebuah yayasan baru.

Valdez Workshop Foundation.

“Apa ini?”

“Bengkel pelatihan gratis untuk anak-anak panti yang sudah cukup umur dan ingin belajar keterampilan.”

Dario membaca berulang kali.

“Aku tidak bisa menerima ini.”

“Kamu tidak menerima apa pun. Yayasan yang menerima.”

“Isabela.”

“Dan kamu digaji sebagai pengajar. Gaji normal. Jangan berharap fasilitas mewah.”

Dia tertawa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Aku hampir menangis mendengarnya.

Enam bulan kemudian, bengkel itu dibuka.

Di dinding utamanya terdapat sebuah rak panjang.

Di sana berdiri puluhan burung kayu yang dibuat anak-anak.

Ada yang sayapnya terlalu besar.

Ada yang kakinya miring.

Ada yang bentuknya bahkan lebih menyerupai ayam.

Namun Dario tidak pernah membuang satu pun.

Suatu sore aku bertanya kenapa.

Dia sedang mengajari seorang anak menghaluskan sisi kayu.

“Karena tidak semua burung harus sempurna untuk bisa terbang.”

Aku tersenyum.

Baru saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan kekayaan kepadaku.

Selama bertahun-tahun aku mengira kebebasan berarti memiliki cukup uang untuk melakukan apa pun yang kuinginkan.

Ternyata aku salah.

Kebebasan adalah keberanian untuk mengetahui kebenaran, meskipun kebenaran itu dapat meruntuhkan rumah yang selama ini melindungimu.

Dan cinta bukan tentang menemukan seseorang tanpa masa lalu.

Cinta adalah saat dua orang akhirnya berhenti menyembunyikan luka, lalu memilih membangun sesuatu yang baru dengan tangan mereka sendiri.

Di meja kerjaku sekarang ada burung kayu pertama dari Dario.

Sayap kirinya sedikit tidak simetris.

Permukaannya kasar.

Warnanya mulai memudar.

Semua tamu penting yang datang ke kantorku selalu bertanya mengapa benda sederhana itu diletakkan di antara penghargaan dan foto-foto perusahaan.

Aku selalu memberikan jawaban yang sama.

“Karena benda itu adalah satu-satunya yang pernah mengajariku bahwa sangkar paling sulit dibuka bukanlah sangkar yang dibuat orang lain.”

“Melainkan sangkar yang pintunya sebenarnya sudah terbuka, tetapi kita terlalu takut untuk terbang.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang