Saya tidak tahu berapa lama saya duduk terpaku di lantai ruang tengah malam itu.
Tangan saya masih berada di dalam sobekan kecil pada selimut merah pemberian Ibu Ratna, sementara jantung saya berdegup begitu keras sampai telinga saya berdenging.
Saya menarik salah satu kantong plastik bening dari balik lapisan kapuk.
Kantong itu terasa dingin sekali.
Bukan dingin seperti kain yang terkena udara malam, melainkan seperti benda yang mampu menyimpan suhu rendah dalam waktu lama.
Di dalamnya terdapat lembaran tipis berwarna keperakan, beberapa paket gel padat, dan sebuah kantong vakum kecil berisi tumpukan kertas yang dilipat rapat.
Saya semakin bingung.
Saya mengambil paket lainnya.
Isinya hampir sama.
Gel pendingin.
Lembaran reflektif.
Lapisan plastik tebal.
Semua dijahit membentuk beberapa petak di seluruh bagian selimut.
Tiba-tiba saya memahami mengapa tubuh Bima selalu kedinginan.
Selimut itu bukan menyimpan panas.
Ia justru dirancang untuk menahan suhu dingin.
Namun pertanyaan yang jauh lebih menakutkan muncul di kepala saya.
Untuk apa?
Saya mengambil kantong vakum berisi kertas tadi lalu membukanya perlahan.
Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi dokumen.
Saya membaca lembar pertama.
Nama saya tercetak jelas.
SITI RAHMAWATI.
Di bawahnya ada salinan KTP saya.
Saya langsung berdiri.
Tangan saya gemetar.
Saya membalik lembar berikutnya.
Fotokopi KTP Mas Hendra.
Kemudian akta kelahiran Bima.
Kartu keluarga kami.
Bahkan ada salinan sertifikat rumah yang sedang kami cicil.
Saya menutup mulut.
Semua dokumen itu seharusnya tersimpan di lemari kamar utama.
Saya tidak pernah memberikan salinannya kepada Ibu Ratna.
Belum selesai rasa terkejut saya, sebuah amplop cokelat tipis jatuh dari sela plastik.
Di depannya tertulis dengan pulpen hitam.
UNTUK HENDRA.
Saya tidak langsung membukanya.
Nama suami saya membuat pikiran saya tiba-tiba kacau.
Apakah Mas Hendra mengetahui semua ini?
Saya mendengar suara langkah dari arah lorong.
Refleks saya menyembunyikan dokumen di belakang tubuh.
Mas Hendra muncul dengan wajah mengantuk.
“Siti? Kamu ngapain jam segini?”
Matanya kemudian jatuh pada selimut yang sudah saya gunting.
Ekspresinya berubah seketika.
Bukan terkejut.
Melainkan panik.
“Siti!”
Dia melangkah cepat.
“Kamu potong selimut Ibu?”
Saya menatapnya.
“Mas tahu ada apa di dalamnya?”
Mas Hendra berhenti.
Hanya satu detik.
Namun cukup bagi saya untuk melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah saya sadari.
Ketakutan.
Saya mengangkat fotokopi dokumen kami.
“Wajahmu bilang kamu tahu.”
“Siti, dengarkan dulu.”
“Jadi benar?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Saya tertawa kecil karena gugup.
“Setiap kali orang bilang bukan seperti yang kamu pikirkan, biasanya justru lebih buruk.”
Mas Hendra mengusap wajahnya.
Dia kemudian berjongkok dan mulai mengambil paket-paket dari dalam selimut.
“Harusnya kamu nggak buka ini.”
Kalimat itu membuat darah saya serasa berhenti mengalir.
“Harusnya?”
Saya berdiri.
“Anak kita menggigil tiga malam karena benda ini, Mas.”
Mas Hendra memejamkan mata.
“Saya tahu.”
Saya tidak percaya dengan apa yang baru saja saya dengar.
“Kamu tahu?”
“Siti, pelankan suara. Bima bisa bangun.”
Saya menahan amarah dengan susah payah.
“Kamu tahu anakmu kedinginan karena selimut ini dan kamu diam saja?”
Mas Hendra segera menggeleng.
“Saya tidak tahu efeknya akan separah itu. Ibu bilang lapisan di dalam cuma untuk menjaga barangnya.”
“Barang apa?”
Dia tidak menjawab.
Saya langsung membuka amplop bertuliskan UNTUK HENDRA.

Mas Hendra mencoba mengambilnya, tetapi saya mundur.
Di dalam amplop terdapat selembar catatan tulisan tangan.
Hendra, semua dokumen yang kamu minta sudah Ibu masukkan. Jangan sampai Siti tahu sebelum urusan rumah selesai. Setelah surat kuasa ditandatangani, baru kita lanjutkan sesuai rencana.
Kaki saya terasa lemas.
Saya membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
“Surat kuasa apa?”
Mas Hendra terdiam.
Saya menatapnya.
“Rumah apa yang dimaksud?”
“Siti…”
“Jawab.”
Akhirnya Mas Hendra duduk di sofa.
Wajahnya pucat.
“Rumah Ibu.”
Saya mengernyit.
Ibu Ratna tinggal di sebuah rumah tua cukup besar di Bogor.
Rumah itu sudah dihuni keluarga Mas Hendra selama puluhan tahun.
“Ibu mau menjual rumah?”
Mas Hendra mengangguk pelan.
“Tapi sertifikatnya bermasalah.”
“Apa hubungannya dengan dokumen saya dan Bima?”
Mas Hendra tidak langsung menjawab.
Saat itulah saya mulai menyadari bahwa masalah sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar penjualan rumah.
Mas Hendra menarik napas panjang.
Rumah Ibu Ratna ternyata tidak sepenuhnya miliknya.
Setengah bagian tanah itu masih tercatat atas nama almarhum ayah Mas Hendra dan termasuk harta warisan yang belum pernah dibagi secara resmi.
Mas Hendra memiliki dua saudara.
Kakaknya, Mbak Rina, tinggal di Surabaya.
Adiknya, Dimas, bekerja di Kalimantan.
Keduanya tidak setuju rumah tersebut dijual karena rumah itu dianggap peninggalan keluarga.
Namun Ibu Ratna membutuhkan uang dalam jumlah besar.
“Buat apa?” tanya saya.
Mas Hendra terdiam.
Saya langsung tahu jawabannya kembali tidak sederhana.
“Tiga bulan lalu Ibu pinjam uang.”
“Berapa?”
“Hampir satu miliar.”
Saya sampai mengira saya salah dengar.
“Satu miliar?”
“Untuk usaha.”
“Usaha apa?”
Mas Hendra menggeleng.
“Ternyata bukan usaha.”
Ibu Ratna rupanya tergiur investasi yang ditawarkan seorang kenalan lamanya.
Katanya keuntungan bisa mencapai sepuluh persen setiap bulan.
Awalnya Ibu Ratna memasukkan tabungannya.
Ketika menerima keuntungan beberapa kali, beliau mulai berani meminjam.
Bahkan rumah keluarga dijadikan jaminan tidak resmi kepada orang yang memberikan modal.
Investasi tersebut kemudian macet.
Orang yang membawa uang menghilang.
Dan Ibu Ratna terjebak utang.
Saya mulai memahami potongan demi potongan teka-teki itu.
“Tapi dokumen saya?”
Mas Hendra menunduk.
Karena Mbak Rina dan Dimas tidak mau menandatangani penjualan rumah, Ibu Ratna dan Mas Hendra mencoba mengambil jalur lain.
Mereka berencana membuat perjanjian pinjaman menggunakan rumah kami sebagai jaminan sementara.
Rumah yang setiap bulan cicilannya dibayar dari penghasilan saya dan Mas Hendra.
Nama saya ada dalam sejumlah dokumen karena rumah itu dibeli setelah kami menikah.
Mereka membutuhkan persetujuan saya.
“Saya nggak pernah setuju.”
“Makanya Ibu minta saya bicara sama kamu.”
“Tapi kamu tidak pernah bicara.”
Mas Hendra tidak menjawab.
Saya melihat surat itu lagi.
Jangan sampai Siti tahu sebelum urusan rumah selesai.
Saya merasa mual.
“Jadi kalian mau apa? Memalsukan tanda tangan saya?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Saya menatapnya tajam.
Mas Hendra akhirnya berkata pelan.
“Ibu cuma mau menyiapkan dokumennya dulu.”
“Kenapa harus disembunyikan di selimut?”
Karena beberapa hari sebelumnya, kata Mas Hendra, seorang penagih datang ke rumah Ibu Ratna.
Ibu Ratna takut barang dan dokumennya diperiksa.
Beliau lalu menitipkan salinan-salinan itu kepada Mas Hendra menggunakan selimut sebagai tempat tersembunyi.
Gel pendingin dan lapisan plastik di dalamnya ternyata berasal dari tas pengiriman makanan beku bekas yang dipotong-potong.
Ibu Ratna memasukkannya agar kantong dokumen terlindung dari lembap.
Akibatnya selimut malah tidak mampu menyimpan panas tubuh dengan normal.
Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Namun tetap tidak menjelaskan satu hal.
“Kenapa selimut itu harus dipakai Bima?”
Mas Hendra kembali terdiam.
Pertanyaan itu membuat saya semakin curiga.
“Mas?”
“Sebenarnya… nggak harus.”
“Terus kenapa Ibu menelepon saya dan bilang khusus untuk Bima?”
Mas Hendra tidak menjawab.
Saya langsung mengambil telepon.
“Saya telepon Ibu sekarang.”
“Siti, jangan.”
Mas Hendra merebut ponsel saya.
Untuk pertama kalinya selama lima tahun pernikahan, saya benar-benar takut kepada suami sendiri.
“Beri ponsel saya.”
“Siti, besok saja.”
“Sekarang.”
Kami saling menatap beberapa detik.
Kemudian suara kecil terdengar dari lorong.
“Bunda?”
Bima berdiri di sana sambil membawa bantal kecilnya.
Matanya masih setengah tertutup.
Saya segera menghampirinya.
“Kenapa bangun, Sayang?”
“Bunda sama Ayah berantem?”
Saya memeluknya.
“Nggak. Bunda cuma ngobrol.”
Mas Hendra menunduk.
Malam itu saya tidur bersama Bima dan mengunci pintu kamar.
Selimut merah itu saya masukkan ke dalam sebuah koper besar.
Semua dokumen saya simpan.
Pagi harinya, sebelum Mas Hendra bangun, saya memotret seluruh isi selimut menggunakan ponsel.
Kemudian saya menelepon Mbak Rina.
Selama lima tahun menikah, hubungan saya dengan kakak ipar saya biasa saja.
Kami jarang berbicara pribadi.
Namun setelah mendengar cerita saya, suara Mbak Rina berubah serius.
“Siti, kamu jangan tanda tangan apa pun.”
“Sebenarnya ada apa, Mbak?”
Mbak Rina menarik napas panjang.
“Ternyata Hendra belum cerita.”
“Belum cerita apa?”
“Ibu sudah hampir jual rumah itu tiga kali tanpa sepengetahuan kami.”
Saya terdiam.
Mbak Rina kemudian menceritakan sesuatu yang bahkan Mas Hendra tidak tahu.
Investasi bodong itu bukan satu-satunya alasan Ibu Ratna membutuhkan uang.
Dua tahun terakhir beliau rutin mengirimkan uang kepada seseorang di Yogyakarta.
Jumlahnya puluhan juta setiap bulan.
“Seseorang siapa?”
“Kami nggak tahu.”
Mbak Rina pernah melihat bukti transfer di meja Ibu Ratna.
Nama penerimanya selalu sama.
ARIF SETIAWAN.
Saya tidak mengenal nama itu.
Malam berikutnya, Mas Hendra akhirnya setuju kami pergi ke Bogor.
Saya membawa selimut merah itu.
Ketika kami tiba, Ibu Ratna sedang menyiram tanaman di halaman.
Begitu melihat koper yang saya bawa, wajahnya langsung pucat.
“Siti…”
Saya mengeluarkan selimut.
“Bu, kita bicara.”
Kami duduk di ruang makan.
Untuk pertama kalinya, saya melihat Ibu Ratna tidak mampu mempertahankan wajah ramah yang biasa beliau tunjukkan.
Saya meletakkan semua dokumen di atas meja.
“Kenapa dokumen keluarga saya ada di dalam selimut Bima?”
Ibu Ratna memandang Mas Hendra.
Mas Hendra menunduk.
Akhirnya beliau bercerita.
Namun jawabannya berbeda dari cerita Mas Hendra.
“Ibu tidak menyuruh Hendra menggadaikan rumah kalian.”
Saya menatap suami saya.
Mas Hendra langsung pucat.
Ibu Ratna membuka salah satu map dari lemari.
Beliau kemudian mengeluarkan beberapa lembar percakapan yang dicetak.
Nama Mas Hendra ada di sana.
Ternyata justru Mas Hendra yang pertama kali menawarkan rumah kami sebagai jaminan.
Dia memiliki utang sendiri.
Bukan sedikit.
Hampir enam ratus juta rupiah.
Saya merasa kursi yang saya duduki seperti bergerak.
“Utang apa?”
Mas Hendra tidak menjawab.
Ibu Ratna menangis.
“Hendra ikut aplikasi trading. Awalnya untung. Lama-lama dia pinjam uang buat nutup kerugian.”
Saya menatap suami saya seperti melihat orang asing.
Selama ini Mas Hendra selalu mengatakan keuangan kami baik-baik saja.
Gajinya memang lebih tinggi daripada saya.
Namun beberapa bulan terakhir dia sering mengatakan banyak biaya kantor.
Rupanya uang itu menghilang untuk menutup utang.
“Lalu kenapa Ibu yang mengaku punya utang satu miliar?”
Mas Hendra memegang kepalanya.
Karena sebagian utang tersebut sebenarnya atas nama Ibu Ratna.
Mas Hendra menggunakan identitas ibunya untuk mengajukan pinjaman dari beberapa kenalan.
Ibu Ratna kemudian mencoba menutupinya dengan uang hasil investasi.
Semua menjadi lingkaran masalah yang semakin besar.
Saya memejamkan mata.
Namun masih ada satu pertanyaan.
“Arif Setiawan siapa?”
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu Ratna menatap saya.
Wajahnya berubah.
“Rina cerita?”
Saya mengangguk.
Ibu Ratna berjalan pelan ke kamar lalu kembali membawa sebuah foto lama.
Di foto itu terdapat seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.
“Namanya Arif.”
Saya menunggu.
“Ia anak Ibu.”
Mas Hendra langsung menoleh.
“Apa?”
Suara suami saya terdengar lebih kaget daripada saya.
Ibu Ratna meneteskan air mata.
Sebelum menikah dengan ayah Mas Hendra, beliau pernah menikah secara singkat.
Dari pernikahan itu lahir Arif.
Setelah bercerai, mantan suaminya membawa Arif pergi.
Hubungan mereka terputus selama puluhan tahun.
Dua tahun lalu Arif menemukan Ibu Ratna melalui media sosial.
Namun kehidupannya tidak baik.
Ia sakit-sakitan dan memiliki dua anak yang masih sekolah.
Ibu Ratna diam-diam membantu biaya hidup mereka karena takut anak-anaknya yang lain merasa warisan keluarga sedang dibagi kepada orang asing.
“Saya malu,” bisiknya.
“Bukan karena punya Arif. Tapi karena saya menyembunyikannya selama puluhan tahun.”
Mas Hendra terduduk lemas.
Saya baru menyadari bahwa selimut delapan kilogram itu sebenarnya menyimpan terlalu banyak rahasia dari satu keluarga.
Utang.
Kebohongan.
Dokumen.
Seorang anak yang disembunyikan.
Dan sebuah rumah yang hampir menjadi korban semuanya.
Saya tidak tahu harus marah kepada siapa lebih dulu.
Namun satu keputusan menjadi sangat jelas.
Saya menatap Mas Hendra.
“Mulai hari ini, semua keuangan kita saya pegang bersama. Tidak ada pinjaman, tidak ada tanda tangan, tidak ada jaminan tanpa saya tahu.”
Mas Hendra terdiam.
“Kalau kamu masih mau mempertahankan keluarga ini, kita selesaikan utangmu secara terbuka. Kalau kamu bohong sekali lagi, saya pergi bersama Bima.”
Untuk pertama kalinya, Mas Hendra tidak membela ibunya.
Tidak menyalahkan saya.
Tidak mencari alasan.
Dia hanya mengangguk.
Beberapa minggu kemudian, rumah Ibu Ratna tidak jadi dijual.
Mbak Rina dan Dimas datang ke Bogor.
Untuk pertama kalinya seluruh keluarga duduk dalam satu meja dan membicarakan semua masalah tanpa rahasia.
Mereka menyusun ulang utang.
Beberapa aset kecil dijual.
Mas Hendra menghentikan semua aktivitas trading dan menyerahkan catatan keuangannya kepada saya.
Hubungan kami tidak langsung membaik.
Kepercayaan tidak bisa dijahit kembali secepat jahitan selimut yang robek.
Butuh waktu.
Namun setidaknya tidak ada lagi kebohongan yang disimpan di balik sesuatu yang terlihat hangat.
Sebulan kemudian, Ibu Ratna datang ke rumah.
Beliau membawa sebuah selimut baru.
Kali ini ringan.
Hanya sekitar dua kilogram.
Saya sempat tersenyum pahit.
“Ibu berani bawa selimut lagi?”
Ibu Ratna tertawa kecil meskipun matanya berkaca-kaca.
“Yang ini kamu boleh gunting dari awal.”
Bima berlari menghampiri.
“Nenek, ini hangat nggak?”
Ibu Ratna jongkok dan memeluk cucunya.
“Harusnya hangat.”
Saya mengambil selimut itu.
Entah kenapa saya benar-benar memeriksanya.
Ibu Ratna melihat saya lalu tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, saya ikut tertawa.
Malam itu Bima tidur menggunakan selimut baru.
Sekitar pukul dua dini hari, saya terbangun.
Saya masuk ke kamarnya.
Tubuh kecilnya tidur dengan tenang.
Tangannya memeluk boneka dinosaurus.
Selimut menutup tubuhnya sampai dada.
Saya memasukkan tangan ke bagian dalam.
Hangat.
Sangat hangat.
Saya berdiri di samping tempat tidur sambil menatap anak saya.
Saat itulah saya akhirnya memahami sesuatu.
Benda yang paling berbahaya di rumah kami bukanlah paket gel dingin, dokumen tersembunyi, atau selimut seberat delapan kilogram.
Melainkan rahasia yang dibiarkan terlalu lama.
Karena rahasia selalu bekerja seperti udara dingin.
Ia masuk melalui celah yang kecil, nyaris tidak terasa pada awalnya, lalu perlahan membuat seluruh rumah kehilangan kehangatannya.
