SUAMI DAN SEKRETARISNYA MELAHIRKAN 3 ANAK LAKI-LAKI, TAPI SAAT CEK KESEHATAN, DOKTER MENYATAKAN SUAMI MANDUL TOTAL! SIAPA SEBENARNYA AYAH DARI KETIGA ANAK ITU?

Keesokan paginya, Surya sudah berada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh.

Tidak ada satu pun staf yang berani mengajaknya berbicara.

Kopi hitam di meja bahkan belum disentuh. Surya hanya duduk menghadap jendela besar lantai dua puluh satu, memandangi Jakarta yang perlahan dipenuhi kendaraan.

Semalaman ia tidak tidur.

Setiap kali memejamkan mata, wajah Reno, Rehan, dan Revan muncul bergantian di kepalanya.

Reno yang selalu memeluk kakinya setiap kali ia datang.

Rehan yang suka meminta dibacakan buku sebelum tidur.

Dan Revan, anak bungsu yang baru berusia satu tahun, yang bahkan belum mampu memanggilnya dengan jelas.

Selama ini Surya tidak pernah mempertanyakan apa pun.

Ketiga anak itu lahir dengan rambut hitam, kulit terang, dan bentuk wajah yang menurut Nita mirip dengannya.

Surya mempercayainya.

Mungkin karena ia memang ingin percaya.

Pukul 08.17, pintu ruang kerjanya diketuk.

Budi masuk dengan wajah tegang.

“Pak, orang yang Bapak minta tadi malam sudah datang.”

“Suruh masuk.”

Seorang pria bernama Arif masuk membawa amplop cokelat tebal.

Arif adalah mantan penyidik yang selama beberapa tahun terakhir sering membantu Surya menyelesaikan persoalan perusahaan secara diam-diam.

“Semua sampel berhasil didapat,” katanya.

Surya menatap amplop itu.

“Hasilnya?”

“Laboratorium meminta waktu sedikit lagi. Tapi ada sesuatu yang menurut saya perlu Bapak lihat sekarang.”

Arif mengeluarkan beberapa lembar foto.

Foto pertama memperlihatkan Nita keluar dari rumahnya sekitar pukul sebelas malam tiga minggu lalu.

Foto kedua memperlihatkan Nita masuk ke sebuah mobil berwarna abu-abu.

Foto ketiga membuat napas Surya tertahan.

Pengemudi mobil itu adalah Budi.

Surya perlahan mengangkat wajah.

Budi yang berdiri beberapa meter darinya langsung pucat.

“Pak, saya bisa jelaskan.”

Surya bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Lima belas tahun kamu bekerja untuk saya.”

Budi menelan ludah.

“Saya tahu.”

“Rumah ibumu saya yang bantu bayar. Anakmu sekolah dengan biaya perusahaan saya. Saat ayahmu masuk rumah sakit, siapa yang membayar operasinya?”

“Bapak.”

“Lalu kamu membawa Nita pergi diam-diam tengah malam?”

“Pak Surya, itu bukan seperti yang Bapak pikirkan.”

“Keluar.”

“Tapi Pak…”

“Keluar!”

Budi terdiam, lalu menunduk dan meninggalkan ruangan.

Surya menatap Arif.

“Ikuti dia.”

Arif mengangguk.

“Dan cari tahu apakah dia pernah bertemu Nita selama lima tahun terakhir.”

Setelah Arif pergi, Surya mengambil kunci mobilnya.

Ia sendiri menuju rumah sakit di Jakarta Timur untuk mengambil hasil pemeriksaan kedua.

Kali ini seorang dokter andrologi bernama Dokter Kevin menjelaskan hasil tersebut langsung di ruang konsultasi.

“Pak Surya, kami sudah melakukan pemeriksaan dua kali.”

Surya duduk kaku.

“Langsung saja, Dok.”

Dokter Kevin menghela napas.

“Hasilnya konsisten. Tidak ditemukan sel sperma dalam sampel. Pemeriksaan lanjutan juga menunjukkan bahwa kondisi tersebut sangat mungkin sudah terjadi sejak perkembangan awal sistem reproduksi.”

“Jadi saya memang tidak bisa mempunyai anak kandung?”

“Dengan kondisi yang terlihat sekarang, peluang biologis secara alami praktis tidak ada.”

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.

Surya menatap lantai.

Kemudian sebuah pikiran muncul.

Ia mengangkat kepala.

“Dokter bilang kondisi ini bawaan?”

“Ya.”

“Berarti sejak dulu?”

“Indikasinya begitu.”

Surya tidak langsung menjawab.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada ketiga anak Nita yang tiba-tiba menghantam pikirannya.

Ayahnya.

Keluarganya.

Dan sebuah rahasia yang selama ini tidak pernah ia curigai.

Surya adalah anak tunggal.

Jika kondisi itu memang bawaan dan berkaitan dengan kelainan tertentu, apakah ada sesuatu tentang dirinya yang disembunyikan keluarganya?

Namun sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, ponselnya bergetar.

Pesan dari Arif.

Hasil tes DNA sudah keluar.

Surya membaca kalimat pertama.

Reno, Rehan, dan Revan memiliki hubungan biologis sebagai saudara kandung penuh.

Kalimat kedua membuat dadanya semakin berat.

Nita terkonfirmasi sebagai ibu biologis ketiganya.

Surya menggulir layar.

Lalu melihat kesimpulan terakhir.

Surya bukan ayah biologis dari ketiga anak tersebut.

Tangannya turun perlahan.

Untuk beberapa saat, Surya hanya duduk tanpa bergerak.

Anehnya, ia tidak merasakan ledakan amarah seperti yang dibayangkannya.

Yang muncul justru kehampaan.

Seolah lima tahun kehidupannya baru saja dihapus dalam beberapa baris laporan.

Malam itu Surya datang ke rumah Nita tanpa memberi kabar.

Nita sedang menyuapi Rehan ketika Surya masuk.

Reno langsung berlari.

“Ayah!”

Surya refleks membuka tangan.

Reno memeluk pinggangnya erat.

Pelukan kecil itu hampir menghancurkan pertahanan Surya.

Ia menutup mata sesaat sebelum melepaskan Reno perlahan.

“Nita, kita bicara.”

Nita memandang wajah Surya.

Senyumnya menghilang.

“Ada apa?”

“Di ruang kerja.”

Nita mengikuti Surya.

Begitu pintu tertutup, Surya meletakkan laporan DNA di atas meja.

Wajah Nita seketika kehilangan warna.

“Mas…”

“Siapa ayah mereka?”

Nita terdiam.

Surya tidak berteriak.

Justru ketenangannya jauh lebih menakutkan.

“Lima tahun, Nita. Saya membesarkan mereka. Saya memberi nama mereka. Saya berdiri di depan ruang operasi ketika kamu melahirkan. Jadi jawab saya.”

Air mata perlahan mengalir di pipi Nita.

“Saya tidak bisa.”

Surya tertawa pendek tanpa humor.

“Tidak bisa?”

“Kalau saya bilang, semuanya akan hancur.”

“Memangnya sekarang belum?”

Nita menutup wajahnya.

“Saya minta maaf.”

“Apakah Budi?”

Nita langsung mengangkat kepala.

“Bukan.”

Jawaban itu terlalu cepat dan terlalu tegas untuk dibuat-buat.

Surya mempersempit mata.

“Kalau bukan Budi, kenapa kalian bertemu diam-diam?”

Nita terisak.

“Karena Budi tahu semuanya.”

Surya membeku.

“Tahu apa?”

Nita berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan.

Dari laci paling bawah, ia mengambil sebuah map biru.

Tangannya gemetar saat menyerahkannya kepada Surya.

Di dalamnya terdapat dokumen dari sebuah klinik fertilitas di Singapura.

Tanggalnya enam tahun lalu.

Surya membaca nama pasien.

Nita Rahmawati.

Kemudian nama program.

Fertilisasi berbantu dengan donor anonim.

Surya mengangkat wajah.

“Apa ini?”

Nita menangis semakin keras.

“Saya tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun.”

Surya menatapnya tidak percaya.

“Jangan bohong.”

“Saya tidak bohong.”

“Lalu anak-anak itu berasal dari mana?”

Nita menarik napas panjang.

“Dari donor.”

Surya tertawa sinis.

“Dan kamu berharap saya percaya kamu pergi sendiri ke Singapura, melakukan semua ini, lalu kebetulan berhasil hamil tiga kali?”

Nita menatapnya.

“Bukan saya yang mengatur.”

“Siapa?”

Nita menggeleng.

“Jangan paksa saya.”

Surya membanting map itu ke meja.

“Siapa?”

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.

Budi berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

“Saya yang membantu mengurus semuanya, Pak.”

Surya menoleh.

Budi masuk dan menutup pintu.

“Enam tahun lalu seseorang menemui saya. Orang itu mengatakan bahwa Nita harus menjalani program tersebut.”

“Siapa?”

Budi diam.

Surya berjalan mendekatinya.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Budi akhirnya menjawab dengan suara nyaris berbisik.

“Ibu Siska.”

Surya merasa seluruh tubuhnya dingin.

“Nita?”

Perempuan itu menunduk.

“Itu benar.”

Surya mundur satu langkah.

Istri sahnya.

Perempuan yang selama lima tahun hanya diam melihatnya membanggakan anak-anak Nita.

Perempuan yang tidak pernah marah.

Siska.

Surya langsung meninggalkan rumah Nita.

Empat puluh menit kemudian ia sudah berada di rumah utama.

Siska sedang duduk di ruang keluarga membaca buku ketika Surya masuk.

Ia bahkan tidak terlihat terkejut.

“Akhirnya kamu tahu,” katanya pelan.

Surya berhenti.

“Jadi memang kamu.”

Siska menutup bukunya.

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena saat itu Nita datang kepadaku.”

Surya terdiam.

“Dia datang sambil menangis. Katanya kamu berjanji akan menikahinya secara resmi kalau dia bisa memberimu anak laki-laki.”

Wajah Surya berubah.

Siska melanjutkan.

“Dia sangat takut kehilanganmu. Dan saya…”

Siska tersenyum pahit.

“Saya sudah terlalu lelah memperjuangkan suami yang terus mencari pembenaran untuk menyakiti saya.”

“Jadi kamu menyuruh dia memakai donor?”

“Tidak.”

Siska menatap Surya tajam.

“Saya menawarkan jalan keluar. Nita yang memilihnya.”

“Kenapa kamu mau membantu perempuan yang merebut suamimu?”

Siska terdiam beberapa detik.

“Karena saya tahu kamu mandul.”

Surya mematung.

“Apa?”

“Saya tahu sejak sebelum kita menikah.”

Siska bangkit kemudian berjalan menuju brankas kecil di balik rak buku.

Ia mengeluarkan sebuah amplop lama.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan medis Surya saat berusia dua puluh empat tahun.

Tanggalnya hampir empat belas tahun lalu.

Surya membaca laporan itu dengan tangan bergetar.

“Bagaimana kamu mendapatkannya?”

“Ibumu.”

Surya menatap istrinya.

Siska melanjutkan dengan suara tenang.

“Ibumu tahu kondisi kamu. Dokter sudah memberitahunya setelah kamu menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tapi dia menyembunyikannya.”

“Kenapa?”

“Karena ayahmu terobsesi mempunyai penerus keluarga.”

Surya menggeleng.

“Tidak masuk akal.”

“Masih ada yang lebih tidak masuk akal.”

Siska mengambil sebuah dokumen lain.

Itu adalah hasil tes DNA lama.

Surya membaca nama dirinya.

Kemudian nama ayahnya, Hartono Wijaya.

Kesimpulannya jelas.

Tidak ada hubungan biologis antara keduanya.

Surya jatuh duduk.

“Apa ini…”

“Ibumu akhirnya menceritakan semuanya kepada saya sebelum meninggal.”

Siska duduk di seberangnya.

“Ayahmu juga mandul.”

Surya menatap kosong.

“Jadi…”

“Ya. Kamu sendiri lahir dari donor.”

Ruangan itu terasa membeku.

Selama puluhan tahun keluarga Wijaya membangun citra tentang garis keturunan, penerus darah, dan kehormatan keluarga.

Ternyata bahkan Surya sendiri bukan anak biologis pria yang selama ini ia panggil Ayah.

Siska menghela napas.

“Itulah alasan saya tidak pernah marah ketika kamu membanggakan Reno, Rehan, dan Revan sebagai penerus keluarga. Saya hanya merasa ironis.”

Surya menutup wajah.

Namun sebuah pertanyaan muncul.

“Kenapa tiga anak itu donor yang sama?”

Siska terdiam.

Tatapan Surya berubah.

“Kenapa?”

Kali ini Siska tidak langsung menjawab.

“Bukan kebetulan.”

Jantung Surya berdegup semakin cepat.

“Siapa donornya?”

Siska menatapnya lama.

“Lima tahun lalu, Nita sangat takut suatu hari identitas donor bocor. Jadi dia meminta donor yang latar belakangnya bisa dipercaya.”

“Siapa?”

Siska berdiri.

Ia mengambil sebuah amplop terakhir.

“Orang yang kamu kenal.”

Surya membuka dokumen itu.

Nama donor sengaja disamarkan dengan kode.

Namun di belakang halaman terdapat salinan persetujuan yang pernah ditandatangani untuk penyimpanan sampel.

Surya membaca nama pemilik sampel.

Tangannya seketika lemas.

Budi Santoso.

Surya menatap Siska.

“Tadi Nita bilang Budi bukan ayahnya.”

“Karena dalam pikirannya, Budi tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya. Mereka bahkan tidak tahu sejak awal bahwa sampel Budi yang akhirnya dipakai.”

Tepat saat itu suara pintu depan terdengar.

Budi masuk ditemani Arif.

Wajahnya penuh kebingungan.

“Saya baru diberi tahu oleh klinik setelah Pak Surya mulai menyelidiki,” kata Budi pelan.

Surya berdiri.

“Jadi mereka anak kamu?”

Budi menunduk.

“Secara biologis, iya.”

Surya menatap pria yang sudah bekerja bersamanya lima belas tahun itu.

Ia mengingat begitu banyak kejadian kecil.

Budi yang selalu menjadi orang pertama datang saat Reno sakit.

Budi yang mengetahui alergi Rehan.

Budi yang diam-diam membelikan Revan sepeda kecil saat ulang tahunnya.

Selama ini Surya menganggap semua itu sekadar loyalitas seorang asisten.

Ternyata ada sesuatu yang bahkan Budi sendiri tidak ketahui.

“Kenapa sampelmu ada di klinik itu?”

Budi menjawab pelan.

“Bertahun-tahun lalu istri saya menderita penyakit serius. Sebelum menjalani pengobatan, dokter menyarankan kami menyimpan sampel untuk program memiliki anak di masa depan. Tapi istri saya meninggal sebelum kami sempat mencobanya.”

Suaranya bergetar.

“Setelah itu saya pikir sampelnya sudah dimusnahkan.”

Siska menunduk.

“Ada kesalahan administrasi di klinik. Sampel itu masuk dalam daftar donor yang bisa digunakan. Saya baru mengetahui identitasnya setelah kehamilan kedua Nita.”

Surya berjalan menuju jendela.

Jakarta malam terlihat berkilauan dari balik kaca.

Selama bertahun-tahun ia percaya darah menentukan segalanya.

Ia merasa dirinya lebih berharga karena mempunyai tiga anak laki-laki.

Ia merasa menang atas Siska yang tidak pernah memberinya keturunan.

Sekarang seluruh kesombongan itu terdengar memalukan.

Dua hari kemudian, Surya mendatangi rumah Nita lagi.

Reno sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu.

Ketika melihat Surya, bocah itu langsung berlari.

“Ayah!”

Surya berjongkok.

Reno memeluk lehernya.

Kali ini Surya tidak menahan diri.

Ia membalas pelukan itu erat.

Nita berdiri beberapa meter dari mereka dengan mata sembap.

“Mas…”

Surya menatap ketiga anak itu.

“Saya bukan ayah biologis mereka.”

Nita menunduk.

“Tapi lima tahun saya menjadi ayah mereka.”

Air mata Nita jatuh.

Surya kemudian memandang Budi yang berdiri di dekat pintu.

“Budi adalah ayah biologis mereka. Suatu hari, saat mereka cukup dewasa, mereka berhak mengetahui kebenaran.”

Budi mengangguk pelan.

“Tapi sampai hari itu,” lanjut Surya, “jangan ada yang menjadikan mereka korban dari kesalahan orang dewasa.”

Malamnya Surya kembali ke rumah utama.

Siska sedang menyiram tanaman di balkon.

Surya berdiri di belakangnya.

“Kenapa kamu tidak pernah meninggalkan saya?”

Siska berhenti.

Kemudian menjawab tanpa menoleh.

“Saya sebenarnya sudah meninggalkanmu sejak lama, Surya. Hanya saja kita masih tinggal di rumah yang sama.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada laporan medis mana pun.

Beberapa bulan kemudian Surya dan Siska resmi berpisah dengan damai.

Untuk pertama kalinya Surya tidak mencoba mempertahankan reputasi atau menyalahkan siapa pun.

Ia juga menghentikan hubungan pernikahan sirinya dengan Nita, tetapi tetap mengambil tanggung jawab sebagai sosok ayah bagi Reno, Rehan, dan Revan.

Budi tidak pernah merebut posisi itu.

Ia hadir perlahan sebagai bagian dari kehidupan ketiga anak tersebut, tanpa memaksa mereka memahami sesuatu yang belum waktunya mereka pahami.

Sementara Surya belajar menerima sebuah kenyataan yang selama hidupnya tidak pernah diajarkan oleh keluarganya.

Ia sendiri bukan darah Hartono.

Ketiga putranya bukan darahnya.

Namun Hartono tetap membesarkannya sebagai anak.

Dan selama lima tahun, Surya juga telah membesarkan Reno, Rehan, dan Revan sebagai anak-anaknya.

Di suatu sore, Reno bertanya polos ketika mereka duduk di taman.

“Ayah, kenapa Ayah sekarang lebih sering main sama kami?”

Surya tersenyum.

“Dulu Ayah terlalu sibuk mengejar hal yang Ayah kira penting.”

“Apa?”

Surya memandang ketiga bocah yang sedang bermain di depannya.

“Lalu Ayah baru sadar yang penting ternyata sudah ada di depan mata.”

Reno tidak memahami sepenuhnya.

Ia hanya tersenyum lalu kembali berlari mengejar kedua adiknya.

Surya memandang mereka lama.

Dulu ia begitu terobsesi memiliki penerus darah keluarga Wijaya.

Sekarang ia tahu bahwa darah bisa menjelaskan asal seseorang.

Tetapi darah tidak selalu menjelaskan siapa yang memilih bertahan, siapa yang merawat ketika sakit, siapa yang memegang tangan ketika takut, dan siapa yang tetap pulang ketika seorang anak memanggilnya ayah.

Rahasia terbesar dalam keluarga itu akhirnya bukan tentang siapa ayah biologis ketiga anak Nita.

Melainkan tentang kenyataan bahwa selama tiga generasi, keluarga Wijaya ternyata dibangun oleh orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah satu sama lain.

Namun justru dari sanalah Surya akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal ia mengerti.

Keluarga bukan sekadar tentang siapa yang menurunkan darah.

Keluarga adalah tentang siapa yang memilih untuk tidak pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang