Aku menatap nama itu di layar komputer bank sampai mataku terasa panas.
Bagas Kusumawardana.
Kakakku sendiri.
Selama beberapa detik aku berharap ada kesalahan. Mungkin petugas bank salah membaca nama. Mungkin ada orang lain yang kebetulan memiliki nama yang sama.
Namun di bawah nama itu terdapat nomor identitas yang sangat kukenal.
Nomor KTP kakakku.
Tanganku perlahan mengepal di atas meja.
“Bu Ratih, apakah orang yang menyerahkan dokumen ini benar-benar dia?”
Bu Ratih mengangguk pelan.

“Menurut catatan kami, beliau datang tiga hari lalu bersama seseorang dari pihak perusahaan Pak Gilang. Beliau mengatakan bahwa keluarga sudah mengetahui dan menyetujui penggunaan data Ibu sebagai bagian dari jaminan.”
Aku menutup mata sebentar.
Tiga hari lalu.
Saat itu aku masih sibuk mengurus undangan terakhir, memilih bunga untuk akad, dan percaya bahwa aku sedang mempersiapkan hidup bersama lelaki yang kucintai.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa di waktu yang sama, orang-orang terdekatku sedang menyiapkan sesuatu yang bisa menghancurkan masa depanku.
“Alya…”
Suara Sinta terdengar pelan.
Aku membuka mata.
“Aku baik-baik saja.”
Padahal aku tahu aku tidak baik-baik saja.
Namun ada satu hal yang membuatku lebih kuat daripada rasa kecewa.
Aku ingin tahu kebenarannya.
“Bu Ratih, saya ingin melihat semua dokumen yang diajukan.”
Petugas bank itu tampak ragu.
“Karena ini berkaitan dengan data pribadi Ibu, kami bisa menunjukkan salinan yang berkaitan dengan nama Ibu. Namun untuk dokumen internal perusahaan, kami membutuhkan proses resmi.”
Aku mengangguk.
Beberapa menit kemudian, sebuah map tipis diletakkan di hadapanku.
Di dalamnya ada salinan formulir, surat persetujuan, dan beberapa lampiran.
Semakin banyak halaman yang kubuka, semakin sulit aku bernapas.
Ada tanda tanganku.
Ada data penghasilanku.
Ada informasi aset pribadiku.
Bahkan ada surat pernyataan bahwa aku bersedia menjadi penjamin apabila perusahaan Gilang gagal memenuhi kewajiban pembayaran.
Semua itu dibuat tanpa sepengetahuanku.
Tapi yang paling membuatku terpukul adalah satu lembar terakhir.
Surat rekomendasi keluarga.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan Bagas.
Bukan tanda tangan palsu.
Tanda tangan asli.
Aku mengenalnya karena sejak kecil aku sering melihat kakakku menandatangani kartu ulang tahun, surat sekolah, bahkan dokumen keluarga.
“Jadi dia benar-benar melakukan ini,” bisikku.
Sinta menggenggam bahuku.
“Ly, kamu harus bicara dengan Bagas.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Ada belasan panggilan tidak terjawab dari Mama.
Ada pesan dari Gilang.
Kamu di mana? Penghulu sudah menunggu. Jangan buat semua orang malu.
Aku membaca pesan itu tanpa perasaan.
Dulu kalimat seperti itu bisa membuatku menangis.
Hari ini tidak lagi.
Aku membalas satu pesan.
Aku tahu semuanya.
Hanya empat kata.
Tidak sampai satu menit kemudian, ponselku berdering.
Gilang.
Aku membiarkannya berdering.
Lalu aku menelepon Bagas.
Kakakku mengangkat pada dering kedua.
“Alya…”
Suaranya terdengar lelah.
“Kamu sudah tahu?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada pengakuan.
Karena artinya dia memang sadar apa yang telah dia lakukan.
“Kenapa, Mas?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kamu pakai dataku untuk menjamin utang perusahaan Gilang?”
“Aku tidak bermaksud merugikan kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Tidak bermaksud?”
“Alya, dengarkan dulu. Bisnis Gilang sedang berkembang. Dia butuh tambahan modal. Kalau pinjaman itu cair, semuanya akan aman.”
“Dan kalau tidak?”
Bagas diam.
“Kalau bisnisnya gagal, siapa yang menanggung?”
“Kita bisa cari solusi.”
“Kita?”
Suaraku mulai bergetar.
“Atau aku?”
Lama sekali kakakku tidak menjawab.
Dan diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan.
Aku mematikan telepon.
Sinta menatapku.
“Bagaimana?”
“Dia tahu.”
Aku berdiri.
“Aku mau pulang.”
“Tapi akad?”
Aku menatap kebaya putih yang masih kupakai.
Kebaya yang seharusnya menjadi simbol awal kehidupan baru.
Hari ini justru menjadi pakaian yang mengingatkanku bahwa aku hampir menyerahkan seluruh hidupku kepada orang-orang yang tidak menghargai kepercayaanku.
Ketika kami keluar dari bank, sebuah mobil hitam sudah berhenti di depan pintu.
Gilang turun.
Wajahnya penuh kemarahan.
“Alya!”
Beberapa orang menoleh.
Namun kali ini aku tidak peduli.
“Kamu pergi ke bank?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kamu menemukan map itu?”
Aku terdiam.
Dia tahu.
“Jadi memang kamu yang menyimpan dokumen itu?”
Gilang menarik napas.
“Alya, jangan membuat masalah besar dari hal kecil.”
Aku hampir tidak percaya.
“Hal kecil?”
“Pinjaman itu untuk masa depan kita.”
“Masa depan kita dibangun dengan memalsukan persetujuanku?”
Wajah Gilang berubah.
“Itu bukan pemalsuan.”
“Lalu apa?”
“Kakakmu membantu.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu dan Bagas sudah merencanakan ini?”
“Tidak seperti yang kamu pikir.”
“Lalu seperti apa?”
Gilang tidak menjawab.
Dari belakangnya, sebuah mobil lain berhenti.
Kirana turun.
Masih mengenakan pakaian formal.
Tidak terlihat seperti orang sakit yang membutuhkan bantuan.
Dia berjalan mendekat.
“Alya, kita bisa bicara baik-baik.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan itu tanpa rasa takut.
“Berapa lama kamu tahu?”
Kirana terdiam.
“Apa?”
“Berapa lama kamu tahu Gilang menggunakan namaku?”
Wajahnya berubah.
Dan itu cukup.
“Aku…”
“Kamu tahu.”
Kirana menunduk.
“Aku tahu soal pinjaman.”
Jantungku terasa kosong.
“Sejak kapan?”
“Dua minggu.”
Aku tertawa kecil.
“Dua minggu?”
“Alya, dengarkan aku. Gilang memang salah, tapi niatnya bukan menghancurkan kamu.”
“Lalu apa?”
Kirana menatapku.
“Dia takut kehilangan perusahaan.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Dia takut kehilangan uang.”
Gilang mulai meninggikan suara.
“Kamu tidak mengerti situasinya.”
Aku menatap lelaki yang lima tahun kupikir akan menjadi tempatku pulang.
“Aku mengerti sekarang.”
Aku melepas cincin tunangan dari jariku.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan tangisan.
Aku hanya meletakkannya di telapak tangannya.
“Yang tidak aku mengerti adalah bagaimana seseorang yang mengaku mencintaiku bisa merencanakan hidup bersamaku sambil menyiapkan kehancuranku.”
Gilang terdiam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.
Sore itu aku kembali ke rumah orang tuaku.
Mama menangis saat melihatku turun dari mobil.
Papa hanya duduk diam.
Namun Bagas tidak ada.
Aku masuk ke kamar lama yang selama ini hampir tidak pernah kugunakan.
Di meja masih ada foto keluarga kami.
Aku, Bagas, Mama, dan Papa.
Kami terlihat bahagia.
Aku menatap foto itu lama.
Lalu ponselku berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Alya, kalau kamu ingin tahu alasan sebenarnya kenapa Bagas membantu Gilang, temui aku malam ini. Jangan beri tahu siapa pun.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Aku hampir menghapusnya.
Namun ada satu hal yang membuatku berhenti.
Pengirimnya mengirim sebuah foto.
Foto Bagas sedang bertemu seseorang di sebuah restoran.
Aku memperbesar gambar itu.
Di depan Bagas duduk seorang pria tua yang sangat kukenal.
Ayah Gilang.
Dan di meja mereka ada sebuah dokumen.
Dokumen dengan logo perusahaan keluargaku.
Dadaku terasa sesak.
Selama ini aku berpikir pengkhianatan hanya datang dari Gilang.
Ternyata masalahnya jauh lebih besar.
Malam itu aku datang ke restoran dengan satu tujuan.
Mencari jawaban.
Pria yang mengirim pesan ternyata adalah mantan pegawai perusahaan ayah Gilang bernama Rudi.
Dia langsung menunjukkan sebuah berkas.
“Alya, saya sudah lama ingin memberitahu kamu.”
“Apa ini?”
“Bukan hanya pinjaman perusahaan Gilang.”
Aku membuka berkas itu.
Di dalamnya ada bukti transfer.
Ada percakapan email.
Dan ada satu nama yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Nama ayahku.
“Mustahil.”
Rudi menggeleng.
“Ayah kamu tidak terlibat sebagai pelaku. Tapi beliau pernah menolak kerja sama dengan keluarga Gilang karena menemukan masalah keuangan.”
Aku membaca dokumen itu perlahan.
Ternyata dua tahun lalu, ayahku pernah menghentikan rencana investasi besar dengan perusahaan Gilang karena ada dugaan laporan keuangan yang tidak sesuai.
Namun setelah itu, Gilang tetap mendekatiku.
Bahkan melamarku.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena aku adalah jalan termudah untuk mendapatkan akses ke aset dan kepercayaan keluargaku.
Aku menutup berkas.
Air mataku jatuh.
Bukan karena kehilangan Gilang.
Tetapi karena menyadari lima tahun hidupku hampir diberikan kepada seseorang yang melihatku sebagai alat.
Keesokan paginya, aku membuat keputusan.
Aku mendatangi kantor polisi bersama pengacara.
Bukan untuk balas dendam.
Tetapi untuk melindungi diriku sendiri.
Kasus penyalahgunaan data dan pemalsuan dokumen resmi mulai diproses.
Beberapa minggu kemudian, nama Gilang muncul dalam penyelidikan bisnisnya.
Bagas datang ke rumah.
Wajahnya jauh lebih tua dibandingkan terakhir kali aku melihatnya.
“Alya…”
Aku diam.
“Aku minta maaf.”
Aku menatap kakakku.
“Kenapa, Mas?”
Dia menangis.
“Aku pikir aku sedang menyelamatkan keluarga.”
“Keluarga?”
“Ayah Gilang menjanjikan pekerjaan dan bantuan untuk bisnis kecilku. Aku terlilit utang. Aku takut.”
Aku menghela napas.
“Aku bisa mengerti kamu takut.”
Bagas menunduk.
“Tapi aku tidak bisa membenarkan apa yang kamu lakukan.”
Dia mengangguk.
Untuk pertama kalinya, kakakku tidak mencoba mencari alasan.
Beberapa bulan kemudian, hidupku perlahan kembali berjalan.
Aku membangun kembali kepercayaanku pada diriku sendiri.
Aku tidak menikah hari itu.
Namun aku mendapatkan sesuatu yang lebih penting.
Kebenaran.
Suatu sore, aku membuka kotak kecil berisi cincin tunangan yang dulu kukembalikan.
Aku tidak menyimpannya karena masih berharap.
Aku menyimpannya sebagai pengingat.
Bahwa cinta tanpa kejujuran hanya akan menjadi jebakan yang terlihat indah.
Setahun setelah kejadian itu, aku bertemu seseorang yang baru.
Bukan seseorang yang menjanjikan dunia.
Hanya seseorang yang selalu mengatakan hal sederhana.
“Aku tidak ingin menjadi orang yang mengatur hidupmu. Aku ingin berjalan bersamamu.”
Dan kali ini, aku tahu perbedaannya.
Karena dulu aku hampir menikah dengan seseorang yang ingin memiliki hidupku.
Sekarang aku memilih seseorang yang menghargai hidupku.
Hari akad yang gagal itu ternyata bukan akhir dari ceritaku.
Itu adalah hari ketika aku akhirnya menyelamatkan diriku sendiri.
