Malam itu, Alya Permata tidak langsung menjawab pertanyaan Bima.
“Dari mana kamu mendapatkan berkas itu?”
Suara suaminya terdengar pelan, tetapi ada kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.
Selama hampir lima tahun menikah, Alya sudah mengenal berbagai ekspresi Bima. Ia tahu ketika suaminya sedang lelah, marah, kecewa, atau sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Namun malam itu berbeda.

Bima terlihat takut.
Alya menggenggam nota dan fotokopi dokumen yang ditemukan Mbak Sari di dalam tas perlengkapan bayi. Tangannya masih gemetar.
“Jadi benar ini tanda tangan saya?”
Bima diam.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat suasana kamar menjadi semakin berat.
“Bima, jawab.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa? Bahwa kamu mengajukan pinjaman Rp180 juta menggunakan data pribadiku tanpa sepengetahuanku?”
Bima menarik napas panjang.
“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Alya tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana.
“Kalimat itu selalu dipakai orang ketika memang ada sesuatu yang salah.”
Bima duduk di ujung tempat tidur. Untuk pertama kalinya sejak bayi mereka lahir, ia tidak mampu menatap mata Alya.
“Aku hanya ingin membantu Niken.”
Alya membeku.
“Jadi benar uang itu untuk adikmu?”
Bima mengusap wajahnya.
“Niken sedang kesulitan. Suaminya kehilangan pekerjaan. Mereka butuh biaya persiapan bayi, cicilan rumah, dan beberapa utang lama.”
“Lalu kenapa menggunakan namaku?”
“Karena pengajuan atas nama pasangan lebih mudah disetujui.”
“Dan kamu pikir aku akan setuju kalau kamu meminta?”
Bima tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Selama delapan bulan terakhir, sejak Alya hamil, ternyata Bima sudah menyusun rencana tanpa melibatkannya.
Ia mengumpulkan fotokopi KTP, kartu keluarga, dan dokumen pernikahan mereka. Semua dilakukan diam-diam.
Alya menatap bayi kecil mereka yang tertidur di boks.
Anak itu baru berusia kurang dari sebulan.
Tetapi di saat dirinya sedang berjuang pulih dari operasi caesar, suaminya justru membuat keputusan besar yang bisa memengaruhi masa depan keluarga kecil mereka.
“Aku suamimu, Alya.”
“Suami bukan berarti boleh mengambil keputusan sendiri.”
“Aku akan membayar cicilannya.”
“Dengan apa?”
Bima terdiam.
Pertanyaan itu membuat Alya semakin yakin.
Karena jika Bima benar-benar mampu membayar, ia tidak akan menyembunyikannya.
Keesokan paginya, Alya membawa dokumen tersebut ke kantor koperasi tempat Bima mengajukan pinjaman.
Ia tidak datang untuk membuat keributan. Ia hanya ingin memastikan satu hal.
Apakah tanda tangan itu benar miliknya.
Petugas koperasi terlihat bingung ketika melihat dokumen tersebut.
“Ibu Alya, sesuai sistem, persetujuan pasangan memang sudah kami terima.”
“Saya tidak pernah datang ke sini.”
Petugas itu membuka berkas digital.
“Di sini tercatat persetujuan melalui formulir elektronik.”
Alya menatap layar.
Ada tanggal dan waktu pengajuan.
Ternyata delapan bulan lalu, tepat ketika usia kehamilannya memasuki bulan pertama.
Saat itu Bima adalah orang yang paling sering mengatakan bahwa mereka harus menghemat pengeluaran karena biaya persalinan akan besar.
Namun diam-diam, ia justru mengajukan pinjaman.
Ketika Alya pulang, pikirannya penuh.
Ia tidak hanya merasa dikhianati karena uang.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa selama ini Bima tidak menganggapnya sebagai pasangan yang harus diajak berdiskusi.
Sesampainya di rumah, ia melihat Bu Ratna sudah berada di ruang tamu bersama Niken.
Begitu melihat Alya, wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Kamu dari mana?”
Alya tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia berjalan mendekat dan meletakkan salinan dokumen di meja.
“Niken tahu soal pinjaman ini?”
Ruangan langsung sunyi.
Niken yang sedang memegang segelas teh terlihat pucat.
Bu Ratna buru-buru mengambil kertas itu.
“Jangan menyeret Niken.”
“Jadi Mama tahu?”
Bu Ratna terdiam.
Jawaban itu semakin jelas.
Alya menatap ibu mertuanya.
“Sejak kapan?”
“Sejak awal.”
Alya merasakan dadanya sesak.
“Delapan bulan, Mama tahu suami saya mengambil pinjaman atas nama saya, dan tidak ada satu pun yang memberitahu saya?”
Bu Ratna menghela napas.
“Kamu terlalu memikirkan diri sendiri.”
Kalimat itu membuat Alya menatapnya tidak percaya.
“Saya baru melahirkan, Mama. Saya mengeluarkan uang sendiri untuk perawat nifas. Saya merawat bayi kami dengan tubuh yang masih sakit. Dan sekarang saya dibilang memikirkan diri sendiri?”
Niken mulai menangis.
“Kak Alya, aku tidak pernah berniat menyusahkan Kakak.”
Alya menatap adik iparnya.
“Kalau begitu kenapa rekening pencairannya atas namamu?”
Niken tidak menjawab.
Bima yang baru masuk rumah langsung berhenti ketika melihat semua orang berada di ruang tamu.
“Apa yang terjadi?”
Alya menatap suaminya.
“Sekarang semua orang sudah tahu.”
Bima menutup mata sejenak.
Bu Ratna langsung berdiri membela anaknya.
“Ini semua karena Alya tidak mau membantu keluarga.”
Alya tersenyum pahit.
“Bukan begitu, Mama. Kalau dari awal Bima bicara, mungkin saya bisa mempertimbangkan. Tapi yang terjadi adalah mereka mengambil keputusan menggunakan identitas saya.”
Bima mencoba mendekat.
“Alya, dengarkan aku.”
“Tidak. Kali ini kamu yang dengarkan.”
Suaranya tidak keras, tetapi tegas.
“Saya bisa menerima kalau keluarga kamu membutuhkan bantuan. Saya bisa menerima kalau kamu ingin membantu adikmu. Tapi saya tidak bisa menerima ketika kamu menjadikan saya sebagai alat tanpa persetujuan saya.”
Malam itu, Alya meminta Bima tidur di kamar lain.
Bukan karena ia ingin menghukum suaminya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia membutuhkan ruang untuk berpikir.
Dua hari kemudian, kontrak Mbak Sari berakhir.
Namun sebelum pergi, perawat itu menyerahkan buku catatan kecil miliknya kepada Alya.
“Saya sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan keluarga, Mbak. Tapi ada satu hal lagi yang perlu Mbak tahu.”
Alya membuka buku tersebut.
Di halaman terakhir, Mbak Sari menulis tanggal dan kejadian yang selama ini ia catat.
Ternyata bukan hanya makanan dan perlengkapan bayi yang dibawa Bu Ratna.
Ada satu kejadian yang tidak pernah Alya ketahui.
Seminggu sebelum melahirkan, saat Alya masih berada di rumah sakit untuk pemeriksaan terakhir, Bu Ratna datang ke rumah bersama Bima.
Mereka mengambil beberapa dokumen dari lemari.
Termasuk sertifikat deposito kecil milik Alya.
Tabungan yang selama ini ia kumpulkan dari pekerjaan desain.
Alya langsung menatap Bima.
“Kamu tahu?”
Wajah Bima berubah.
“Aku hanya meminjam sementara.”
“Berapa?”
Bima tidak menjawab.
Alya membuka aplikasi rekeningnya.
Uang itu sudah berkurang Rp35 juta.
Ternyata sebagian uang tersebut digunakan untuk membayar uang muka rumah kontrakan baru Niken.
Alya merasa seluruh tubuhnya melemah.
Bukan karena jumlah uangnya.
Tetapi karena orang yang paling ia percaya ternyata sudah berkali-kali membuat keputusan besar di belakangnya.
Malam itu, Alya mengemasi beberapa barang penting.
Bima berdiri di depan pintu.
“Kamu mau pergi?”
“Saya akan tinggal sementara di rumah Ibu saya.”
“Bagaimana dengan aku?”
Alya menatapnya lama.
“Saya tidak tahu, Bima.”
Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Karena selama ini Bima selalu yakin Alya akan tetap bertahan.
Ia mengira karena mereka sudah menikah dan memiliki anak, Alya tidak akan pernah pergi.
Namun kali ini ia salah.
Seminggu kemudian, koperasi memanggil Bima dan Alya untuk menyelesaikan masalah administrasi.
Dalam pertemuan itu, petugas menemukan kejanggalan lain.
Ternyata formulir persetujuan pasangan yang digunakan Bima tidak hanya berisi tanda tangan Alya.
Ada pula dokumen tambahan yang menyatakan bahwa pinjaman tersebut dijamin dengan aset bersama.
Artinya, jika terjadi gagal bayar, aset keluarga mereka bisa ikut terdampak.
Alya menatap Bima.
“Kamu benar-benar tidak pernah berpikir tentang aku dan anak kita?”
Bima menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya alasan.
Beberapa bulan kemudian, Alya masih belum memutuskan apakah pernikahannya bisa diperbaiki.
Bima mulai berubah. Ia bekerja tambahan untuk melunasi pinjaman dan menjalani konseling pernikahan.
Namun kepercayaan yang rusak tidak bisa kembali dalam satu malam.
Sementara itu, sebuah kabar mengejutkan datang.
Niken akhirnya mengakui sesuatu.
Uang pinjaman Rp180 juta itu bukan seluruhnya digunakan untuk kebutuhan bayi.
Sebagian besar digunakan Bu Ratna untuk melunasi utang lama keluarga yang selama ini disembunyikan dari semua orang.
Bima pun baru mengetahui kenyataan itu.
Selama ini ia mengira sedang menyelamatkan adiknya.
Padahal ia hanya dipakai untuk menutup masalah yang lebih besar.
Saat mengetahui hal tersebut, Bima datang menemui Alya.
“Aku salah.”
Alya diam.
“Aku pikir aku sedang menjadi anak yang baik. Aku pikir membantu keluarga berarti melakukan apa pun. Tapi aku lupa, aku juga punya keluarga yang harus aku lindungi.”
Alya melihat pria yang dulu ia cintai itu.
“Aku tidak butuh suami yang selalu memilih keluarganya sendiri.”
Bima menunduk.
“Aku ingin belajar menjadi suami yang memilih kita.”
Kalimat itu tidak langsung menghapus semua luka.
Tetapi untuk pertama kalinya, Alya melihat seseorang yang benar-benar mengakui kesalahannya.
Beberapa bulan kemudian, Alya kembali ke rumah mereka bersama bayinya.
Namun ada satu aturan yang ia buat.
Tidak ada lagi keputusan besar tanpa pembicaraan.
Tidak ada lagi rahasia.
Dan tidak ada lagi orang lain yang boleh mengambil haknya atas nama keluarga.
Karena Alya akhirnya memahami satu hal.
Keluarga bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Keluarga adalah tempat di mana setiap orang dihargai, didengar, dan dipercaya.
Dan terkadang, rahasia terbesar bukanlah tentang uang yang hilang.
Melainkan tentang seseorang yang perlahan kehilangan rasa hormat kepada orang yang paling mencintainya.
