SUAMI PULANG SETELAH 3 TAHUN MEMBAWA SELINGKUHAN, BAYI, DAN 5 KOPER MEWAH… TAPI DIA TIDAK TAHU SIAPA YANG SUDAH 100 HARI MENUNGGUNYA DI RUMAH!

Rendy menatap foto ibunya tanpa berkedip.

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Seratus hari.

Kalimat itu seperti menghantam kepalanya berkali-kali.

Siska yang sejak tadi berdiri di belakangnya mulai terlihat gelisah. Bayi di pelukannya terbangun dan merengek pelan, seolah ikut merasakan udara rumah yang mendadak berubah berat.

Rendy akhirnya berhasil berdiri.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Aku meneleponmu tiga puluh tujuh kali saat kondisi Ibu memburuk.”

Rendy terdiam.

“Aku kirim pesan. Aku kirim email. Pak Harun, tetangga sebelah, bahkan mencoba menghubungimu melalui kantor Singapura.”

Maya mengambil ponselnya.

“Semua pesan masuk. Sebagian terbaca.”

Rendy langsung mengalihkan pandangan.

Siska menoleh tajam kepadanya.

“Kamu bilang ibumu sehat.”

Rendy tidak menjawab.

Maya berjalan menuju lemari kecil di samping meja peringatan. Dari sana dia mengambil sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua.

“Dua minggu sebelum meninggal, Ibu masih sadar penuh. Dia menitipkan ini.”

Rendy segera melangkah maju.

“Itu milikku.”

Maya menarik kotak tersebut menjauh.

“Bukan.”

Nada suaranya tetap tenang.

“Besok pagi Pak Yusuf, notaris keluarga, akan datang. Ibu meminta kotak ini dibuka di hadapan kita semua setelah kamu pulang.”

Rendy tertawa pendek.

Tawa yang terdengar dipaksakan.

“Notaris? Jangan membuat semuanya seperti sinetron, Maya.”

“Aku berharap ini memang hanya sinetron.”

Maya menatap lima koper di lantai.

“Karena kalau begitu, mungkin setelah episode selesai semua orang bisa kembali ke kehidupannya.”

Rendy mendekati meja makan dan menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan gemetar.

“Aku memang salah karena sulit dihubungi. Tapi pekerjaanku di Singapura berat. Aku membangun cabang baru. Aku tidak bisa terus mengurus masalah rumah.”

Maya nyaris tersenyum.

“Masalah rumah?”

“Jangan memutarbalikkan kata-kataku.”

“Ibumu sekarat, Rendy.”

Suasana kembali membeku.

Untuk pertama kalinya sejak tiba, kesombongan di wajah Rendy benar-benar runtuh.

Maya tidak mengatakan apa pun lagi.

Dia masuk ke kamar Bu Farida.

Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa sebuah buku catatan berwarna biru tua.

Di antara halaman-halamannya terselip puluhan lembar bukti transfer, tagihan rumah sakit, bukti pembayaran obat, dan surat pinjaman bank.

Maya meletakkannya di meja.

“Biaya perawatan Ibu selama dua tahun terakhir hampir delapan ratus juta rupiah.”

Rendy menelan ludah.

“Aku akan menggantinya.”

Maya menggeleng.

“Aku tidak menunjukkannya supaya kamu mengganti uangku.”

“Lalu untuk apa?”

“Supaya kamu tahu siapa yang sebenarnya hidup dari uang siapa.”

Maya membuka satu halaman.

“Setelah empat bulan di Singapura, transfer bulananmu berhenti.”

Halaman berikutnya.

“Enam bulan kemudian kartu tambahan yang kamu berikan untuk kebutuhan rumah diblokir.”

Halaman berikutnya.

“Satu tahun setelah kamu pergi, cicilan rumah sakit tertunggak.”

Dia menutup buku itu.

“Sementara di media sosial, aku melihat kamu makan malam di Marina Bay, pergi ke Bali bersama tim kantor, membeli jam tangan baru, dan merayakan ulang tahun Siska di kapal.”

Siska perlahan menatap Rendy.

“Kamu bilang Maya menerima dua puluh lima juta setiap bulan.”

Rendy membentak.

“Ini urusan rumah tanggaku. Jangan ikut campur.”

Wajah Siska berubah.

Selama ini dia hanya mengenal versi cerita Rendy.

Versi yang mengatakan Maya adalah istri dingin yang tidak mau punya anak.

Versi yang mengatakan Bu Farida membenci Maya.

Versi yang mengatakan rumah di Tebet sudah diwariskan kepada Rendy dan akan direnovasi setelah kepulangan mereka.

Namun sekarang, untuk pertama kalinya, semua cerita itu mulai retak.

Maya memandang bayi di pelukan Siska.

“Aku tidak menyalahkan anakmu.”

Siska terdiam.

“Anak tidak pernah memilih dilahirkan dalam keadaan seperti apa.”

Ucapan itu justru membuat Siska menunduk.

Rendy menggebrak meja.

“Cukup.”

Dia menunjuk Maya.

“Aku akan mengurus pemakaman Ibu, makamnya, semua biaya yang diperlukan. Setelah itu kamu keluar dari rumah ini.”

Maya tidak bergerak.

Rendy berjalan ke arah kamar utama.

“Aku serius. Besok aku akan panggil agen properti. Rumah ini terlalu tua. Kita jual saja, lalu aku beli rumah baru di Pondok Indah.”

Maya akhirnya berkata, “Rumah ini bukan milikmu.”

Langkah Rendy terhenti.

Dia menoleh perlahan.

“Apa?”

“Rumah ini bukan milikmu.”

Rendy tertawa.

“Ini rumah ayah dan ibuku.”

“Benar.”

“Dan Ayah sudah meninggal. Berarti rumah ini milik Ibu, lalu diwariskan kepadaku.”

Maya memandangnya lurus.

“Ibu tidak mewariskan rumah ini kepadamu.”

Rendy langsung mendekat.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku tidak melakukan apa pun.”

“Kamu memaksa perempuan tua yang sakit menandatangani sesuatu?”

Sebelum Maya menjawab, suara seorang pria terdengar dari teras.

“Saya rasa tuduhan seperti itu sebaiknya tidak diucapkan sembarangan.”

Semua orang menoleh.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di pintu bersama seorang wanita muda membawa tas dokumen.

Rendy mengenalinya.

“Pak Yusuf?”

Notaris keluarga itu masuk dengan wajah serius.

“Saya seharusnya datang besok, tapi Maya mengabari bahwa Anda sudah pulang. Jadi saya pikir semakin cepat semuanya diselesaikan, semakin baik.”

Rendy menunjuk Maya.

“Dia bilang rumah ini bukan milik saya.”

Pak Yusuf duduk.

“Benar.”

Wajah Rendy langsung menegang.

“Enam bulan sebelum Bu Farida meninggal, beliau menghibahkan rumah ini kepada Maya melalui akta yang sah.”

Rendy membeku.

“Tidak mungkin.”

“Beliau melakukan pemeriksaan kesehatan dan penilaian kapasitas hukum terlebih dahulu karena beliau tahu keputusan itu mungkin dipersoalkan.”

Pak Yusuf mengeluarkan dokumen.

“Ada surat dokter, rekaman proses penandatanganan, serta dua saksi.”

Rendy merampas dokumen itu dan membacanya dengan cepat.

“Kenapa?”

Tidak ada yang menjawab.

“KENAPA?”

Maya memandang foto Bu Farida.

“Karena Ibu tahu kamu tidak akan pulang untuk merawatnya.”

Rendy melempar dokumen ke meja.

“Dia ibuku.”

“Ya.”

“Seharusnya aku tetap punya hak.”

Pak Yusuf menarik napas panjang.

“Masih ada sesuatu yang perlu Anda lihat.”

Ia membuka kotak kayu yang tadi dibawa Maya.

Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lama.

Pak Yusuf menyalakannya lalu membuka satu rekaman video.

Wajah Bu Farida muncul di layar.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus. Selang oksigen terpasang di hidungnya, tetapi pandangannya masih jernih.

Rendy langsung terduduk.

Suara ibunya terdengar pelan.

“Kalau kamu menonton video ini, berarti kamu akhirnya pulang.”

Rendy menutup mulutnya.

“Aku tidak tahu kamu pulang karena merindukan Ibu atau karena urusan lain. Tapi Ibu sudah terlalu lama menunggu.”

Bu Farida berhenti beberapa saat untuk menarik napas.

“Ibu tidak marah karena kamu bekerja jauh. Ibu marah karena kamu memilih lupa.”

Mata Rendy mulai memerah.

“Maya tidak pernah mengatakan hal buruk tentangmu. Bahkan saat Ibu meminta dia berhenti membayar rumah sakit dan membiarkan kamu bertanggung jawab, dia menolak.”

Maya menunduk.

“Dia bilang, kalau dia berhenti, yang menderita bukan kamu, tetapi Ibu.”

Suara Bu Farida mulai bergetar.

“Rumah ini Ibu berikan kepada Maya bukan karena Ibu membenci anak sendiri. Ibu memberikannya kepada orang yang menjaga rumah ini tetap menjadi rumah ketika anak Ibu sendiri memilih meninggalkannya.”

Rendy menatap layar tanpa bergerak.

Siska kini berdiri beberapa meter di belakangnya.

Bu Farida kemudian mengucapkan kalimat yang membuat wajah Siska berubah.

“Dan Rendy, kalau perempuan yang kamu bawa pulang itu bernama Siska, jangan salahkan dia sepenuhnya.”

Rendy langsung menatap layar.

Siska pucat.

“Ibu pernah berbicara dengannya.”

Rendy berdiri.

“Apa?”

Siska mundur selangkah.

Rekaman terus berjalan.

“Tiga bulan lalu, Siska menelepon Ibu.”

Maya pun tampak terkejut.

Rupanya bagian itu belum pernah dia dengar.

Bu Farida melanjutkan.

“Dia meminta restu. Saat itulah Ibu tahu kamu sudah memiliki anak dengannya.”

Rendy menoleh kepada Siska.

“Kamu menelepon Ibu?”

Air mata mulai memenuhi mata Siska.

“Aku tidak tahu dia sakit parah.”

“Kamu tidak pernah bilang.”

“Karena ibumu meminta aku tidak bilang.”

Dalam video, Bu Farida berkata, “Ibu mengatakan kepada Siska bahwa kamu masih menikah secara sah dengan Maya dan bahwa sebagian besar cerita yang kamu sampaikan tentang Maya tidak benar.”

Siska memejamkan mata.

Rendy mulai kehilangan kata-kata.

“Ibu juga mengatakan sesuatu yang seharusnya Ibu sampaikan sejak lama. Maya tidak pernah mandul.”

Keheningan jatuh begitu cepat.

Rendy menoleh kepada Maya.

“Apa maksudnya?”

Maya tidak menjawab.

Pak Yusuf menatap Rendy dengan ekspresi berat.

Bu Farida melanjutkan dari layar.

“Dua tahun sebelum kamu pergi ke Singapura, Maya pernah datang kepada Ibu membawa hasil pemeriksaan kesuburan kalian.”

Wajah Rendy perlahan berubah.

“Kamu tidak pernah melihat hasil lengkapnya karena Maya memilih melindungi harga dirimu.”

Napas Rendy terdengar berat.

“Dokter menyatakan Maya sehat. Masalah kesuburan justru berada padamu.”

Rendy menatap Maya.

“Itu bohong.”

Maya berjalan ke lemari dan mengambil sebuah amplop putih yang sudah kusam.

Dia meletakkannya di hadapan Rendy.

Hasil pemeriksaan dari sebuah rumah sakit di Jakarta masih tersimpan lengkap.

Nama mereka tertera di bagian atas.

Rendy membaca halaman demi halaman.

Tangannya mulai gemetar.

Tiga tahun lalu, dokter menyimpulkan jumlah dan kualitas spermanya sangat rendah. Peluang memiliki anak secara alami sangat kecil, meskipun bukan mustahil.

Rendy perlahan mengangkat kepala.

Pandangan matanya kemudian jatuh kepada bayi di pelukan Siska.

Siska langsung mundur.

“Jangan lihat aku seperti itu.”

Rendy berdiri.

“Siska.”

“Jangan.”

“Anak itu anak siapa?”

Siska memeluk bayinya lebih erat.

“Aku tidak mau membicarakan ini di sini.”

“ANAK SIAPA?”

Tangisan bayi pecah.

Maya segera berkata, “Jangan berteriak di depan bayi.”

Namun Rendy seperti tidak mendengar.

Dia mendekati Siska.

“Kamu bilang dia anakku.”

“Aku bilang kemungkinan besar.”

Rendy membeku.

“Kemungkinan besar?”

Siska menangis.

“Sebelum kita bersama, aku masih berhubungan dengan Arga.”

Rendy memegang kepalanya.

“Kamu berselingkuh dariku?”

Siska tertawa getir di tengah tangisnya.

“Kamu mengatakan itu kepadaku? Kamu yang datang kepadaku dengan cincin pernikahan masih melekat di tangan?”

Ucapan itu membuat Rendy terdiam.

Siska menghapus air matanya.

“Kamu bilang proses perceraianmu sudah berjalan. Kamu bilang Maya hanya menolak tanda tangan karena mengincar hartamu. Kamu bilang ibumu mendukung kita.”

Dia menunjuk rumah di sekeliling mereka.

“Kamu bahkan bilang semua ini sudah menjadi milikmu.”

Rendy tidak mampu menjawab.

“Kalau aku pembohong, Rendy, aku belajar dari orang yang tepat.”

Siska mengambil tasnya.

“Aku akan melakukan tes DNA. Bukan untukmu. Untuk anakku. Dia berhak tahu siapa ayah biologisnya.”

Rendy mencoba menahan lengannya, tetapi Siska menepis.

“Jangan sentuh aku.”

Siska berjalan keluar sambil menggendong bayinya.

Lima koper mahal itu tertinggal begitu saja di ruang tamu.

Rendy berdiri di tengah rumah yang beberapa jam sebelumnya dia kira akan menjadi panggung kemenangan kepulangannya.

Kini semua yang dia banggakan terasa seperti benda asing.

Pak Yusuf lalu mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Bu Farida juga meninggalkan deposito.”

Rendy segera menoleh.

Ada secercah harapan di matanya.

“Berapa?”

Maya menatapnya.

Pertanyaan itu membuat sesuatu di wajah Pak Yusuf berubah.

“Delapan ratus lima puluh juta rupiah.”

Rendy menarik napas.

“Lalu?”

“Seluruhnya diberikan kepada Maya.”

Rendy tertawa tidak percaya.

“Tentu saja.”

Namun Pak Yusuf belum selesai.

“Karena uang itu sebenarnya berasal dari penjualan tanah pribadi Bu Farida. Beliau ingin mengganti sebagian biaya pengobatan yang selama ini dibayar Maya.”

Pak Yusuf menggeser sebuah map ke arah Rendy.

“Sedangkan untuk Anda, beliau meninggalkan ini.”

Di dalam map hanya terdapat satu lembar surat.

Rendy membacanya.

Tidak ada uang.

Tidak ada properti.

Hanya tulisan tangan ibunya.

Rendy, Ibu tidak meninggalkan harta untukmu karena selama tiga tahun terakhir kamu sudah memilih harta yang kamu inginkan. Ibu hanya meninggalkan kesempatan supaya kamu belajar menjadi manusia yang tidak mengukur kasih sayang dengan apa yang bisa dimilikinya.

Rendy duduk perlahan.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang jatuh satu per satu ke atas surat.

Maya berdiri di depannya cukup lama.

“Aku minta maaf,” bisik Rendy.

Maya tidak langsung menjawab.

“Aku benar-benar tidak tahu Ibu separah itu.”

“Kamu tidak tahu karena kamu memilih tidak tahu.”

Kalimat Maya pendek, tetapi Rendy tidak mampu membantahnya.

“Apa masih ada kesempatan buat kita?”

Maya menghela napas.

Dulu, mungkin pertanyaan itu adalah sesuatu yang paling ingin dia dengar.

Namun tiga tahun telah mengubah banyak hal.

“Aku pernah menunggu teleponmu setiap malam.”

Maya menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

“Aku pernah berpikir kalau aku cukup sabar, kamu akan pulang dan semuanya akan kembali seperti dulu.”

Dia mengambil map perceraian dari meja.

“Tapi sambil menunggumu, aku belajar hidup tanpa kamu.”

Rendy menunduk.

“Aku membangun studio desain lagi. Aku melunasi sebagian besar utang rumah sakit. Aku menemani Ibu sampai napas terakhirnya.”

Maya tersenyum tipis.

“Dan anehnya, ketika kamu benar-benar pulang hari ini, aku baru sadar bahwa orang yang kutunggu selama tiga tahun sebenarnya sudah tidak ada.”

Dia meletakkan pena di atas surat cerai.

Rendy memandang pena itu lama.

Kemudian tangannya bergerak.

Dia menandatangani dokumen tersebut.

Tiga bulan setelah malam itu, hasil tes DNA keluar.

Bayi Siska ternyata bukan anak biologis Rendy.

Namun kabar tersebut tidak lagi menghancurkan siapa pun seperti yang Rendy bayangkan.

Siska memilih kembali ke Surabaya dan membesarkan putranya bersama keluarga. Arga, ayah biologis sang bayi, akhirnya bersedia bertanggung jawab setelah menjalani pemeriksaan yang sama.

Rendy menjual hampir seluruh barang mewah yang dibawanya dari Singapura untuk menutup utang pribadinya.

Lima koper yang dulu masuk ke rumah dengan penuh kesombongan akhirnya keluar dalam keadaan hampir kosong.

Sementara itu, rumah tua di Tebet tidak pernah dijual.

Maya merenovasi bagian belakangnya menjadi studio desain.

Kamar Bu Farida tetap dipertahankan.

Di meja kecil dekat jendela, masih ada foto perempuan itu dengan senyum tenang.

Setahun kemudian, suatu sore Rendy datang.

Tidak membawa koper.

Tidak membawa mobil mahal.

Dia hanya membawa sebungkus kopi hitam kesukaan ibunya dan beberapa bunga putih.

Maya membukakan pintu.

Mereka saling memandang tanpa kebencian.

“Aku boleh masuk?”

Maya mengangguk.

Rendy duduk di depan foto Bu Farida cukup lama.

Sebelum pulang, dia berhenti di teras.

“Maya.”

“Ya?”

“Terima kasih karena dulu kamu tidak meninggalkan Ibu sendirian.”

Maya tersenyum kecil.

“Aku tidak melakukannya untukmu.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, jawaban itu tidak melukai Rendy.

Dia mengangguk lalu berjalan menuju jalan raya.

Maya menutup pagar perlahan.

Dulu dia mengira seratus hari setelah kematian Bu Farida adalah hari ketika Rendy kehilangan segalanya.

Ternyata dia salah.

Hari itu justru menjadi hari ketika semua orang mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Siska mendapatkan kebenaran.

Rendy mendapatkan kesempatan untuk melihat dirinya sendiri tanpa kebohongan.

Dan Maya mendapatkan hidupnya kembali.

Di dalam rumah, angin sore membuat tirai kamar Bu Farida bergerak lembut.

Maya menatap foto mendiang ibu mertuanya.

Kini dia akhirnya memahami mengapa beberapa hari sebelum meninggal, Bu Farida pernah menggenggam tangannya dan berkata pelan,

“Jangan menunggu orang yang sudah memilih pergi. Tunggulah hari ketika kamu cukup berani untuk memilih dirimu sendiri.”

Hari itu akhirnya datang.

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Maya tidak sedang menunggu siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang