MEMAKSA AKU DATANG KE ACARA LAMARAN PALSU, NAMUN PRIA YANG DIJODOHKAN JUSTRU MEMBONGKAR REKENING RAHASIA MEREKA—LALU SATU EMAIL DARI KANTORKU MEMBUAT AYAH MENUNDUK, SEPUPUKU PANIK, DAN BISNIS KECANTIKAN KELUARGA TERBUKA DI DEPAN SEMUA ORANG, DAN PENGKHIANATAN LAMA IKUT TERBONGKAR

Hendra Pramono, pria yang selama hidupku selalu kukenal sebagai sosok ayah yang tenang, pekerja keras, dan tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya, kini berdiri diam dengan wajah pucat.

Ponsel di tangannya terus menyala. Nama-nama transaksi masuk satu per satu. Jumlahnya bukan puluhan juta, melainkan ratusan juta rupiah.

“Ayah…” suaraku bergetar. “Apa maksud semua ini?”

Ayah tidak langsung menjawab.

Itu yang paling menyakitkan.

Bukan kemarahan, bukan bantahan, tetapi diam.

Bagas berdiri di sampingku. Ia tidak ikut menyerang ayahku. Ia hanya mengamati, seperti seseorang yang sedang mencari kebenaran dari sebuah laporan yang belum lengkap.

Raka mulai panik.

“Jangan dengarkan dia, Kak. Dia cuma akuntan. Dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis keluarga kita.”

Bagas menatapnya.

“Justru karena saya akuntan forensik, saya tahu bagaimana uang bergerak.”

Suasana di gudang semakin tegang.

“Lima bulan terakhir,” lanjut Bagas, “CV Sinar Cantika menerima pembayaran dari beberapa rekening penjual yang sebelumnya dibekukan karena pelanggaran produk. Setelah itu, sebagian dana berpindah ke rekening atas nama Hendra Pramono.”

Bude Endah langsung berdiri.

“Jangan sembarangan menuduh orang tua!”

“Saya tidak menuduh,” jawab Bagas tenang. “Saya menunjukkan data.”

Ia membuka layar ponselnya dan menunjukkan beberapa bukti transaksi.

Aku melihat angka-angka itu.

Tanggal transfer.

Nomor rekening.

Nama perusahaan.

Semuanya nyata.

Namun ada satu hal yang membuatku lebih bingung.

“Ayah tidak mungkin melakukan ini,” kataku pelan.

Semua orang menatapku.

Aku tahu mereka menunggu aku ikut menghukum ayahku.

Tapi aku tidak bisa.

Karena ada sesuatu yang tidak cocok.

Ayah memang memiliki rekening itu.

Tetapi ayah bukan tipe orang yang bisa menjalankan skema rumit seperti ini.

Aku mengenalnya.

Atau setidaknya aku pikir aku mengenalnya.

“Ayah,” kataku lagi, “jelaskan.”

Akhirnya pria yang selama ini selalu terlihat kuat itu menarik napas panjang.

“Semua berawal dari dua tahun lalu.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Ayah dipaksa membantu mereka.”

Raka langsung membantah.

“Omong kosong!”

Ayah menatap anak saudaranya itu.

“Diam, Raka.”

Nada suara ayah membuat semua orang terkejut.

“Ayah sudah cukup lama diam.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudnya?”

Ayah berjalan menuju kursi dan duduk perlahan.

“Bisnis kecantikan itu awalnya bukan milik Raka.”

Bude Endah langsung membeku.

“Ayah yang membantu membuka usaha itu untuk ibumu dan keluargamu,” lanjut Ayah.

Aku mengerutkan dahi.

“Ibu?”

Ayah mengangguk.

“Dulu, sebelum kamu bekerja di perusahaan besar, sebelum kamu mengenal dunia kepatuhan digital, ibumu pernah memiliki usaha kosmetik kecil. Dia membuat produk perawatan kulit sendiri. Banyak pelanggan menyukainya.”

Aku baru pertama kali mendengar cerita itu.

“Lalu kenapa berhenti?”

Ayah menunduk.

“Karena ada yang mencuri formula produknya.”

Semua orang diam.

Ayah melihat ke arah Raka.

“Dan orang itu adalah kamu.”

Wajah Raka berubah.

“Apa?”

Aku tidak percaya.

Raka adalah sepupuku.

Orang yang sejak kecil sering datang ke rumah kami.

Orang yang selalu mengatakan aku terlalu serius dan harus belajar menikmati hidup.

“Ayah jangan fitnah saya!” teriak Raka.

“Ayah punya bukti.”

Ayah mengeluarkan sebuah map lama dari tasnya.

Tanganku langsung dingin.

Map itu.

Aku mengenalnya.

Itu adalah jenis map yang dulu selalu digunakan ayah untuk menyimpan dokumen penting.

“Ayah menyimpan ini selama bertahun-tahun,” katanya.

Di dalamnya terdapat salinan percakapan lama, dokumen pendaftaran merek, dan laporan kehilangan formula.

Aku membaca nama yang tercantum.

Raka Endrawan.

Dadaku terasa sesak.

Selama ini aku mengira keluargaku hanya terlalu ikut campur dalam hidupku.

Aku tidak pernah menyangka ada pengkhianatan sebesar ini.

“Kenapa Ayah tidak pernah bilang?” tanyaku.

Ayah menatapku dengan mata yang penuh penyesalan.

“Karena saat itu kamu sedang membangun karier. Ayah tidak ingin kamu menghancurkan masa depanmu karena masalah keluarga.”

Aku tertawa kecil, tetapi rasanya pahit.

“Jadi Ayah memilih diam?”

“Iya.”

“Dan sekarang?”

Ayah mengusap wajahnya.

“Sekarang Ayah sadar diam bukan selalu berarti melindungi.”

Raka mulai mundur perlahan.

Namun sebelum dia pergi, Bagas berkata,

“Satu lagi.”

Raka berhenti.

“Email dari perusahaan Alya baru saja masuk.”

Aku mengambil ponselku.

Ada email baru dari kantor.

Subjeknya:

Hasil Investigasi Internal Terkait Manipulasi Data Merchant Aura Rinjani.

Tanganku gemetar saat membuka.

Isi email itu membuat seluruh tubuhku membeku.

Divisi kami menemukan bahwa akun Aura Rinjani berhasil mendapatkan akses banding ilegal melalui kredensial internal.

Dan orang yang memberikan akses tersebut adalah…

Mira.

Aku menatap layar tanpa percaya.

“Mira?”

Bagas melihat ekspresiku.

“Kamu kenal?”

Aku mengangguk perlahan.

“Mira adalah wakilku.”

Orang yang kupercaya.

Orang yang setiap hari duduk di sebelahku.

Orang yang kuberi akses ke sistem.

Tiba-tiba semua kejadian mulai masuk akal.

Toko Aura Rinjani.

Ancaman surat palsu.

Upaya membuka kembali akun.

Semuanya.

Raka tidak bekerja sendirian.

“Alya,” kata Bagas pelan, “kamu mungkin bukan target karena keluargamu.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

“Mereka membutuhkan seseorang yang punya kredibilitas. Nama kamu. Jabatan kamu. Akses kamu.”

Aku merasa mual.

Selama ini aku berpikir keluargaku hanya malu karena aku terlalu sukses.

Ternyata ada orang yang ingin menggunakan kesuksesanku sebagai alat kejahatan.

Raka tiba-tiba tertawa kecil.

“Bagus. Kalian semua pintar.”

Semua mata tertuju padanya.

“Ya, aku memang mengambil formula itu. Ya, aku menggunakan nama Kak Alya. Tapi kalian tahu kenapa?”

Tidak ada yang menjawab.

“Karena keluarga ini selalu menganggap aku tidak ada.”

Ia menunjuk ke arahku.

“Sejak kecil, semua orang membandingkanku dengan Alya. Alya pintar. Alya mandiri. Alya punya karier bagus.”

Wajahnya penuh kemarahan.

“Aku hanya ingin sekali punya sesuatu yang membuat orang melihatku.”

Aku menatapnya.

Untuk sesaat aku merasa kasihan.

Tetapi rasa kasihan itu hilang ketika mengingat produk berbahaya yang ia jual kepada orang lain.

“Kamu ingin dihargai dengan meracuni orang?”

Raka terdiam.

“Kamu ingin membuktikan diri dengan mencuri?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, penyelidikan resmi dimulai.

Mira ditangkap setelah bukti digital menunjukkan keterlibatannya dalam manipulasi sistem.

CV Sinar Cantika dihentikan operasinya.

Nama Aura Rinjani yang dulu digunakan sebagai simbol kecantikan keluarga mereka berubah menjadi contoh kasus penipuan besar.

Ayah memilih bekerja sama dengan penyidik.

Ia mengakui kesalahannya karena membiarkan rekeningnya digunakan.

Hubungan kami tidak langsung pulih.

Butuh waktu.

Karena luka terbesar bukan hanya tentang uang.

Tetapi tentang rahasia yang disimpan terlalu lama.

Suatu sore, beberapa bulan kemudian, aku bertemu Bagas di sebuah kedai kopi kecil.

“Kamu terlihat berbeda,” katanya.

Aku tersenyum.

“Lebih tua?”

“Lebih tenang.”

Aku melihat keluar jendela.

Dulu aku selalu berpikir kekuatan berarti tidak membutuhkan siapa pun.

Ternyata bukan begitu.

Kekuatan adalah berani menghadapi kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang dari orang-orang yang paling kita cintai.

Bagas menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Apa ini?”

“Bukan cincin kosong.”

Aku tertawa.

Di dalamnya hanya ada sebuah kartu kecil.

Tertulis:

Jangan pernah mengecilkan dirimu hanya agar orang lain merasa besar.

Aku menatapnya.

“Ini cara kamu melamar?”

Bagas tersenyum.

“Tidak. Ini cara saya mengingatkan bahwa saya ingin berjalan bersama seseorang yang tidak pernah berpura-pura menjadi kecil.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa harus membuktikan apa pun.

Tidak kepada keluarga.

Tidak kepada masyarakat.

Tidak kepada siapa pun.

Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar menghargai kita tidak akan meminta kita mematikan cahaya yang kita miliki.

Mereka akan berdiri di samping kita dan membantu cahaya itu menjadi lebih terang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang