Aku menoleh ke arah Intan yang wajahnya tampak terkejut. Aku tidak terlalu ingin tahu apakah Intan mengenal pria itu atau tidak.

Aku tidak pernah menyangka bahwa satu kalimat sederhana dari Hamis akan menghancurkan semua keyakinanku tentang orang-orang yang selama ini berada di sekitarku.

“Intan.”

Nama itu terus bergema di kepalaku bahkan setelah pintu kamar tertutup dan suara langkah mereka perlahan menghilang.

Aku berdiri sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sempit. Tanganku masih mengepal. Napasku berat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku berkali-kali.

Tantri.

Istriku.

Dan Intan.

Dua perempuan yang selama ini kuanggap sebagai orang terdekatku ternyata memiliki hubungan dengan pria yang baru saja menghina dan merendahkanku.

Namun, satu hal masih mengganggu pikiranku.

Apa benar semua perkataan Hamis?

Atau dia hanya sedang mencoba menghancurkanku?

Aku tahu satu hal. Hamis bukan pria biasa. Cara dia berbicara, cara dia menatap, bahkan caranya menyampaikan ancaman menunjukkan bahwa dia terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Tapi aku juga bukan orang yang mudah percaya.

Aku mengenal Tantri sejak lama.

Kami menikah bukan karena perjodohan. Kami melewati banyak hal bersama. Saat aku belum memiliki apa-apa, dia adalah orang yang selalu berdiri di sampingku.

Setidaknya, itu yang selama ini aku yakini.

Aku keluar dari kamar dengan langkah berat. Di ruang tamu, hanya tersisa suara Ibu yang sedang berbicara dengan Tantri.

Mereka tidak menyadari bahwa aku sudah mendengar semuanya.

“Sab, kamu kenapa?” tanya Tantri ketika melihatku.

Aku menatap wajahnya.

Wajah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatku mencari ketenangan.

Namun sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa asing melihatnya.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat.

Tantri terlihat ingin bertanya lagi, tetapi akhirnya dia mengurungkan niatnya.

Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.

Dan aku akan mencari tahu apa itu.

Sepanjang perjalanan pulang, aku hampir tidak berbicara.

Tantri duduk di belakang motor, seperti biasa memegang pinggangku.

Tapi kali ini, sentuhannya terasa berbeda.

Aku mencoba mengingat kapan semuanya mulai berubah.

Kapan istriku mulai menyembunyikan sesuatu dariku.

Malam itu, setelah sampai rumah, Tantri langsung masuk kamar mandi.

Aku duduk di ruang tengah sambil menatap kosong ke arah televisi yang menyala tanpa suara.

Pikiranku berputar.

Kemudian aku melihat ponsel Tantri yang tertinggal di meja.

Aku bukan orang yang suka membuka privasi orang lain.

Tetapi malam itu berbeda.

Aku merasa ada sesuatu yang harus aku ketahui.

Saat aku hendak mengambil ponsel itu, sebuah pesan masuk muncul di layar.

Nama pengirimnya membuat tubuhku langsung kaku.

Hamis.

Pesannya hanya singkat.

“Terima kasih untuk hari ini. Aku senang akhirnya bisa bertemu lagi.”

Dadaku terasa sesak.

Bertemu lagi?

Berarti mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.

Aku belum sempat membuka pesan itu karena Tantri tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

Aku langsung meletakkan ponselnya kembali.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

“Belum.”

“Ada apa, Sab?”

Aku menatapnya.

Ada banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan.

Tentang Hamis.

Tentang Intan.

Tentang semua hal yang baru saja kudengar.

Namun aku memilih diam.

Belum saatnya.

Aku ingin mengetahui semuanya, bukan hanya mendengar tuduhan dari seorang pria yang jelas-jelas membenciku.

Hari berikutnya, aku mulai mencari informasi tentang Hamis.

Ternyata namanya memang bukan nama kecil.

Dia adalah putra tunggal Kusuma Wijaya. Hidupnya penuh kemewahan. Bersekolah di luar negeri, memiliki banyak koneksi, dan dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses.

Namun ada satu bagian dari masa lalunya yang menarik perhatianku.

Sepuluh tahun lalu, sebelum menjadi orang besar seperti sekarang, Hamis pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan luka bakar serius di tubuhnya.

Kecelakaan itu terjadi di sebuah gudang perusahaan keamanan tempat aku dulu bekerja.

Aku terdiam membaca informasi itu.

Perusahaan keamanan?

Aku memang pernah bekerja di sana.

Tapi aku tidak pernah memiliki anak buah.

Aku hanya seorang staf lapangan biasa.

Lalu kenapa dia menyalahkanku?

Aku terus mencari.

Sampai akhirnya aku menemukan nama seseorang.

Ardi.

Mantan rekan kerjaku.

Seketika ingatanku kembali.

Sepuluh tahun lalu, Ardi pernah terlibat masalah dengan beberapa orang karena tindakan cerobohnya. Dia memang pernah menyebabkan kebakaran kecil di sebuah lokasi kerja.

Tapi saat itu aku bukan atasannya.

Aku hanya salah satu orang yang mencoba membantu memadamkan api.

Kenapa Hamis mengira aku bertanggung jawab?

Aku membutuhkan jawaban.

Dan aku tahu satu-satunya orang yang bisa memberikannya adalah Hamis sendiri.

Beberapa hari kemudian, aku sengaja mendatangi kantor Hamis.

Aku tidak datang untuk mencari masalah.

Aku hanya ingin kebenaran.

Ketika melihatku masuk, Hamis tersenyum seperti sudah menduga kedatanganku.

“Akhirnya datang juga.”

“Aku ingin bicara.”

“Tentang Tantri?” tanyanya santai.

Aku menahan emosi.

“Tentang semuanya.”

Hamis bersandar di kursinya.

“Kamu masih belum mengerti, ya?”

“Aku tidak mengerti kenapa kamu menyalahkanku atas sesuatu yang tidak kulakukan.”

Senyum Hamis perlahan menghilang.

“Karena kamu adalah orang yang membiarkan semuanya terjadi.”

Aku terdiam.

“Apa maksudmu?”

Dia berdiri dan berjalan mendekat.

“Sepuluh tahun lalu, saat gudang itu terbakar, aku kehilangan banyak hal. Aku kehilangan kepercayaan pada orang lain. Aku kehilangan masa depan yang sudah aku rencanakan.”

“Itu bukan salahku.”

“Mungkin bukan,” jawabnya.

“Namun orang yang paling dekat denganku saat itu adalah seseorang yang bekerja di bawahmu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Ardi?”

Hamis terdiam sesaat.

Tampaknya dia tidak menyangka aku mengetahui nama itu.

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dia yang membuat kesalahan. Tapi aku tidak pernah menyuruhnya melakukan apa pun.”

Hamis menatapku lama.

Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di matanya.

Namun sebelum dia mengatakan sesuatu, pintu ruangannya terbuka.

Tantri berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

“Sab…”

Aku langsung menatapnya.

“Kamu di sini?”

Tantri tidak menjawab.

Tatapannya berpindah kepada Hamis.

Saat itulah aku sadar.

Dia bukan hanya mengenal Hamis.

Dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan.

“Tantri,” ucapku pelan. “Berapa lama kamu mengenal dia?”

Air mata mulai memenuhi mata istriku.

“Sab, aku bisa jelaskan.”

“Jawab saja pertanyaanku.”

Ruangan itu hening.

Akhirnya Tantri menunduk.

“Sejak sebelum kita menikah.”

Kalimat itu terasa seperti pukulan.

Sebelum menikah?

Aku mundur satu langkah.

“Jadi selama ini…”

“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”

“Lalu kenapa kamu diam?”

Tantri menangis.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kehilanganmu.”

Aku tertawa kecil tanpa bahagia.

“Lucu. Kamu takut kehilangan aku, tapi kamu menyimpan rahasia sebesar ini.”

Hamis hanya diam melihat kami.

Untuk pertama kalinya, dia tidak terlihat seperti pria yang menang.

Malam itu aku pulang sendirian.

Aku tidak langsung menceraikan Tantri.

Bukan karena aku memaafkan.

Tetapi karena aku ingin mengetahui seluruh kebenaran.

Beberapa hari kemudian, sebuah fakta baru terungkap.

Ternyata Hamis tidak pernah benar-benar mencintai Tantri.

Hubungan mereka bertahun-tahun lalu hanya karena Hamis ingin mendekati keluarganya untuk mencari informasi tentang kejadian kebakaran itu.

Dan Intan?

Dia juga bukan kekasih Hamis seperti yang dia katakan.

Intan ternyata pernah bekerja sama dengan Hamis untuk menemukan bukti bahwa Ardi adalah penyebab kecelakaan tersebut.

Namun semuanya berubah ketika Hamis mengetahui bahwa aku tidak bersalah.

Dia terlalu terjebak dalam dendamnya sendiri.

Pada akhirnya, orang yang paling menghancurkan hidupnya bukan aku.

Melainkan kebenciannya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku dan Tantri duduk di sebuah kafe kecil tempat kami dulu sering bertemu.

Tidak ada lagi rahasia.

Tidak ada lagi kebohongan.

“Aku minta maaf, Sab,” katanya pelan.

Aku menatap keluar jendela.

“Aku tidak tahu apakah semua bisa kembali seperti dulu.”

Tantri mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Aku mengerti.”

Aku tidak langsung memberikan jawaban.

Karena luka akibat kebohongan tidak hilang hanya dengan kata maaf.

Namun aku juga belajar satu hal.

Kadang seseorang bisa menghancurkan hidup kita bukan karena mereka lebih kuat.

Tetapi karena kita membiarkan kebencian dan rasa sakit menguasai diri kita.

Tentang Hamis, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya.

Kabarnya dia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan bisnisnya di luar negeri.

Mungkin dia akhirnya sadar.

Bahwa balas dendam tidak pernah benar-benar memberikan kemenangan.

Dan tentang aku?

Aku tetap melangkah.

Dengan hati yang pernah hancur, tetapi dengan mata yang kini lebih terbuka.

Karena dalam hidup, pengkhianatan terbesar sering kali bukan datang dari musuh.

Melainkan dari orang yang paling kita percaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang