Tiga hari setelah aku mengunci pintu kamar itu, aku tidak pernah menyangka bahwa hal pertama yang dilakukan Mas Riko bukan meminta maaf, melainkan mencari siapa yang harus disalahkan.
Aku sedang melipat pakaian Daffa ketika suara keras terdengar dari ruang tamu.
“Jadi ini keputusanmu, Fi? Membawa anakku pergi diam-diam?”
Aku berhenti sejenak.
Anakku?
Lucu.
Selama ini aku tidak pernah mendengar dia menyebut Daffa sebagai “anak kita” ketika membahas tanggung jawab. Tetapi sekarang, ketika dia merasa kehilangan kendali, tiba-tiba kata “anakku” keluar dengan mudah dari mulutnya.
Aku keluar dari kamar dengan tenang.
Mas Riko berdiri di tengah ruang tamu. Wajahnya penuh amarah. Di sampingnya, Ibu mertuaku duduk dengan ekspresi kecewa seolah aku adalah orang yang telah menghancurkan keluarga ini.
Di tangan Mas Riko ada sebuah amplop.
Surat pindah sekolah Daffa.
“Aku cuma mau memastikan, Fi. Kamu benar-benar mau melakukan ini?”
Aku menatapnya.
“Iya.”
Jawabanku yang singkat membuatnya terdiam.
“Maksud kamu apa dengan iya?”
“Aku akan membawa Daffa tinggal bersama orang tuaku untuk sementara. Sekolahnya juga sudah dipindahkan.”
“Tanpa bicara denganku?”
Aku tersenyum tipis.
“Bicara?”
Aku melangkah mendekat.
“Mas, selama ini berapa banyak keputusan besar yang Mas buat tanpa bicara denganku?”
Dia membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan.
“Uang sekolah Daffa. Bantuan untuk Rika. Keputusan membawa Ibu masuk ke kamar kita. Semua dilakukan dulu, baru aku diberi tahu setelah semuanya selesai.”
“Itu beda, Fi.”
“Beda bagaimana?”
“Mas melakukan itu untuk keluarga.”
Aku mengangguk pelan.
“Dan aku melakukan ini juga untuk keluarga.”
Tatapan Mas Riko berubah.
Dia mulai sadar bahwa kalimat yang selama ini dia gunakan ternyata bisa kembali kepadanya.
Ibu mertua tiba-tiba berdiri.
“Fiona, jangan keras kepala. Kamu seorang istri. Seharusnya kamu mengikuti suami.”
Aku menatap wanita yang selama bertahun-tahun selalu menjadi alasan mengapa aku harus mengalah.
“Bu, saya sudah mengikuti suami saya selama tujuh tahun.”
Suara Ibu langsung berhenti.

“Saya mengikuti ketika Mas Riko ingin membantu keluarga Ibu. Saya diam ketika uang tabungan kami dipakai. Saya mengerti ketika Mas Riko lebih memilih menemani Ibu daripada menghabiskan waktu dengan saya dan Daffa.”
Aku menarik napas.
“Tapi ada satu hal yang tidak bisa saya terima.”
Aku menunjuk amplop di tangan Mas Riko.
“Ketika seorang ayah mulai mengambil hak anaknya sendiri.”
Ruangan menjadi sunyi.
Mas Riko menunduk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak punya alasan.
Namun aku tahu, rasa bersalahnya belum cukup besar untuk membuatnya berubah.
Karena selama ini dia selalu yakin aku akan tetap bertahan.
Aku selalu menjadi orang yang membereskan semuanya.
Aku selalu menjadi orang yang memaafkan.
Dan itulah kesalahan terbesarnya.
Malam itu, aku memasukkan barang terakhir Daffa ke dalam koper.
Anakku duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kesayangannya.
“Mama, kita pindah rumah?”
Aku tersenyum sambil duduk di sampingnya.
“Iya, Sayang.”
“Papa ikut?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam daripada apa pun.
Aku melihat wajah kecilnya.
Anak ini tidak tahu bahwa selama ini dia bukan hanya kehilangan waktu bersama ayahnya.
Dia kehilangan perhatian seorang ayah yang terlalu sibuk menjadi anak bagi ibunya sendiri.
“Kita pergi dulu, ya.”
“Tapi Papa tahu?”
Aku diam sebentar.
“Papa tahu.”
Daffa mengangguk kecil.
“Papa marah?”
Aku tersenyum lembut.
“Mama tidak tahu.”
Padahal aku tahu.
Mas Riko pasti marah.
Karena kehilangan seseorang yang selama ini selalu mengurusnya terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan cinta.
Keesokan paginya, aku membawa Daffa pergi.
Tidak ada drama.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan.
Aku hanya membawa anakku, beberapa koper, dan sisa harga diriku yang selama ini hampir hilang.
Sebelum mobil meninggalkan halaman rumah, aku sempat melihat ke arah pintu.
Mas Riko berdiri di sana.
Wajahnya tidak lagi penuh amarah.
Untuk sesaat, aku melihat pria yang dulu pernah aku cintai.
Pria yang dulu berjanji akan melindungiku.
Tetapi pria itu sudah lama hilang.
Aku hanya tidak mau mengakuinya.
Satu bulan berlalu.
Hidupku berubah perlahan.
Aku tinggal bersama orang tuaku sementara Daffa mulai beradaptasi dengan sekolah barunya.
Aku kembali bekerja lebih fokus.
Aku mulai mengambil proyek investasi yang selama ini kutunda karena terlalu sibuk mengurus keluarga.
Dan ternyata, aku masih mampu berdiri sendiri.
Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Sementara itu, kehidupan Mas Riko tidak berjalan seperti yang dia bayangkan.
Aku mendengar dari beberapa orang bahwa usaha Rika kembali gagal.
Uang lima belas juta yang dipinjam tidak pernah kembali.
Bahkan Rika mulai meminta bantuan lagi.
Tetapi kali ini, Mas Riko tidak punya aku untuk menyelesaikan semuanya.
Suatu malam, ponselku berbunyi.
Nama yang muncul di layar membuatku terdiam.
Mas Riko.
Aku membiarkannya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.
“Halo.”
Di ujung sana terdengar napas panjang.
“Fi.”
Suaranya berbeda.
Tidak lagi keras.
Tidak lagi penuh tuntutan.
“Ada apa, Mas?”
“Mas mau ketemu.”
Aku diam.
“Untuk apa?”
“Aku mau bicara.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat yang sama.
Dulu aku menunggu dia mengatakan itu.
Sekarang aku tidak lagi membutuhkannya.
“Kita bisa bicara lewat telepon.”
“Fi, tolong.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku tahu bahwa kali ini dia benar-benar jatuh.
Namun jatuh bukan berarti berubah.
“Mas, aku ingin tanya satu hal.”
“Apa?”
“Kalau waktu itu aku tidak membawa Daffa pergi, apakah Mas akan sadar?”
Dia terdiam.
Lama.
Tidak ada jawaban.
Dan diamnya adalah jawaban paling jujur.
“Aku tahu,” katanya akhirnya.
“Aku terlalu yakin kamu tidak akan pergi.”
Aku memejamkan mata.
“Karena aku selalu kembali.”
“Iya.”
“Dan itu membuat Mas lupa bahwa aku juga manusia.”
Suaranya mulai bergetar.
“Fi, aku salah.”
Aku menatap jendela kamar.
Di luar, Daffa sedang tertawa bersama ayahku di halaman.
Tawa yang sudah lama tidak kudengar ketika dia masih tinggal bersama Mas Riko.
“Aku percaya Mas menyesal.”
“Kalau begitu, kita bisa memperbaiki semuanya.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak semua hal yang rusak harus diperbaiki, Mas.”
Kalimat itu membuatnya diam.
“Ada yang harus diterima sebagai pelajaran.”
“Fi…”
“Aku tidak membenci Mas.”
Aku berkata pelan.
“Tapi aku juga tidak bisa kembali menjadi Fiona yang dulu.”
Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah paket.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya ada sebuah buku kecil milik Daffa.
Buku gambar yang sering dia gunakan ketika masih tinggal di rumah lama.
Aku membuka halaman terakhir.
Ada sebuah gambar keluarga.
Aku, Daffa, dan Mas Riko.
Tetapi ada sesuatu yang membuatku terdiam.
Di samping gambar itu, Daffa menulis dengan tulisan tangannya yang masih kecil.
“Rumah adalah tempat orang saling menjaga.”
Aku menatap kalimat itu lama.
Anak kecil saja mengerti sesuatu yang selama ini orang dewasa lupakan.
Rumah bukan tentang siapa yang paling berkuasa.
Bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Rumah adalah tempat seseorang merasa aman.
Dan selama ini, aku terlalu sibuk mempertahankan rumah yang ternyata hanya berdiri karena aku sendiri yang menopangnya.
Enam bulan kemudian, aku bertemu Mas Riko untuk terakhir kalinya.
Bukan untuk kembali.
Tetapi untuk menyelesaikan semuanya.
Dia datang dengan wajah yang jauh lebih tenang.
“Aku sudah menjual mobilku.”
Aku terkejut.
“Untuk apa?”
“Mengembalikan uang sekolah Daffa.”
Aku menatapnya.
“Mas akhirnya mengerti?”
Dia tersenyum pahit.
“Setelah kehilangan kalian, baru aku sadar. Selama ini aku sibuk menjadi anak yang baik bagi semua orang, sampai lupa menjadi ayah dan suami yang baik.”
Aku tidak menjawab.
Karena beberapa penyesalan datang tepat waktu.
Tetapi beberapa datang setelah semuanya terlambat.
Aku menerima uang itu.
Bukan karena aku membutuhkan.
Tetapi karena itu adalah tanggung jawabnya sebagai ayah.
Sebelum pergi, Mas Riko berkata pelan.
“Kalau suatu hari Daffa mau memaafkan Papa, aku akan bersyukur.”
Aku menatapnya.
“Kesempatan itu ada.”
Dia tersenyum.
“Tapi bukan untuk mendapatkan kembali Fiona yang dulu.”
Aku mengangguk.
“Karena Fiona yang dulu sudah pergi.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Bukan dengan rasa menang.
Bukan dengan kebencian.
Tetapi dengan perasaan lega.
Karena akhirnya aku mengerti.
Kadang-kadang, seseorang harus kehilangan rumah yang nyaman untuk menemukan dirinya sendiri.
Dan terkadang, pintu yang kita tutup bukan karena ingin menghukum seseorang.
Tetapi karena kita akhirnya belajar bahwa diri kita juga pantas dipilih.
