Sejak hari lamaran itu, aku mulai menyadari bahwa menikah bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai. Ada keluarga, tradisi, harapan, dan berbagai hal yang kadang tidak pernah dibicarakan sebelumnya.
Awalnya aku berpikir semua akan berjalan mudah. Aku dan Mas Adam sudah melewati banyak hal bersama. Dari masa-masa sulit ketika dia masih berjuang mencari pekerjaan hingga akhirnya menjadi seorang PNS. Aku selalu ada di sampingnya, mendukungnya ketika orang lain meragukannya.
Karena itu, ketika akhirnya dia datang melamarku, aku merasa semua perjuanganku terbayar.
Namun ternyata, hari bahagia itu juga menjadi awal dari keraguanku.
Setelah acara lamaran selesai, pembicaraan mengenai tanggal pernikahan membuat suasana sedikit berubah.
Ibu Mas Adam meminta data kelahiranku untuk menentukan hari baik berdasarkan weton.
Aku hanya tersenyum saat itu, berusaha menghargai tradisi keluarga mereka. Tetapi di dalam hati, ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul.
Malam setelah acara lamaran, aku mencoba menanyakan hal itu kepada Mas Adam.
“Mas, sebenarnya keluarga kamu masih sangat percaya dengan hitungan seperti itu?” tanyaku sambil duduk di teras rumah.
Mas Adam yang sedang memainkan ponselnya menoleh kepadaku.
“Maksud kamu weton?”
Aku mengangguk.
“Iya. Aku cuma kaget. Soalnya sebelumnya Mas nggak pernah cerita kalau keluarga Mas punya banyak aturan seperti ini.”
Mas Adam terdiam sebentar.
“Rara, itu cuma tradisi keluarga. Jangan dipikirkan terlalu jauh.”
“Tapi kenapa aku baru tahu setelah lamaran?” tanyaku pelan.
Mas Adam menghela napas.
“Karena aku tahu kamu mungkin akan berpikir macam-macam. Aku takut kamu merasa terbebani.”
Jawaban itu justru membuat hatiku semakin tidak tenang.
“Jadi memang ada banyak hal yang Mas sembunyikan dari aku?”
“Bukan menyembunyikan, Ra. Aku cuma tidak ingin hal-hal kecil membuat kita bertengkar.”
Aku diam.
Bagi Mas Adam mungkin itu hal kecil. Tapi bagiku, menikah berarti masuk ke dalam keluarga seseorang. Aku ingin tahu seperti apa keluarga yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Beberapa hari kemudian, ibu Mas Adam datang ke rumah bersama beberapa keluarga untuk membicarakan persiapan pernikahan.
Saat itulah aku mulai melihat sisi lain beliau.
“Rara nanti setelah menikah jangan terlalu sibuk bekerja ya,” katanya sambil tersenyum.
Aku yang sedang menuangkan teh langsung menoleh.
“Maksud Ibu?”

“Ya, perempuan itu kan lebih baik fokus mengurus rumah tangga. Apalagi keluarga kami dari dulu menantu perempuan biasanya tidak terlalu mengejar karier.”
Aku tersenyum kecil.
“Saya tetap ingin bekerja, Bu. Pekerjaan saya memang tidak besar, tapi saya suka.”
Ibu Mas Adam tersenyum, tetapi aku bisa merasakan ada sesuatu di balik tatapannya.
“Iya, nanti dipikirkan lagi.”
Kalimat sederhana itu terdengar seperti sebuah penolakan halus.
Malamnya aku menceritakan kepada Mas Adam.
“Mas, ibu kamu sebenarnya ingin aku berhenti kerja setelah menikah?”
Mas Adam langsung menjawab.
“Jangan dipikirkan. Ibu memang begitu. Tapi keputusan tetap ada di kita.”
“Kita atau Mas?” tanyaku.
Mas Adam terlihat terkejut.
“Maksud kamu?”
“Aku merasa sejak awal banyak hal yang harus aku ikuti. Harus PNS, harus begini, harus begitu. Kalau aku bukan perempuan yang sesuai harapan keluarga Mas, apakah Mas tetap memilih aku?”
Pertanyaan itu membuat Mas Adam terdiam cukup lama.
Akhirnya dia menggenggam tanganku.
“Rara, dengarkan aku. Aku memilih kamu bukan karena pekerjaanmu, bukan karena keluarga kamu. Aku memilih kamu karena kamu adalah orang yang menemani aku ketika aku belum punya apa-apa.”
Aku ingin percaya.
Sungguh ingin percaya.
Namun beberapa minggu menjelang pernikahan, masalah semakin sering muncul.
Suatu hari aku mendengar percakapan ibu Mas Adam dengan salah satu kerabatnya.
“Sayang sekali sebenarnya Adam tidak mendapatkan perempuan dari keluarga PNS. Dari dulu keluarga kami memang begitu.”
Aku yang kebetulan berada di balik pintu langsung terdiam.
Dadaku terasa sesak.
Jadi benar.
Selama ini aku hanya pilihan yang diterima karena Mas Adam mencintaiku.
Bukan perempuan yang benar-benar mereka inginkan.
Malam itu aku menangis di kamar.
Bukan karena aku tidak dihargai. Tetapi karena aku takut.
Takut suatu hari nanti ketika ada masalah dalam rumah tangga kami, aku akan selalu dianggap kurang.
Keesokan harinya aku meminta bertemu dengan Mas Adam.
“Mas, aku ingin membatalkan pernikahan.”
Wajah Mas Adam langsung berubah.
“Apa?”
“Aku merasa aku tidak cocok dengan keluarga Mas.”
“Rara, jangan bicara seperti itu.”
“Aku mendengar semuanya, Mas.”
Mas Adam terdiam.
Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya penuh kebingungan.
“Apa yang kamu dengar?”
“Aku dengar ibu kamu kecewa karena Mas tidak menikah dengan perempuan PNS.”
Mas Adam menunduk.
Lama sekali dia tidak bicara.
Dan diamnya membuat hatiku semakin sakit.
“Mas?”
Akhirnya dia menghela napas.
“Rara, ada sesuatu yang memang belum pernah aku ceritakan.”
Aku menatapnya.
“Aku sebenarnya sudah pernah dikenalkan dengan perempuan pilihan keluarga.”
Aku merasa seperti kehilangan napas.
“Perempuan PNS itu?”
Mas Adam mengangguk.
“Tapi aku menolak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mencintainya.”
Mataku mulai berkaca-kaca.
“Lalu kenapa Mas tidak pernah cerita?”
“Karena aku takut kamu merasa tidak aman.”
Aku tertawa kecil dengan air mata yang jatuh.
“Tapi sekarang aku merasa lebih tidak aman karena tahu dari orang lain.”
Mas Adam mendekat.
“Rara, aku salah. Aku terlalu sibuk melindungi perasaanmu sampai lupa bahwa kejujuran juga penting.”
Hari itu kami berbicara panjang.
Untuk pertama kalinya kami tidak hanya membicarakan cinta, tetapi juga kenyataan.
Tentang keluarga.
Tentang perbedaan.
Tentang masa depan.
Aku tetap mencintai Mas Adam.
Namun aku juga harus mencintai diriku sendiri.
Akhirnya aku meminta waktu.
Bukan untuk meninggalkannya.
Tetapi untuk memastikan bahwa aku menikah karena yakin, bukan karena takut kehilangan.
Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak pernah aku duga terjadi.
Aku bertemu dengan ayah Mas Adam.
Beliau datang sendiri ke rumahku.
“Rara, Bapak ingin meminta maaf.”
Aku terkejut.
“Maaf, Pak?”
“Bapak tahu mungkin selama ini keluarga kami membuat kamu merasa tidak diterima.”
Aku diam.
“Bapak memang dulu berharap Adam menikah dengan perempuan PNS. Karena kami berpikir itu akan membuat hidupnya lebih mudah.”
Beliau tersenyum sedih.
“Tapi Bapak lupa satu hal. Yang menjalani pernikahan itu Adam, bukan kami.”
Aku menahan air mata.
“Adam adalah anak yang berbeda. Dia memilih kamu saat kamu belum bisa memberikan apa pun untuknya. Itu membuktikan bahwa pilihannya bukan karena keuntungan.”
Hari itu aku baru memahami sesuatu.
Kadang orang tua bukan tidak menerima kita.
Mereka hanya membutuhkan waktu untuk menerima perubahan dari apa yang sudah mereka bayangkan.
Pernikahanku dengan Mas Adam akhirnya tetap berjalan.
Ibu Mas Adam memang tidak langsung berubah menjadi sangat dekat denganku. Tetapi perlahan beliau mulai melihat siapa diriku sebenarnya.
Beberapa bulan setelah menikah, Mas Adam mendapat tawaran untuk membuka usaha kecil dari salah satu temannya.
Awalnya dia ragu karena takut meninggalkan status PNS yang selama ini dianggap penting oleh keluarganya.
Namun aku mendukungnya.
“Kalau itu membuat Mas berkembang, lakukan.”
Ternyata usaha itu berkembang sangat pesat.
Dalam beberapa tahun, Mas Adam bukan hanya menjadi PNS, tetapi juga memiliki bisnis yang sukses.
Suatu hari, saat kami berkumpul bersama keluarga, ibu Mas Adam tersenyum melihat kami.
“Kalau dulu Ibu terlalu memikirkan pekerjaan seseorang, mungkin Ibu sudah salah memilih.”
Aku tersenyum.
“Ibu maksudnya?”
Beliau menggenggam tanganku.
“Ternyata yang membuat rumah tangga bertahan bukan karena suaminya PNS atau bukan. Tapi karena dua orang yang mau saling menjaga.”
Aku menatap Mas Adam.
Pria yang dulu membuatku takut kehilangan.
Pria yang hampir kulepas karena bayangan penolakan.
Ternyata dia adalah orang yang sejak awal memilihku, bahkan ketika keluarganya memiliki pilihan lain.
Dulu aku takut ditinggal karena bukan seorang PNS.
Namun akhirnya aku sadar, aku tidak kehilangan apa pun.
Karena cinta yang benar tidak pernah memilih berdasarkan jabatan.
Dan tanpa pernah kuduga, setelah hampir kehilangan Mas Adam, aku justru menjadi istri seorang saudagar kaya yang tetap memilihku sebagai perempuan biasa yang dulu selalu percaya kepadanya.
