Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusan terbesar dalam hidupku justru lahir dari rasa sakit yang paling dalam.
Selama lima tahun menjalin hubungan dengan Rian, aku selalu percaya bahwa dia adalah pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Dia seorang dokter spesialis tulang yang dikenal pintar, tenang, dan memiliki hati yang baik.
Setidaknya, itulah yang selama ini aku pikirkan.
Aku mengira semua pengorbanan yang kami lakukan akan membawa kami menuju kehidupan yang bahagia. Aku meninggalkan banyak kesempatan di kota lain karena ingin membangun masa depan bersamanya. Aku menolak beberapa tawaran pekerjaan besar karena percaya bahwa setelah menikah nanti, kami akan menghadapi semuanya bersama.
Tetapi hari itu, ketika melihat ibuku berdiri sendirian di bawah panasnya matahari Jakarta, aku sadar bahwa selama ini mungkin hanya aku yang berusaha mempertahankan hubungan ini.
Malam setelah kejadian itu, aku tidak bisa tidur.
Ibu sudah beristirahat di kamar tamu apartemenku. Tubuhnya masih terlihat lelah setelah perjalanan panjang dari desa. Sesekali aku mendengar suara batuknya dari balik pintu.
Sementara itu, Rian duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Seolah seorang wanita tua yang pernah membantunya melewati masa sulit bukan baru saja dipermalukan di depan tempat tinggalnya sendiri.
“Rian,” panggilku pelan.
Dia menoleh.
“Apa?”
Aku menatapnya lama.
“Kalau yang datang tadi bukan ibuku, tapi orang tua kamu sendiri, apakah kamu akan melakukan hal yang sama?”
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan membandingkan seperti itu, Rina.”
“Kenapa tidak boleh? Karena kamu tahu jawabannya?”
Rian menghela napas.
“Kamu terlalu membesar-besarkan masalah ini. Aku sudah bilang aku sedang sibuk.”
“Sibuk?”
Aku tertawa kecil, tetapi rasanya pahit.
“Kamu punya waktu untuk duduk minum teh bersama Nadia, tapi tidak punya waktu untuk menjemput ibuku yang sudah melakukan perjalanan 24 jam?”
Rian langsung berdiri.
“Jangan bawa Nadia lagi.”
“Kenapa? Karena kamu merasa bersalah?”
“Rina!”
Suara kerasnya membuatku terdiam.
Selama lima tahun, Rian tidak pernah membentakku.
Dan malam itu, aku melihat sisi dirinya yang belum pernah aku kenal.
“Aku capek selalu dicurigai. Nadia hanya teman kerja.”
Aku menatapnya.
“Teman kerja yang selalu lebih kamu prioritaskan daripada aku?”
Dia tidak menjawab.
Karena mungkin dia tahu aku benar.
Keesokan paginya, aku membawa ibu ke rumah sakit tempat Rian bekerja.
Awalnya aku masih berharap dia akan berubah ketika melihat kondisi ibu.
Aku berharap dia akan meminta maaf.

Aku berharap dia akan menunjukkan bahwa pria yang dulu dibantu ibuku masih ada.
Namun harapan itu kembali hancur.
Saat kami berada di ruang pemeriksaan, Rian datang dengan jas dokternya.
Dia tersenyum profesional.
“Bu, saya periksa dulu ya.”
Nada suaranya sopan.
Terlalu sopan.
Seperti berbicara dengan pasien biasa.
Bukan dengan seseorang yang pernah memasak untuknya ketika dia tinggal di rumah kami saat kuliah.
Bukan dengan seseorang yang membantunya membeli buku kedokteran ketika ibunya tidak punya uang.
Ibu hanya tersenyum.
“Iya, Nak.”
Aku melihat tangan ibu menggenggam ujung bajunya sendiri.
Dia masih berusaha menjaga perasaan Rian.
Bahkan setelah disakiti.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter lain memberi tahu bahwa kondisi ibu membutuhkan terapi rutin dan kemungkinan operasi kecil.
Aku langsung melihat Rian.
“Bagaimana menurut kamu?”
Rian melihat hasil pemeriksaan.
“Kita lihat dulu. Jangan terlalu panik.”
Aku mengerutkan kening.
“Kita?”
Dia terdiam.
“Aku maksudnya dokter yang menangani.”
Kalimat itu membuat hatiku terasa kosong.
Bahkan dia sudah tidak mau mengatakan bahwa dia bagian dari keluarga kami.
Hari itu, aku mulai mengurus semuanya sendiri.
Mulai dari jadwal pemeriksaan ibu, biaya tambahan, hingga tempat tinggal sementara selama ibu berada di Jakarta.
Dan semakin aku menjalani semuanya, semakin aku sadar bahwa aku tidak bisa lagi menggantungkan hidupku pada seseorang yang bahkan tidak menghargai orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Beberapa hari kemudian, aku menerima telepon dari Profesor Ahmad.
Beliau adalah kepala penelitian pertanian yang dulu pernah menawarkan aku bergabung dalam proyek besar di daerah terpencil.
“Rina, apakah kamu masih mempertimbangkan tawaran kami?”
Aku diam cukup lama.
Dulu aku menolak karena Rian tidak ingin kami menjalani hubungan jarak jauh.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
“Saya siap, Profesor.”
“Benarkah? Proyek ini membutuhkan waktu tiga tahun.”
“Saya tahu.”
“Dan lokasinya jauh dari Jakarta.”
Aku melihat ibu yang sedang duduk di teras apartemen sambil membaca buku kecilnya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tenang dengan keputusan itu.
“Saya justru membutuhkan tempat yang jauh.”
Setelah menerima tawaran itu, aku mulai membereskan banyak hal.
Termasuk hubunganku dengan Rian.
Ketika aku mengatakan bahwa aku akan pergi, dia terlihat terkejut.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Tiga tahun, Rina.”
“Aku tahu.”
“Kita akan menikah sebulan lagi.”
Aku tersenyum kecil.
“Dulu aku juga berpikir begitu.”
Rian menatapku.
“Apa maksudmu?”
Aku mengambil napas panjang.
“Maksudku, aku dulu percaya menikah denganmu adalah tujuan hidupku. Tapi sekarang aku sadar, aku hampir kehilangan diriku sendiri hanya untuk mempertahankan seseorang yang tidak pernah benar-benar melihatku.”
Wajahnya berubah.
“Jadi kamu membatalkan pernikahan kita hanya karena kejadian dengan ibumu?”
Aku menggeleng.
“Bukan hanya karena itu.”
Aku menatap matanya.
“Itu hanya kejadian yang membuka mataku.”
Untuk pertama kalinya, Rian terlihat takut kehilangan aku.
Dia mulai mencoba memperbaiki semuanya.
Dia datang ke rumahku membawa makanan untuk ibu.
Dia meminta maaf.
Bahkan dia mengaku bahwa selama ini dia terlalu nyaman karena merasa aku akan selalu memaafkannya.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dia kembalikan.
Kepercayaan.
Suatu malam sebelum keberangkatanku, ibu memanggilku.
“Rina.”
“Iya, Bu?”
“Ibu minta maaf.”
Aku terkejut.
“Untuk apa?”
“Ibu merasa gara-gara Ibu, hubungan kamu jadi rusak.”
Aku langsung menggenggam tangannya.
“Jangan pernah bilang begitu, Bu.”
Air mata ibu jatuh.
“Ibu cuma tidak ingin kamu kehilangan orang yang kamu cintai.”
Aku tersenyum sedih.
“Bu, orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan membuat kita memilih antara cinta dan harga diri.”
Ibu diam.
Lalu dia memelukku.
Hari keberangkatanku tiba.
Aku meninggalkan Jakarta dan memulai kehidupan baru bersama tim penelitian di daerah terpencil.
Awalnya tidak mudah.
Aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, dan kehidupan yang jauh dari kemewahan kota.
Tetapi perlahan aku menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.
Ketenangan.
Aku kembali menikmati pekerjaanku.
Aku kembali menjadi diriku sendiri.
Tiga tahun berlalu.
Suatu sore, setelah selesai melakukan penelitian di sebuah desa, aku mendapat undangan menghadiri seminar kesehatan.
Pembicaranya adalah seorang dokter terkenal dari Jakarta.
Namanya Rian.
Aku sempat terdiam ketika melihat namanya.
Namun aku memutuskan untuk datang.
Di atas panggung, Rian terlihat berbeda.
Lebih dewasa.
Lebih tenang.
Setelah acara selesai, dia menghampiriku.
“Rina.”
Aku tersenyum kecil.
“Hai, Rian.”
Kami berdiri dalam diam beberapa saat.
“Aku dengar penelitianmu berhasil. Kamu mendapatkan penghargaan nasional.”
“Iya.”
“Aku bangga padamu.”
Aku mengangguk.
“Dulu aku pikir aku kehilangan kamu karena kamu pergi.”
Dia tersenyum pahit.
“Ternyata aku kehilangan kamu jauh sebelum itu. Saat aku mulai menganggap keberadaanmu sebagai sesuatu yang pasti.”
Aku tidak menjawab.
Karena memang ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan lagi.
Sebelum pergi, Rian menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Apa ini?”
“Surat dari ibuku.”
Aku terkejut.
“Ibumu?”
Dia mengangguk.
“Beliau ingin meminta maaf.”
Aku membuka surat itu.
Isinya singkat.
Ibu Rian menulis bahwa beliau baru mengetahui apa yang terjadi hari itu setelah semuanya terlambat. Beliau juga menulis bahwa selama ini beliau selalu menganggap ibuku sebagai orang yang berjasa besar dalam kehidupan Rian.
Di akhir surat, ada satu kalimat yang membuat mataku berkaca-kaca.
“Orang yang pernah menolong kita saat tidak punya apa-apa adalah orang yang seharusnya paling kita hormati ketika kita sudah memiliki segalanya.”
Aku menutup surat itu perlahan.
Saat itu aku sadar.
Kadang hidup tidak mengambil seseorang dari kita.
Hidup hanya menunjukkan siapa yang benar-benar pantas tinggal.
Aku tidak kehilangan masa depanku ketika meninggalkan Rian.
Aku justru menemukan kembali diriku sendiri.
Dan ternyata, keputusan yang paling menyakitkan dalam hidupku adalah keputusan yang menyelamatkanku.
