Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menikah dengan Rendy, saya berbaring di sampingnya sambil berpura-pura tertidur, padahal pikiran saya dipenuhi ribuan pertanyaan.
Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini saya anggap sebagai keluarga sendiri tega menghancurkan impian terbesar saya?
Saya, Hanna, bukan perempuan yang mudah menyerah. Sejak kecil, ayah saya selalu mengajarkan satu hal: jangan pernah membalas kejahatan dengan kebencian, tetapi jangan juga membiarkan orang lain menginjak harga diri kita.
Dan malam itu, saya tahu waktunya sudah tiba.
Saya harus mencari kebenaran.
Keesokan paginya, saya bangun seperti biasa. Saya membuatkan kopi untuk Rendy, menyiapkan sarapan, bahkan tersenyum ketika dia keluar dari kamar.
“Hanna, kamu kelihatan lebih ceria hari ini,” kata Rendy sambil mengambil cangkir kopinya.
Saya tersenyum kecil.
“Mungkin karena semalam tidur saya nyenyak.”
Padahal sepanjang malam saya hampir tidak memejamkan mata.
Rendy menatap saya sebentar. Ada rasa bersalah yang samar di matanya, tetapi hanya sesaat. Setelah itu dia kembali menjadi suami yang saya kenal selama ini, suami yang pandai berpura-pura.
Saya mulai menyadari bahwa orang yang paling menyakiti kita sering kali bukan orang asing. Mereka adalah orang yang mengetahui kelemahan kita, mengetahui impian kita, dan mengetahui bagaimana cara menghancurkan kita tanpa terlihat bersalah.
Siang itu, saya bertemu dengan Arman, detektif swasta yang sudah bekerja untuk keluarga saya sejak ayah masih hidup.
“Bu Hanna, saya sudah menerima pesan Anda. Tapi saya perlu tahu, apa yang sebenarnya terjadi?”
Saya menarik napas panjang sebelum menceritakan semuanya.
Arman mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Setelah selesai, wajahnya berubah serius.
“Kalau benar ada zat tertentu dalam jamu yang menghambat kesuburan, kita harus mencari bukti medis. Kita tidak bisa hanya mengandalkan dugaan.”
“Saya tahu,” jawab saya. “Saya tidak ingin hanya menghancurkan mereka. Saya ingin mereka tidak bisa berbohong lagi.”
Arman mengangguk.
“Itu keputusan yang tepat.”
Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Saya duduk diam ketika dokter menyerahkan laporan tersebut.
“Hanna, kami menemukan kandungan ekstrak tertentu yang jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang bisa mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.”
Jantung saya seperti berhenti berdetak.
“Apakah itu bisa menyebabkan seseorang sulit hamil?”
Dokter menghela napas.
“Dalam beberapa kasus, ya. Terutama jika dikonsumsi rutin selama bertahun-tahun.”
Saya menggenggam kertas itu erat-erat.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun saya meminum racun itu dengan tangan saya sendiri.
Saya teringat semua malam ketika Ibu Hani tersenyum sambil berkata bahwa dia hanya ingin membantu saya mendapatkan anak.
Ternyata setiap senyum itu adalah kebohongan.
Namun penyelidikan belum selesai.
Arman juga menemukan informasi tentang Mita.
Wanita itu ternyata bukan orang asing.
Dia adalah mantan karyawan perusahaan keluarga saya yang pernah bekerja sebagai asisten pribadi Rendy.
Mereka sudah menjalin hubungan selama hampir satu tahun.
Yang lebih mengejutkan, Mita tinggal di sebuah apartemen mewah yang biaya sewanya dibayar dari rekening perusahaan.
Rekening yang seharusnya berada di bawah pengawasan saya sebagai pemegang saham utama.
Saya merasa tubuh saya lemas ketika melihat foto-foto yang diberikan Arman.
Di salah satu foto, Rendy terlihat sedang memegang perut Mita dengan senyum bahagia.
Senyum yang dulu hanya saya lihat ketika dia berbicara tentang masa depan kami.
“Hanna, masih ada satu hal lagi,” kata Arman pelan.

“Apa?”
“Rendy bukan hanya menggunakan uang perusahaan untuk membiayai Mita. Kami menemukan beberapa dokumen transfer yang menunjukkan dia sedang mencoba memindahkan sebagian aset perusahaan ke nama orang lain.”
Saya terdiam.
Jadi bukan hanya perselingkuhan.
Bukan hanya soal anak.
Mereka ingin mengambil semua yang ditinggalkan ayah saya.
Ayah saya membangun perusahaan itu dari nol. Sebelum meninggal, beliau menyerahkan sebagian besar saham kepada saya karena percaya bahwa saya mampu menjaganya.
Dan sekarang suami saya sendiri ingin mengambil semuanya.
Malam itu, saya pulang ke rumah dengan hati yang sudah berbeda.
Saya tidak lagi melihat Rendy sebagai suami yang saya cintai.
Saya melihatnya sebagai seseorang yang sudah memilih menjadi musuh saya.
Namun saya tetap berpura-pura tidak tahu.
Saya tetap tersenyum.
Saya tetap memainkan peran sebagai Hanna yang polos.
Karena terkadang, cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah membiarkan mereka percaya bahwa mereka sudah menang.
Beberapa hari kemudian, Ibu Hani kembali datang membawa jamu.
“Hanna, ibu buatkan lagi. Kamu jangan malas minum ya. Kalau ingin punya anak, harus sabar.”
Saya menerima cangkir itu.
“Terima kasih, Bu.”
Namun kali ini, saya menatap matanya lebih lama.
Ada rasa takut kecil yang muncul di wajahnya.
Mungkin dia mulai merasakan sesuatu.
Malam itu, saya membuka lemari dan menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah saya lihat.
Sebuah kotak kecil tersembunyi di bagian belakang rak.
Saya membukanya perlahan.
Di dalamnya ada beberapa botol kecil tanpa label.
Jantung saya berdebar.
Saya mengambil foto semua botol itu dan mengirimkannya kepada Arman.
Beberapa menit kemudian, pesan balasan masuk.
“Hanna, jangan sentuh apa pun lagi. Saya akan datang besok pagi. Ada sesuatu yang harus Anda lihat.”
Keesokan harinya, Arman datang membawa sebuah map besar.
“Hanna, saya menemukan hubungan antara klinik herbal itu dan keluarga Rendy.”
Saya membuka map tersebut.
Di dalamnya ada dokumen kerja sama.
Nama pemilik klinik itu membuat tangan saya gemetar.
Ibu Hani.
Bukan hanya pelanggan.
Bukan hanya seseorang yang membeli jamu.
Dia adalah pemilik klinik herbal tersebut.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Arman mengeluarkan satu foto lama.
“Ini ditemukan di arsip klinik.”
Saya mengambil foto itu.
Di dalam foto tersebut ada ayah saya.
Berdiri bersama Ibu Hani.
Saya menatap foto itu dengan bingung.
“Apa maksudnya?”
Arman menatap saya serius.
“Kami menemukan bahwa sebelum menikah dengan Rendy, Ibu Hani sudah mengenal ayah Anda.”
Dunia saya terasa berhenti.
“Tidak mungkin.”
“Ada lebih banyak lagi. Ayah Anda pernah menolak kerja sama bisnis dengan keluarga mereka karena menemukan adanya manipulasi keuangan.”
Saya menatap foto itu tanpa berkedip.
Selama ini saya berpikir semua masalah dimulai setelah saya menikah dengan Rendy.
Ternyata jauh sebelum itu, keluarga mereka sudah memiliki rencana.
Mereka mendekati saya bukan karena cinta.
Mereka mendekati saya karena warisan.
Malam berikutnya, saya akhirnya memutuskan untuk menghadapi mereka.
Saya sengaja mengundang Rendy dan Ibu Hani makan malam.
Mereka datang dengan wajah bahagia.
Mungkin mereka mengira saya masih perempuan yang mudah dibohongi.
Saya meletakkan sebuah amplop di atas meja.
“Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan.”
Rendy tersenyum.
“Apa itu?”
Saya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan hasil laboratorium jamu.
Wajah Ibu Hani langsung berubah.
Ruangan mendadak sunyi.
“Lalu ini,” kata saya sambil meletakkan foto Rendy dan Mita.
Wajah Rendy pucat.
“Hanna, aku bisa menjelaskan…”
Saya mengangkat tangan.
“Tidak perlu.”
Suara saya tenang.
“Karena saya sudah mendengar semuanya malam itu.”
Rendy membeku.
Ibu Hani berdiri dari kursinya.
“Kamu mendengar?”
Saya tersenyum tipis.
“Iya. Saya mendengar bagaimana kalian merencanakan hidup saya tanpa meminta izin.”
Tidak ada lagi alasan.
Tidak ada lagi kebohongan.
Namun ketika saya pikir semuanya sudah selesai, Rendy tiba-tiba tertawa kecil.
Tawa yang membuat bulu kuduk saya berdiri.
“Kamu pikir kamu menang, Hanna?”
Saya menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Rendy mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.
“Saya sudah memikirkan kemungkinan ini.”
Dia meletakkan dokumen itu di meja.
“Surat perjanjian pernikahan.”
Saya membacanya cepat.
Isinya menyatakan bahwa jika terjadi perceraian karena saya dianggap tidak mampu memberikan keturunan, sebagian aset yang diberikan keluarga Rendy dapat ditarik kembali.
Saya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena akhirnya saya melihat wajah asli mereka sepenuhnya.
“Kalian benar-benar mengira saya tidak akan mempersiapkan diri?”
Saya mengeluarkan dokumen lain.
Dokumen perubahan struktur saham perusahaan.
“Sejak ayah meninggal, semua aset saya sudah dilindungi oleh tim hukum keluarga. Bahkan jika saya bercerai, tidak satu rupiah pun bisa kalian ambil.”
Wajah Rendy berubah.
Untuk pertama kalinya, dia terlihat takut.
Namun kejutan terakhir datang dari Arman.
Dia masuk ke ruang makan membawa seorang wanita.
Mita.
Semua orang terdiam.
Mita menunduk dengan mata berkaca-kaca.
“Saya ingin mengatakan yang sebenarnya, Hanna.”
Saya menatapnya.
“Saya awalnya memang ikut rencana mereka. Tapi saya baru tahu bahwa mereka juga berencana meninggalkan saya setelah anak ini lahir.”
Rendy langsung berdiri.
“Mita, jangan bicara sembarangan.”
Namun Mita mengeluarkan ponselnya.
Ada rekaman percakapan.
Rekaman suara Rendy dan Ibu Hani yang membicarakan rencana mereka.
Semua kebohongan mereka akhirnya terbuka.
Beberapa bulan kemudian, kasus itu masuk ke ranah hukum. Klinik herbal milik Ibu Hani diperiksa, dan ditemukan banyak pelanggaran terkait produk yang mereka jual.
Rendy juga harus mempertanggungjawabkan penyalahgunaan dana perusahaan.
Saya tidak mengatakan bahwa proses itu mudah.
Ada malam-malam ketika saya masih menangis mengingat bahwa orang yang saya cintai ternyata adalah orang yang menghancurkan saya.
Tetapi saya belajar satu hal.
Kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintai kita bukanlah akhir dari hidup.
Kadang-kadang, kebenaran datang dengan cara yang menyakitkan.
Namun kebenaran juga menjadi pintu pertama menuju kebebasan.
Setahun setelah semua kejadian itu, saya akhirnya mendapatkan kabar yang tidak pernah saya sangka.
Dokter mengatakan kondisi tubuh saya mulai pulih.
Efek dari jamu berbahaya itu perlahan hilang.
Dan beberapa bulan kemudian, saya melihat dua garis merah di alat tes kehamilan.
Saya menangis.
Bukan hanya karena saya akan menjadi seorang ibu.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, saya tahu bahwa kebahagiaan saya tidak lagi berada di tangan orang lain.
Saya membesarkan anak saya nanti dengan satu pesan yang selalu saya ingat dari ayah.
Jangan pernah biarkan seseorang mengambil hakmu untuk menentukan masa depanmu sendiri.
