SUAMI MEMBATALKAN LIBURAN DEMI ANAK HASIL PERSELINGKUHAN! IBU DATANG KE HOTEL BINTANG 5, MEMBONGKAR PENGKHIANATAN DAN MEMPERMALUKAN DIREKSI PERUSAHAAN!

Aku menarik napas panjang sambil menggenggam kartu otorisasi khusus di dalam tas. Selama bertahun-tahun aku memilih diam. Aku membiarkan Hendra menikmati pujian, membiarkan orang-orang menganggap dia adalah sosok paling berkuasa di PT Semesta Raya.

Aku melakukan itu bukan karena aku lemah.

Aku hanya ingin menjaga rumah tangga kami.

Tetapi hari itu, di hadapan putriku yang baru saja dipermalukan oleh ayah kandungnya sendiri, semua batas kesabaranku telah habis.

Aku menatap layar ponselku.

Ada satu pesan masuk dari sekretaris pribadiku.

“Bu, apakah benar kita akan mengaktifkan audit darurat hari ini?”

Aku tidak langsung menjawab. Mataku masih tertuju pada Hendra yang berdiri beberapa meter di depanku.

Pria yang selama tujuh tahun kupanggil suami.

Pria yang setiap malam berkata bahwa dia lelah bekerja demi keluarga.

Pria yang selalu memiliki alasan ketika tidak bisa hadir dalam momen penting Viya.

Ternyata selama ini dia bukan bekerja.

Dia sedang membangun keluarga lain.

“Hendra,” kataku dengan suara tenang.

Semua orang di lobi mulai memperhatikan kami.

“Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Katakan kepada semua orang di sini siapa Viya.”

Wajah Hendra semakin tegang.

“Maya, jangan buat keributan di tempat umum. Kamu salah paham.”

Aku tersenyum kecil.

“Salah paham?”

Aku menunjuk layar LED besar di belakangnya.

“Anak itu berulang tahun setiap tahun di hotel ini. Kamu menyewa seluruh lobi. Kamu mengundang banyak orang penting. Kamu membawa wanita lain dan memperkenalkan anak laki-laki itu sebagai putramu.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa tamu yang tadi memandangku dengan sinis mulai saling berbisik.

Mita mulai terlihat gelisah.

“Hendra, siapa sebenarnya dia?” tanyanya dengan suara pelan.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah Hendra.

Namun bukan karena dia kehilangan aku.

Dia takut kehilangan citranya.

Hendra menarik napas.

“Mita, jangan dengarkan dia. Dia hanya istri yang sedang marah dan mencoba menghancurkan hidup kita.”

Kata-kata itu membuat dadaku terasa sesak.

Bukan karena sakit hati.

Melainkan karena aku akhirnya melihat wajah asli seseorang yang selama ini aku cintai.

Viya masih berada dalam pelukanku. Tubuh kecilnya bergetar.

“Ibu, kenapa Ayah bilang Viya bukan anaknya?”

Pertanyaan polos itu menghancurkan hatiku.

Aku berlutut dan mengusap rambutnya.

“Sayang, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Aku berdiri kembali.

“Hendra, kamu boleh berbohong kepadaku. Tapi kamu tidak berhak membuat anakmu merasa tidak diinginkan.”

Tiba-tiba seorang pria tua keluar dari area restoran hotel.

Dia adalah Pak Arman, salah satu anggota dewan komisaris PT Semesta Raya yang kebetulan hadir sebagai tamu undangan.

Dia mengenalku.

Namun selama ini dia selalu menghormati keputusanku untuk berada di belakang layar.

“Maya?” katanya terkejut.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Hendra membeku.

“Pak Arman?”

Pak Arman berjalan mendekat.

Dia melihat Viya yang menangis, lalu melihat Hendra.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Hendra buru-buru mendekati Pak Arman.

“Pak, ini hanya masalah keluarga. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Pak Arman mengerutkan dahi.

“Lalu kenapa ada seorang anak kecil yang menangis karena ayahnya menyangkal dirinya?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku kemudian membuka ponselku.

“Aku rasa sudah waktunya semua orang tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan PT Semesta Raya.”

Aku menekan satu tombol.

Beberapa detik kemudian, layar besar di lobi hotel berubah.

Bukan lagi menampilkan ucapan ulang tahun Kevin.

Melainkan sebuah dokumen digital.

“Keputusan rapat pemegang saham PT Semesta Raya.”

Semua orang terpaku.

Di layar itu tertulis jelas namaku sebagai pemegang saham mayoritas dan Komisaris Utama.

Suara bisikan langsung memenuhi lobi.

“Jadi selama ini…”

“Direktur Utama bukan pemilik sebenarnya?”

“Maya adalah orang yang mengendalikan perusahaan?”

Wajah Mita berubah pucat.

Dia menatapku dengan mata membesar.

“Tidak mungkin…”

Aku menatapnya.

“Kamu benar. Aku mengenalmu bukan hanya sebagai pemilik CV Bintang Abadi.”

Aku berhenti sebentar.

“Aku juga mengenal semua kontrak yang diberikan perusahaanmu.”

Mita mulai gelisah.

“Maksudmu apa?”

Aku membuka dokumen lain.

“Selama tiga tahun terakhir, CV Bintang Abadi menjadi vendor terbesar PT Semesta Raya. Tetapi setelah audit internal dilakukan, ditemukan banyak kejanggalan.”

Wajah Hendra langsung berubah.

“Maya, jangan lakukan ini.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku tidak melakukan apa pun, Hendra. Aku hanya membuka apa yang selama ini kamu sembunyikan.”

Pak Arman menerima tablet dari asistennya.

Dia membaca laporan tersebut.

Beberapa menit kemudian wajahnya berubah serius.

“Ini benar?”

Aku mengangguk.

“Ada transaksi yang tidak wajar. Harga pengadaan dinaikkan berkali-kali lipat. Ada aliran dana ke rekening pribadi.”

Suasana lobi menjadi sunyi.

Mita mundur beberapa langkah.

“Itu bohong! Hendra yang mengurus semua kerja sama!”

Aku menoleh kepada Hendra.

Dan akhirnya aku melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah kulihat.

Ketakutan.

“Hendra,” ucapku perlahan.

“Kamu menggunakan posisi direktur untuk memperkaya keluarga rahasiamu?”

Dia tidak menjawab.

Karena semua orang sudah mengetahui jawabannya.

Pak Arman kemudian berbicara dengan suara tegas.

“Mulai hari ini, dewan direksi akan melakukan investigasi penuh. Semua akses keuangan akan dibekukan sementara.”

Hendra langsung panik.

“Pak, jangan! Saya bisa menjelaskan!”

“Tidak perlu,” jawab Pak Arman dingin.

“Karena bukti sudah berbicara.”

Aku berdiri diam.

Aneh.

Aku pikir ketika kebenaran terbongkar, aku akan merasa puas.

Tetapi yang kurasakan justru kosong.

Karena di tengah semua orang yang mengetahui pengkhianatan Hendra, ada satu orang kecil yang paling terluka.

Viya.

Aku membawa Viya keluar dari lobi.

Dia menggenggam tanganku erat.

“Ibu…”

“Iya, sayang?”

“Apakah Ayah masih sayang sama Viya?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua kebohongan Hendra.

Aku memeluknya.

“Ayahmu mungkin membuat keputusan yang salah. Tapi itu tidak pernah mengurangi nilai kamu.”

“Mama sayang sekali sama Viya.”

Malam itu, setelah kembali ke kamar hotel, aku duduk di samping tempat tidur Viya sampai dia tertidur.

Aku membuka ponsel.

Ada satu pesan terakhir dari Hendra.

“Maya, aku kehilangan semuanya karena kamu.”

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu aku membalas.

“Bukan karena aku, Hendra. Kamu kehilangan semuanya karena kamu memilih kebohongan daripada keluarga.”

Beberapa bulan kemudian, PT Semesta Raya mengalami perubahan besar.

Hendra mengundurkan diri dari jabatannya setelah hasil investigasi resmi keluar.

Mita kehilangan kontraknya dan harus menghadapi proses hukum terkait penyalahgunaan kerja sama perusahaan.

Tetapi aku tidak pernah merayakan kehancuran mereka.

Karena aku tahu, kehancuran terbesar seseorang bukan ketika kehilangan uang atau jabatan.

Melainkan ketika dia menyadari bahwa semua yang dia bangun dengan kebohongan akhirnya runtuh.

Aku dan Viya memulai hidup baru.

Tidak selalu mudah.

Ada hari ketika Viya masih bertanya tentang ayahnya.

Ada malam ketika aku masih menangis diam-diam mengingat tujuh tahun pernikahanku yang ternyata penuh rahasia.

Namun aku belajar satu hal.

Kadang-kadang, seseorang harus kehilangan sesuatu yang mereka cintai agar bisa menemukan harga dirinya kembali.

Setahun setelah kejadian di hotel itu, Viya kembali merayakan ulang tahunnya.

Tidak ada lobi mewah.

Tidak ada layar LED besar.

Tidak ada tamu penting.

Hanya aku, Viya, beberapa sahabatnya, dan kue kecil dengan lilin angka delapan.

Saat meniup lilin, Viya tersenyum.

“Ibu, ulang tahun kali ini lebih bahagia.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena Ibu benar-benar bersama Viya.”

Aku memeluknya erat.

Saat itu aku sadar.

Aku memang kehilangan seorang suami.

Tetapi aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Diriku sendiri.

Dan seorang anak kecil yang mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak pernah membutuhkan kebohongan untuk bertahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang