KAKIKU PATAH, SUAMIKU MENELEPON 52 KALI MENUNTUT AKU MEMASAK UNTUK IBUNYA—SATU PANGGILAN KE PENGACAR MEMBUKA RAHASIA YANG BISA MERENGGUT PERNIKAHAN, RUMAH, DAN JABATANNYA DALAM SEKETIKA

Aku tidak pernah menyangka bahwa hari aku memutuskan meninggalkan Ardi akan menjadi hari ketika seluruh dunia yang dia bangun dengan kebohongan mulai runtuh.

Tiga hari setelah aku keluar dari rumah sakit, Maya datang menjemputku. Kakiku masih harus menggunakan penyangga, tetapi rasa sakit di tubuhku tidak sebanding dengan luka yang selama ini aku abaikan dalam pernikahanku.

Aku tinggal sementara di apartemen milik Siska.

Sepanjang perjalanan menuju sana, aku hanya diam melihat pemandangan Jakarta dari balik kaca mobil.

Tiga tahun aku menjadi istri Ardi.

Tiga tahun aku percaya bahwa mencintai seseorang berarti harus mengerti, mengalah, dan bersabar.

Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan duduk bersama pengacara untuk menyelamatkan diriku sendiri dari orang yang dulu berjanji akan melindungiku.

Maya membuka laptop di depanku.

—Rani, aku sudah memeriksa rekening bersama kalian.

Aku menatap layar.

—Berapa?

Maya menarik napas.

—Lebih dari yang kita kira.

Tanganku mengepal.

—Berapa, Maya?

—Dalam enam bulan terakhir, ada transfer bertahap hampir dua miliar rupiah ke beberapa rekening berbeda.

Aku terdiam.

Dua miliar.

Uang yang selama ini kukira digunakan untuk investasi keluarga.

Uang yang kukira disimpan untuk membeli rumah yang lebih besar.

—Atas nama siapa rekening itu?

Maya memutar layar laptop.

—Satu atas nama perusahaan konsultan kecil. Dua lainnya atas nama orang yang tidak memiliki hubungan jelas dengan kalian.

Aku membaca nama-nama itu.

Salah satunya terasa familiar.

—Tunggu.

Aku menunjuk layar.

—Nama ini.

Maya melihat.

—Kamu mengenalnya?

Aku mengangguk perlahan.

—Dia mantan staf Ardi.

Namanya Kevin.

Dulu dia sering datang ke rumah ketika Ardi masih menjabat sebagai kepala divisi sebelum menjadi direktur regional.

Aku masih ingat bagaimana Ardi selalu memperkenalkannya.

“Anak muda berbakat. Bisa dipercaya.”

Saat itu aku tidak pernah berpikir ada sesuatu yang aneh.

Maya menutup laptop.

—Rani, aku juga sudah mendapat laporan awal dari audit internal Grup Mahardika.

Aku menatapnya.

—Tentang Ardi?

Maya mengangguk.

—Ada dugaan manipulasi laporan keuangan di PT Sentra Digital Nusantara.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Perusahaan itu adalah anak perusahaan yang dipimpin Ardi.

Selama ini dia selalu pulang dengan wajah bangga.

“Aku membawa perusahaan ini naik.”

“Aku membuat angka penjualan meningkat.”

“Aku adalah orang kepercayaan direksi.”

Aku selalu tersenyum mendengarnya.

Aku bahkan pernah membuatkan makan malam kecil untuk merayakan promosinya.

Ternyata mungkin semua kebanggaan itu berdiri di atas sesuatu yang rapuh.

—Seberapa besar masalahnya?

Maya menatapku serius.

—Kalau dugaan ini benar, bukan hanya jabatannya yang hilang. Bisa masuk ranah hukum.

Aku memejamkan mata.

Ada bagian dari diriku yang masih ingin menyangkal.

Bagaimanapun juga, Ardi pernah menjadi orang yang membuatku merasa dicintai.

Aku masih ingat hari pertama kami bertemu.

Dia datang ke toko buku tempatku bekerja.

Dia membeli buku yang sama dua kali hanya agar bisa mengajakku berbicara.

Dia bilang aku perempuan paling tenang yang pernah dia temui.

Aku percaya.

Tapi ternyata seseorang bisa berubah.

Atau mungkin sejak awal aku hanya melihat sisi yang ingin dia tunjukkan.

Malam itu, Ardi menelepon.

Aku melihat namanya muncul di layar.

Dulu aku selalu mengangkat teleponnya dalam hitungan detik.

Sekarang aku membiarkannya berdering.

Sampai akhirnya sebuah pesan masuk.

“Rani, kita perlu bicara. Jangan buat masalah lebih besar.”

Aku membaca pesan itu.

Lalu pesan berikutnya.

“Aku sudah tahu kamu bekerja sama dengan pengacara.”

Pesan ketiga.

“Kamu jangan lupa siapa yang membayar semua kebutuhanmu selama ini.”

Aku tersenyum kecil.

Dulu kalimat itu mungkin akan membuatku menangis.

Sekarang justru membuatku sadar.

Ardi tidak pernah takut kehilangan aku.

Dia hanya takut kehilangan kendali.

Keesokan harinya, aku meminta Maya mengatur pertemuan.

Bukan di rumah.

Bukan di tempat pribadi.

Aku ingin semuanya jelas.

Kami bertemu di sebuah restoran kecil di Jakarta Selatan.

Ardi datang dengan pakaian rapi seperti biasa.

Jam mahal di tangannya.

Mobil mewah yang selalu dia banggakan terparkir di depan.

Dia duduk di depanku dengan senyum percaya diri.

—Jadi ini caramu melawan aku?

Aku menatapnya.

—Aku tidak melawanmu, Di. Aku hanya melindungi diriku.

Dia tertawa.

—Dari apa? Dari suamimu sendiri?

Aku diam.

Maya membuka map.

—Pak Ardi, sebelum pembicaraan perceraian dimulai, ada beberapa hal yang perlu kami klarifikasi.

Ardi melirik dokumen itu.

—Tentang aset?

—Tentang transaksi keuangan.

Senyumnya perlahan menghilang.

—Apa maksudnya?

Maya mendorong beberapa lembar dokumen.

—Transfer dari rekening bersama. Perusahaan fiktif. Rekening pihak ketiga.

Wajah Ardi berubah.

Hanya sedikit.

Tapi aku melihatnya.

Karena selama tiga tahun aku hidup bersamanya.

Aku tahu kapan dia sedang berpura-pura.

—Ini tuduhan serius.

—Kami tahu.

—Dan kalian tidak punya bukti.

Maya tersenyum tenang.

—Belum lengkap.

Ardi menyandarkan tubuhnya.

—Jadi kalian mencoba menakutiku?

Aku menatapnya.

—Aku tidak perlu menakutimu, Di.

—Lalu?

—Aku hanya ingin tahu kenapa kamu mengambil uang keluarga kita diam-diam.

Dia menatapku tajam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan di matanya.

—Kamu tidak mengerti bisnis.

Kalimat itu.

Kalimat yang sering dia gunakan.

Setiap kali aku bertanya.

Setiap kali aku mencoba memahami.

“Kamu tidak mengerti dunia kantor.”

“Kamu tidak mengerti tekanan menjadi direktur.”

“Kamu hanya bekerja dari rumah.”

Dulu aku merasa rendah diri.

Sekarang aku sadar.

Dia menggunakan kalimat itu untuk membuatku berhenti bertanya.

—Aku mungkin tidak mengerti semua bisnis, Di.

Aku menatap matanya.

—Tapi aku mengerti angka.

Dia terdiam.

Karena dia lupa satu hal.

Aku bukan hanya istrinya.

Aku adalah orang yang selama ini membantu membangun perusahaan tempat dia bekerja.

Ayahku mendirikan Grup Mahardika bersama dua rekannya puluhan tahun lalu.

Setelah ayahku meninggal, saham keluarga kami diwariskan kepadaku.

Aku tidak pernah memakai nama besar itu.

Aku memilih bekerja sendiri.

Aku tidak ingin orang mencintaiku karena kekayaan keluargaku.

Bahkan ketika menikah dengan Ardi, aku menyembunyikan statusku sebagai pemegang saham pengendali.

Aku ingin tahu apakah dia mencintaiku sebagai Rani.

Bukan sebagai pemilik saham.

Dan sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya.

Dua hari kemudian, berita besar muncul.

Dewan direksi Grup Mahardika mengumumkan audit resmi terhadap PT Sentra Digital Nusantara.

Nama Ardi mulai muncul dalam penyelidikan internal.

Orang-orang yang dulu memuji keberhasilannya mulai menjauh.

Teleponnya tidak berhenti berdering.

Tapi bukan lagi dari bawahannya yang meminta bantuan.

Melainkan dari orang-orang yang takut ikut terseret.

Bu Ratna datang menemuiku seminggu kemudian.

Berbeda dari biasanya.

Tidak ada nada merendahkan.

Tidak ada tatapan menghakimi.

Dia duduk di depanku dengan wajah lelah.

—Rani.

Aku diam.

—Ibu tidak tahu.

Aku menatapnya.

—Tidak tahu apa?

Dia menunduk.

—Tentang uang itu.

Aku tidak menjawab.

—Ibu pikir kamu hanya menantu yang tidak mau membantu keluarga.

Suaranya bergetar.

—Ibu salah.

Aku melihat perempuan tua di depanku.

Perempuan yang kehilangan suami.

Perempuan yang selama ini terlalu bergantung pada anaknya.

Tapi aku juga tidak bisa melupakan bagaimana dia memperlakukanku ketika aku terbaring kesakitan.

—Bu, saya bisa memahami kesedihan Ibu.

Aku berhenti sejenak.

—Tapi saya tidak bisa terus menjadi orang yang dikorbankan agar keluarga ini terlihat baik-baik saja.

Bu Ratna menangis pelan.

—Ardi sejak kecil selalu ingin terlihat hebat.

Aku diam.

—Ayahnya selalu bilang dia harus menjadi orang sukses. Harus dihormati. Mungkin dia terlalu takut menjadi gagal.

Aku melihat ke luar jendela.

Kadang seseorang melakukan kesalahan bukan karena tidak tahu benar dan salah.

Tetapi karena terlalu lama membiarkan ego menguasai dirinya.

Sebulan kemudian, perceraian kami resmi diproses.

Ardi kehilangan jabatannya.

Kasus internalnya masih berjalan.

Apartemen yang dulu dia klaim sebagai miliknya ternyata sebagian besar dibeli menggunakan dana perusahaan yang sedang dia manipulasi.

Mobilnya ditarik.

Kehidupan mewah yang selama ini menjadi kebanggaannya hilang dalam waktu singkat.

Suatu sore, aku menerima satu pesan terakhir darinya.

“Aku kehilangan semuanya karena kamu.”

Aku membaca lama.

Lalu aku membalas.

“Tidak, Di. Kamu kehilangan semuanya karena kamu lupa menghargai satu-satunya orang yang masih berdiri di sisimu.”

Setelah itu aku menghapus nomor Ardi.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali bekerja di Grup Mahardika.

Bukan untuk mengambil alih hidup orang lain.

Tapi untuk memperbaiki sesuatu yang hampir dihancurkan oleh keserakahan.

Suatu hari, saat menghadiri rapat direksi, aku melihat seorang pegawai muda membawa dokumen.

Namanya Kevin.

Orang yang dulu menjadi tangan kanan Ardi.

Dia berdiri di depan ruang rapat dengan wajah pucat.

—Bu Rani, saya ingin memberikan pengakuan.

Aku menatapnya.

—Tentang apa?

Dia menyerahkan sebuah amplop.

—Tentang semua yang terjadi.

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada bukti transfer, percakapan, dan satu surat.

Surat itu ditulis oleh Ardi.

Tapi bukan untukku.

Untuk seseorang yang selama ini tidak pernah aku duga.

Untuk ayahnya.

Isinya hanya satu kalimat.

“Aku gagal menjadi anak yang Ayah banggakan karena aku memilih terlihat sukses daripada menjadi orang yang benar.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, aku melihat bahwa di balik kesombongan Ardi ada seorang pria yang sebenarnya kalah oleh dirinya sendiri.

Aku tidak memaafkannya.

Belum.

Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.

Tapi aku akhirnya mengerti satu hal.

Kadang kehilangan seseorang bukanlah akhir dari hidup kita.

Kadang itu adalah cara hidup menyelamatkan kita dari orang yang perlahan menghancurkan kita.

Dan hari ketika kakiku patah, ternyata bukan hari aku jatuh.

Itulah hari pertama aku benar-benar berdiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang