Aku Baru Keguguran, Tapi Suamiku Tetap Melanjutkan “Summer Business Trip”-nya

Waktu seakan berhenti. Di tengah keriuhan bandara Mactan-Cebu, dunia di sekelilingku mendadak senyap. Hanya ada detak jantungku yang berpacu kencang, menabrak dinding dada, menuntut jawaban atas kebohongan yang baru saja tersingkap dengan sangat brutal.

Adrian mematung. Bocah laki-laki yang digendongnya—Nico—masih tertawa, tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja ia peluk adalah sebuah pengkhianatan bagi wanita yang berdiri tak jauh dari ayahnya.

Perempuan berbaju kuning itu mengikuti arah pandang Adrian. Saat matanya bertemu denganku, dia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia menatapku dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada kemarahan: tatapan kasihan.

“Adrian?” suara perempuan itu memecah kesunyian, lembut namun penuh penekanan.

Adrian menurunkan Nico perlahan. Kakinya gemetar hebat. Dia melangkah maju satu langkah, seolah ingin menghalangiku melihat lebih jauh, atau mungkin, ingin melarikan diri dari kenyataan.

“Mariel…” suaranya parau, hampir tak terdengar. “Aku… aku bisa jelaskan.”

Aku tidak membalas. Aku berjalan melewati mereka, langkahku kaku namun pasti. Aku berhenti tepat di depan perempuan itu. Dia tampak seumuran denganku, dengan aura keibuan yang tenang. Di lehernya, tergantung kalung dengan liontin kecil berbentuk huruf N.

“Berapa lama?” tanyaku. Suaraku tidak bergetar. Dingin.

Perempuan itu menunduk, lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Lima tahun,” jawabnya pelan.

Dunia seakan runtuh. Lima tahun.

Itu berarti, tepat setelah setahun kami menikah, Adrian sudah memiliki kehidupan lain di sini. Seluruh perjalanan “bisnis” itu, seluruh alasan tentang inspeksi real estate, bahkan restu ibu mertuaku dan dukungan rekan kerjanya… itu semua adalah panggung sandiwara yang ia susun dengan rapi.

“Mama, siapa tante ini?” tanya Nico kecil sambil menarik ujung baju perempuan itu.

Aku menatap bocah itu. Wajahnya adalah cetakan kecil dari wajah Adrian. “Nico Gabriel Villanueva,” gumamku getir. Nama yang ia janjikan untuk anak kami, ia berikan pada anak hasil perselingkuhannya.

“Mariel, ayo kita bicara di tempat lain,” Adrian mencoba meraih lenganku, tapi aku menepisnya dengan kasar.

“Bicara?” aku tertawa sinis, air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku. “Apa lagi yang mau dibicarakan, Adrian? Bahwa selama enam tahun ini, aku adalah istri sah yang menjadi selingan di sela-sela jadwal ‘bisnis’ suamiku sendiri?”

Aku menatap perempuan itu sekali lagi. “Dan kamu. Kamu tahu aku ada? Kamu tahu dia punya istri di Quezon City?”

Perempuan itu menggigit bibirnya, lalu menatap Adrian dengan kekecewaan yang mendalam. “Dia bilang… dia bilang dia akan menceraikanmu saat Nico lahir. Dia bilang rumah tangga kalian sudah hancur sejak lama. Dia bilang dia hanya terjebak karena kasihan padamu.”

Terjebak.

Kata itu menghantam ulu hatiku. Jadi, penderitaan yang kurasakan saat keguguran, kerinduanku padanya saat ia pergi, semua itu di matanya hanyalah sebuah jebakan yang menyedihkan?

Adrian mencoba mendekat lagi, kali ini dengan keputusasaan yang nyata. “Mariel, dengarkan aku. Aku mencintaimu. Tapi Nico… dia darah dagingku. Aku tidak bisa membiarkannya tumbuh tanpa ayah.”

“Lalu aku?” teriakku, mengundang perhatian orang-orang di terminal kedatangan. “Aku baru saja kehilangan anak kita! Aku membutuhkanmu di saat paling rapuh dalam hidupku, tapi kamu di sini, memainkan peran sebagai ayah sempurna bagi anak orang lain!”

Aku menarik napas panjang, mencoba memungut sisa harga diriku yang terserak di lantai bandara. Aku mengeluarkan cincin kawin dari jari manisku, lalu melemparkannya ke lantai di depan kaki Adrian.

“Selamat atas ‘summer business trip’-mu, Adrian. Nikmati proyekmu di sini.”

Aku berbalik, mengabaikan panggilannya yang memekikkan namaku. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, atau bagaimana aku akan pulang ke Quezon City dengan membawa hancurnya hatiku. Yang aku tahu, musim panas kali ini adalah akhir dari segalanya.

Aku melangkah keluar bandara, meninggalkan mereka bertiga di bawah langit Cebu yang entah kenapa terasa jauh lebih kelam dari biasanya. Aku tidak menangis lagi. Rasa sakit itu sudah terlalu dalam, hingga yang tersisa hanyalah kekosongan yang mematikan.

Mulai detik ini, aku tidak punya suami. Aku tidak punya masa depan yang direncanakan. Aku hanya punya diriku sendiri, dan itu harus cukup.

Apakah menurutmu Mariel harus langsung kembali ke Quezon City dan mengurus perceraian, atau dia harus tinggal di Cebu beberapa hari untuk membalas perbuatan Adrian dengan cara yang lebih tak terduga?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang