Suamiku Memohon Cerai Saat Tahu Aku Hamil, Lalu Sahabat dan Orang Tuaku Ikut Ketakutan Setengah Mati

Dimas membenturkan dahinya ke lantai sekali lagi.

“Intan, aku mohon. Cerai denganku.”

Aku menatap laki-laki yang selama lima tahun terakhir tidur di sampingku, makan di meja yang sama denganku, dan selalu menggenggam tanganku setiap kali aku sakit. Dalam kehidupan sebelumnya, pemandangan ini membuatku menangis dan memohon penjelasan.

Kali ini tidak.

Aku berjongkok di depannya.

“Baik.”

Dimas mengangkat kepala dengan cepat.

Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyaris lucu.

“Apa?”

“Aku akan menceraikanmu.”

Kelegaan langsung muncul di matanya.

Namun sebelum dia sempat berdiri, aku melanjutkan.

“Tapi aku punya satu syarat.”

Wajah Dimas kembali menegang.

“Katakan.”

“Jelaskan kenapa kamu takut pada anak ini.”

Bibirnya bergetar.

“Aku tidak takut.”

“Jangan bohong.”

Aku mengambil test pack dari tangannya.

“Kalau kamu hanya tidak menginginkan anak, kamu bisa menyuruhku menggugurkannya. Kalau kamu punya perempuan lain, kamu tidak perlu meninggalkan seluruh hartamu. Tapi kamu bahkan rela pergi hanya dengan pakaian di badan.”

Aku mendekatkan wajahku.

“Kamu bukan ingin bercerai, Mas.”

“Kamu ingin melarikan diri.”

Dimas membeku.

Aku tahu tebakanku benar.

Beberapa detik kemudian, dia berdiri dan mengambil kemejanya.

“Aku akan menghubungi pengacara besok.”

“Dimas.”

Tangannya berhenti di gagang pintu.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Itu gertakan.

Tapi berhasil.

Bahu Dimas langsung menegang.

Dia menoleh perlahan.

“Tahu apa?”

Aku menatap matanya.

“Tentang kehamilan sebelumnya.”

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Dimas tidak menjawab. Dia hanya keluar dari kamar dan malam itu tidur di ruang kerja.

Aku tidak mengejarnya.

Keesokan paginya, aku pura-pura pergi bekerja seperti biasa. Namun setelah Dimas meninggalkan rumah, aku mengikutinya.

Dia tidak pergi ke rumah sakit.

Mobilnya berhenti di sebuah rumah tua di pinggiran Bogor.

Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun membukakan pintu. Aku mengenalnya sebagai Bu Ratih, senior Dimas yang dulu mengajarinya pengobatan tradisional.

Aku menunggu hampir satu jam.

Ketika Dimas keluar, wajahnya semakin buruk.

Setelah mobilnya pergi, aku mengetuk pintu.

Bu Ratih menatapku lama.

Begitu matanya turun ke perutku, ekspresinya berubah.

“Kamu Intan?”

Aku mengangguk.

Tangannya langsung mencengkeram pintu.

“Pulang.”

“Bu, saya cuma ingin bertanya.”

“Pulang!”

Dia hampir menutup pintu, tetapi aku menahannya.

“Kenapa semua orang takut saat tahu saya hamil?”

Wajah Bu Ratih membeku.

Aku sengaja menambahkan satu kalimat.

“Dimas sudah menceritakan semuanya.”

Perempuan itu terdiam.

Lagi-lagi gertakanku berhasil.

Dia memejamkan mata dan berbisik, “Saya sudah bilang kepada Dimas, rahasia seperti ini tidak mungkin dikubur selamanya.”

Jantungku berdegup keras.

“Rahasia apa?”

Bu Ratih membuka mata.

“Kamu pernah hamil sebelumnya.”

Dunia seolah berhenti.

“Apa?”

“Empat tahun lalu.”

Aku hampir tertawa karena terdengar mustahil.

“Aku tidak pernah hamil.”

“Kamu pernah.”

Bu Ratih mempersilahkanku masuk.

Empat tahun lalu, aku memang pernah dirawat selama hampir dua minggu. Yang kuingat hanyalah demam tinggi setelah kecelakaan kecil saat perjalanan bersama Dimas. Setelah sembuh, ingatanku tentang beberapa hari sebelum dirawat memang kabur.

Selama ini aku menganggapnya efek obat.

Ternyata bukan.

Bu Ratih mengeluarkan sebuah map.

Di dalamnya ada fotokopi hasil pemeriksaan rumah sakit.

Namaku tercetak jelas.

Usia kehamilan delapan minggu.

Tanganku mulai gemetar.

“Di mana anakku?”

Bu Ratih tidak menjawab.

“DI MANA ANAKKU?”

“Tidak ada anak.”

Suara lain terdengar dari belakang.

Aku menoleh.

Dimas berdiri di ambang pintu.

Entah sejak kapan dia kembali.

Matanya merah.

“Aku tahu kamu akan mengikuti aku.”

Dia berjalan masuk perlahan.

Empat tahun lalu, setelah mengetahui aku hamil, Dimas sangat bahagia. Namun beberapa hari kemudian aku mengalami pendarahan hebat.

Dokter mengatakan kehamilanku tidak bisa dipertahankan.

Masalahnya, aku mengalami komplikasi dan kehilangan banyak darah. Kondisiku kritis.

Dimas panik.

Dalam keadaan itu, orang tuaku datang ke rumah sakit bersama sahabatku, Maya.

Dan mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepadaku.

“Apa?”

Dimas menunduk.

“Mereka memalsukan persetujuan tindakan medis.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku tiba-tiba teringat kehidupan sebelumnya.

Maya menjatuhkan gelas ketika tahu aku hamil.

Ayah dan Ibu meracuniku.

Semua kepingan itu perlahan menyatu.

“Rahimku?”

Dimas menggeleng cepat.

“Bukan.”

Dia menarik napas.

“Ginjalmu.”

Aku tidak mengerti.

Dimas akhirnya menceritakan semuanya.

Saat itu Ayah mengalami gagal ginjal berat. Kondisinya memburuk dan belum mendapatkan donor yang cocok.

Ketika aku berada dalam kondisi tidak sadar setelah keguguran, pemeriksaan menunjukkan bahwa aku cocok sebagai donor.

Ibuku putus asa.

Maya, sahabatku yang saat itu bekerja sebagai staf administrasi rumah sakit, membantu memalsukan beberapa dokumen.

Mereka mengambil satu ginjalku.

Untuk Ayah.

Aku merasa seluruh tubuhku mati rasa.

“Tidak mungkin.”

“Kamu bisa memeriksa bekas lukanya.”

Aku spontan menyentuh sisi pinggangku.

Ada bekas operasi kecil yang selama ini kukira berasal dari tindakan akibat kecelakaan.

Aku memandang Dimas.

“Kamu tahu?”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu setelah operasinya selesai.”

“Dan kamu diam selama empat tahun?”

“Ayahmu mengancam akan melaporkan Maya dan beberapa tenaga medis. Ibumu bilang kalau kamu tahu, keluargamu akan hancur. Saat itu kondisi mentalmu juga sangat buruk setelah keguguran. Dokter bahkan bilang jangan memberimu tekanan berat.”

Aku menamparnya.

Suara tamparan itu menggema.

“Kamu pengecut.”

Dimas tidak membela diri.

“Ya.”

“Lalu apa hubungannya dengan kehamilanku sekarang?”

Dimas menutup wajahnya.

Bu Ratih yang menjawab.

“Karena setelah operasi itu, ditemukan masalah lain.”

Aku menoleh kepadanya.

“Ginjalmu yang tersisa mengalami kelainan pembuluh darah bawaan. Selama tidak hamil, kondisinya bisa dikontrol. Tapi kehamilan meningkatkan beban kerja ginjal secara drastis.”

Aku terdiam.

“Dokter dulu memperingatkan bahwa kehamilan berikutnya bisa sangat berisiko.”

Dimas menangis.

“Aku menyembunyikan laporan itu.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kenapa?”

“Karena aku takut kamu tahu tentang ginjalmu.”

Aku akhirnya mengerti.

Di kehidupan sebelumnya, Dimas memeriksa nadiku, menyadari aku hamil, lalu ketakutan.

Bukan karena bayi itu.

Karena dia tahu kehamilan bisa membongkar rahasia empat tahun lalu.

Tapi masih ada sesuatu yang tidak masuk akal.

“Maya?”

Dimas mengangguk.

“Dia membantu memalsukan dokumen donor.”

“Orang tuaku?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Namun satu pertanyaan terakhir membuat darahku dingin.

“Kenapa mereka membunuhku?”

Dimas memandangku bingung.

“Membunuhmu?”

Aku tidak bisa menjelaskan kehidupan sebelumnya.

Aku hanya berkata, “Kalau aku mengetahui semuanya, apa yang paling mereka takutkan?”

Bu Ratih menjawab pelan.

“Penjara.”

Malam itu aku tidak pulang.

Aku menyewa kamar hotel dan mulai mengumpulkan bukti.

Kali ini aku tidak menemui Maya secara langsung.

Aku mengirim satu pesan.

“Aku sudah tahu apa yang kalian lakukan empat tahun lalu.”

Tidak sampai lima menit, Maya menelepon.

Aku tidak mengangkatnya.

Pesan masuk bertubi-tubi.

Intan, kita harus bicara.

Aku bisa jelaskan.

Aku cuma membantu ibumu.

Aku tidak tahu mereka akan mengambil ginjalmu tanpa izin.

Kalimat terakhir membuatku tersenyum pahit.

Aku menyimpan semuanya.

Kemudian aku menelepon pengacara.

Dua hari kemudian, aku pulang ke rumah orang tuaku.

Ibu memelukku seperti kehidupan sebelumnya.

“Ya Allah, Nak. Kenapa wajahmu pucat?”

Ayah keluar dari kamar.

“Kamu bertengkar sama Dimas?”

Aku duduk di sofa.

“Aku hamil.”

Gelas di tangan Ayah jatuh.

Persis seperti yang kuduga.

Ibu membeku.

Kemudian dia memaksakan senyum.

“Alhamdulillah.”

Aku hampir ingin tertawa.

Malam itu aku berpura-pura tidur.

Sekitar pukul sebelas, pintu kamarku terbuka.

Aku sudah menyalakan kamera tersembunyi.

Ibu masuk membawa segelas air.

“Minum dulu, Nak.”

Adegan yang sama.

Gelas yang sama.

Tangannya bahkan gemetar dengan cara yang sama.

Aku menerimanya.

“Ini apa, Bu?”

“Air putih.”

Aku mencium aromanya.

Tidak ada bau aneh.

Namun aku tidak meminumnya.

Aku meletakkan gelas di meja.

Ibu menatapnya.

“Minumlah.”

“Aku tidak haus.”

“Minum.”

Nada suaranya berubah.

Ayah muncul di pintu.

Saat itu aku berdiri.

“Kenapa harus diminum?”

Wajah Ibu pucat.

“Supaya kamu bisa tidur.”

“Atau supaya aku tidak pernah bangun lagi?”

Ibu menjatuhkan pandangannya.

Aku mengambil gelas dan menuangkan isinya ke lantai.

Butiran biru kecil tertinggal di dasar gelas.

Racun tikus.

Ayah langsung berbalik hendak pergi.

Pintu depan terbuka.

Dua polisi masuk bersama pengacaraku dan Dimas.

Ibu menjerit.

Ayah membeku.

Aku sudah memberikan bukti awal mengenai pengambilan organ ilegal kepada polisi. Pesan Maya, dokumen medis, dan kesaksian Bu Ratih cukup untuk membuka penyelidikan.

Namun aku membutuhkan satu bukti lagi.

Aku ingin memastikan apakah mereka benar-benar akan mencoba membunuhku.

Ternyata kehidupan kedua tidak mengubah pilihan mereka.

Ibu jatuh berlutut.

“Intan, dengarkan Ibu.”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku.

“Kenapa?”

Dia menangis.

“Waktu itu Ayahmu akan mati.”

“Jadi kalian mengambil ginjalku?”

“Kamu punya dua!”

Aku terpaku.

Kalimat itu keluar begitu mudah dari mulutnya.

“Kamu masih bisa hidup dengan satu ginjal,” lanjutnya. “Ayahmu cuma punya satu kesempatan.”

“Dan sekarang?”

Ibu menatap perutku.

Air matanya mengalir.

“Kalau kamu hamil, kamu pasti periksa ke rumah sakit. Kamu akan tahu semuanya. Ayahmu bisa dipenjara. Ibu bisa dipenjara. Maya juga.”

Aku tertawa kecil.

Rasanya lebih menyakitkan daripada menangis.

“Jadi nyawaku boleh diambil dua kali supaya kalian tidak masuk penjara?”

Ibu tidak mampu menjawab.

Ayah justru berteriak.

“Kami membesarkanmu sampai dewasa! Apa salahnya satu ginjal untuk membalas orang tua?”

Aku menatapnya lama.

Anehnya, pada saat itu seluruh kebencianku justru menghilang.

Yang tersisa hanya kehampaan.

“Kalau Ayah meminta, mungkin dulu aku akan memberikannya.”

Ayah terdiam.

“Tapi kalian tidak pernah meminta.”

Polisi membawa mereka pergi malam itu.

Maya menyerahkan diri tiga hari kemudian. Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa bukan hanya tanda tanganku yang dipalsukan. Sejumlah catatan medis juga sengaja diubah agar operasi tersebut terlihat sebagai tindakan darurat akibat komplikasi.

Dimas memberikan seluruh dokumen yang selama bertahun-tahun disembunyikannya.

Dia juga mengakui keterlibatannya dalam menutupi kejadian itu.

Sebelum pergi menjalani pemeriksaan, dia menemuiku.

“Aku tidak akan meminta kamu memaafkan aku.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Dia tersenyum pahit.

“Cerai kita tetap lanjut?”

“Ya.”

Matanya berkaca-kaca, tetapi kali ini dia tidak berlutut.

“Jaga dirimu.”

Aku menyentuh perutku.

“Aku akan melakukannya.”

Beberapa minggu kemudian aku menjalani pemeriksaan lengkap di rumah sakit berbeda.

Aku sudah mempersiapkan diri mendengar kemungkinan terburuk.

Dokter spesialis ginjal memeriksa seluruh hasil tes berkali-kali.

Kemudian dia mengernyit.

“Siapa yang bilang Anda tidak boleh hamil?”

Aku terdiam.

“Suami saya.”

Dokter memutar layar ke arahku.

“Memang Anda hanya memiliki satu ginjal. Tapi fungsi ginjal Anda saat ini baik. Ada kelainan pembuluh darah ringan, tetapi tidak seperti yang tertulis di laporan lama ini.”

Aku menatapnya.

“Apa maksud Dokter?”

“Laporan lama ini tidak sesuai dengan kondisi anatomis Anda.”

Jantungku berhenti sesaat.

Penyelidikan berikutnya membuka rahasia terakhir.

Laporan tentang kehamilan yang pasti membahayakan nyawaku ternyata juga dipalsukan.

Bukan oleh orang tuaku.

Oleh Dimas.

Empat tahun lalu, setelah mengetahui ginjalku diambil tanpa izin, Dimas diliputi rasa bersalah. Dia takut aku mengetahui semuanya jika suatu hari hamil dan menjalani pemeriksaan lengkap.

Maka dia mengubah satu laporan medis.

Dia menciptakan alasan agar jika aku hamil, dia bisa memaksaku menjauh darinya sebelum rahasia itu terbongkar.

Namun dia tidak pernah menduga aku benar-benar akan hamil.

Dan ketika hari itu tiba, kebohongan yang dia bangun sendiri berubah menjadi ketakutan yang menghancurkannya.

Aku duduk lama di depan rumah sakit setelah mengetahui semuanya.

Orang tuaku takut kehilangan kebebasan.

Maya takut kehilangan masa depan.

Dimas takut kehilangan cintaku.

Mereka semua mengatakan tindakan mereka dilakukan karena takut kehilangan sesuatu.

Namun pada akhirnya, ketakutan mereka justru membuat mereka kehilangan semuanya.

Tujuh bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Kehamilanku diawasi ketat dan tidak selalu mudah, tetapi kami berdua selamat.

Aku memberinya nama Kirana.

Cahaya.

Pada malam pertama setelah pulang dari rumah sakit, aku menggendongnya di dekat jendela apartemen baruku.

Jari kecilnya menggenggam telunjukku erat.

Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kehidupan kedua, aku tidak memikirkan Dimas, Maya, Ayah, atau Ibu.

Aku hanya memandang anakku.

Dulu aku mengira aku kembali hidup untuk mencari tahu kenapa semua orang ingin meninggalkanku.

Ternyata bukan itu alasannya.

Aku kembali agar akhirnya memahami satu hal.

Keluarga bukanlah orang yang berhak mengambil bagian dari tubuhmu hanya karena mereka pernah membesarkanmu.

Cinta bukanlah alasan untuk menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan seseorang.

Dan rasa takut tidak pernah membenarkan pengkhianatan.

Kirana bergerak kecil dalam pelukanku.

Aku mencium keningnya.

Di kehidupan pertamaku, kehamilan ini membawaku menuju kematian.

Di kehidupan kedua, anak yang sama justru membawaku keluar dari kebohongan yang telah mengurungku selama bertahun-tahun.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut lagi pada apa yang akan terjadi besok.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang