“Maaf, Bu Laras… ruangan ini sekarang milik Bu Celine.”
Aku berhenti tepat di ambang pintu.
Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak memahami kalimat itu.
“Bu Celine siapa?”

Sekretaris baru itu menelan ludah. Tatapannya bergerak ke arah ruangan yang dulu menjadi tempatku bekerja hampir tujuh tahun.
“Direktur Keuangan yang baru.”
Darahku seperti turun ke kaki.
“Direktur Keuangan?”
“Iya, Bu. Beliau diangkat tiga bulan lalu.”
Tiga bulan lalu.
Tepat ketika aku masih terbaring di rumah dengan kaki digips, sementara ibu mertuaku datang setiap malam membawa sup dan berkata bahwa semua urusan kantor baik-baik saja.
Aku mendorong pintu.
Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun duduk di kursiku. Rambutnya tergerai rapi, laptopku sudah tidak ada, dan foto pernikahanku dengan Arga yang dulu berdiri di sudut meja telah diganti dengan vas bunga.
Perempuan itu bangkit.
“Bu Laras?”
“Kamu Celine?”
Dia mengangguk.
Aku menatap papan kecil di mejanya.
Celine Wijaya.
Direktur Keuangan.
“Aku tidak pernah menyetujui pengangkatan direktur baru.”
Wajahnya langsung berubah.
“Saya pikir Pak Arga sudah menjelaskan.”
“Menjelaskan apa?”
Belum sempat dia menjawab, suara Arga terdengar dari belakang.
“Laras?”
Aku berbalik.
Suamiku berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya pucat.
Di sebelahnya berdiri ibu mertuaku.
Perempuan yang selama tiga bulan terakhir menyuapiku makan kini menatapku tanpa senyum.
“Ibu juga di sini?” tanyaku.
Ibu mertuaku mendekat.
“Kenapa kamu datang tanpa bilang? Kakimu belum benar-benar pulih.”
Aku hampir tertawa.
“Kalau aku bilang dulu, kalian punya waktu untuk mengganti papan nama ini?”
Arga menarik lenganku.
“Kita bicara di ruanganku.”
Aku melepaskan tangannya.
“Tidak. Bicara di sini.”
Beberapa karyawan mulai memperhatikan.
Arga menurunkan suara.
“Celine cuma membantu sementara.”
“Kalau sementara, kenapa jabatannya Direktur Keuangan?”
Ibu mertuaku tiba-tiba menyela.
“Karena perusahaan tidak bisa berhenti hanya karena kamu sakit.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi cara beliau mengatakannya membuatku sadar ada sesuatu yang telah berubah.
“Bu, saya pemegang empat puluh persen saham perusahaan ini.”
“Dulu,” jawabnya.
Aku menatapnya.
“Apa?”
Arga langsung memotong.
“Ibu, cukup.”
Namun ibu mertuaku justru menatapku tanpa berkedip.
“Pulanglah. Nanti Arga jelaskan.”
Hari itu aku pulang dengan tangan gemetar.
Malamnya, Arga akhirnya menunjukkan dokumen yang membuat dunia di sekelilingku seperti runtuh.
Selama aku dirawat, struktur kepemilikan perusahaan telah berubah.
Sebagian sahamku dialihkan.
Tanda tanganku tercantum di sana.
Aku menatap halaman demi halaman.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Arga mengusap wajahnya.
“Kamu tanda tangan waktu masih minum obat.”
“Kapan?”
“Di rumah.”
Aku mengingat beberapa minggu pertama setelah operasi. Obat penghilang rasa sakit membuatku sering mengantuk.
Ada beberapa dokumen yang memang pernah dibawa Arga.
Katanya untuk pembayaran supplier, pajak, dan perpanjangan kontrak gudang.
Aku menandatangani beberapa lembar karena percaya padanya.
Namun aku tidak pernah menyerahkan sahamku.
“Sekarang sahamku berapa?”
Arga diam.
“Jawab.”
“Lima belas persen.”
Aku menatapnya.
Dari empat puluh menjadi lima belas.
“Dua puluh lima persen pergi ke siapa?”
Arga tidak menjawab.
Aku sudah tahu.
“Ibumu?”
Dia mengangguk.
Dadaku sesak.
Yang lebih menyakitkan bukan kehilangan saham.
Melainkan membayangkan perempuan yang mengganti perbanku setiap malam ternyata mungkin sudah mengetahui semua ini.
Keesokan paginya aku mendatangi rumah ibu mertuaku.
Beliau sedang menyiram tanaman.
“Aku mau sahamku kembali.”
Beliau mematikan selang.
“Masuk dulu.”
“Tidak perlu.”
Wajahnya tetap tenang.
“Perusahaan itu tidak aman kalau terlalu banyak berada di tanganmu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Perusahaan itu kubangun bersama Arga.”
“Kamu terlalu emosional.”
“Jadi Ibu mengambil saham saya ketika saya tidak bisa berjalan?”
Beliau mendekat.
“Ibu menyelamatkan perusahaan keluarga.”
“Keluarga siapa?”
Untuk pertama kalinya, wajahnya mengeras.
“Keluarga anak saya.”
Saat itulah aku mengerti.
Selama ini beliau tidak pernah benar-benar menganggapku anak.
Aku hanyalah perempuan yang berguna untuk membantu putranya membangun sesuatu.
Aku pulang tanpa menangis.
Aku membuka laptop lama dan mulai memeriksa salinan laporan keuangan yang tersimpan di penyimpanan awan pribadiku.
Aku mengenal angka perusahaan itu seperti mengenal garis telapak tanganku sendiri.
Malam pertama tidak kutemukan apa pun.
Malam kedua juga.
Pada malam ketiga, aku menemukan transaksi yang membuatku duduk tegak.
Transfer senilai 480 juta rupiah ke sebuah perusahaan bernama PT Mahardika Konsultan.
Aku tidak mengenalnya.
Aku mencari transaksi lain.
Ada lagi 350 juta.
Lalu 620 juta.
Totalnya lebih dari empat miliar rupiah dalam delapan bulan.
Aku memeriksa alamat perusahaan tersebut.
Sebuah kantor virtual di Jakarta Selatan.
Nama komisarisnya membuat tengkukku dingin.
Celine Wijaya.
Aku langsung menelepon Arga.
“Siapa Celine sebenarnya?”
Hening.
“Sudah malam, Laras.”
“Empat miliar lebih uang perusahaan masuk ke perusahaan miliknya.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Dia datang satu jam kemudian.
Aku melemparkan hasil cetak transaksi ke meja.
“Apa kamu tidur dengannya?”
Arga terdiam.
Jawabannya sudah jelas.
Aku menutup mata.
Aneh sekali. Setelah semua yang terjadi, perselingkuhan justru bukan hal yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah ketika Arga berkata,
“Ibu yang mengenalkan aku pada Celine.”
Aku membuka mata.
“Apa?”
“Ibu kenal keluarganya.”
“Sejak kapan?”
“Sekitar setahun.”
Setahun.
Jauh sebelum kecelakaanku.
Potongan-potongan kejadian mulai menyatu.
Ibu mertuaku tidak hanya mengetahui perselingkuhan itu.
Beliau membuka pintunya.
Membawa Celine masuk ke lingkaran keluarga.
Kemudian ketika aku mengalami kecelakaan, mereka mengambil kesempatan untuk menyingkirkanku dari perusahaan.
“Kenapa?”
Arga menunduk.
“Ibu merasa Celine lebih cocok mendampingiku dalam bisnis.”
Aku tertawa kecil.
Air mataku akhirnya jatuh.
“Enam tahun pacaran. Tujuh tahun membangun perusahaan. Dan ibumu memutuskan aku tidak cocok hanya dalam beberapa bulan?”
“Laras…”
“Keluar.”
“Aku salah.”
“Keluar dari rumahku.”
Arga menatapku.
“Rumah ini atas namaku.”
Kalimat itu membuatku membeku.
Dia benar.
Aku terlalu percaya.
Rumah atas namanya.
Sebagian besar aset perusahaan atas nama badan usaha.
Sahamku sudah dipangkas.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa benar-benar tidak punya tempat berdiri.
Namun mereka melakukan satu kesalahan.
Mereka lupa siapa yang membangun sistem keuangan perusahaan itu.
Aku.
Selama tiga minggu berikutnya, aku diam.
Aku tidak menghubungi Arga.
Tidak mendatangi kantor.
Tidak melabrak Celine.
Ibu mertuaku mungkin mengira aku sudah menyerah.
Sampai suatu sore beliau datang membawa sebuah map.
“Ini surat perceraian.”
Aku membukanya.
“Akhirnya.”
Beliau tampak terkejut melihat ketenanganku.
“Kalau kamu tanda tangan tanpa memperpanjang masalah, Ibu akan memastikan kamu mendapat satu apartemen dan dua miliar.”
Aku tersenyum.
“Murah sekali.”
“Laras, jangan serakah.”
Aku menatap perempuan di depanku.
“Saya tidak sedang bicara soal uang.”
“Lalu?”
“Saya sedang menghitung harga sebuah pengkhianatan.”
Beliau berdiri.
“Kamu jangan mengancam Ibu.”
“Saya tidak mengancam.”
Aku menutup map itu.
“Sampaikan kepada Arga, saya akan datang ke rapat pemegang saham hari Senin.”
Senin pagi, aku masuk ke ruang rapat menggunakan tongkat.
Arga duduk di ujung meja.
Celine berada di sebelahnya.
Ibu mertuaku duduk dengan wajah tenang.
Pengacara perusahaan hadir.
Begitu aku masuk, Arga berkata,
“Laras, ini rapat internal.”
“Aku masih punya lima belas persen saham. Ingat?”
Aku duduk.
Kemudian seorang pria masuk di belakangku.
Namanya Dimas Prasetyo, auditor forensik yang selama dua minggu terakhir membantuku.
Wajah Arga berubah.
“Apa maksudnya?”
Aku meletakkan sebuah flashdisk di meja.
“Empat miliar tiga ratus dua puluh juta rupiah dialihkan ke PT Mahardika Konsultan. Ada invoice untuk konsultasi logistik, riset pasar, dan restrukturisasi distribusi.”
Celine menyela.
“Semua pekerjaan itu ada.”
“Benarkah?”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu jelaskan kenapa salah satu invoice tertanggal 17 Februari untuk survei gudang Surabaya, sementara berdasarkan data imigrasi kamu sedang berada di Singapura sejak tanggal 15 sampai 20.”
Wajahnya memucat.
Aku melanjutkan.
“Dan ada masalah yang lebih besar.”
Dimas membagikan beberapa dokumen.
“Sebagian tanda tangan Bu Laras pada dokumen pengalihan saham diduga bukan tanda tangan asli,” katanya.
Ibu mertuaku langsung berdiri.
“Fitnah!”
Aku menatapnya.
“Tenang, Bu. Saya belum selesai.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu memutar sebuah rekaman.
Suara ibu mertuaku terdengar jelas.
“Kalau Laras sudah keluar dari perusahaan, saham itu nanti kita bagi. Yang penting dia tanda tangan dulu waktu masih minum obat.”
Ruangan membeku.
Wajah ibu mertuaku kehilangan warna.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Aku menatap Arga.
Anehnya, Arga juga terlihat terkejut.
Rekaman itu bukan berasal darinya.
Bukan pula dari Celine.
“Dari Pak Hadi.”
Pak Hadi adalah sopir keluarga ibu mertuaku selama sebelas tahun.
Beliau mendengar percakapan itu ketika mengantar ibu mertuaku dan Celine.
Diam-diam ia merekamnya karena merasa ada sesuatu yang tidak benar.
“Tapi kenapa dia memberikannya kepadamu?” tanya Arga.
Aku menarik napas.
“Karena dua bulan sebelum kecelakaanku, Pak Hadi melihat seseorang memeriksa mobilku di garasi rumah Ibu.”
Wajah ibu mertuaku berubah.
Aku merasa jantungku berhenti sesaat saat pertama kali mendengar informasi itu beberapa hari sebelumnya.
Kecelakaanku terjadi karena rem mobil gagal bekerja ketika aku menuruni jalan menuju kawasan Puncak.
Polisi saat itu menyimpulkan ada kerusakan pada sistem pengereman.
Aku mengira itu kecelakaan biasa.
Ternyata Pak Hadi pernah melihat seorang mekanik langganan keluarga berada di dekat mobilku malam sebelumnya.
Atas permintaanku, Dimas melacak pembayaran kepada mekanik tersebut.
Transfernya berasal dari rekening pribadi Celine.
Celine berdiri mendadak.
“Bukan aku!”
Semua mata tertuju padanya.
“Ibu yang menyuruh!”
Ibu mertuaku menampar meja.
“Jangan sembarangan bicara!”
Celine mulai menangis.
“Ibu bilang cuma mau membuat Laras tidak bisa datang ke kantor beberapa minggu. Ibu bilang remnya hanya akan dibuat bermasalah supaya mobil tidak bisa dipakai!”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Bahkan Arga terlihat seperti kehilangan napas.
“Ibu?” suaranya bergetar.
Ibu mertuaku terduduk.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu terlihat tua.
“Aku cuma ingin kamu lepas dari dia,” katanya kepada Arga.
“Kenapa?”
“Karena perusahaan itu seharusnya milik keluarga kita.”
Arga menatap ibunya dengan mata merah.
“Laras istriku. Dia keluarga.”
Ibu mertuaku menggeleng.
“Dia akan selalu menjadi orang luar.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diri Arga.
Namun bagiku, justru kalimat itulah yang membebaskanku.
Aku akhirnya memahami bahwa tidak ada kesetiaan yang bisa kubeli dengan pengorbanan.
Tidak ada kerja keras yang bisa membuat seseorang menganggap kita keluarga jika sejak awal mereka hanya melihat kita sebagai alat.
Kasus itu kemudian masuk ke jalur hukum.
Pengalihan sahamku dibatalkan setelah pemeriksaan membuktikan adanya manipulasi dokumen.
Transaksi ke PT Mahardika dibekukan dan diaudit.
Celine akhirnya bekerja sama dengan penyidik.
Arga mengakui perselingkuhannya dan menyerahkan bukti-bukti yang ia miliki.
Aku tetap menceraikannya.
Banyak orang bertanya kenapa aku tidak memberinya kesempatan kedua setelah dia berbalik melawan ibunya.
Jawabanku sederhana.
Karena menyesal setelah semuanya terbongkar tidak sama dengan memilihku ketika aku masih sendirian.
Setahun kemudian, aku menjual seluruh sahamku.
Bukan kepada Arga.
Bukan kepada keluarganya.
Aku menjualnya kepada investor dan menggunakan uang itu untuk membangun perusahaan baru.
Kali ini namaku tercantum jelas dalam setiap dokumen.
Pada hari pembukaan kantor baru, aku menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat kunci mobil tua.
Mobil pertama yang dulu kupakai bersama Arga mengantar kardus-kardus makanan dari toko ke toko.
Ada secarik kertas.
Tulisan tangan Arga.
“Aku menemukan mobil ini di gudang lama. Seharusnya sejak dulu aku sadar siapa yang benar-benar membangun semuanya.”
Aku memegang kunci itu cukup lama.
Kemudian aku meletakkannya di dalam laci.
Aku tidak meneleponnya.
Tidak membalas suratnya.
Aku berjalan keluar menuju ruang utama kantor.
Di sana, belasan karyawan sedang menungguku untuk pertemuan pertama.
Di dinding terpampang nama perusahaan baruku.
Seorang staf muda bertanya,
“Bu Laras, kita mulai?”
Aku tersenyum.
“Mulai.”
Dulu aku mengira pengkhianatan ibu mertuaku menghancurkan hidupku.
Ternyata aku salah.
Dia memang mengambil rumahku, pernikahanku, pekerjaanku, bahkan hampir mengambil nyawaku.
Tetapi tanpa sengaja, dia juga mengambil satu hal yang selama bertahun-tahun membuatku lemah.
Kepercayaanku yang buta.
Dan setelah kehilangan itu, untuk pertama kalinya aku belajar membangun hidup yang tidak bisa lagi direbut siapa pun hanya karena aku terlalu mencintai dan terlalu percaya.
