Kalau kamu nekat pulang ke Indonesia, kita cerai saja, Mas! Anak kita masih butuh biaya besar!

Aku sama sekali tidak tahu bahwa malam itu, ketika Sintia dan Tegar tertawa sambil membicarakan bagaimana mereka akan terus memeras tenagaku sampai tua, aku sebenarnya sudah berada di Indonesia.

Pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta menjelang subuh.

Aku berdiri cukup lama di dekat pintu keluar terminal, membawa satu koper hitam dan sebuah ransel kecil. Tidak ada yang menjemput. Tidak ada pelukan. Tidak ada anak yang berlari memanggilku Ayah.

Anehnya, justru untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun aku merasa bisa bernapas dengan tenang.

Seminggu sebelumnya, Sintia memang sudah mentransfer tiga ratus juta rupiah ke rekeningku. Sesuai permintaanku.

Aku berpura-pura sangat lega.

Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali dan berkata uang itu akan kupakai untuk mengurus perpindahan kerja.

Padahal tiket pulang sudah kubeli jauh sebelum uang itu masuk.

Sejak beberapa bulan terakhir, ada terlalu banyak hal yang terasa janggal.

Sintia semakin sering menolak video call.

Setiap kali aku meminta bicara dengan Aldin, dia selalu punya alasan.

Aldin sedang les.

Aldin tidur.

Aldin pergi bersama nenek.

Aldin tidak enak badan.

Yang lebih aneh, Sintia selalu melarangku mengirim paket langsung ke rumah.

Katanya pengiriman internasional sering bermasalah.

Aku mulai curiga ketika salah satu teman lamaku dari kampung, Arif, tiba-tiba menghubungiku lewat media sosial.

Awalnya dia hanya bertanya sederhana.

“Ini benar Vano?”

Aku menjawab sambil tertawa.

“Ya iyalah. Emang siapa?”

Balasannya baru datang hampir lima menit kemudian.

“Van, kalau ini benar kamu, berarti selama ini kami semua dibohongi.”

Darahku langsung terasa dingin.

Aku menelepon Arif malam itu juga.

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya mengubah hidupku.

“Di kampung, kamu sudah dianggap meninggal sepuluh tahun lalu.”

Kupikir dia bercanda.

Ternyata tidak.

Sintia pernah datang ke kampung bersama ibunya sambil menangis histeris. Dia mengatakan aku mengalami kecelakaan kerja di Korea dan tidak selamat.

Bahkan ada acara doa bersama.

Namaku dimasukkan ke daftar keluarga yang sudah meninggal.

Foto lamaku dipajang.

Semua orang percaya karena Sintia membawa beberapa dokumen fotokopi berbahasa Korea yang tak seorang pun benar-benar pahami.

Setelah itu hubungan Sintia dengan keluarga besarku perlahan putus.

Katanya dia ingin pindah dan memulai hidup baru bersama anak kami.

Dua tahun kemudian, kabarnya dia menikah lagi.

Dengan seorang pria bernama Tegar.

Sejak malam itu aku tidak pernah tidur nyenyak.

Aku mulai mengumpulkan semuanya.

Bukti transfer.

Percakapan.

Rekaman video call.

Foto sertifikat rumah yang pernah Sintia kirim tanpa sengaja.

Aku juga meminta seorang kenalan di Indonesia mengecek beberapa aset.

Hasilnya membuatku hampir muntah.

Rumah yang kubeli memakai uang lemburku sudah beralih atas nama Sintia.

Tanah yang katanya disimpan untuk masa depan Aldin juga atas nama Sintia.

Mobil yang kukira dipakai mengantar anak sekolah ternyata sebuah SUV mewah.

Dan yang paling menghancurkan bukan semua itu.

Aku menemukan foto keluarga Sintia yang diunggah di akun media sosial salah satu kerabatnya.

Sintia berdiri di samping Tegar.

Di depan mereka ada Aldin.

Mereka bertiga mengenakan pakaian senada.

Keterangan fotonya berbunyi, keluarga kecil kami.

Tidak ada namaku.

Seolah aku memang sudah mati.

Aku menutup semuanya tanpa mengatakan sepatah kata kepada Sintia.

Aku ingin pulang.

Bukan untuk marah.

Bukan untuk memukul siapa pun.

Aku ingin melihat dengan mataku sendiri.

Dan sekarang aku berdiri di depan rumah mewah dua lantai yang selama ini hanya kulihat lewat foto.

Pagi baru saja datang.

Aku tidak mengetuk pintu.

Aku menyewa sebuah kamar di penginapan kecil tidak jauh dari sana.

Selama tiga hari, aku mengamati.

Setiap pagi Tegar keluar rumah memakai pakaianku.

Aku mengenali jaket kulit cokelat itu.

Aku membelinya di Seoul tiga tahun lalu dan mengirimkannya untuk Aldin ketika dia besar nanti.

Sintia mungkin memberikannya kepada Tegar.

Setiap sore Sintia pergi ke kafe atau salon.

Aldin dijemput sopir sekolah.

Kehidupan mereka terlihat sangat nyaman.

Aku seperti sedang menonton orang asing menikmati hidup yang kubangun dengan kedua tanganku sendiri.

Namun hari keempat membawa kejutan lebih besar.

Aku mengikuti Aldin setelah dia pulang sekolah.

Dia turun di sebuah minimarket bersama dua temannya.

Saat dia berjalan sendirian menuju gang dekat rumah, aku memberanikan diri mendekat.

“Aldin?”

Anak itu berhenti.

Dia menatapku tanpa mengenaliku.

Jantungku seperti diremas.

Aku tersenyum meski bibirku gemetar.

“Kamu Aldin, kan?”

“Iya. Om siapa?”

Om.

Satu kata itu lebih sakit daripada apa pun.

Aku menelan ludah.

“Om teman mamamu dulu.”

Dia mengangguk biasa saja.

Aku melihat wajahnya lekat-lekat.

Selama bertahun-tahun aku percaya wajah itu mirip Sintia.

Sekarang, entah karena pikiranku sudah dipenuhi kecurigaan atau karena aku baru benar-benar memperhatikan, bentuk rahang Aldin justru sangat mirip Tegar.

Aku bertanya pelan.

“Ayahmu namanya siapa?”

Aldin mengernyit.

“Pak Tegar.”

Dadaku sesak.

“Kalau Vano?”

Wajah Aldin berubah bingung.

“Siapa?”

Aku tidak sanggup melanjutkan.

Aku hanya memberinya uang untuk membeli minuman dan meminta dia pulang.

Malam itu aku menangis untuk pertama kalinya sejak ibuku meninggal.

Bukan karena kehilangan uang.

Karena aku sadar selama dua belas tahun aku hidup untuk seorang anak yang bahkan tidak tahu siapa aku.

Namun rasa sakit ternyata belum selesai.

Dua hari kemudian aku menemui Arif dan meminta bantuannya mencari tahu kapan Sintia mengenal Tegar.

Jawabannya menghancurkan sisa keraguan.

Mereka sudah dekat bahkan sebelum aku berangkat ke Korea.

Aku langsung melakukan tes DNA secara diam-diam menggunakan sampel yang bisa kukumpulkan dari barang bekas minuman Aldin.

Beberapa minggu kemudian hasilnya keluar.

Probabilitas hubungan biologis sebagai ayah adalah nol persen.

Aku duduk hampir satu jam memandangi kertas itu.

Aneh.

Aku tidak berteriak.

Aku justru merasa tenang.

Sangat tenang.

Seolah sesuatu di dalam diriku akhirnya mati.

Sejak hari itu aku berhenti menjadi lelaki yang menunggu penjelasan.

Aku mulai bekerja.

Aku menemui pengacara.

Membuka seluruh riwayat transfer selama dua belas tahun.

Mengumpulkan bukti percakapan Sintia yang menyatakan uang dikirim untuk membeli rumah atas namaku, tabungan pendidikan Aldin, dan investasi keluarga.

Aku juga menyimpan rekaman video call terakhir ketika Sintia menyuruhku tetap bekerja di luar negeri.

Kemudian aku melakukan sesuatu yang bahkan Tegar tidak pernah pikirkan.

Aku tidak meminta uang tiga ratus juta itu kembali.

Aku memakainya sebagai umpan.

Aku memberi tahu Sintia bahwa proses perpindahan kerjaku berhasil.

Aku bilang gajiku nanti akan hampir dua kali lipat.

Seperti dugaan, dia langsung berubah sangat manis.

“Serius, Mas? Alhamdulillah. Aku selalu tahu kamu kuat.”

Aku tersenyum di depan kamera.

“Kalau begitu nanti aku bisa kirim lebih banyak.”

Mata Sintia langsung berbinar.

“Yang penting kesehatan kamu dijaga.”

Aku hampir tertawa.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami betapa mudahnya manusia percaya pada kebohongan yang ingin mereka dengar.

Dua bulan kemudian, setelah semua dokumen siap, aku meminta Sintia mengadakan acara ulang tahun Aldin yang besar.

Aku bilang ingin memberi hadiah khusus.

Aku bahkan mentransfer uang lima puluh juta untuk acaranya.

Tegar dan Sintia tentu menyambut gembira.

Mereka menyewa ballroom hotel di kota.

Mengundang keluarga, teman sekolah Aldin, tetangga, dan rekan bisnis Tegar.

Aku tahu karena Sintia mengirim semua foto persiapan kepadaku dengan bangga.

Malam acara itu, aku datang memakai setelan hitam sederhana.

Aku berdiri di belakang ballroom ketika Sintia sedang berpidato di atas panggung.

“Semua yang kami lakukan tentu demi Aldin,” katanya sambil menggenggam tangan Tegar. “Kami ingin dia punya masa depan terbaik.”

Tepuk tangan terdengar.

Aku melangkah masuk.

Awalnya tidak ada yang memperhatikanku.

Lalu seorang kerabat lama Sintia melihat wajahku.

Gelas di tangannya jatuh.

“Vano?”

Suasana mendadak berubah.

Sintia menoleh.

Wajahnya kehilangan warna.

Tegar berdiri kaku.

Aku berjalan perlahan sampai tepat di depan panggung.

“Selamat ulang tahun, Aldin.”

Anak itu menatapku bingung.

Sintia turun terburu-buru.

“Mas… kamu… kamu kok…”

Aku tersenyum.

“Kok masih hidup?”

Beberapa orang mulai berbisik.

Aku mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya kepada operator acara yang sudah kuhubungi sebelumnya.

Layar besar di belakang panggung berubah.

Muncul satu per satu bukti transfer.

Tanggal.

Jumlah.

Rekening penerima.

Kemudian foto rumah.

Tanah.

Mobil.

Semua dibeli menggunakan uang yang kukirim.

Suasana ballroom hening.

“Selama dua belas tahun,” kataku, “aku bekerja rata-rata empat belas jam sehari. Kadang tidur cuma empat jam. Aku melewatkan Lebaran, ulang tahun, bahkan pemakaman ibuku karena percaya ada keluarga yang menungguku pulang.”

Sintia menangis.

“Mas, aku bisa jelaskan.”

“Tentu.”

Aku menatapnya.

“Tapi tunggu sampai selesai.”

Layar berikutnya menampilkan foto doa kematianku sepuluh tahun lalu.

Orang-orang langsung gaduh.

Beberapa kerabat Sintia menutup mulut.

Aku melanjutkan.

“Ketika aku masih hidup dan bekerja, perempuan ini mengatakan kepada keluarga bahwa aku sudah meninggal.”

Sintia mundur.

“Itu karena waktu itu aku pikir kamu benar-benar…”

“Kamu masih menerima transfer dariku setiap bulan setelah mengumumkan kematianku.”

Dia terdiam.

Tegar tiba-tiba maju.

“Sudah cukup! Ini urusan keluarga!”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Lalu layar berubah lagi.

Hasil tes DNA muncul.

“Aldin bukan anak biologisku.”

Suara gaduh meledak.

Aldin terlihat pucat.

Aku langsung menoleh kepadanya.

“Dan kamu tidak salah apa-apa, Nak.”

Aku sengaja mengucapkannya keras.

“Kamu korban, sama seperti aku.”

Tegar mencengkeram kerah bajuku.

Namun sebelum dia melakukan lebih jauh, dua petugas keamanan menariknya.

Aku tidak melawan.

Aku hanya menatap Sintia.

“Selama bertahun-tahun kamu berpikir aku bodoh karena terus mengirim uang.”

Dia terisak.

“Mas, maaf… aku khilaf.”

Aku menggeleng.

“Khilaf itu sekali. Bukan dua belas tahun.”

Wajahnya runtuh.

Beberapa hari setelah acara itu, semuanya berjalan cepat.

Pengacaraku mengajukan gugatan terkait aset dan dugaan penipuan.

Sebagian transaksi memang rumit karena rumah dan tanah tercatat atas nama Sintia, tetapi percakapan lama menunjukkan dengan jelas tujuan uang yang kukirim.

Rekening mereka diblokir sementara selama proses hukum.

SUV yang masih dicicil ditarik karena mereka tidak sanggup melanjutkan pembayaran.

Bisnis Tegar yang katanya akan dibangun ternyata bahkan belum pernah benar-benar dimulai.

Yang paling ironis, tiga ratus juta yang mereka kirim kepadaku justru menjadi satu-satunya uang yang benar-benar kembali ke tanganku tanpa sengketa.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kampung.

Orang-orang yang dulu mendoakan kematianku menyambutku seperti melihat hantu.

Aku tertawa saat Arif berkata, “Van, kamu ini satu-satunya orang yang pernah ikut tahlilan kematiannya sendiri.”

Aku membangun rumah kecil di tanah milik almarhum ayah.

Tidak mewah.

Tidak ada SUV.

Tidak ada pagar tinggi.

Namun setiap malam aku tidur tanpa memikirkan siapa yang sedang berbohong kepadaku.

Suatu sore, seseorang datang.

Aldin.

Dia berdiri di depan rumah sambil membawa tas sekolah.

Tubuhnya semakin tinggi.

“Aku boleh masuk, Om?”

Aku tersenyum.

“Boleh.”

Dia duduk di teras cukup lama sebelum bicara.

“Mama dan Ayah sering bertengkar sekarang.”

Aku tidak menjawab.

Kemudian dia menatapku.

“Aku sudah baca beberapa chat Mama sama Om dari dulu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Om memang bukan ayah kandungku. Tapi waktu aku sakit, sekolah, ulang tahun… uang dari Om yang bayarin semuanya, kan?”

Aku terdiam.

“Sebagian besar, iya.”

Aldin menunduk.

“Berarti selama ini ada orang yang sayang sama aku dari jauh, tapi aku bahkan nggak tahu.”

Aku memalingkan wajah karena tenggorokanku mendadak sesak.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Kalau aku kadang datang ke sini, boleh?”

Aku menatapnya.

Anak itu memang bukan darah dagingku.

Namun dua belas tahun hidupku pernah berputar mengelilingi namanya.

Aku mengangguk.

“Boleh.”

Dia tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, aku merasa semua pengorbananku tidak sepenuhnya sia-sia.

Sintia memang mengambil uangku.

Tegar mengambil tempatku.

Mereka bahkan mencoba menghapus keberadaanku dari kehidupan semua orang.

Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka ambil.

Aku masih punya kesempatan menentukan siapa diriku setelah semua kebohongan itu terbongkar.

Dulu aku bekerja sampai hampir mati demi keluarga yang ternyata tidak pernah benar-benar kumiliki.

Sekarang aku memilih hidup untuk diriku sendiri.

Dan anehnya, setelah dinyatakan mati selama sepuluh tahun, justru saat itulah aku merasa benar-benar hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang