Jawab, Indah! Kamu makan apa saja sampai utang berasmu di warung Mak Das menumpuk begini?”

Aku tidak langsung masuk ke rumah.

Aku berdiri beberapa detik di balik pintu sambil menggenggam tangan Rara. Putriku menatapku bingung, tetapi aku hanya menempelkan telunjuk ke bibirnya.

“Pelan-pelan ya, Sayang.”

Entah mengapa, setelah mendengar rencana Mas Faiz dan Bu Narti, dadaku justru terasa lebih tenang. Seolah ada sesuatu yang selama ini mengikat kakiku tiba-tiba terputus.

Aku tidak lagi bertanya apakah pernikahan ini masih bisa diselamatkan.

Aku hanya perlu memikirkan satu hal.

Bagaimana caranya aku dan Rara keluar dari rumah ini dengan selamat.

Aku sengaja mengajak Rara berjalan memutar selama hampir setengah jam. Ketika kami kembali, percakapan itu sudah selesai. Bu Narti sedang menonton sinetron, sementara Mas Faiz sibuk memainkan ponselnya.

“Kok lama?” tanyanya ketus.

“Rara tadi minta lihat ikan di taman.”

Mas Faiz mendengus.

Aku berjalan ke dapur seperti tidak terjadi apa-apa.

Hari-hari berikutnya kulalui dengan sikap yang sama. Aku memasak, mencuci, menyapu, memijat punggung Bu Narti, dan mendengarkan setiap hinaan tanpa membalas.

Namun diam-diam, aku mulai menyiapkan semuanya.

Kartu keluarga, akta kelahiran Rara, buku nikah, ijazah, dan beberapa dokumen penting kufoto satu per satu. Salinannya kukirim ke Mila.

Aku juga mulai mencatat perlakuan Mas Faiz kepadaku, terutama soal uang belanja dan kebutuhan Rara.

“Kenapa kamu sekarang nurut banget?” tanya Mas Faiz suatu malam.

Aku tersenyum tipis.

“Memangnya selama ini aku nggak nurut?”

Dia tertawa kecil.

“Nah, begini lebih enak. Perempuan itu nggak usah banyak pikiran. Tinggal ikut suami.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Iya, Mas.”

Dia tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya aku menerima pesan yang membuat tanganku gemetar.

Aku dinyatakan lolos ke tahap berikutnya.

Tahap wawancara dan verifikasi dokumen akan dilaksanakan dua minggu lagi.

Mila menjadi satu-satunya orang yang tahu.

“Kalau butuh tempat tinggal, kamu sama Rara bisa di rumahku dulu,” katanya lewat telepon.

“Jangan, Mil. Aku nggak mau merepotkan.”

“Indah, dengar. Membantu teman keluar dari keadaan buruk itu bukan direpotkan.”

Aku terdiam.

“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Jangan tunggu sampai kamu diterima kerja baru berani pergi. Kalau situasinya makin buruk, keluar dulu.”

Aku tahu dia benar.

Namun aku masih ingin menunggu sedikit lagi.

Bukan karena masih berharap pada Mas Faiz.

Aku hanya ingin pergi dengan kaki sendiri, bukan sebagai perempuan yang mereka buang.

Dua minggu kemudian, aku berhasil menghadiri wawancara dengan alasan mengantar Rara imunisasi. Lagi-lagi aku berbohong, sesuatu yang dulu sangat kubenci.

Namun hidup bersamaku telah mengajarkan satu hal pahit.

Kadang kejujuran tidak bisa diberikan kepada orang yang menggunakan setiap kebenaran untuk mengendalikan kita.

Wawancara berlangsung hampir empat puluh menit.

Salah seorang pewawancara bertanya, “Apa alasan terbesar Ibu ingin bekerja sebagai aparatur sipil negara?”

Aku sudah menyiapkan banyak jawaban formal.

Tentang pengabdian.

Tentang stabilitas.

Tentang pelayanan publik.

Namun saat itu, yang terlintas justru wajah Rara.

Aku menarik napas.

“Saya ingin punya kehidupan yang membuat anak saya tumbuh tanpa menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang normal.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku sadar jawabanku terlalu pribadi.

Aku segera menambahkan penjelasan tentang kemandirian ekonomi dan tanggung jawab pelayanan.

Namun seorang pewawancara perempuan hanya mengangguk perlahan.

“Terima kasih sudah menjawab dengan jujur.”

Aku pulang tanpa tahu apakah kejujuran itu akan menjadi kesalahan atau justru menyelamatkanku.

Tiga minggu berlalu.

Mas Faiz semakin sering pulang malam.

Suatu malam, ponselnya berbunyi ketika dia sedang mandi.

Nama yang muncul di layar membuatku berhenti melipat pakaian.

Mbak Santi Toko Barokah.

Pesannya hanya terlihat sebagian.

Mas, tadi Ibu bilang soal tanggal lamaran…

Tanganku dingin.

Jadi perempuan kaya yang dibicarakan Bu Narti bukan sekadar rencana.

Mereka sudah bergerak.

Aku tidak membuka ponsel itu. Aku tidak perlu.

Semua sudah cukup jelas.

Ketika Mas Faiz keluar dari kamar mandi, aku tetap melipat pakaiannya seperti biasa.

“Besok aku pulang kampung sama Ibu,” katanya.

“Berapa hari?”

“Mungkin tiga hari.”

Aku mengangguk.

“Rara sama kamu saja.”

“Iya.”

Mas Faiz mengambil ponselnya.

“Oh iya, kasih aku cincin nikahmu.”

Tanganku berhenti.

“Buat apa?”

Wajahnya langsung berubah.

“Banyak tanya.”

“Cincinnya punya aku, Mas.”

“Itu dibeli pakai uangku.”

Aku hampir tertawa.

Cincin itu dibeli menggunakan sebagian uang hadiah pernikahan dari kakakku.

Namun aku tidak ingin berdebat.

Aku melepaskannya dan meletakkannya di telapak tangan Mas Faiz.

Dia tersenyum puas.

“Begitu dong.”

Malam itu, setelah semua orang tidur, aku menangis untuk pertama kalinya sejak mendengar percakapan mereka.

Bukan karena cincin itu.

Bukan pula karena perempuan bernama Santi.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang bertahun-tahun mengira bertahan adalah bentuk kesetiaan.

Perempuan yang mengira kalau dia cukup sabar, cukup patuh, cukup hemat, suatu hari suaminya akan menghargainya.

Ternyata tidak.

Ada orang yang melihat kesabaran bukan sebagai cinta, tetapi sebagai izin untuk terus menyakiti.

Keesokan paginya, Mas Faiz dan Bu Narti berangkat.

Sebelum pergi, Bu Narti masih sempat berpesan, “Rumah dibersihkan. Jangan mentang-mentang Ibu nggak ada kamu malah malas.”

“Iya, Bu.”

Begitu motor mereka menghilang di ujung gang, aku menutup pintu.

Lalu aku mengeluarkan dua tas yang sudah kusiapkan.

“Rara.”

Putriku berlari menghampiriku.

“Kita mau ke mana, Bu?”

Aku berjongkok di depannya.

“Kita mau tinggal di tempat Tante Mila sebentar.”

“Malam ini Ayah pulang?”

Pertanyaan itu menusuk dadaku.

Aku mengusap rambutnya.

“Belum.”

Rara mengangguk polos.

Dia tidak bertanya lagi.

Kami pergi hanya membawa pakaian, dokumen, buku sekolah Rara, dan sebuah boneka kelinci lusuh kesayangannya.

Tidak ada televisi.

Tidak ada perabot.

Tidak ada barang berharga.

Hanya hidup kami.

Dan untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.

Mila memelukku ketika kami sampai.

“Mulai hari ini, jangan bilang kamu merepotkan.”

Aku menangis di bahunya.

Namun ketenangan itu hanya bertahan dua hari.

Mas Faiz pulang lebih cepat.

Ponselku dipenuhi puluhan panggilan.

INDah! KAMU DI MANA?

BERANI SEKALI KAMU BAWA ANAKKU!

PULANG SEKARANG ATAU AKU LAPOR POLISI!

Aku tidak menjawab.

Sampai akhirnya dia mengirim foto rumah Mila.

Darahku seketika dingin.

Dia tahu aku di mana.

Tidak sampai satu jam kemudian, terdengar gedoran keras di pintu.

“INDAH! KELUAR!”

Rara langsung menangis.

Mila menelepon suaminya yang sedang bekerja sekaligus meminta bantuan keamanan kompleks.

Aku keluar setelah memastikan Rara tetap di kamar.

Mas Faiz berdiri di depan pagar dengan wajah merah padam. Bu Narti ada di belakangnya.

“Kamu pikir kamu siapa sampai berani kabur bawa anakku?” bentaknya.

“Aku ibunya.”

“Kamu istriku!”

“Untuk sementara masih.”

Mas Faiz terdiam.

Mungkin dia tidak pernah menyangka aku bisa menjawab seperti itu.

Bu Narti maju.

“Dasar perempuan nggak tahu diri! Sudah dikasih makan bertahun-tahun malah kabur!”

Aku menatapnya.

“Bu, selama tiga tahun terakhir uang belanja yang Mas Faiz kasih rata-rata bahkan tidak cukup untuk kebutuhan Rara. Saya sampai berutang beras.”

“Itu karena kamu boros!”

“Tidak.”

Suaraku tetap tenang.

“Aku punya catatannya.”

Wajah Mas Faiz berubah.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Transfer, nota utang, biaya sekolah Rara, semuanya kusimpan.”

“Kamu ngancam aku?”

“Aku melindungi diriku.”

Mas Faiz menerobos hendak masuk.

Petugas keamanan segera menahannya.

Dalam kekacauan itu, sesuatu jatuh dari saku kemejanya.

Sebuah kotak cincin kecil.

Kotak itu terbuka ketika menyentuh lantai.

Di dalamnya ada cincin emas.

Aku mengenalinya.

Cincin pernikahanku.

Namun bentuknya sudah berubah.

Cincin itu dipoles dan ditambahkan batu kecil di tengahnya.

Bu Narti buru-buru mengambil kotak tersebut.

Terlambat.

Aku sudah mengerti.

“Kamu mau memberikan cincin nikah kita ke perempuan itu?”

Mas Faiz pucat.

Bu Narti justru membentak.

“Memangnya kenapa? Daripada mubazir!”

Aku menatap mereka.

Anehnya, aku tidak marah.

Aku justru tertawa kecil.

Mas Faiz semakin emosi.

“Kamu ketawa apa?”

“Tidak apa-apa.”

Aku mengusap air mata yang entah sejak kapan jatuh.

“Aku cuma baru sadar betapa murahnya harga yang kalian berikan untuk pernikahan ini.”

Mereka akhirnya pergi setelah petugas keamanan mengancam akan memanggil polisi jika terus membuat keributan.

Malam itu aku mengganti nomor telepon.

Aku juga menemui lembaga bantuan hukum yang direkomendasikan Mila dan mulai berkonsultasi mengenai perceraian serta hak pengasuhan Rara.

Seminggu kemudian, sebuah email masuk.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Lolos.

Aku membaca kata itu berulang kali.

Aku benar-benar lolos.

Aku memeluk Rara begitu erat sampai dia protes.

“Ibu kenapa?”

“Ibu dapat kerja.”

“Berarti kita bisa beli ayam goreng?”

Pertanyaan polos itu membuatku tertawa sekaligus menangis.

“Iya.”

“Dua?”

Aku mengangguk.

“Dua.”

Beberapa bulan kemudian, hidup kami berubah perlahan.

Tidak langsung menjadi mudah.

Aku harus menjalani masa awal pekerjaan sambil mengurus proses perceraian. Aku menyewa kamar kecil dekat tempat kerja. Aku bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan sarapan, mengantar Rara, bekerja, lalu belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.

Namun lelah karena membangun kehidupan sendiri terasa sangat berbeda dari lelah karena diinjak setiap hari.

Suatu sore, ketika aku pulang, seseorang menungguku di depan kontrakan.

Mas Faiz.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

“Bisa bicara?”

Aku berdiri beberapa meter darinya.

“Bicara saja.”

Dia menunduk.

“Ternyata Santi batal.”

Aku diam.

“Keluarganya tahu aku masih menikah. Mereka marah. Tokonya juga bukan punya dia sepenuhnya. Punya kakaknya.”

Aku hampir tersenyum.

Jadi inilah alasan kedatangannya.

Bukan penyesalan.

Kegagalan.

“Ibu juga sekarang sakit-sakitan,” lanjutnya. “Aku kepikiran Rara.”

“Kalau mau bertemu Rara, kita bisa atur sesuai kesepakatan.”

Mas Faiz menatapku.

“Bukan itu maksudku.”

Aku sudah tahu.

“Kita mulai lagi, Ndah.”

Kalimat itu dulu mungkin akan membuatku menangis bahagia.

Sekarang hanya terdengar kosong.

“Aku sudah berubah.”

“Belum.”

Dia terkejut.

“Kamu bahkan datang setelah rencana menikah dengan Santi gagal.”

Wajahnya menegang.

“Jangan ungkit masa lalu terus.”

Aku mengangguk perlahan.

“Benar. Makanya aku tidak akan kembali ke masa lalu.”

Aku hendak masuk, tetapi dia memanggilku.

“Indah!”

Aku berhenti.

“Kamu sekarang sombong karena sudah punya kerjaan?”

Aku menoleh.

“Bukan.”

Aku menatap laki-laki yang dulu membuatku takut hanya dengan meninggikan suara.

“Aku cuma sudah tahu bahwa aku bisa hidup tanpa meminta izinmu.”

Aku masuk dan menutup pintu.

Di dalam, Rara sedang duduk di lantai sambil menggambar.

“Ibu, lihat!”

Dia mengangkat kertas.

Ada dua orang bergandengan tangan di depan rumah kecil dengan matahari besar di atasnya.

“Itu siapa?”

“Rara sama Ibu.”

“Terus Ayah?”

Rara berpikir sebentar.

“Ayah rumahnya lain.”

Jawaban sederhana itu membuatku terdiam.

Anak kecil ternyata mampu menerima kenyataan dengan lebih jernih daripada orang dewasa.

Aku duduk dan memeluknya.

Beberapa hari kemudian, saat membersihkan tas lama, aku menemukan sesuatu.

Nota utang beras dari warung Mak Das.

Kertas yang dulu dilemparkan Mas Faiz ke wajahku.

Aku hampir membuangnya.

Namun akhirnya kusimpan.

Bukan karena ingin mengingat penghinaan.

Melainkan karena kertas itu mengingatkanku pada titik paling rendah dalam hidupku.

Setelah menerima gaji pertamaku, aku sengaja kembali ke warung Mak Das.

Perempuan tua itu sedang menata telur ketika melihatku.

“Indah?”

Aku tersenyum.

“Saya mau bayar utang beras, Mak.”

Mak Das terdiam.

Lalu dia mengambil buku catatan dari bawah meja.

Aku menyerahkan uang lebih.

“Ini kebanyakan.”

“Ambil saja, Mak.”

“Nggak bisa.”

Dia mengembalikan sisanya.

“Utang ya utang. Jangan dibayar pakai rasa malu.”

Aku tercekat.

Mak Das menatapku lama.

“Dulu Mak kasih kamu beras bukan karena kasihan.”

Aku mengangkat kepala.

“Terus?”

“Karena Mak tahu yang makan anakmu.”

Mataku langsung panas.

Mak Das tersenyum.

“Sekarang kelihatannya kamu sudah lebih baik.”

Aku mengangguk sambil menahan tangis.

“Iya, Mak.”

Ketika hendak pergi, Mak Das memanggilku.

“Indah.”

Aku menoleh.

“Jangan pernah malu pernah susah.”

Aku tersenyum.

“Yang seharusnya malu itu orang yang melihat keluarganya kelaparan tapi masih merasa dirinya kepala keluarga.”

Aku pulang sambil membawa sekantong beras yang kubeli dengan uangku sendiri.

Di depan kontrakan, Rara berlari menyambutku.

“Ibu beli beras?”

“Iya.”

“Banyak?”

“Banyak.”

Dia tertawa senang.

Aku menatap kantong beras di tanganku dan tiba-tiba teringat hari ketika selembar nota dilemparkan ke wajahku.

Dulu aku mengira utang terbesar dalam hidupku adalah beberapa kilogram beras di warung Mak Das.

Ternyata aku salah.

Utang terbesar yang pernah kumiliki adalah kepada diriku sendiri.

Aku berutang keberanian kepada perempuan yang bertahun-tahun diam.

Aku berutang masa depan kepada anak kecil yang pernah membagi sepiring nasi denganku.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa mulai melunasi keduanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang