Malam itu Kalila pulang dengan langkah yang terasa jauh lebih berat daripada saat ia berangkat.
Bayangan wajah Rayanza di layar televisi terus berputar di kepalanya. Jas hitam mahal, sorot mata penuh keyakinan, para wartawan yang mengerumuninya, dan perempuan cantik yang duduk begitu dekat seolah memang pantas berada di sisi seorang Rayanza Fadlan Wartadinata.
Kalila merasa seperti orang paling bodoh di dunia.
Selama ini ia percaya Rayanza hidup sederhana. Ia percaya lelaki itu bekerja keras, menghitung uang sebelum membeli sesuatu, bahkan terkadang memilih makan di warung kecil karena katanya lebih hemat.
Ternyata semuanya hanya sandiwara.
Sesampainya di rumah, Nenek langsung menyadari wajah Kalila berubah.
“Kamu kenapa, Nak?”
Kalila tidak menjawab.
Ia berjalan masuk, melepas cadarnya, lalu duduk di lantai dengan tubuh lemas.
“Nek,” suaranya bergetar, “Rayanza ternyata bukan orang biasa.”
Nenek mengerutkan kening.
Kalila menceritakan semua yang dilihatnya.
Tentang berita di televisi.
Tentang perusahaan besar.
Tentang Dubai.
Tentang perempuan yang disebut-sebut akan menjadi calon istrinya.
Setelah selesai, Kalila tertawa pelan. Air matanya justru jatuh bersamaan dengan suara tawa pahit itu.
“Hebat, ya, Nek. Dulu dia meninggalkanku ketika aku tidak punya apa-apa. Sekarang setelah kembali, dia menikahiku diam-diam, lalu menghilang lagi. Ternyata di luar sana dia sedang mempersiapkan kehidupan yang jauh lebih cocok dengan statusnya.”
“Jangan langsung menyimpulkan,” ujar Nenek hati-hati.
“Apa lagi yang harus kusimpulkan?”
“Kalila.”
“Aku melihatnya sendiri!”
Suara Kalila meninggi.
“Kalau memang dia punya alasan, kenapa selama sebulan tidak ada satu pesan pun? Kenapa aku harus tahu siapa suamiku dari televisi?”
Nenek terdiam.
Pertanyaan itu memang sulit dijawab.
Pagi berikutnya, Kalila membuat keputusan.
Ia akan pergi.
Bukan dari kota itu, melainkan dari kehidupan Rayanza.
Ia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas tua miliknya. Surat nikah yang selama ini disimpannya di dalam lemari ia keluarkan, memandanginya cukup lama, lalu memasukkannya ke sebuah amplop.
“Aku akan mengembalikannya,” kata Kalila.
“Kepada siapa?”
“Rayanza.”
Nenek terkejut.
“Kamu tahu dia di mana?”
Kalila mengangguk.
Di berita semalam disebutkan bahwa Rayanza akan menghadiri acara perusahaan keluarga Wartadinata di sebuah hotel mewah di Jakarta.
Kalila tidak ingin meminta penjelasan.
Ia hanya ingin mengakhiri semuanya sebelum Rayanza kembali menghancurkan hatinya untuk ketiga kalinya.
Beberapa jam kemudian, Kalila berdiri di depan hotel yang bahkan selama ini hanya pernah dilihatnya dari media sosial.
Mobil-mobil mewah berjejer di pintu masuk.
Orang-orang dengan pakaian elegan keluar masuk.
Kalila yang mengenakan gamis sederhana dan kerudung berwarna gelap tampak begitu berbeda.
Ia baru akan melangkah masuk ketika seorang petugas keamanan menahannya.
“Maaf, Bu. Ada undangan?”
“Saya ingin bertemu Rayanza.”
Petugas itu tersenyum tipis.
“Bapak Rayanza sedang ada acara tertutup.”
“Saya istrinya.”
Petugas tersebut membeku sesaat.
Kemudian pandangannya berubah aneh.
“Istrinya?”
Kalila belum sempat menjawab ketika suara perempuan terdengar dari belakang.
“Biarkan dia masuk.”
Kalila menoleh.
Perempuan yang kemarin duduk di sebelah Rayanza pada konferensi pers sedang berdiri beberapa meter darinya.
Cantik.
Elegan.
Dan jauh lebih muda daripada bayangan Kalila sebelumnya.
Perempuan itu mendekat.
“Kamu Kalila?”
Kalila menegang.
“Kamu tahu saya?”
Perempuan itu tersenyum kecil.
“Rayanza banyak bercerita tentangmu.”
Kalila tidak tahu apakah kalimat itu seharusnya menenangkan atau justru menyakitkan.
“Saya Nadine.”
Nama itu cocok dengan sosoknya.
Nadine mengajak Kalila masuk ke sebuah ruang tunggu di lantai dua.
Begitu pintu tertutup, Kalila langsung mengeluarkan amplop dari tasnya.
“Tolong berikan ini kepada Rayanza.”
Nadine memandang amplop tersebut.
“Apa ini?”
“Surat nikah kami.”
Wajah Nadine berubah.
“Kenapa diberikan kepada saya?”
“Karena sebentar lagi kamu akan menikah dengannya, bukan?”
Nadine menatap Kalila beberapa detik, kemudian tiba-tiba tertawa.
Kalila merasa tersinggung.
“Apa yang lucu?”
“Maaf.”
Nadine menutup mulutnya.
“Tapi rupanya Rayanza benar. Kamu memang keras kepala.”
Kalila berdiri.
“Saya tidak datang untuk dihina.”
“Tunggu.”
Nadine ikut berdiri.
“Saya tidak akan menikah dengan Rayanza.”
Kalila berhenti.
“Apa?”
“Berita itu tidak benar.”
“Tapi dia tidak membantah.”
“Karena konferensi pers kemarin membahas kerja sama perusahaan. Ayah kami meminta agar persoalan pribadi tidak dibahas di depan media sampai kesepakatan bisnis selesai.”
Kalila masih tidak percaya.

Nadine mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto.
Rayanza sedang duduk di dalam pesawat.
Wajahnya pucat dan terlihat kelelahan.
Tanggal pada foto itu sekitar tiga minggu lalu.
“Dia hampir membuat pesawat pribadi keluarga berbalik arah di tengah perjalanan karena tahu komunikasi ke Indonesia dibatasi.”
Nadine kemudian memperlihatkan beberapa pesan.
Rayanza berkali-kali meminta seseorang bernama Pak Reza mendatangi Kalila.
Memastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Menjaga keselamatannya.
Tidak memberitahukan identitas keluarga Wartadinata sebelum Rayanza sendiri kembali.
Kalila tercekat.
Kartu yang dilemparkannya tadi malam rupanya berasal dari Rayanza.
Namun kemarahan di hatinya belum hilang.
“Kalau benar dia mencintaiku, kenapa harus berbohong tentang siapa dirinya?”
Suara Kalila lirih.
Nadine menurunkan ponselnya.
“Untuk pertanyaan itu, sebaiknya kamu tanyakan sendiri.”
Pintu ruangan terbuka.
Rayanza berdiri di sana.
Ia terlihat terpukul ketika melihat Kalila.
“Kalila.”
Perempuan itu refleks mundur satu langkah.
Rayanza langsung menghampirinya.
Namun Kalila mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Langkah Rayanza berhenti.
Nadine memahami keadaan dan segera keluar.
Kini hanya mereka berdua.
“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Rayanza pelan.
Kalila melemparkan amplop ke meja.
“Aku datang untuk mengembalikan sesuatu yang mungkin sudah tidak kamu perlukan.”
Rayanza membuka amplop.
Begitu melihat surat nikah mereka, wajahnya berubah pucat.
“Apa maksudmu?”
“Harusnya aku yang bertanya.”
Kalila menatapnya dengan mata basah.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Rayanza menarik napas panjang.
“Aku memang keturunan keluarga Wartadinata.”
“Kenapa kamu bohong?”
“Aku tidak pernah ingin nama keluarga itu menentukan bagaimana kamu melihatku.”
“Jangan cari alasan!”
“Aku serius.”
Rayanza akhirnya meninggikan suara.
“Dulu aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu!”
Kalila terdiam.
Luka lama yang selama bertahun-tahun berusaha dikuburnya tiba-tiba terbuka.
“Jangan membahas masa lalu.”
“Aku harus membahasnya!”
Rayanza mendekat satu langkah.
“Dua belas tahun lalu, malam setelah kejadian itu, aku datang ke rumahmu.”
Kalila menggeleng.
“Kamu bohong.”
“Aku datang.”
“Tidak!”
“Ayahmu yang menemuiku.”
Kalila membeku.
Rayanza melanjutkan dengan suara serak.
“Ayahmu bilang kamu tidak mau melihatku lagi. Dia mengatakan keluargamu akan pindah. Dia meminta aku pergi karena kehadiranku hanya akan menghancurkan masa depanmu.”
“Mustahil.”
“Aku mencoba mencarimu selama berbulan-bulan.”
Mata Rayanza mulai memerah.
“Tapi kemudian Papi mengirimku ke Dubai. Saat aku pulang bertahun-tahun kemudian, aku diberi tahu kamu sudah menikah.”
Kalila merasa kakinya melemas.
“Itu tidak benar.”
“Aku baru mengetahuinya setelah bertemu denganmu lagi.”
Kalila menutup mulut.
Selama bertahun-tahun ia percaya Rayanza meninggalkannya tanpa alasan.
Selama bertahun-tahun pula Rayanza percaya Kalila memilih kehidupan lain.
Keduanya dipisahkan oleh sebuah kebohongan.
“Tapi itu tidak menghapus kebohonganmu sekarang,” bisik Kalila.
“Aku tahu.”
Rayanza tidak membela diri.
“Aku salah.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Kalila kehilangan kata-kata.
“Aku pikir dengan menyembunyikan nama Wartadinata, aku bisa menjalani hidup normal bersamamu. Aku takut kalau kamu tahu siapa keluargaku, kamu akan menjauh.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu menyembunyikannya justru membuat semuanya lebih buruk.”
Rayanza mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Ponsel lama miliknya.
“Aku mendapatkannya kembali tadi malam.”
Ia membuka aplikasi pesan.
Puluhan pesan yang gagal terkirim kepada Kalila memenuhi layar.
Kalila membaca satu demi satu.
Aku harus ke Dubai. Mami masuk rumah sakit.
Kalila, jangan khawatir. Aku akan pulang secepatnya.
Mereka mengambil ponselku. Kalau pesan ini berhasil terkirim, tunggu aku.
Aku tidak meninggalkanmu.
Pesan terakhir tertulis lima hari lalu.
Apa pun yang kamu dengar dari media, jangan percaya sebelum aku menjelaskannya sendiri.
Air mata Kalila jatuh.
Namun sebelum keduanya sempat berbicara lagi, pintu ruangan terbuka keras.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk bersama dua orang staf.
Wajah Rayanza langsung menegang.
“Papi.”
Pria itu memandang Kalila dari ujung kepala sampai kaki.
“Jadi ini perempuan yang membuatmu kehilangan akal?”
Rayanza berdiri di depan Kalila.
“Jaga ucapan Papi.”
Ayah Rayanza tersenyum dingin.
“Kamu meninggalkan rapat direksi hanya untuk perempuan ini?”
“Dia istriku.”
“Kamu bisa punya istri yang jauh lebih pantas.”
Kalila menggenggam tasnya.
Kalimat itu menusuk harga dirinya.
Namun kali ini Rayanza tidak diam.
“Aku tidak butuh perempuan yang pantas menurut Papi.”
Ia menatap ayahnya tajam.
“Aku hanya butuh perempuan yang kupilih sendiri.”
Ayahnya mendengus.
“Kamu akan menyesal.”
“Mungkin.”
Rayanza melepas jam tangan mahal dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di meja.
Kemudian kartu akses perusahaan.
Lalu kunci mobil.
“Sekalian saja.”
Ayahnya tertegun.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Kalau posisi di perusahaan harus dibayar dengan menceraikan Kalila, aku tidak menginginkannya.”
“Rayanza!”
“Aku mengundurkan diri.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Kalila menatap Rayanza dengan napas tertahan.
Ayahnya berbalik dengan wajah merah padam.
“Kamu pikir bisa hidup tanpa keluarga Wartadinata?”
Rayanza tersenyum tipis.
“Aku pernah hidup tanpa nama itu.”
Tatapannya beralih kepada Kalila.
“Dan justru saat itulah aku merasa paling hidup.”
Ayah Rayanza pergi dengan amarah yang hampir membuat pintu bergetar ketika dibanting.
Kalila masih terpaku.
“Kamu gila.”
“Mungkin.”
Rayanza tersenyum lemah.
“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan orang lain menentukan siapa yang harus kutinggalkan.”
Namun Kalila tetap mengambil amplop surat nikah itu.
“Aku belum memaafkanmu.”
Senyum Rayanza menghilang.
“Aku tahu.”
“Aku juga belum tahu apakah aku masih ingin menjalani pernikahan ini.”
Rayanza mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Aku butuh waktu.”
“Aku akan menunggu.”
Kalila menatapnya tajam.
“Jangan menungguku seperti orang bodoh. Jalani hidupmu.”
“Aku akan menjalani hidupku.”
Rayanza menarik napas.
“Tapi kali ini tanpa bersembunyi darimu.”
Kalila pergi hari itu tanpa memberikan jawaban.
Tiga minggu kemudian, kabar mengejutkan datang.
Ibu Rayanza meninggal dunia.
Kalila mengetahui berita itu bukan dari Rayanza, melainkan dari pesan singkat seorang kerabat.
Ketika ia menelepon Rayanza, lelaki itu hanya berkata dengan suara datar.
“Jangan datang ke sini. Bapak juga sebentar lagi akan dimakamkan.”
Kalila langsung berdiri.
“Apa maksudmu?”
Namun sambungan terputus.
Kalila nekat datang ke rumah keluarga Wartadinata.
Dan ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang, tubuhnya langsung membeku.
Bendera kuning tanda kematian terpasang di sebelah janur kuning.
Tangannya gemetar.
Suara doa terdengar dari dalam rumah.
Namun dari halaman belakang terdengar pula suara orang-orang sedang menata kursi pernikahan.
Kalila berlari masuk.
Di ruang tengah, jenazah ibu Rayanza telah terbujur.
Sedangkan ayah Rayanza duduk di kursi roda dengan wajah pucat setelah mengalami serangan jantung.
Rayanza berdiri tak jauh darinya mengenakan pakaian hitam.
Begitu melihat Kalila, matanya langsung melebar.
“Kenapa kamu datang?”
Kalila menatap janur kuning di luar.
“Kamu mau menikah?”
Rayanza belum sempat menjawab ketika seorang penghulu keluar dari ruangan samping.
Kalila merasa darahnya berhenti mengalir.
Namun beberapa detik kemudian, penghulu itu justru mendekati seorang perempuan yang selama ini membantu merawat ibu Rayanza.
Di samping perempuan tersebut berdiri seorang pria muda.
Rayanza menghela napas.
“Yang menikah itu anak pengasuh Mami.”
Kalila tercekat.
“Acara mereka seharusnya besok. Mami yang menanggung semua biayanya sebelum meninggal. Keluarga mereka ingin membatalkan, tapi Mami meninggalkan pesan agar pernikahan tetap dilaksanakan setelah pemakaman.”
Kalila merasa malu atas kesimpulannya sendiri.
“Lalu kenapa kamu bilang Bapak akan dimakamkan?”
Rayanza menatap ayahnya.
“Bukan bapakku.”
Ia menunjuk seorang lelaki tua yang jenazahnya baru saja dibawa dari rumah belakang.
“Bapak dari pengasuh Mami meninggal pagi ini karena stroke. Di keluarga kami semua memanggilnya Bapak.”
Kalila menutup mata.
Semua prasangkanya runtuh dalam satu detik.
Rayanza mendekat perlahan.
“Kamu selalu datang tepat ketika semuanya sedang kacau.”
Kalila membuka mata.
“Dan kamu selalu menjelaskan semuanya setelah aku hampir mati karena salah paham.”
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Rayanza tertawa kecil.
Kalila ikut tersenyum meski air matanya turun.
Kemudian ia mengambil surat nikah dari dalam tas.
Surat yang ternyata tidak pernah benar-benar sanggup dibuangnya.
“Aku masih marah padamu.”
“Aku tahu.”
“Aku juga belum sepenuhnya percaya.”
“Aku tahu.”
“Tapi mungkin…”
Kalila menatap janur kuning yang bergoyang diterpa angin di samping bendera duka.
“…kita bisa mulai lagi. Kali ini tanpa kebohongan.”
Rayanza tidak langsung memeluknya.
Ia hanya mengangguk, seolah memahami bahwa cinta bukanlah izin untuk mengambil seseorang kembali sesuka hati.
Cinta adalah keberanian untuk menunggu sampai luka benar-benar bersedia membuka pintu.
Beberapa bulan kemudian, Rayanza benar-benar keluar dari perusahaan keluarganya.
Ia membangun usaha sendiri dari awal.
Bukan sebagai pewaris Wartadinata.
Bukan sebagai tuan muda dari Dubai.
Hanya sebagai Rayanza.
Dan ketika Kalila akhirnya bersedia tinggal bersamanya kembali, ia menetapkan satu syarat sederhana.
“Tidak boleh ada rahasia.”
Rayanza mengangguk.
“Setuju.”
“Termasuk saldo rekening.”
Rayanza terdiam.
Kalila menyipitkan mata.
“Rayanza.”
“Baiklah.”
Untuk pertama kalinya, rumah kecil mereka dipenuhi tawa.
Kalila akhirnya memahami satu hal.
Masalah terbesar dalam hubungan mereka bukanlah kemiskinan, kekayaan, keluarga, ataupun perempuan lain.
Melainkan dua orang yang sama-sama mencintai, tetapi terlalu takut mengatakan kebenaran.
Dan di antara bendera kuning yang melambangkan perpisahan serta janur kuning yang melambangkan sebuah permulaan, Kalila akhirnya menemukan jawabannya.
Tidak semua yang tampak seperti akhir benar-benar berakhir.
Kadang-kadang, sesuatu memang harus mati terlebih dahulu.
Kesombongan.
Ketakutan.
Kebohongan.
Barulah cinta mendapat kesempatan untuk hidup kembali.
