Seragam Kehormatan yang Direbut Sang Madu

“Kalau besok aku keliling asrama pakai seragam ini, kira-kira bawahan suamiku bakal hormat sama aku nggak?”

Ayu menatap Tiara cukup lama.

Anehnya, kemarahan yang sejak tadi mendidih di dadanya justru perlahan berubah menjadi ketenangan.

Ia melangkah masuk, menutup pintu kamar, lalu menguncinya.

Klik.

Senyum Tiara sedikit memudar.

“Kenapa dikunci?”

“Lepaskan seragam itu.”

Tiara tertawa pendek.

“Kalau aku nggak mau?”

“Lepaskan sendiri sebelum aku memanggil petugas piket.”

Wajah Tiara menegang.

Ayu menunjuk pin keanggotaan di dada perempuan itu.

“Itu bukan kostum. Kamu memakai atribut organisasi resmi tanpa hak. Kalau sampai ada yang memotretmu dan foto itu beredar, bukan cuma kamu yang malu. Mas Banyu juga akan dimintai penjelasan oleh atasannya.”

Tiara terdiam.

Untuk pertama kalinya, Ayu melihat keraguan di wajah perempuan itu.

Namun hanya sesaat.

Tiara berjalan mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah.

“Jangan sok berkuasa, Mbak. Sebentar lagi semua yang Mbak punya juga jadi milikku.”

“Termasuk jabatan Ketua Persit?”

“Kenapa tidak?”

Ayu hampir tersenyum.

“Karena jabatan itu mengikuti status resmi suami dan aturan organisasi, bukan siapa yang paling pandai merebut laki-laki.”

Tamparan Tiara melayang begitu cepat.

Namun kali ini Ayu menangkap pergelangan tangannya.

Mata mereka bertemu.

“Aku sudah terlalu lama diam,” bisik Ayu. “Jangan salah mengira diamku sebagai kelemahan.”

Tiara berusaha menarik tangannya, tetapi Ayu tidak langsung melepaskannya.

Saat itulah pandangan Ayu menangkap sesuatu di meja rias.

Sebuah kantong kain hitam kecil.

Mulut kantong itu terbuka. Di dalamnya terlihat bunga melati yang sudah menghitam, segumpal rambut, benang merah, dan selembar foto kecil.

Foto Ayu.

Jantungnya seperti berhenti.

Tiara segera menyadari arah pandang Ayu.

Ia mendorong tubuh Ayu lalu menyambar kantong itu.

Terlambat.

Ayu sudah melihat semuanya.

“Jadi benar kamu.”

Tiara mendadak pucat.

“Aku nggak tahu apa yang Mbak maksud.”

“Aroma melati busuk. Suara perempuan. Tanganku yang bergerak sendiri semalam.”

Ayu menatap kantong hitam di tangan Tiara.

“Kamu mencoba membunuhku.”

Tiara tertawa, tetapi suaranya terdengar dipaksakan.

“Buktikan saja.”

Ayu tidak menjawab.

Ia mengambil map laporan keuangan dari laci, lalu berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, Ayu menoleh.

“Tiara.”

“Apa?”

“Mulai hari ini, aku akan membuktikannya.”

Rapat Persit berlangsung pukul sepuluh tepat.

Aula batalyon dipenuhi puluhan anggota. Ayu duduk di kursi depan bersama beberapa pengurus inti. Meski tenggorokannya masih sakit, ia memimpin evaluasi dengan tenang.

Banyu duduk di deretan tamu kehormatan.

Beberapa kali pandangannya tertuju pada syal Ayu.

Ketika rapat hampir selesai, Bu Ratna, istri wakil komandan, menghampiri Ayu.

“Bu Ayu, boleh bicara sebentar?”

Ayu mengangguk.

Mereka berjalan ke sisi aula.

Bu Ratna menatap syal di lehernya.

“Maaf kalau saya lancang. Leher Ibu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Bu.”

Nada Bu Ratna berubah serius.

“Tadi waktu Ibu menunduk, syalnya bergeser.”

Ayu terdiam.

“Lebam itu bukan karena jatuh.”

Mata Ayu mulai panas.

Selama berbulan-bulan ia berusaha menyembunyikan semuanya. Bentakan Banyu. Dorongan. Cekikan. Penghinaan Bu Desi. Kehadiran Tiara di rumah dinas.

Ia selalu berpikir membuka masalah rumah tangga berarti mempermalukan suaminya.

Namun sekarang ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

Sampai kapan?

“Kalau Ibu butuh saksi atau bantuan, jangan diam,” lanjut Bu Ratna. “Melindungi kehormatan keluarga tidak sama dengan membiarkan diri sendiri dihancurkan.”

Kalimat itu menghantam sesuatu dalam diri Ayu.

Sore harinya, Ayu tidak langsung pulang.

Ia mendatangi kantor seorang kenalan lama bernama Pak Harun, pensiunan anggota yang kini membantu administrasi hukum keluarga.

Ayu menceritakan semuanya.

Pernikahan siri Banyu.

Kekerasan.

Tiara yang tinggal di rumah dinas.

Sampai ancaman mistis yang sulit ia buktikan.

Pak Harun mendengarkan tanpa memotong.

“Yang terakhir sulit dibuktikan secara hukum,” katanya. “Tapi kekerasan fisik bisa. Kamu punya foto luka?”

Ayu menggeleng.

“Mulai sekarang dokumentasikan semuanya.”

Ayu pulang menjelang magrib.

Begitu memasuki halaman rumah, ia langsung merasa ada yang aneh.

Pintu depan terbuka.

Suara Bu Desi terdengar menangis dari dalam.

Ayu bergegas masuk.

Tiara tergeletak di lantai ruang tengah sambil memegangi perut.

“Mas sakit… Mas…”

Banyu berlutut di sampingnya dengan wajah panik.

“Ayu!” bentaknya begitu melihat istrinya. “Kamu apakan Tiara?”

Ayu terpaku.

“Aku baru pulang.”

“Jangan bohong!”

“Ayu dari luar sejak selesai rapat.”

Bu Desi berdiri sambil menunjuknya.

“Tadi Tiara minum jamu yang ada di dapur. Katanya kamu yang bikin!”

Ayu mengernyit.

“Aku tidak membuat jamu apa pun.”

Tiara mengerang semakin keras.

“Mas… Mbak Ayu benci sama anak kita…”

Anak?

Ayu menatapnya.

Banyu menunduk.

“Tiara hamil.”

Ada sesuatu yang terasa runtuh di dalam dada Ayu.

Sepuluh tahun menikah, ia dan Banyu belum dikaruniai anak.

Dan kini perempuan yang masuk ke rumahnya membawa kabar kehamilan seperti senjata.

Namun Ayu tidak menangis.

“Bawa dia ke rumah sakit.”

Banyu tampak terkejut.

“Sekarang,” ulang Ayu. “Kalau dia benar-benar keracunan, dokter harus memeriksanya.”

Tiara mendadak berhenti mengerang sesaat.

Ayu menangkap perubahan itu.

Di rumah sakit, hasil pemeriksaan justru membuka sesuatu yang tidak mereka duga.

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius.

“Siapa suaminya?”

“Saya,” jawab Banyu cepat.

Dokter memandang berkas.

“Pasien tidak mengalami keracunan berat. Hanya gangguan lambung dan dehidrasi ringan.”

Banyu menghela napas lega.

“Bagaimana kandungannya, Dok?”

Dokter mengernyit.

“Kandungan?”

“Istri saya hamil.”

Dokter menatap Banyu, lalu Tiara.

“Berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi, tidak ditemukan kehamilan.”

Lorong rumah sakit mendadak sunyi.

Wajah Banyu berubah.

“Apa?”

Tiara langsung bangkit.

“Dokternya salah!”

“Kami bisa melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan.”

“Nggak perlu!”

Tiara menarik jarum infus hingga hampir terlepas.

“Aku mau pulang!”

Banyu menatapnya dengan tatapan yang belum pernah Ayu lihat sebelumnya.

Curiga.

Malam itu mereka kembali ke rumah tanpa banyak bicara.

Begitu pintu ditutup, Banyu langsung membentak.

“Kamu bohong soal hamil?”

Tiara menangis.

“Aku takut kehilangan Mas!”

“Berapa lama?”

Tiara tidak menjawab.

Banyu membanting gelas ke meja.

“Berapa lama kamu bohong?”

“Mas juga bohong sama Mbak Ayu waktu nikah sama aku!”

Kalimat itu membuat Banyu membeku.

Ayu berdiri di ujung ruangan, mendengarkan.

Tiara tertawa sambil menangis.

“Jangan merasa jadi korban, Mas. Kita sama-sama pembohong!”

Bu Desi memegangi kepalanya.

“Ya Allah, Tiara…”

Namun keributan itu belum selesai.

Tiba-tiba seluruh lampu rumah padam.

Gelap.

Lalu aroma itu muncul.

Melati busuk.

Ayu langsung merinding.

Dari arah kamar utama terdengar suara benda jatuh.

Brak!

Tiara menjerit.

“Dia datang!”

Banyu menyalakan senter ponselnya.

“Siapa?”

Tiara mundur ketakutan.

“Jangan biarkan dia masuk!”

“Siapa, Tiara?”

Perempuan itu berlari menuju kamar utama.

Ayu dan Banyu mengejarnya.

Saat pintu dibuka, Tiara sudah berlutut di depan meja rias sambil membongkar laci dengan panik.

Ia mengeluarkan kantong kain hitam yang tadi dilihat Ayu.

Banyu merebutnya.

“Apa ini?”

“Jangan dibuka!”

Banyu menuangkan isinya ke lantai.

Foto Ayu.

Rambut.

Benang.

Bunga kering.

Dan sebuah foto lain.

Foto Banyu.

Wajah pria itu seketika kehilangan warna.

“Kamu apakan aku?”

Tiara menggeleng cepat.

“Bukan begitu.”

“Kamu apakan aku, Tiara!”

Tiara menutup wajahnya.

“Aku cuma mau Mas sayang sama aku!”

Ayu merasa dadanya sesak.

Tiba-tiba semua perubahan Banyu beberapa bulan terakhir terasa semakin mengerikan. Sikapnya yang meledak-ledak, keterikatannya pada Tiara, tatapan kosongnya.

Namun Ayu tahu satu hal.

Apa pun yang dilakukan Tiara, itu tidak menghapus tanggung jawab Banyu atas kekerasan yang dilakukannya.

Banyu menatap Ayu.

Untuk pertama kalinya ada rasa malu di matanya.

“Ayu…”

“Jangan.”

Ayu mengangkat tangan.

“Jangan jadikan benda itu alasan untuk semua yang Mas lakukan kepadaku.”

Banyu terdiam.

“Yang mencekik leherku pagi kemarin adalah tangan Mas sendiri. Yang membawa perempuan lain ke rumah kita adalah keputusan Mas sendiri. Yang membiarkan ibumu memperlakukanku seperti pembantu juga Mas.”

Setiap kata keluar dengan tenang.

Justru ketenangan itulah yang membuat Banyu tidak mampu membalas.

Tiara tiba-tiba menyambar kantong hitam dan berlari keluar rumah.

Malam itu ia pergi.

Tidak ada seorang pun yang mengejarnya.

Dua minggu kemudian, Ayu mengajukan laporan resmi terkait kekerasan yang dialaminya sekaligus meninggalkan rumah dinas untuk sementara.

Banyu menjalani pemeriksaan internal karena persoalan rumah tangganya telah mengganggu kedinasan dan penggunaan rumah dinas. Bu Desi kembali ke rumahnya di kampung.

Tiara menghilang.

Nomornya tidak aktif.

Akun media sosialnya lenyap.

Beberapa orang mengatakan ia pulang ke daerah asalnya. Yang lain mengatakan ia pergi bersama seorang laki-laki.

Ayu tidak peduli lagi.

Tiga bulan kemudian, ia duduk di teras rumah kontrakan kecil yang disewanya.

Tidak mewah.

Tidak ada ajudan.

Tidak ada mobil dinas.

Tidak ada orang yang memanggilnya Ibu Ketua.

Anehnya, untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, Ayu merasa bisa bernapas dengan utuh.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Banyu.

Aku sudah menandatangani semua berkasnya. Maafkan aku.

Ayu membaca pesan itu lama.

Kemudian layar ponselnya kembali menyala.

Satu pesan lain masuk dari nomor tak dikenal.

Mbak Ayu, aku Tiara.

Tubuh Ayu menegang.

Pesan kedua menyusul.

Aku cuma mau bilang satu hal. Kantong hitam yang ditemukan malam itu bukan punyaku.

Ayu mengernyit.

Pesan ketiga masuk.

Aku memang pernah pergi ke orang pintar karena ingin Mas Banyu meninggalkan Mbak. Tapi benda yang kubuat cuma memakai foto Mas Banyu.

Jantung Ayu mulai berdegup lebih cepat.

Kalau foto Mbak juga ada di dalam kantong itu, berarti ada orang lain yang memasukkannya.

Ayu menatap layar.

Jarinya terasa dingin.

Lalu sebuah foto masuk.

Foto lama yang diambil diam-diam di halaman rumah dinas.

Terlihat Bu Desi sedang menyerahkan sesuatu kepada seorang perempuan tua berkerudung hitam.

Di tangannya ada bunga melati.

Ayu membeku.

Di bawah foto itu, Tiara mengirim satu kalimat terakhir.

Aku bukan satu-satunya orang yang ingin Mbak pergi dari rumah itu.

Pada detik yang sama, terdengar ketukan di pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ayu berdiri perlahan.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia mendekati pintu.

Lalu dari celah bawah pintu, sesuatu didorong masuk.

Setangkai melati layu.

Ayu menatap bunga itu.

Dulu mungkin ia akan gemetar.

Dulu mungkin ia akan mengunci diri di kamar dan menangis sampai pagi.

Namun Ayu yang sekarang berbeda.

Ia mengambil ponsel, memotret bunga tersebut, menyimpannya sebagai bukti, lalu menelepon petugas keamanan kompleks.

Setelah itu ia berdiri di balik pintu tanpa membukanya.

“Siapa pun kamu,” ucap Ayu lantang, “aku tidak akan lari lagi.”

Tidak terdengar jawaban.

Hanya langkah kaki yang perlahan menjauh.

Ayu menunggu sampai suara itu benar-benar hilang.

Kemudian ia menatap bayangannya pada kaca jendela.

Tidak ada seragam hijau.

Tidak ada pin jabatan.

Tidak ada rumah dinas besar di belakangnya.

Hanya seorang perempuan dengan bekas luka samar di leher.

Dulu Ayu mengira martabat terakhirnya adalah menjadi istri seorang komandan dan Ketua Persit.

Ternyata ia salah.

Martabatnya tidak pernah berada pada pangkat suaminya, rumah yang ditempatinya, ataupun penghormatan orang-orang kepadanya.

Martabat itu ada pada keberaniannya untuk berkata cukup.

Dan malam itu, ketika aroma melati kembali terbawa angin dari luar rumah, Ayu tidak lagi mencium bau kematian.

Ia hanya mencium sisa ketakutan dari kehidupan lama yang akhirnya berani ia tinggalkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang