Aku menoleh saat mendengar pintu kamar terbuka. Kukira Mas Ibas yang datang setelah hampir satu jam tidak kelihatan.

“Aku mencintaimu.”

Mas Ibas mengucapkan kalimat itu sekali lagi, seolah tiga kata tersebut bisa menambal semua luka yang sudah terbuka selama lima tahun.

Aku menarik tanganku perlahan dari genggamannya.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa setiap kali keluargamu menyakitiku, kamu memilih diam?”

Mas Ibas menunduk.

“Aku cuma nggak mau masalah makin besar.”

“Masalahnya justru besar karena kamu selalu diam.”

Dia mengangkat wajah. Matanya merah, entah karena lelah atau karena akhirnya sadar aku benar-benar ingin pergi.

“Aku bisa berubah.”

Aku tersenyum tipis.

Kalimat itu terdengar sangat terlambat.

“Lima tahun, Mas. Aku sudah menunggu lima tahun.”

“Aku akan bicara sama Ibu.”

“Kapan? Setelah mereka mengusirku? Setelah mereka bilang aku mandul? Atau setelah kamu benar-benar disuruh menikah lagi?”

Mas Ibas mengusap tengkuknya dengan gelisah.

“Aku nggak pernah kepikiran menikah lagi.”

“Tapi kamu juga nggak bilang tidak ketika ibumu menyuruhmu.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku memalingkan wajah ke jendela. Dari lantai dua penginapan itu terlihat jalan desa yang masih ramai oleh orang-orang berbaju rapi, membawa bingkisan Lebaran, tertawa bersama keluarga mereka.

Dulu pemandangan seperti itu selalu membuatku iri.

Sekarang aku justru merasa lega karena tidak harus menjadi bagian dari keluarga yang hanya menerimaku selama aku mau menelan semua penghinaan.

“Aku pulang ke kota besok pagi,” kataku.

“Aku ikut.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Rumah kita di sana.”

Aku menggeleng.

“Rumah itu rumah kontrakan atas nama kita berdua. Tapi untuk sementara aku ingin tinggal sendiri.”

Wajahnya menegang.

“Rana, jangan seperti ini.”

“Aku cuma butuh jarak.”

“Jarak buat apa?”

“Buat berpikir apakah aku masih punya alasan untuk mempertahankan pernikahan ini.”

Mas Ibas berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Aku suamimu.”

“Justru karena kamu suamiku, seharusnya aku nggak perlu memohon supaya dibela.”

Dia terdiam lagi.

Lalu, tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama Mbak Triya muncul di layar.

Mas Ibas menolak panggilan itu.

Beberapa detik kemudian telepon kembali masuk.

Ditolak lagi.

Pada panggilan ketiga, aku berkata, “Angkat saja.”

Mas Ibas menatapku ragu sebelum akhirnya menerima.

Belum sempat dia berbicara, suara Mbak Triya sudah terdengar keras dari seberang.

“Bas, kamu di mana? Ibu marah besar. Istrimu pergi begitu saja. Saudara-saudara pada tanya. Malu-maluin keluarga!”

Aku tersenyum getir.

Bahkan ketika aku tidak ada di rumah itu, aku tetap menjadi penyebab semua masalah.

Mas Ibas melirikku.

“Mbak, Rana pergi karena kalian keterlaluan.”

Aku langsung menoleh.

Untuk beberapa detik, aku bahkan mengira salah dengar.

“Apa?” suara Mbak Triya meninggi.

“Kalian masuk kamar, menghina Rana, bahkan Niken bilang dia mandul. Mbak pikir itu wajar?”

Dadaku berdegup.

Akhirnya.

Setelah lima tahun, Mas Ibas membelaku.

Namun anehnya, aku tidak merasakan kelegaan sebesar yang kubayangkan.

Mungkin karena ada luka yang sudah terlalu lama dibiarkan hingga satu pembelaan tidak lagi cukup.

“Jangan dibesar-besarkan!” teriak Mbak Triya. “Kami cuma bercanda.”

“Itu bukan bercanda.”

“Sejak menikah sama dia kamu berubah, Bas.”

“Aku justru baru sadar aku selama ini salah.”

Telepon langsung terputus.

Mas Ibas meletakkan ponselnya.

“Rana.”

Aku hanya menatapnya.

“Aku tahu ini belum cukup.”

“Memang belum.”

“Tapi kasih aku kesempatan.”

Aku menghela napas.

“Aku nggak bisa jawab sekarang.”

Mas Ibas akhirnya pergi menjelang magrib. Dia kembali ke rumah orang tuanya karena ibunya terus menelepon.

Aku mengunci pintu kamar dan menjatuhkan tubuh ke kasur.

Kupikir malam itu akhirnya akan tenang.

Ternyata pukul sembilan, seseorang mengetuk pintuku.

Aku langsung duduk.

“Siapa?”

“Rana, ini aku.”

Suara perempuan.

Aku mengenalinya.

Bik Nitah.

Aku membuka pintu dengan hati-hati.

Perempuan berusia sekitar lima puluh tahun yang sudah lama membantu ibu mertua itu berdiri sambil membawa tas kain.

“Bik? Kok bisa tahu aku di sini?”

Bik Nitah masuk setelah aku mempersilahkannya.

“Tadi Mas Ibas ngomong sama ibunya. Bik dengar nama penginapannya.”

Wajahnya terlihat tidak tenang.

“Ada apa?”

Bik Nitah tidak langsung menjawab.

Dia mengeluarkan amplop cokelat dari tas kainnya.

“Bik sebenarnya sudah lama mau kasih ini ke kamu.”

Aku menatap amplop itu.

“Apa?”

“Buka saja.”

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas rumah sakit.

Aku membaca nama yang tertulis di bagian atas.

Ibas Pratama.

Aku mengernyit.

Hasil analisis semen.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Mataku bergerak membaca setiap baris, sampai akhirnya berhenti pada bagian kesimpulan.

Oligoasthenoteratozoospermia berat.

Tanganku bergetar.

Aku memang bukan dokter, tetapi aku cukup memahami maksud penjelasan yang tertulis di bawahnya.

Jumlah sperma sangat rendah, pergerakannya buruk, dan bentuk normalnya sangat sedikit.

Tanggal pemeriksaan itu empat tahun lalu.

Hampir setahun setelah kami menikah.

“Ini punya Mas Ibas?”

Bik Nitah mengangguk.

“Dari mana Bik dapat?”

“Waktu itu ibu mertua kamu yang menyimpan. Bik disuruh beresin kamar, amplopnya jatuh dari lemari. Bik baca sedikit karena takut itu surat penting. Setelah tahu isinya, Bik taruh lagi.”

“Kenapa sekarang ada di Bik?”

“Beberapa bulan lalu Ibu mau buang berkas lama. Bik lihat amplop ini ada di tumpukan sampah. Bik ambil.”

Aku masih terpaku.

Empat tahun.

Mas Ibas sudah tahu selama empat tahun bahwa masalah kesuburan mungkin berasal darinya.

Tapi dia membiarkan keluarganya menyebutku mandul.

“Mas Ibas tahu hasil ini?”

“Tahu.”

Suara Bik Nitah pelan.

“Dia pergi periksa sama ibunya.”

Kepalaku terasa mendadak ringan.

Aku duduk di kursi karena kakiku tak lagi kuat berdiri.

“Jadi selama ini…”

Bik Nitah menggenggam tanganku.

“Ibu menyuruh Mas Ibas jangan cerita ke siapa-siapa. Katanya laki-laki nggak boleh dipermalukan.”

Aku tertawa.

Suara tawaku sendiri terdengar asing.

“Laki-laki nggak boleh dipermalukan. Jadi perempuan boleh?”

Bik Nitah menunduk.

“Aku juga pernah periksa, Bik. Dua kali. Dokter bilang kondisiku normal. Tapi Mas Ibas selalu bilang belum perlu dia periksa karena kami masih bisa mencoba alami.”

Ternyata dia berbohong.

Aku mengambil ponsel.

Tanganku gemetar ketika menelepon Mas Ibas.

Dia mengangkat pada dering pertama.

“Rana?”

“Balik ke penginapan.”

“Ada apa?”

“Sekarang.”

Nada suaraku membuatnya tidak bertanya lagi.

Dua puluh lima menit kemudian, Mas Ibas masuk ke kamar.

Wajahnya langsung pucat ketika melihat amplop cokelat di atas meja.

Matanya berpindah ke Bik Nitah.

“Bik…”

“Jelaskan,” kataku.

Mas Ibas tidak bergerak.

“Rana, aku bisa jelaskan.”

“Empat tahun kamu tahu?”

Dia menelan ludah.

“Iya.”

Satu jawaban itu menghancurkan sesuatu dalam diriku yang sebelumnya masih tersisa.

“Empat tahun?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut kamu meninggalkan aku.”

Aku berdiri.

“Jadi supaya aku nggak meninggalkanmu, kamu membiarkan keluargamu menyalahkanku?”

“Nggak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

“Aku berniat bilang.”

“Kapan?”

Dia tidak menjawab.

“Ketika ibumu bilang aku nggak bisa kasih kamu anak, kamu diam. Ketika kakakmu menghina aku, kamu diam. Ketika Niken bilang aku mandul, kamu juga nggak pernah meluruskan apa pun.”

“Aku nggak tahu Niken ngomong seperti itu.”

“Tapi kamu tahu keluargamu menganggap aku penyebab kita nggak punya anak.”

Mas Ibas menutupi wajahnya.

“Ibu yang melarang.”

Aku sampai kehilangan kata-kata.

“Mas, kamu sudah tiga puluh empat tahun. Sampai kapan semua kesalahanmu akan kamu letakkan di belakang kata Ibu?”

Dia menurunkan tangannya.

Air matanya mulai jatuh.

“Aku malu, Rana.”

Kemarahan yang sejak tadi memenuhi dadaku mendadak berubah menjadi kelelahan.

“Seharusnya kamu bicara sama aku.”

“Aku takut kamu kecewa.”

“Aku mungkin kecewa. Tapi aku nggak akan menghina kamu. Kita bisa berobat. Kita bisa konsultasi. Kita bahkan bisa menerima hidup tanpa anak kalau memang itu jalannya.”

Mas Ibas menangis lebih keras.

“Tapi kamu nggak memberi aku kesempatan memilih jalan itu. Kamu malah membiarkan aku hidup empat tahun dengan perasaan bersalah.”

Aku teringat betapa seringnya aku menangis sendirian setelah menstruasi datang setiap bulan.

Betapa banyak vitamin yang kutelan.

Betapa sering aku membaca forum kehamilan sampai dini hari.

Betapa setiap kali melihat dua garis merah milik teman, aku ikut bahagia sambil diam-diam bertanya apa yang salah dengan tubuhku.

Tidak ada yang salah.

Setidaknya tidak seperti yang selama ini kubayangkan.

Yang paling menyakitkan bukan hasil pemeriksaan Mas Ibas.

Yang paling menyakitkan adalah kebohongannya.

“Aku minta maaf,” bisiknya.

Aku menggeleng.

“Maaf tidak bisa mengembalikan empat tahun yang kamu curi dariku.”

Esok paginya aku pulang ke kota sendirian.

Mas Ibas tidak memaksaku ikut dengannya. Mungkin untuk pertama kalinya, dia benar-benar menghargai keputusanku.

Seminggu kemudian, ibu mertuaku datang ke rumah kontrakan.

Beliau datang bersama Mbak Triya.

Aku sudah menduga mereka akan memintaku kembali.

Ternyata aku salah.

Begitu duduk, ibu langsung berkata, “Berkas itu nggak seharusnya kamu lihat.”

Aku menatapnya lama.

Bukan permintaan maaf.

Bahkan setelah semuanya terbongkar, yang beliau sesalkan justru rahasianya diketahui.

“Kenapa?”

“Itu masalah pribadi Ibas.”

“Masalah pribadi?”

Aku hampir tertawa.

“Kalau masalah kesuburan Mas Ibas adalah masalah pribadi, kenapa kesuburanku jadi urusan seluruh keluarga?”

Mbak Triya menyela, “Rana, jangan kurang ajar sama Ibu.”

Aku menoleh padanya.

“Empat tahun Mbak ikut menyindir aku soal anak. Sekarang Mbak tahu kenyataannya. Apa Mbak mau minta maaf?”

Wajahnya berubah kaku.

“Ya kami kan nggak tahu.”

“Tapi kalian memilih menghina meskipun nggak tahu.”

Tidak ada yang menjawab.

Ibu mertua menarik napas.

“Sudahlah. Yang penting sekarang kamu balik lagi sama Ibas. Jangan dibesar-besarkan. Dalam rumah tangga memang ada rahasia.”

Aku tersenyum.

“Betul, Bu. Dalam rumah tangga ada privasi. Tapi kebohongan yang membuat pasangan dipermalukan bukan privasi.”

Aku mengambil map yang sudah kusiapkan.

“Aku sudah konsultasi dengan pengacara.”

Mbak Triya membelalakkan mata.

“Maksud kamu?”

“Aku mengajukan gugatan cerai.”

Ibu mertua langsung berdiri.

“Kamu mau menceraikan Ibas cuma karena dia susah punya anak?”

Aku ikut berdiri.

“Bukan.”

Aku menatap beliau tepat di mata.

“Aku menceraikannya karena dia membiarkan istrinya dihancurkan demi menjaga harga dirinya sendiri.”

Ibu mertua pergi sambil marah-marah.

Mbak Triya mengikuti di belakangnya.

Anehnya, setelah pintu tertutup, aku tidak menangis.

Aku justru merasa sangat ringan.

Proses perceraian tidak mudah.

Mas Ibas beberapa kali meminta bertemu. Aku akhirnya menyetujuinya setelah dua bulan.

Kami bertemu di kafe tempat pertama kali berkenalan.

Mas Ibas terlihat lebih kurus.

“Aku pindah dari rumah Ibu,” katanya setelah kami memesan minuman.

Aku mengangguk.

“Aku juga mulai terapi ke dokter.”

“Bagus.”

“Aku sekarang tahu kondisi seperti ini masih bisa ditangani. Kata dokter ada beberapa pilihan.”

Aku tersenyum tulus.

“Aku senang kamu akhirnya mau mencoba.”

Matanya berkaca-kaca.

“Kalau aku berubah, apa nggak ada kemungkinan kita mulai lagi?”

Aku menatap laki-laki yang dulu sangat kucintai itu.

Aneh.

Aku masih peduli padanya.

Namun rasa ingin kembali sudah tidak ada.

“Mas, perubahanmu penting. Tapi jangan lakukan supaya aku kembali.”

Dia menunduk.

“Lakukan supaya kamu nggak menyakiti perempuan lain seperti kamu menyakitiku.”

“Aku nggak akan menikah lagi.”

“Kamu nggak tahu masa depan.”

Mas Ibas terdiam cukup lama.

“Aku kehilangan kamu karena aku pengecut, ya?”

Aku tidak segera menjawab.

“Bukan karena kamu takut, Mas. Semua orang pernah takut.”

Aku menatap matanya.

“Aku pergi karena ketika takut, kamu memilih mengorbankan aku.”

Air mata mengalir di pipinya.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Aku pindah ke rumah kontrakan kecil yang lebih dekat dengan tempat kerja. Beberapa bulan setelahnya, aku mendapat promosi menjadi supervisor administrasi di sebuah perusahaan kuliner.

Hidupku mulai berubah.

Bukan menjadi lebih mewah, tetapi jauh lebih tenang.

Suatu sore hampir setahun setelah perceraian, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Ternyata Niken.

Aku sempat berpikir untuk mengabaikannya.

Namun kalimat pertama membuatku berhenti.

Mbak Rana, aku mau minta maaf.

Dia menulis cukup panjang.

Setelah melahirkan, rumah tangganya bermasalah. Suaminya sering membandingkan tubuhnya dengan perempuan lain dan beberapa kali mengatakan dia sudah tidak menarik lagi.

Untuk pertama kalinya, katanya, dia memahami bagaimana rasanya dihina karena sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Aku membaca pesannya sampai selesai.

Pada bagian terakhir dia menulis bahwa dirinya sangat menyesal pernah menyebutku mandul.

Aku tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian, kutulis satu kalimat.

Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Semoga setelah ini kita sama-sama belajar tidak menyakiti orang lain hanya karena hidup mereka berbeda dari yang kita anggap normal.

Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan ponsel.

Di meja kerjaku ada sebuah bingkai kecil berisi foto masa kecilku bersama kedua orang tuaku.

Dulu aku selalu merasa hidupku kurang karena tidak mempunyai keluarga besar.

Aku menikah dengan Mas Ibas karena diam-diam berharap mendapatkan semua yang hilang sejak kecil.

Rumah ramai.

Ibu.

Kakak.

Adik.

Meja makan penuh.

Lebaran bersama.

Aku terlalu sibuk mengejar gambaran sebuah keluarga sampai lupa bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman, bukan tempat dia harus terus membuktikan dirinya pantas diterima.

Beberapa bulan kemudian, Bik Nitah meneleponku.

Dari dialah aku mendengar kabar bahwa Mas Ibas akhirnya berdiri di depan seluruh keluarganya dan menceritakan kondisi medisnya sendiri.

Dia juga meminta ibunya berhenti menyalahkan siapa pun atas kegagalan pernikahan kami.

Aku tersenyum ketika mendengarnya.

Ternyata Mas Ibas benar-benar berubah.

Hanya saja perubahan itu datang setelah kami selesai.

Dan mungkin memang begitulah hidup.

Tidak semua orang yang berubah harus kita tunggu.

Tidak semua penyesalan harus dibayar dengan kesempatan kedua.

Kadang seseorang hadir bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk mengajarkan sesuatu yang baru kita pahami setelah kehilangan.

Mas Ibas mengajariku bahwa cinta tanpa keberanian tidak akan pernah cukup melindungi sebuah pernikahan.

Keluarganya mengajariku bahwa memiliki banyak kerabat tidak selalu berarti mempunyai rumah untuk pulang.

Sedangkan kepergianku sendiri mengajariku satu hal yang paling penting.

Selama bertahun-tahun aku takut hidup sendirian karena sejak kecil aku tidak punya siapa-siapa.

Ternyata aku keliru.

Aku tidak pernah benar-benar sendirian.

Aku masih punya diriku sendiri.

Dan setelah bertahun-tahun membiarkan orang lain merendahkannya, akhirnya aku memilih untuk berdiri di sisinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang