DIA PULANG MEMBAWA MAINAN UNTUK PUTRANYA, TAPI MENEMUKAN ANAK ITU DIPERLAKUKAN SEPERTI HEWAN.

Maya tidak langsung menutup telepon setelah Laras menjawab.

Ia berjalan menjauh beberapa langkah dari ruang keluarga, tetapi tetap berdiri di tempat yang memungkinkan matanya mengawasi Elan di bawah meja.

“Laras,” katanya pelan. “Aktifkan semuanya.”

Di seberang sana terdengar jeda singkat.

“Kamu yakin?”

Maya menatap Raditya.

Laki-laki itu kini berdiri dengan wajah tegang, seolah mulai menyadari bahwa kepulangan istrinya bukan sekadar kejutan keluarga.

“Seratus persen.”

“Baik. Aku akan hubungi tim audit, kepolisian, dan pihak bank sesuai dokumen yang kamu kirim tadi sore. Jangan biarkan siapa pun mengakses laptop kantor atau keluar membawa dokumen.”

Maya mengakhiri panggilan.

Raditya segera mendekat.

“Apa maksudmu aktifkan semuanya?”

Maya menyimpan ponselnya.

“Masih belum waktunya kamu tahu.”

Tiara berdiri dengan wajah merah.

“Jangan sok berkuasa di rumah ini. Kamu baru pulang setelah dua tahun meninggalkan suami dan anak, lalu sekarang mau membuat keributan?”

Maya menoleh perlahan.

“Aku meninggalkan anakku dalam pengasuhan ayah kandungnya. Bukan meninggalkannya di kandang.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Paula mendengus.

“Jangan berlebihan. Elan memang sulit diatur. Dia sering mengamuk. Tidak mau makan. Tidak mau bicara. Bahkan dokter pernah bilang perkembangannya terlambat.”

“Dokter siapa?”

Paula terdiam.

Maya mendekatinya.

“Nama dokternya.”

Raditya memotong.

“Cukup, Maya.”

Maya menatapnya.

“Tidak. Belum cukup.”

Ia menunjuk Elan yang masih meringkuk di bawah meja.

“Anak kita bahkan takut ketika aku mengulurkan tangan. Jelaskan bagaimana seorang anak empat tahun bisa sampai seperti itu.”

Raditya mengusap wajahnya.

“Keadaan menjadi rumit.”

“Rumit?”

“Setelah kamu pergi, Elan semakin sulit. Dia menangis setiap malam. Mencari kamu. Tidak mau dekat dengan siapa pun.”

“Lalu?”

Tiara menjawab dengan nada kesal.

“Lalu kami harus mendisiplinkannya.”

Maya menatap ibu mertuanya.

“Mendisiplinkan seperti apa?”

Tidak ada jawaban.

Maya berjalan menuju Elan.

Ia tidak mencoba menyentuhnya lagi.

Sebaliknya, ia duduk di lantai dengan jarak beberapa meter.

Lalu membuka koper yang tadi terjatuh.

Satu per satu mainan terlihat di dalamnya.

Mobil merah.

Boneka dinosaurus.

Buku cerita.

Puzzle.

Sebuah pesawat kecil.

Maya mengambil mobil merah, lalu meletakkannya perlahan di lantai.

“Elan ingat ini?”

Anak itu tidak bergerak.

Maya mendorong mobil itu sedikit ke arahnya.

“Waktu kita video call, Elan bilang mau mobil merah.”

Elan mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya, matanya benar-benar menatap Maya.

Kosong.

Takut.

Namun jauh di balik ketakutan itu, seperti ada sesuatu yang berusaha mengenali sosok di depannya.

Maya menahan napas.

“Elan tidak perlu ke sini. Ibu duduk di sini saja.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian tangan kecil itu perlahan keluar dari bawah meja.

Jari-jarinya meraih mobil merah.

Maya menggigit bibir agar tidak menangis.

Paula tiba-tiba tertawa kecil.

“Lihat? Dia baik-baik saja. Kamu terlalu dramatis.”

Maya belum sempat menjawab ketika seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun muncul dari arah dapur.

Namanya Bi Sari.

Pelayan yang sudah bekerja di rumah itu sejak Elan masih bayi.

Wajahnya terlihat pucat.

Tangannya gemetar.

“Nyonya Maya…”

Tiara langsung membentak.

“Kamu kembali ke dapur.”

Bi Sari tidak bergerak.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Nyonya… saya minta maaf.”

Maya berdiri.

“Untuk apa?”

Bi Sari menatap Elan.

Lalu tangisnya pecah.

“Saya pengecut.”

Tiara melangkah cepat menghampirinya.

“Diam!”

Namun Maya berdiri di antara mereka.

“Bi Sari, katakan.”

Perempuan itu mengambil ponsel lama dari saku celemeknya.

“Saya simpan semuanya.”

Raditya memucat.

“Apa maksudmu?”

Bi Sari membuka galeri.

Ada puluhan video.

Video Elan dipaksa makan di lantai.

Video Tiara memarahinya karena menumpahkan susu.

Video Paula menyeret tubuh kecil Elan dari sofa.

Video Bagas mengambil mainannya lalu tertawa ketika Elan menangis.

Dan satu video yang membuat tangan Maya seketika dingin.

Raditya berdiri di depan Elan.

Elan sedang menangis sambil memanggil, “Ibu… Ibu…”

Raditya menunjuk lantai.

“Kalau masih menangis, tidur di gudang lagi.”

Video berhenti.

Maya menatap suaminya.

“Gudang?”

Raditya membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Maya kembali menatap Bi Sari.

“Di mana?”

Bi Sari menunjuk koridor belakang.

Maya berjalan cepat.

Raditya mengejarnya.

“Maya, tunggu.”

Maya membuka sebuah pintu kecil di dekat ruang cuci.

Bau pengap langsung menyergap.

Ruangan itu nyaris tidak memiliki ventilasi.

Di pojok terdapat sebuah kasur tipis.

Di lantai ada mangkuk plastik.

Di tembok terdapat coretan-coretan krayon.

Gambar seorang perempuan.

Gambar seorang anak kecil.

Dan berkali-kali, satu kata yang sama.

IBU.

Kaki Maya melemas.

Ia berlutut.

Tangannya menyentuh tulisan itu.

Dua tahun ia bekerja keras demi membangun masa depan anaknya.

Sementara anak itu menghabiskan malam-malamnya di ruangan sempit, menggambar ibunya di tembok.

Raditya berdiri di belakangnya.

“Aku bisa menjelaskan.”

Maya bangkit.

Ia menampar Raditya.

Suara tamparan menggema di lorong.

Untuk pertama kalinya malam itu, Maya kehilangan ketenangannya.

“Kamu ayahnya.”

Raditya menunduk.

“Maya…”

“Kamu ayahnya!”

Maya berteriak begitu keras hingga Elan di ruang keluarga mulai menangis.

Maya langsung terdiam.

Ia menghapus air matanya, lalu kembali menuju anaknya.

Ia tahu kemarahannya tidak boleh membuat Elan semakin takut.

Ketika Maya kembali ke ruang keluarga, Paula sedang berbisik kepada Tiara.

Keduanya tampak panik.

Maya melihat Paula berusaha memasukkan sesuatu ke dalam tas.

“Taruh.”

Paula menegang.

“Apa?”

“Apa pun yang baru saja kamu masukkan.”

“Ini barangku.”

Maya berjalan mendekat dan menarik sebuah flashdisk dari tangannya.

Raditya langsung bereaksi.

“Berikan itu.”

Sekarang Maya tahu.

Flashdisk itu penting.

Sangat penting.

Ponselnya berdering.

Laras.

“Maya, dengarkan aku baik-baik.”

Suara pengacara itu terdengar tegas.

“Tim audit baru menemukan bahwa transaksi yang kamu curigai bukan hanya penggelapan internal. Ada beberapa perusahaan cangkang. Salah satunya atas nama Paula.”

Maya menatap Paula.

Paula langsung membuang muka.

“Berapa?”

“Sejauh ini sekitar tiga puluh delapan miliar rupiah. Kemungkinan lebih.”

Maya hampir tertawa karena ironis.

Raditya bukan hanya menghancurkan keluarga mereka.

Ia juga menggunakan perusahaan yang dibangun bersama Maya untuk membiayai kehidupan rahasianya.

“Dan satu hal lagi,” lanjut Laras.

“Apa?”

“Tanda tanganmu dipakai untuk menjaminkan sebagian aset perusahaan.”

Maya menutup mata sesaat.

Itulah kesalahan terbesar Raditya.

Karena secara hukum, sebagian besar saham perusahaan masih berada atas nama Maya.

Perusahaan itu memang dikenal publik sebagai perusahaan keluarga Raditya.

Namun modal awal berasal dari warisan ayah Maya.

Raditya selama ini hanyalah direktur utama.

Dan Maya adalah pemegang saham mayoritas.

Raditya mungkin sudah melupakan fakta itu.

Maya tidak.

“Lanjutkan laporan.”

“Mereka sedang dalam perjalanan.”

Panggilan berakhir.

Raditya menatap Maya.

“Siapa yang sedang dalam perjalanan?”

Maya menjawab datar.

“Orang-orang yang akan menjelaskan konsekuensi dari semua keputusanmu.”

Paula tiba-tiba berdiri.

“Aku mau pulang.”

Maya menghalanginya.

“Tidak.”

“Kamu tidak punya hak menahan aku.”

“Benar.”

Maya bergeser.

“Tapi aku tidak perlu.”

Suara bel rumah terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Bi Sari membuka pintu.

Beberapa petugas kepolisian masuk bersama Laras dan dua orang dari tim hukum perusahaan.

Wajah Raditya langsung kehilangan warna.

“Pak Raditya Adinata?”

Salah seorang petugas menunjukkan identitas.

“Kami perlu meminta keterangan terkait laporan dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana perusahaan.”

Tiara menjerit.

“Ini pasti salah paham!”

Laras masuk sambil membawa map tebal.

“Sayangnya tidak.”

Paula segera meraih tangan Bagas.

“Aku tidak tahu apa-apa. Semua urusan perusahaan dilakukan Raditya.”

Raditya menoleh tajam.

“Paula!”

Perempuan itu mundur.

“Jangan libatkan aku.”

Raditya tertawa getir.

“Rekening yang dipakai atas namamu.”

“Aku hanya mengikuti perintahmu!”

“Kamu yang mengatur perusahaan-perusahaan itu!”

Maya berdiri diam.

Begitu cepat hubungan yang dibangun dari pengkhianatan berubah menjadi saling tuduh.

Tiara menarik lengan Raditya.

“Kamu bilang semuanya aman.”

Maya menoleh.

Kalimat itu menarik perhatiannya.

“Kamu tahu?”

Tiara membeku.

Raditya berbisik, “Ma, diam.”

Terlambat.

Laras membuka salah satu dokumen.

“Sebagian dana ditransfer ke rekening milik Ibu Tiara untuk pembelian dua properti.”

Wajah Tiara menjadi pucat.

“Saya tidak tahu uang itu dari mana.”

Maya memandang mereka bertiga.

Ternyata kehancuran itu memang tidak dilakukan satu orang.

Mereka saling membantu.

Saling melindungi.

Saling menikmati hasilnya.

Ketika petugas mulai meminta Raditya dan Paula ikut ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bagas menangis keras.

Paula memeluk anaknya.

Maya memandang bocah itu.

Untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang sangat berbeda.

Bagas bukan musuh.

Ia hanyalah seorang anak.

Seperti Elan.

Seorang anak yang dilahirkan ke dalam kekacauan orang dewasa.

Maya berjalan mendekat.

Paula langsung memeluk Bagas lebih erat.

“Jangan sentuh anakku.”

Maya berhenti.

“Aku tidak akan menyakitinya.”

Paula menatapnya curiga.

Maya hanya berkata,

“Jangan jadikan anakmu korban dari kesalahanmu sendiri.”

Untuk pertama kalinya, senyum angkuh Paula menghilang.

Ketika rumah akhirnya mulai sepi, Maya kembali duduk di dekat Elan.

Anak itu masih menggenggam mobil merah.

Dokter anak dan psikolog yang dihubungi Laras datang tidak lama kemudian.

Pemeriksaan awal menunjukkan Elan mengalami malnutrisi ringan, gangguan kecemasan berat, dan regresi perkembangan akibat trauma berkepanjangan.

Namun dokter mengatakan sesuatu yang membuat Maya menggenggam tangannya erat.

“Masih ada kesempatan sangat besar untuk pulih.”

Maya menatap Elan.

“Benarkah?”

“Dia masih sangat muda. Tetapi prosesnya tidak cepat. Jangan paksa dia berbicara. Jangan paksa dia memeluk Anda. Yang harus dibangun pertama adalah rasa aman.”

Maya mengangguk.

Rasa aman.

Sesuatu yang seharusnya diberikan keluarga kepadanya sejak awal.

Malam itu Maya tidur di lantai kamar Elan.

Ia tidak naik ke ranjang.

Elan sendiri bersembunyi di sudut dekat lemari.

Maya membacakan buku cerita dengan suara pelan meski anak itu terlihat tidak mendengarkan.

Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama.

Dan hari berikutnya lagi.

Raditya tidak kembali ke rumah.

Tiara pindah ke rumah saudaranya setelah diperiksa.

Paula menghadapi proses hukum bersama Raditya.

Maya membekukan seluruh akses keuangan mereka dan mengambil alih perusahaan.

Namun ia tidak merasa menang.

Setiap pagi ketika melihat Elan terbangun dalam keadaan panik, Maya tahu tidak ada hukuman bagi mereka yang bisa mengembalikan dua tahun masa kecil anaknya.

Tiga bulan berlalu.

Elan mulai makan di meja.

Awalnya hanya selama beberapa menit.

Kemudian sepuluh menit.

Kemudian sampai selesai.

Ia mulai tidur di kasur.

Tidak lagi di lantai.

Ia masih jarang bicara.

Namun ia sudah tidak lagi meringkuk setiap kali seseorang mengangkat tangan.

Suatu sore, Maya sedang duduk di taman belakang ketika Elan keluar membawa mobil merah.

Ia berjalan pelan.

Bukan merangkak.

Maya tersenyum.

“Elan mau main?”

Anak itu tidak menjawab.

Ia duduk beberapa langkah dari Maya.

Mereka bermain tanpa bicara.

Mobil itu melaju dari tangan Maya ke tangan Elan.

Kembali lagi.

Lalu tiba-tiba Elan berhenti.

Ia menatap Maya cukup lama.

Maya tidak bergerak.

Elan berdiri.

Perlahan, anak kecil itu berjalan mendekat.

Ia menyentuh ujung baju Maya.

Maya menahan napas.

Kemudian keluar satu kata dari mulut kecilnya.

“Ibu.”

Maya membeku.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Elan kembali berkata, lebih pelan,

“Ibu jangan pergi.”

Maya langsung menutup mulut agar tangisnya tidak membuat anak itu takut.

Ia tidak memeluk Elan.

Ia hanya mengulurkan tangan.

Menunggu.

Elan menatap tangan itu cukup lama.

Kemudian untuk pertama kalinya setelah kepulangan Maya, ia melangkah maju dan masuk ke pelukannya atas kemauannya sendiri.

Maya memeluknya perlahan.

“Ibu di sini.”

Beberapa bulan kemudian, kasus Raditya memasuki persidangan.

Bukti pemalsuan dokumen dan aliran dana membuat posisinya semakin sulit.

Namun ada satu fakta terakhir yang baru terungkap.

Paula bukanlah orang pertama yang mengambil uang perusahaan.

Tiara ternyata sudah melakukannya bertahun-tahun sebelum perselingkuhan Raditya dimulai.

Ia menggunakan kebutuhan keluarga sebagai alasan, sedikit demi sedikit memindahkan dana dan kemudian meminta Raditya menutupinya.

Raditya yang awalnya hanya berusaha melindungi ibunya akhirnya ikut menikmati uang tersebut.

Kemudian datang Paula.

Rahasia pertama melahirkan rahasia kedua.

Kebohongan pertama membutuhkan kebohongan berikutnya.

Sampai pada akhirnya satu keluarga hidup di atas tumpukan dosa yang mereka anggap tidak akan pernah terbongkar.

Pada hari putusan sementara dibacakan, seorang wartawan bertanya kepada Maya di luar gedung pengadilan.

“Bu Maya, apakah Anda puas melihat orang-orang yang menghancurkan keluarga Anda akhirnya menerima akibatnya?”

Maya berhenti.

Ia memandang kamera.

Kemudian menjawab,

“Tidak ada ibu yang merasa puas setelah anaknya disakiti.”

Wartawan terdiam.

Maya melanjutkan,

“Saya hanya belajar satu hal. Kita sering bekerja terlalu keras untuk memberi anak masa depan yang baik, sampai lupa memastikan mereka memiliki hari ini yang aman.”

Setelah itu ia pergi.

Di dalam mobil, Elan duduk menunggunya bersama Bi Sari.

Ketika Maya masuk, anak itu mengangkat sebuah kertas gambar.

Ada gambar rumah.

Ada pohon.

Ada dirinya.

Dan ada seorang perempuan di sampingnya.

Maya tersenyum.

“Ini siapa?”

Elan menunjuk perempuan itu.

“Ibu.”

Lalu ia menunjuk rumah.

“Rumah kita.”

Maya menahan air mata.

Di sudut gambar tidak ada Raditya.

Tidak ada Tiara.

Tidak ada Paula.

Namun bagi Maya, gambar itu bukan tentang orang-orang yang hilang.

Melainkan tentang sesuatu yang akhirnya kembali.

Rasa aman.

Malam ketika Maya menelepon Laras memang menghancurkan sebuah keluarga.

Tetapi bukan telepon itu yang sebenarnya menghancurkan mereka.

Keluarga tersebut sudah hancur jauh sebelumnya, ketika orang-orang dewasa di dalamnya memilih uang, gengsi, perselingkuhan, dan kebohongan dibanding melindungi seorang anak kecil.

Telepon Maya hanya membuka pintu agar semua yang mereka sembunyikan akhirnya terlihat.

Dan dari reruntuhan itulah, seorang ibu dan anak mulai membangun keluarga mereka kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang