Ayah saya, Don Arturo, tidak tahan lagi. Wajahnya memerah padam. Dengan satu gerakan kasar, dia mencengkeram kerah seragam saya. “Kamu tidak tahu malu! Kamu mempermalukan nama keluarga kita di depan pahlawan seperti Victor!”
Dengan satu sentakan keras, Papa merobek kancing seragam saya. Dia melemparkan jaket militer saya ke lantai dengan kasar, hingga medali-medali di dada saya berdenting nyaring menghantam marmer. Saya hanya berdiri mematung, menatap Papa dengan tatapan yang dingin dan kosong. Keheningan menyelimuti ruangan. Para kerabat menahan napas, menanti saya memohon ampun, atau setidaknya marah.

Namun, perhatian tidak lagi tertuju pada seragam yang tergeletak di lantai. Semua mata beralih ke apa yang saya kenakan di balik seragam itu: sebuah kaos taktis hitam ketat yang menempel di tubuh saya, yang menyingkap lengan kanan saya.
BAB 4: Pucat Pasi Sang Legenda
Di sana, tepat di lengan kanan saya, tertato sebuah simbol yang sangat kecil namun sangat mematikan: Seekor Ular Viper yang melilit belati perak dengan latar belakang bulan sabit merah.
Paman Victor, yang sedari tadi duduk dengan angkuh sambil menyesap wiskinya, tiba-tiba tersedak. Gelas kristal di tangannya jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Pria yang dikenal tidak pernah takut pada apa pun itu bangkit berdiri dengan gerakan tersentak, wajahnya yang biasanya cokelat terbakar matahari mendadak berubah pucat pasi, nyaris transparan.
“Victor?” suara Papa terdengar bingung. “Kenapa kamu diam saja? Hajar anak tidak berguna ini karena telah memalsukan—”
“DIAM!” bentak Paman Victor. Suaranya bergetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena ketakutan yang mendalam.
Victor melangkah maju, kakinya gemetar. Dia jatuh berlutut di depan saya—bukan sebagai paman kepada keponakan, melainkan sebagai prajurit yang sedang menatap nisan. Dia menatap logo di lengan saya dengan tatapan tidak percaya.
BAB 5: Kebenaran yang Menghancurkan
“Ini… ini tidak mungkin,” bisik Paman Victor, suaranya nyaris seperti embusan napas. “Logo Ghost Shadow Unit. Kalian adalah mitos. Kalian tidak ada dalam catatan resmi militer mana pun di dunia. Aku pernah mendengar rumor tentang unit ini saat aku bertugas di misi klasifikasi tinggi… katanya, kalian adalah algojo bayangan yang menghapus ancaman sebelum ancaman itu sempat bernapas.”
Victor mendongak, matanya berkaca-kaca menatap saya. “Jika ini benar… jika kamu adalah bagian dari ini… Leo, kamu bukan hanya seorang tentara.”
Dia menoleh ke arah Papa yang kini membeku di tempatnya, lalu kembali menatap saya dengan gemetar. “Arturo, kamu tidak memarahi seorang tentara rendahan. Anakmu ini… dia adalah Operative Level-Zero. Dia memegang otoritas untuk memerintahkan jenderal mana pun di negara ini untuk dieksekusi di tempat. Dia bukan ‘sok jago’… dia adalah senjata pemusnah massal yang sedang berjalan di antara kita.”
Seluruh ruangan mendadak hening total. Angin malam berhembus melalui jendela yang terbuka, membuat suasana semakin mencekam. Marco, yang tadinya tertawa, kini gemetar hebat hingga menjatuhkan piringnya. Papa, Don Arturo, perlahan mundur selangkah, napasnya tersengal-sengal saat menyadari bahwa sosok yang dia rendahkan selama tujuh tahun ini adalah seseorang yang selama ini dia takuti tanpa dia sadari.
Saya memungut seragam saya yang kotor di lantai, menepuk debunya dengan tenang, lalu menatap mereka satu per satu.
“Kalian ingin tahu apa yang saya lakukan selama tujuh tahun ini?” tanya saya dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. “Saya bukan sedang bermain kostum. Saya sedang memastikan dunia tetap aman agar orang-orang seperti kalian bisa tidur nyenyak di atas tumpukan uang kalian.”
Saya melangkah melewati Papa, bahu saya sedikit menyenggol bahunya. “Malam ini, reuni ini resmi berakhir.”
