Foto lama itu memperlihatkan seorang lelaki kurus berdiri di depan rumah sederhana bersama Bu Sulastri yang masih muda. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun, tersenyum lebar sambil memegang mobil-mobilan plastik.
Anak itu adalah Arif.
Pak Hendra mengenal foto tersebut. Ia bahkan ingat kapan foto itu diambil. Lebih dari empat puluh tahun lalu, ketika kampung mereka belum dipenuhi rumah bertingkat dan jalan di depan rumah masih berupa tanah berbatu.
Bu Sulastri membalik foto itu.

Di belakangnya terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.
Pak Hendra membacanya perlahan.
Untuk Sulastri. Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan jual tanah ini hanya karena merasa menjadi beban anak-anak. Tanah ini bukan warisan untuk mereka. Tanah ini peganganmu agar kamu tidak pernah kehilangan tempat pulang.
Pak Hendra berhenti membaca.
Bu Ratih langsung menutup mulutnya.
Bu Sulastri tersenyum getir.
“Pak Darto menulis itu tiga bulan sebelum meninggal.”
Ternyata tanah di Klaten yang sedang dibicarakan Arif dan Rina bukan sekadar sebidang tanah kosong. Tanah seluas hampir dua ribu meter persegi itu dibeli Pak Darto sedikit demi sedikit dari hasil bekerja sebagai sopir bus antarkota.
Setelah Pak Darto meninggal, sertifikatnya tetap atas nama Bu Sulastri.
Selama bertahun-tahun, tanah itu dibiarkan. Sebagian disewakan kepada tetangga untuk ditanami jagung. Hasil sewanya tidak seberapa, tetapi cukup untuk membayar pajak dan kebutuhan kecil Bu Sulastri.
Masalah muncul ketika sebuah perusahaan mulai membangun kawasan pergudangan tidak jauh dari sana.
Harga tanah melonjak.
Dari yang dahulu dianggap tidak berharga, kini nilainya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Sejak itulah sikap Rina berubah.
Awalnya halus.
“Ibu sudah tua. Buat apa repot mengurus tanah jauh-jauh?”
Kemudian semakin terang-terangan.
“Kalau dijual sekarang, uangnya bisa dipakai renovasi rumah. Ibu juga tinggal sama kami.”
Arif pada awalnya selalu berkata bahwa keputusan berada di tangan ibunya.
Namun perlahan ia mulai diam.
Dan bagi Bu Sulastri, diamnya Arif terasa lebih menyakitkan daripada semua ucapan Rina.
Malam sebelumnya, Bu Sulastri terbangun karena ingin ke kamar mandi. Ketika melewati ruang keluarga, ia mendengar suara menantunya.
“Besok orang notaris datang. Tinggal minta Ibu tanda tangan.”
Arif menjawab pelan.
“Kalau Ibu tidak mau?”
“Bujuk.”
“Rina…”
“Kita punya cicilan, Rif. Biaya sekolah anak juga naik. Kamu mau terus begini?”
Lalu terdengar kalimat yang membuat kaki Bu Sulastri seakan kehilangan tenaga.
“Kalau tanah itu dijual, sebagian uangnya bisa kita pakai. Toh nanti juga semuanya jatuh ke kamu.”
Arif tidak membantah.
Tidak sekali pun.
Bu Sulastri kembali ke kamar dan duduk sampai hampir tengah malam.
Ia memandangi foto suaminya.
Lalu mengambil tas kecil.
Memasukkan dua stel pakaian, obat tekanan darah, dompet, surat-surat lama, dan amplop peninggalan Pak Darto.
Pintu depan dikunci dari dalam.
Kunci pagar disimpan Rina.
Karena itulah perempuan berusia 72 tahun tersebut memilih memanjat pagar belakang.
“Saya takut besok saya dipaksa tanda tangan,” katanya lirih.
Bu Ratih tak sanggup menahan air mata.
“Ibu seharusnya telepon kami.”
Bu Sulastri menggeleng.
“Saya malu.”
“Kenapa harus malu?”
“Karena saya gagal membesarkan anak.”
Pak Hendra langsung menatapnya.
“Jangan bilang begitu, Bu.”
Bu Sulastri hanya tersenyum.
“Saya yang melahirkan Arif. Kalau sekarang dia seperti itu, siapa lagi yang harus saya salahkan?”
Belum sempat Pak Hendra menjawab, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Disusul ketukan keras.
“Pak Hendra!”
Suara Arif.
Bu Sulastri langsung pucat.
Pak Hendra berdiri.
Ketika pintu dibuka, Arif berada di depan bersama Rina. Wajah Arif panik, sedangkan Rina terlihat kesal.
“Benar Ibu di sini?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Arif melihat ke dalam.
“Ibu!”
Ia masuk.
Bu Sulastri spontan meraih tasnya.
“Ibu ngapain kabur malam-malam?” tanya Arif.
Bukan pertanyaan itu yang membuat ruangan kembali dingin.
Melainkan satu kata yang dipilih Arif.
Kabur.
Seolah ibunya seorang tahanan.
Rina menyusul masuk.
“Bu, kalau ada masalah bicara. Jangan bikin tetangga salah paham.”
Bu Ratih yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
“Salah paham soal apa?”
Rina terdiam.
“Bu Sulastri memanjat pagar tengah malam sampai lututnya luka. Apa yang harus kami pahami?”
“Ini urusan keluarga kami.”
Pak Hendra menatap Rina.
“Kalau orang tua kalian sampai takut berada di rumah sendiri, itu sudah bukan sekadar urusan keluarga.”
Arif menarik napas panjang.
“Ibu, ayo pulang.”
Bu Sulastri menggeleng.
“Aku tidak mau.”
Itulah pertama kalinya malam itu suaranya terdengar tegas.
Arif terpaku.
“Ibu marah karena tanah?”
“Bukan.”
“Terus karena apa?”
Bu Sulastri menatap anak laki-laki yang dahulu setiap malam tidur sambil memeluk lengannya.
“Karena kamu diam.”
Arif membeku.
Bu Sulastri melanjutkan.
“Kalau Rina menginginkan tanah itu, Ibu masih bisa mengerti. Dia bukan anak yang Ibu lahirkan. Tapi kamu mendengar semuanya dan kamu diam.”
“Ibu salah paham.”
“Kalau Ibu salah paham, jawab sekarang. Kamu mau menjual tanah itu atau tidak?”
Arif membuka mulut.
Namun tidak segera menjawab.
Keheningan beberapa detik itu sudah menjadi jawaban.
Bu Sulastri menunduk.
“Sudah.”
Rina tiba-tiba menyela.
“Memangnya salah kalau kami memikirkan masa depan? Tanah itu nanti juga diwariskan ke Arif.”
Bu Sulastri menatapnya.
“Siapa bilang?”
Rina terdiam.
Bu Sulastri mengambil fotokopi sertifikat dari amplop.
“Tanah itu milik saya.”
“Tapi Arif anak tunggal.”
“Dan saya masih hidup.”
Kalimat itu membuat wajah Rina berubah.
Bu Sulastri berdiri perlahan.
“Saya belum mati, Rina.”
Arif langsung menunduk.
“Saya masih makan. Masih bernapas. Masih bisa merasa sakit. Tapi kalian sudah membagi apa yang saya punya seolah tinggal menunggu saya dikuburkan.”
Rina tidak mampu menjawab.
Arif mendekati ibunya.
“Bu, aku tidak pernah berharap Ibu mati.”
“Tapi kamu sudah berharap pada sesuatu yang baru menjadi milikmu setelah Ibu mati.”
Mata Arif memerah.
Untuk pertama kalinya, ia seperti benar-benar memahami apa yang telah dilakukannya.
Namun semuanya belum selesai.
Pagi harinya, seorang pria bernama Pak Bambang datang ke rumah Pak Hendra.
Ia adalah adik almarhum Pak Darto.
Setelah mendengar kejadian malam itu, Pak Hendra menghubunginya.
Pak Bambang membawa sebuah map.
“Sebenarnya Mas Darto menitipkan ini kepada saya.”
Bu Sulastri kebingungan.
“Kenapa baru sekarang?”
“Mas Darto bilang, berikan kalau suatu hari ada orang yang mencoba membuat Mbak merasa tidak punya pilihan.”
Di dalam map terdapat surat wasiat sederhana yang pernah dibuat Pak Darto di hadapan notaris.
Bu Sulastri membaca isinya dengan tangan gemetar.
Tanah tersebut memang sepenuhnya menjadi hak Bu Sulastri setelah Pak Darto meninggal.
Namun ada satu pesan tambahan.
Apabila Bu Sulastri tidak ingin mewariskannya kepada keluarga, ia berhak menghibahkan tanah itu untuk kepentingan sosial.
Arif duduk tanpa suara.
Rina terlihat semakin gelisah.
Beberapa hari kemudian, Bu Sulastri membuat keputusan.
Keputusan yang mengejutkan semua orang.
Ia tidak menjual seluruh tanah.
Sebagian kecil, sekitar seperempatnya, dijual kepada perusahaan yang memang membutuhkan akses jalan menuju kawasan pergudangan.
Nilainya cukup besar.
Dari uang itu, Bu Sulastri membeli sebuah rumah kecil dekat rumah Pak Hendra. Tidak mewah. Hanya dua kamar dengan halaman yang cukup untuk menanam cabai dan bunga melati.
Sisanya ia simpan untuk kebutuhan hidup dan kesehatan.
Lalu tiga perempat tanah yang masih tersisa di Klaten ia hibahkan kepada sebuah yayasan lokal untuk membangun rumah singgah bagi lansia yang tidak memiliki keluarga atau ditelantarkan anak-anak mereka.
Ketika Arif mengetahui keputusan tersebut, ia datang menemui ibunya.
Sendirian.
Tanpa Rina.
Bu Sulastri sedang menyiram bunga ketika anaknya berdiri di depan pagar.
“Ibu.”
Bu Sulastri menoleh.
Arif tampak jauh lebih kurus.
“Boleh masuk?”
Bu Sulastri membuka pagar.
Arif duduk di teras.
Lama sekali tidak ada percakapan.
Kemudian Arif mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Mobil-mobilan plastik berwarna merah.
Catnya sudah mengelupas.
Bu Sulastri mengenalinya.
Itu mainan yang ada dalam foto lama.
“Aku menemukannya di gudang.”
Suara Arif bergetar.
“Aku ingat waktu kecil aku demam tinggi. Bapak sedang keluar kota. Ibu menggendongku hampir dua kilometer karena tidak ada kendaraan.”
Bu Sulastri diam.
“Aku juga ingat Ibu menjual gelang supaya aku bisa masuk SMP.”
Air mata mulai mengalir di wajah Arif.
“Tapi entah sejak kapan aku mulai melihat Ibu sebagai tanggungan.”
Bu Sulastri menatap halaman.
Arif menunduk.
“Aku tidak datang untuk meminta tanah.”
Ia menarik napas.
“Aku datang karena baru sadar, kalau malam itu Ibu jatuh dari pagar dan sesuatu terjadi… mungkin seumur hidup aku tidak akan sempat meminta maaf.”
Bu Sulastri tidak langsung memeluknya.
Tidak juga mengatakan bahwa semuanya sudah dimaafkan.
Ada luka yang terlalu dalam untuk diselesaikan dengan satu kata maaf.
Namun ia masuk ke rumah dan kembali membawa dua cangkir teh.
Satu diletakkan di depan Arif.
Itu cukup untuk membuat lelaki berusia hampir lima puluh tahun tersebut menangis seperti anak kecil.
Sejak hari itu, Arif mulai datang setiap minggu.
Kadang membawa buah.
Kadang memperbaiki genteng.
Kadang hanya duduk menemani ibunya.
Rina tidak pernah lagi membicarakan tanah. Beberapa bulan kemudian, ia datang sendiri meminta maaf.
Bu Sulastri menerima permintaan maafnya, tetapi memilih tetap tinggal di rumah kecilnya.
“Saling menyayangi tidak berarti harus tinggal satu atap,” katanya.
Dua tahun kemudian, rumah singgah di atas tanah peninggalan Pak Darto selesai dibangun.
Namanya Rumah Darto Sulastri.
Pada hari peresmian, puluhan lansia hadir.
Ada yang ditinggalkan anaknya.
Ada yang tidak pernah menikah.
Ada pula yang hidup sendirian setelah pasangannya meninggal.
Bu Sulastri berdiri di depan bangunan sederhana itu bersama Arif.
Di salah satu dinding terdapat foto lama Pak Darto.
Foto yang sama.
Pak Darto, Bu Sulastri muda, dan Arif kecil dengan mobil-mobilan merah di tangannya.
Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat.
Rumah bukan tempat seseorang dikurung karena dianggap lemah. Rumah adalah tempat seseorang tahu bahwa dirinya tetap berharga ketika tak lagi mampu memberikan apa-apa.
Arif membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu menggenggam tangan ibunya.
“Bu.”
“Iya?”
“Kalau Bapak masih hidup, kira-kira Bapak marah sama aku?”
Bu Sulastri menatap foto suaminya.
Kemudian tersenyum tipis.
“Bapakmu mungkin marah.”
Arif tertunduk.
“Tapi setelah itu dia pasti menyuruhmu makan.”
Arif tertawa di sela tangisnya.
Bu Sulastri ikut tertawa.
Malam ketika ia memanjat pagar ternyata bukan malam ketika seorang ibu meninggalkan anaknya.
Justru malam itulah seorang ibu menyelamatkan sesuatu yang hampir hilang dari keluarganya.
Bukan tanah.
Bukan uang.
Bukan warisan.
Melainkan kesadaran bahwa orang tua tidak berubah menjadi beban hanya karena tubuh mereka melemah.
Dan bahwa selama mereka masih hidup, mereka bukan peninggalan yang boleh dihitung, dibagi, atau diperebutkan.
Mereka masih manusia yang ingin didengar, dihormati, dan memiliki hak untuk menentukan ke mana mereka akan pulang.
