Di bawah blazer itu, bukan perhiasan mahal atau sesuatu yang aneh seperti yang sempat terlintas di kepalaku.
Yang kulihat adalah bekas luka.
Sebuah garis panjang berwarna pucat membentang dari bagian atas dadanya hingga ke sisi kiri tubuhnya. Di dekat tulang selangka terdapat bekas luka bulat yang tampak seperti bekas tembakan. Beberapa bagian kulitnya terlihat tidak rata, seolah pernah mengalami luka bakar yang sangat parah.
Aku menelan ludah.
“Ini apa?”
Bu Sinta menutup matanya sesaat.
“Bekas dari malam ketika orang-orang mengira aku sudah mati.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Apa maksud Ibu?”
Ia mengenakan kembali blazernya, lalu duduk di sofa. Wajahnya yang sepanjang hari terlihat tenang kini berubah pucat.
“Namaku memang Sinta. Tapi hidup yang selama ini kamu kenal bukan seluruh hidupku.”
Ia mengambil ponselnya dan membuka sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang wanita sekitar empat puluhan berdiri di depan gedung tinggi di kawasan Sudirman. Rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih muda, tetapi aku langsung mengenali matanya.
Di sebelahnya berdiri seorang pria dan seorang anak laki-laki remaja.
“Aku pernah menikah,” katanya.
Aku terdiam.
“Aku juga pernah punya seorang anak.”
Ada sesuatu di dadaku yang terasa turun.
Bu Sinta tidak pernah mengatakan bahwa ia belum pernah menikah. Namun entah mengapa, mendengar kenyataan itu tetap mengejutkanku.
“Suamiku bernama Arman. Anak kami, Dimas, berusia enam belas tahun ketika semuanya terjadi.”
Tangannya mulai gemetar.
Dua belas tahun sebelumnya, Sinta dan suaminya membangun sebuah perusahaan logistik kecil yang kemudian berkembang menjadi grup usaha besar bernama Adinusa Group.
Perusahaan itu memiliki gudang, armada transportasi, properti, dan investasi di berbagai kota.
Aku pernah mendengar nama Adinusa.
Bahkan orang sepertiku yang jarang membaca berita ekonomi tahu perusahaan itu.
“Jangan bilang…”
Bu Sinta tersenyum pahit.
“Ya. Aku salah satu pendirinya.”
Aku merasa tenggorokanku kering.
Nilai kekayaan Bu Sinta ternyata bukan sekadar beberapa rumah dan mobil seperti yang selama ini kubayangkan.
Ia memiliki saham di perusahaan bernilai triliunan rupiah.
Tetapi kekayaan itu membawa sesuatu yang lebih gelap.
Ketika bisnis berkembang, Arman mengajak adiknya sendiri, Beni, masuk ke perusahaan.
Awalnya semuanya berjalan baik.
Sampai Sinta menemukan aliran uang mencurigakan dalam jumlah sangat besar.
Ada perusahaan fiktif.
Kontrak palsu.
Pembelian tanah menggunakan identitas orang lain.
Uang perusahaan dialihkan secara perlahan selama bertahun-tahun.
“Jumlahnya berapa?” tanyaku.
“Hampir tujuh ratus miliar ketika pertama kali ditemukan.”
Aku sampai tidak mampu menjawab.
Sinta ingin membawa kasus itu ke polisi.
Arman awalnya ragu karena pelakunya adalah adik kandungnya sendiri.
Namun akhirnya ia setuju.
Kesalahan terbesar mereka adalah memperlihatkan bahwa mereka sudah mengetahui semuanya.
Tiga hari sebelum bukti diserahkan kepada penyidik, mobil keluarga mereka mengalami kecelakaan di jalan menuju Bandung.
Remnya gagal.
Mobil menabrak pembatas, terguling, lalu terbakar.
Arman meninggal di tempat.
Dimas tidak berhasil diselamatkan.
Sinta ditemukan dalam kondisi kritis beberapa meter dari kendaraan.
“Aku hidup karena seorang petani menarikku keluar sebelum mobil itu terbakar lebih besar.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Petani?”
Bu Sinta menatapku.
Kemudian ia mengatakan satu nama.
“Pak Suwardi.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Itu nama ayahku.
Aku berdiri begitu cepat sampai lututku menghantam meja.
“Ayah?”
Bu Sinta mengangguk.
“Tapi Ayah tidak pernah cerita.”
“Karena dia tidak tahu siapa aku.”
Malam itu ayahku kebetulan sedang mengantar hasil panen menggunakan mobil bak terbuka. Ia melihat kecelakaan dan berhenti untuk membantu.
Ayah menarik Sinta dari dalam mobil hanya beberapa saat sebelum api membesar.
Kemudian ambulans datang.
Ayah pulang.
Bagi ayah, ia hanya menyelamatkan seorang wanita asing.
Bagi Sinta, ayah menyelamatkan seluruh hidupnya.
Namun beberapa hari kemudian, ketika masih berada di rumah sakit, orang kepercayaan Sinta menemukan sesuatu yang mengerikan.
Kecelakaan itu bukan kecelakaan.
Selang rem mobil sengaja dipotong.
Dan seseorang sedang berusaha memastikan Sinta tidak pernah keluar dari rumah sakit hidup-hidup.
Dengan bantuan pengacara dan beberapa aparat yang menangani perkara tersebut, kematian Sinta sengaja diberitakan secara samar.

Ia menghilang dari kehidupan publik.
Sebagian sahamnya ditempatkan di bawah pengelolaan profesional.
Kasus penggelapan terus berjalan diam-diam, tetapi Beni berhasil melarikan diri ke luar negeri sebelum penyidikan berkembang.
“Aku kemudian tinggal berpindah-pindah selama beberapa tahun,” kata Bu Sinta. “Sampai akhirnya aku kembali ke Jawa Tengah.”
“Ke desa kita karena Ayah?”
Ia mengangguk.
“Aku ingin mencari orang yang menyelamatkanku.”
Ternyata Bu Sinta menemukan ayah hampir empat tahun sebelum mengenalku.
Namun ia tidak pernah mengatakan siapa dirinya.
Ayah bahkan tidak ingat wajah wanita yang pernah diselamatkannya karena malam kecelakaan itu gelap dan kondisi Sinta sangat buruk.
Bu Sinta hanya membeli sebidang tanah di desa, membangun vila, lalu hidup tenang di sana.
“Jadi waktu aku datang memperbaiki pagar…”
“Aku langsung tahu kamu anak Pak Suwardi.”
Aku mundur satu langkah.
Dadaku terasa sesak.
Pikiran buruk tiba-tiba muncul.
“Jadi semua ini karena Ayah?”
Bu Sinta menatapku.
“Apa?”
“Pekerjaan. Buku-buku. Semua bantuan Ibu. Bahkan pernikahan ini…”
Suaraku meninggi tanpa sengaja.
“Apakah Ibu menikah denganku hanya karena merasa berutang budi kepada Ayah?”
Wajah Bu Sinta berubah.
“Tidak.”
“Lalu kenapa dari awal Ibu tidak bilang?”
“Karena awalnya memang aku mendekatimu karena kamu anaknya.”
Jawaban itu terasa seperti pukulan.
Aku berpaling menuju jendela.
Jakarta masih bersinar di bawah sana, tetapi tiba-tiba semuanya terasa kosong.
“Rizki.”
Aku tidak menjawab.
“Lihat aku.”
Aku tetap diam.
Bu Sinta berjalan mendekat.
“Awalnya aku memberimu pekerjaan karena ayahmu. Itu benar. Aku ingin membantu keluarganya tanpa membuatnya merasa menerima belas kasihan.”
Ia menarik napas.
“Tapi aku tidak merencanakan jatuh cinta kepadamu.”
Aku menoleh.
Air mata mengalir di wajahnya.
“Aku sudah hidup enam puluh satu tahun. Aku tahu perbedaan antara rasa terima kasih dan cinta.”
Ia menggenggam tanganku.
“Kalau hanya ingin membalas kebaikan ayahmu, aku bisa membelikan keluargamu rumah. Aku bisa memberikan modal usaha. Aku tidak perlu mempertaruhkan sisa hidupku dengan menikahimu.”
Aku belum sempat menjawab ketika terdengar ketukan keras di pintu.
Tiga kali.
Bu Sinta langsung menegang.
Salah satu petugas keamanan masuk setelah mendapat izin.
“Maaf, Bu. Ada perkembangan.”
“Apa?”
“Beni masuk Indonesia sore tadi.”
Wajah Bu Sinta kehilangan warna.
Aku menatapnya.
“Beni?”
Petugas itu mengangguk.
“Tim mendapat informasi dia sudah berada di Jakarta.”
Malam pernikahan kami seketika berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Petugas keamanan menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir, setelah mengetahui Sinta akan menikah, Beni mulai menghubungi sejumlah orang lama.
Pernikahan itu membuatnya panik.
Selama bertahun-tahun ia berharap suatu hari Sinta meninggal tanpa keluarga dekat sehingga perebutan aset menjadi lebih mudah.
Kehadiranku merusak perhitungannya.
“Jadi keamanan di pesta tadi…”
“Karena kami tahu dia mungkin kembali,” jawab Bu Sinta.
Aku mengusap wajah.
“Kenapa Ibu tetap mengadakan pesta sebesar itu?”
Bu Sinta tertawa kecil meskipun matanya masih basah.
“Karena aku sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.”
Untuk pertama kalinya malam itu aku memahami sesuatu.
Wanita yang selama ini terlihat begitu kuat ternyata menjalani dua belas tahun hidup sambil terus menoleh ke belakang.
Ia kehilangan suami.
Kehilangan anak.
Kehilangan rumah.
Bahkan kehilangan identitasnya sendiri.
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Kita pulang besok.”
Petugas keamanan menggeleng.
“Untuk sementara, lebih aman tetap di sini.”
Namun sebelum matahari terbit, situasi semakin buruk.
Sekitar pukul lima pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel Bu Sinta.
Hanya sebuah foto.
Foto rumah orang tuaku.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Kita belum selesai.
Aku langsung berdiri.
“Ayah dan Ibu.”
Tanganku gemetar ketika menelepon.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku hampir berteriak ketika akhirnya suara ayah terdengar.
“Halo?”
“Ayah!”
“Kenapa pagi-pagi begini?”
Aku memejamkan mata.
Ayah dan ibu baik-baik saja.
Petugas keamanan segera mengirim orang ke rumah mereka.
Pada saat bersamaan, Bu Sinta menyerahkan ponsel berisi ancaman kepada tim penyidik yang ternyata sudah memantau Beni sejak ia tiba di Indonesia.
Kesalahan Beni adalah ia merasa masih berhadapan dengan wanita ketakutan dua belas tahun lalu.
Padahal kali ini Bu Sinta sudah mempersiapkan segalanya.
Pesan ancaman itu membantu polisi melacak jaringan yang digunakan.
Siang harinya Beni ditangkap di sebuah apartemen di Jakarta Selatan.
Bersamanya ditemukan dokumen palsu, beberapa identitas berbeda, serta bukti komunikasi dengan mantan pegawai yang terlibat dalam penggelapan Adinusa Group.
Lebih mengejutkan lagi, penyidik menemukan percakapan lama yang menghubungkannya dengan sabotase mobil dua belas tahun sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, Bu Sinta mendapatkan bukti yang selama ini ia tunggu.
Ketika mendengar kabar penangkapan itu, ia tidak bersorak.
Ia hanya duduk di sofa dan menangis.
Tangis yang sangat pelan.
Aku duduk di sampingnya.
“Sudah selesai,” kataku.
Ia menggeleng.
“Tidak ada yang benar-benar selesai, Rizki. Arman dan Dimas tidak akan kembali.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Jadi aku hanya memeluknya.
Beberapa bulan kemudian, kasus itu menjadi perhatian publik.
Nama Bu Sinta kembali muncul.
Untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu dekade, ia berdiri di depan kamera dan mengatakan bahwa dirinya masih hidup.
Tetapi hal yang paling mengejutkan justru terjadi setelah semuanya mulai tenang.
Suatu pagi ia memanggilku ke ruang kerja.
Di atas meja terdapat dokumen.
“Apa ini?”
“Perjanjian pernikahan.”
Aku mengernyit.
“Bukannya kita sudah menikah?”
“Baca.”
Aku membukanya.
Semakin kubaca, semakin aku bingung.
Dokumen itu menyatakan bahwa seluruh kekayaan yang dimiliki Bu Sinta sebelum pernikahan tetap menjadi miliknya.
Aku tidak otomatis memiliki saham Adinusa.
Tidak memiliki vila.
Tidak memiliki rekening investasinya.
Bahkan jika suatu hari ia meninggal, sebagian besar hartanya tidak diwariskan kepadaku.
Aku menatapnya.
Bu Sinta tersenyum.
“Kecewa?”
Aku menutup dokumen.
Kemudian tertawa.
“Justru lega.”
Ia tampak terkejut.
“Kenapa?”
“Karena sekarang kalau orang bilang aku menikahi Ibu demi warisan, aku punya bukti mereka salah.”
Bu Sinta menatapku lama.
Lalu ia ikut tertawa sambil menangis.
Namun ternyata masih ada halaman terakhir.
Di halaman itu tertulis bahwa sebuah yayasan akan dibentuk menggunakan sebagian kekayaannya.
Yayasan tersebut memberikan pelatihan keterampilan gratis kepada anak-anak muda yang putus sekolah karena masalah ekonomi.
Pelatihan las.
Teknik kendaraan.
Kelistrikan.
Manajemen usaha kecil.
Dan di bawahnya tertulis satu nama.
Yayasan Suwardi.
Aku tidak mampu berbicara.
“Kenapa pakai nama Ayah?”
“Karena dua belas tahun lalu,” kata Bu Sinta, “seorang petani miskin berhenti di tengah malam untuk menyelamatkan orang yang bahkan tidak dikenalnya.”
Air mataku jatuh.
Bu Sinta kemudian memberikan sebuah kunci kecil kepadaku.
Bukan kunci mobil.
Kunci sebuah bangunan.
Beberapa bulan sebelumnya, diam-diam ia membeli sebidang tanah di pinggir kota.
Di sanalah bengkel dan pusat pelatihan pertama akan dibangun.
“Aku tidak akan memberikanmu bengkel,” katanya.
Aku menatapnya bingung.
“Aku memberikan tempatnya. Mesin dan modal awal tetap kamu cari sendiri.”
Aku tertawa.
“Itu curang.”
“Bukankah kamu pernah bilang tidak mau hidup dari uangku?”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Aku mengulurkan tangan.
“Sepakat.”
Dua tahun kemudian, sebuah papan besar berdiri di depan bangunan sederhana bercat abu-abu.
Bengkel Rizki Teknik.
Di sampingnya berdiri gedung pelatihan Yayasan Suwardi.
Ayah datang pada hari pembukaan dengan kemeja terbaiknya.
Ia berdiri lama membaca namanya sendiri di papan.
Kemudian menatap Bu Sinta.
“Kenapa nama saya?”
Bu Sinta tersenyum.
“Karena dulu Bapak pernah menolong seseorang.”
Ayah mengerutkan kening.
“Siapa?”
Bu Sinta menunjuk dirinya sendiri.
Ayah terdiam.
Aku tidak akan pernah melupakan ekspresi wajahnya saat itu.
Ia akhirnya mengenali cerita kecelakaan yang selama bertahun-tahun hampir terlupakan.
Ayah menangis.
Bu Sinta menangis.
Aku pun tidak mampu menahan air mata.
Hari itu aku memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Empat puluh tahun memang memisahkan usia kami.
Orang-orang mungkin akan selalu melihat angka itu terlebih dahulu sebelum melihat hal lainnya.
Tetapi hidup ternyata tidak selalu mempertemukan dua orang pada waktu yang dianggap sempurna.
Kadang seseorang datang terlalu cepat.
Kadang terlalu terlambat.
Kadang setelah kita kehilangan hampir semuanya.
Aku menikahi Bu Sinta ketika berusia dua puluh satu tahun.
Banyak orang menganggap aku mengorbankan masa mudaku.
Mereka salah.
Aku tidak kehilangan masa mudaku.
Justru bersamanya, aku menemukan arah hidup yang selama ini tidak pernah kumiliki.
Dan wanita yang awalnya kukira menyembunyikan kekayaan dariku ternyata menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.
Luka.
Ketakutan.
Kehilangan.
Dan sebuah utang kebaikan kepada seorang petani miskin yang suatu malam memilih berhenti di jalan ketika orang lain mungkin akan terus melaju.
Kadang satu tindakan baik yang dilakukan tanpa berharap balasan memang terlihat kecil.
Tetapi kita tidak pernah tahu.
Mungkin bertahun-tahun kemudian, kebaikan itu pulang dengan cara yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
