Setiap tanggal gajian tiba, dada Budi selalu terasa sesak dengan perasaan yang sama.

Hujan di luar semakin deras. Namun di dalam rumah kontrakan yang bocor itu, sebuah rahasia yang disimpan Sari selama bertahun-tahun akhirnya terbuka.

Budi masih duduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Bahunya berguncang hebat. Buku tabungan dengan saldo delapan puluh lima juta rupiah tergeletak di atas meja, tepat di samping ayam bakar yang mulai dingin.

Sari berdiri beberapa langkah darinya.

Ia ingin mendekat, tetapi kakinya terasa berat.

Selama sepuluh tahun, perempuan itu sudah membayangkan malam ini berkali-kali. Ia membayangkan Budi akan tertawa, memeluknya, mungkin mengangkat tubuhnya seperti saat mereka masih pengantin baru. Ia bahkan membayangkan mereka akan duduk sampai tengah malam membicarakan warna cat rumah, letak kamar tidur, atau pohon apa yang akan mereka tanam di halaman.

Ia tidak pernah membayangkan hadiah itu akan dibuka setelah pertengkaran panjang.

Budi akhirnya mengangkat wajah.

Matanya merah dan sembap.

“Delapan puluh lima juta ini benar-benar tabungan kita?”

Sari mengangguk.

“Sebagian besar.”

Budi terdiam.

Kata-kata itu membuatnya kembali mengerutkan kening.

“Sebagian besar?”

Sari menarik kursi lalu duduk di hadapannya.

“Ada yang belum aku ceritakan.”

Budi menatap istrinya dengan jantung berdebar.

Entah mengapa, kalimat itu membuat perasaannya kembali tidak tenang.

Sari mengambil beberapa dokumen lain dari amplop cokelat. Salah satunya berupa brosur perumahan sederhana di kawasan Tambun, tidak terlalu jauh dari pabrik tempat Budi bekerja.

Pada bagian depan brosur terdapat gambar rumah satu lantai dengan dua kamar tidur, halaman kecil, dan pagar putih.

“Dua bulan lalu aku datang ke sana,” kata Sari.

“Kamu?”

“Iya.”

“Sendirian?”

Sari tersenyum tipis.

“Naik angkot dua kali.”

Budi memandangi wajah istrinya, seakan baru mengenal perempuan yang sudah tidur di sampingnya selama sepuluh tahun itu.

Sari membuka lembar berikutnya.

“Harganya dua ratus delapan puluh juta. Kalau ambil KPR subsidi, uang muka dan biaya awalnya sekitar tiga puluh lima juta. Aku sengaja ingin mengumpulkan lebih banyak supaya setelah masuk rumah baru kita masih punya dana darurat.”

Budi memegang brosur tersebut dengan tangan gemetar.

“Kenapa enggak pernah bilang?”

“Karena kamu gampang berharap.”

Budi terdiam.

Sari melanjutkan dengan suara lembut.

“Dulu waktu kita baru menikah, kamu pernah senang sekali waktu ada orang menawarkan rumah murah. Kamu sudah cerita ke semua teman kalau kita mau pindah. Ternyata pengembangnya bermasalah dan uang tanda jadi kita hilang.”

Budi menunduk.

Ia masih ingat kejadian itu.

Tujuh tahun lalu.

Uang tiga juta rupiah yang mereka kumpulkan hampir setahun lenyap begitu saja.

Selama beberapa minggu Budi bahkan tidak mau bicara soal rumah.

“Aku enggak mau kamu mengalami itu lagi,” ujar Sari. “Aku ingin semuanya pasti dulu.”

Budi mengusap air matanya.

“Tapi delapan puluh lima juta itu banyak, Sar. Dari gajiku saja enggak mungkin terkumpul segitu.”

Sari tidak segera menjawab.

Tatapannya turun ke kedua tangannya sendiri.

Budi baru menyadari kulit jari istrinya terlihat kasar.

Ada bekas luka kecil di telunjuk.

Ada kapalan tipis di ujung jari.

“Kamu kerja?”

Pertanyaan itu keluar hampir seperti bisikan.

Sari mengangguk.

Budi membeku.

“Kerja apa?”

“Jahit.”

“Jahit?”

“Bu Rina di gang sebelah punya usaha konveksi rumahan. Tiga tahun terakhir aku ambil jahitan dari sana. Biasanya setelah kamu berangkat kerja sampai sore.”

Budi menatapnya tak percaya.

Selama ini ia mengira Sari hanya mengurus rumah.

Memasak.

Mencuci.

Membersihkan rumah.

Ia tidak pernah tahu istrinya masih menyelesaikan puluhan potong pakaian setiap minggu.

“Kenapa aku enggak pernah lihat mesin jahit?”

“Pakai mesin Bu Rina. Aku kerja di rumahnya.”

“Berapa penghasilanmu?”

“Enggak tetap. Kadang satu juta. Kadang dua juta lebih kalau pesanan banyak.”

Budi langsung berdiri.

Ia berjalan menuju jendela lalu menatap hujan di luar.

Dadanya terasa sesak.

Semua kejadian selama beberapa tahun terakhir tiba-tiba muncul di kepalanya.

Sari yang sering mengatakan pundaknya sakit.

Sari yang tertidur sambil duduk ketika menunggu Budi pulang shift malam.

Sari yang beberapa kali membungkus jarinya dengan plester.

Budi selalu mengira itu akibat terkena pisau dapur.

Ternyata tidak.

“Jadi selama tiga tahun kamu kerja diam-diam?”

Sari mengangguk.

“Dan uangnya masuk ke tabungan?”

“Sebagian besar.”

“Kenapa?”

Sari menatapnya.

“Karena gaji kamu enggak pernah cukup kalau kita cuma bergantung dari satu sumber.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa seperti pukulan bagi Budi.

Selama ini ia merasa sebagai satu-satunya orang yang bekerja keras untuk keluarga.

Ia merasa keringatnya yang paling banyak keluar.

Ia merasa dirinya berhak memegang lebih banyak uang karena dialah yang berdiri delapan jam di pabrik.

Ternyata saat ia pulang dan tidur, Sari juga sedang berjuang.

Hanya saja perjuangan perempuan itu tidak pernah bersuara.

Budi kembali duduk.

“Terus kontrakan kemarin kenapa sampai telat?”

Wajah Sari berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada keraguan jelas di matanya.

“Sar?”

Sari mengambil napas panjang.

“Aku bayar sesuatu.”

“Apa?”

Sari meremas ujung gaunnya.

“Sepatu safety kamu.”

Budi mengernyit.

“Apa?”

“Aku sudah pesan.”

Budi menatap sepatu kerjanya yang basah di dekat pintu.

Solnya memang sudah hampir habis.

“Aku dengar kamu bicara sama Pak Darto waktu beliau mampir minggu lalu,” kata Sari. “Katanya sepatu kamu sudah enggak aman dipakai.”

Pak Darto adalah tetangga mereka yang bekerja di pabrik yang sama.

Budi tidak tahu lelaki itu pernah berbicara kepada Sari.

“Aku enggak langsung beli,” lanjut Sari. “Aku cari beberapa toko online, bandingkan harga. Akhirnya dapat yang standar keselamatan pabrik. Harganya hampir enam ratus ribu.”

Budi tercekat.

“Itu sebabnya uang kontrakan kurang?”

Sari mengangguk.

“Aku menunggu pembayaran jahitan masuk. Harusnya tiga hari lalu, ternyata pemilik barang belum transfer ke Bu Rina.”

“Kenapa kamu enggak bilang?”

Sari tersenyum pahit.

“Kalau aku bilang, kamu pasti suruh batalkan.”

Budi tidak mampu membantah.

Karena memang begitu.

Ia pasti akan berkata bahwa sepatu lamanya masih bisa dipakai.

Ia pasti akan menganggap enam ratus ribu terlalu mahal.

Padahal beberapa hari sebelumnya ia marah karena tidak diberi lima puluh ribu untuk nongkrong.

Budi menundukkan kepala.

Tangisnya kembali jatuh.

“Aku ini suami macam apa, Sar?”

Sari segera menggeleng.

“Jangan ngomong begitu.”

“Aku bentak kamu cuma gara-gara uang lima puluh ribu.”

“Kamu capek.”

“Aku bilang kamu pelit.”

“Sudah.”

“Aku bahkan curiga kamu kasih uang ke keluargamu diam-diam.”

Sari terdiam.

Budi memukul pelan dadanya sendiri.

“Aku kerja sepuluh tahun, tapi baru malam ini tahu kehidupan istriku sendiri.”

Sari berdiri dan akhirnya menghampirinya.

Tangannya menyentuh bahu Budi.

“Mas, aku juga salah.”

Budi menatapnya.

“Aku seharusnya enggak menyimpan semuanya sendirian. Aku pikir kalau aku cerita soal tabungan, kita akan tergoda mengambil sedikit demi sedikit. Aku terlalu fokus mengejar rumah sampai lupa kamu juga butuh merasa dihargai.”

Budi menggeleng.

“Bukan begitu.”

“Dua puluh ribu memang terlalu sedikit.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Budi tertawa kecil di tengah air mata.

Sari ikut tersenyum.

Suasana mulai mencair.

Mereka duduk dan makan ayam bakar yang hampir dingin. Tidak ada musik romantis. Tidak ada hadiah mahal. Bahkan beberapa kali Sari harus berdiri memindahkan ember karena titik bocor di langit-langit berubah.

Namun malam ulang tahun pernikahan mereka terasa lebih hangat daripada pesta mana pun.

Setelah makan, Budi kembali membuka dokumen perumahan.

“Aku suka yang ini.”

Sari mendekat.

“Yang mana?”

“Yang ada pohon kecil di depan.”

Sari tertawa.

“Itu cuma gambar brosur, Mas. Belum tentu dapat pohon.”

“Kalau enggak ada, kita tanam sendiri.”

“Mau tanam apa?”

Budi berpikir.

“Mangga.”

“Kenapa mangga?”

“Biar kalau kita sudah tua bisa duduk di bawahnya.”

Sari terdiam.

Senyumnya perlahan berubah menjadi haru.

“Mas.”

“Hmm?”

“Aku belum selesai kasih hadiahnya.”

Budi mengangkat alis.

“Masih ada?”

Sari bangkit menuju lemari lalu mengambil kotak kardus kecil yang dibungkus kertas koran.

Ia menyerahkannya.

Budi membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sepasang sepatu safety baru.

Hitam.

Kokoh.

Masih terbungkus plastik.

Budi menyentuhnya perlahan.

Air matanya kembali menggenang.

Di atas sepatu terdapat secarik kertas kecil.

“Jaga kakimu. Aku masih ingin berjalan bersamamu sampai tua.”

Budi tidak sanggup menahan diri lagi.

Ia berdiri dan memeluk istrinya erat.

“Maafin aku.”

Sari menepuk punggungnya.

“Iya.”

“Beneran maafin?”

“Iya.”

“Jangan cuma iya.”

Sari tertawa kecil dalam pelukannya.

“Iya, Mas Budi. Aku maafin.”

Tiga minggu kemudian, mereka mengunjungi perumahan yang ada di dalam brosur.

Rumahnya tidak semewah gambar iklan.

Halaman depannya sempit.

Cat temboknya putih polos.

Kamar mandinya kecil.

Dan benar saja, tidak ada pohon mangga.

Namun ketika Budi melangkah masuk ke ruang tamu kosong, ia berdiri lama.

“Sar.”

“Iya?”

“Kayaknya sofa kita muat di sini.”

Sari tertawa.

“Kita saja belum punya sofa.”

“Nanti beli.”

“Jangan boros.”

Budi menoleh sambil tersenyum.

“Mulai lagi.”

Sari tertawa lebih keras.

Setelah menghitung kemampuan cicilan dan berkonsultasi dengan pihak bank, mereka akhirnya memutuskan mengambil rumah itu.

Uang tabungan tidak dihabiskan seluruhnya.

Mereka membayar uang muka, biaya administrasi, dan menyisakan dana darurat.

Budi juga meminta satu hal.

Mulai saat itu, keuangan keluarga harus dibicarakan bersama.

Tidak ada lagi buku tabungan rahasia.

Tidak ada lagi uang dua puluh ribu tanpa penjelasan.

Setiap awal bulan mereka duduk bersama di meja makan dan membagi pengeluaran.

Budi mendapat uang pribadi secukupnya.

Sari juga.

Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Sari memiliki anggaran khusus untuk dirinya sendiri.

“Aku enggak butuh banyak,” protesnya.

“Beli sandal.”

“Sandalku masih bagus.”

“Layarnya HP juga retak.”

“Masih nyala.”

“Pokoknya beli.”

Sari akhirnya mengalah.

Namun kejutan terbesar justru terjadi dua bulan sebelum mereka pindah rumah.

Suatu sore, Budi menerima telepon dari nomor tidak dikenal.

“Pak Budi?”

“Iya.”

“Saya dari Bank Mandiri, terkait rekening atas nama Ibu Sari.”

Budi langsung panik.

Ia takut ada masalah dengan tabungan mereka.

Namun petugas itu hanya meminta Sari datang ke kantor cabang karena ada dokumen lama yang harus diperbarui.

Keesokan harinya mereka pergi bersama.

Saat duduk di depan customer service, petugas memeriksa data Sari cukup lama.

Kemudian perempuan berseragam itu berkata sesuatu yang membuat Budi dan Sari sama-sama terdiam.

“Ibu masih punya satu deposito lama di sini.”

Sari mengernyit.

“Deposito?”

“Iya. Dibuat delapan tahun lalu. Nilai awalnya sepuluh juta rupiah dan otomatis diperpanjang.”

Budi langsung menoleh.

“Kamu punya tabungan lain?”

Sari sendiri terlihat bingung.

Kemudian wajahnya berubah.

Ia menutup mulut dengan tangan.

“Astaga.”

“Apa?” tanya Budi.

Sari menatap suaminya.

“Itu uang hadiah dari almarhum Bapak.”

Ayah Sari meninggal tujuh tahun lalu.

Sebelum meninggal, lelaki itu pernah memberikan uang sepuluh juta kepada putrinya.

Sari menaruhnya dalam deposito dan benar-benar melupakannya karena sibuk mengatur rekening tabungan lain.

Setelah dihitung bersama bunga selama bertahun-tahun, nilainya sudah berkembang menjadi lebih dari empat belas juta rupiah.

Budi tertawa tidak percaya.

“Jadi selama ini aku menikahi bendahara negara?”

Sari mencubit lengannya.

“Enak saja.”

Namun Budi tidak ingin uang tersebut dipakai untuk rumah.

Ia punya rencana lain.

Tiga bulan kemudian, setelah mereka resmi pindah ke rumah baru, sebuah mesin jahit industri kecil tiba di ruang belakang.

Sari berdiri terpaku melihatnya.

“Ini apa?”

“Mesin jahit.”

“Aku tahu ini mesin jahit.”

“Ya sudah, kenapa tanya?”

“Siapa yang beli?”

Budi tersenyum.

“Aku.”

Sari langsung memelototinya.

“Pakai uang apa?”

“Uang deposito Bapakmu.”

“Mas!”

“Tenang. Aku sudah hitung.”

Budi menunjukkan sebuah buku catatan baru.

Di dalamnya tertulis rencana usaha sederhana.

Mesin jahit.

Bahan.

Target produksi.

Perkiraan pendapatan.

Sari membacanya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku enggak mau kamu selamanya jahit untuk orang lain,” kata Budi. “Kalau memang kamu bisa kerja sekeras itu selama tiga tahun buat rumah kita, sekarang giliran aku bantu kamu punya sesuatu sendiri.”

Beberapa bulan berikutnya, Sari mulai menerima pesanan kecil dari tetangga.

Permak pakaian.

Seragam sekolah.

Mukena.

Kemudian Bu Rina menawarkan kerja sama.

Usaha kecil mereka perlahan berkembang.

Budi tetap bekerja di pabrik, tetapi setiap pulang sore ia membantu mengantar pesanan menggunakan motor.

Mereka tidak mendadak menjadi kaya.

Cicilan rumah tetap harus dibayar setiap bulan.

Ada hari ketika pesanan sepi.

Ada bulan ketika motor rusak.

Ada saat Budi kembali ingin membeli sesuatu dan Sari kembali mengingatkannya untuk menahan diri.

Mereka tetap bertengkar sesekali.

Namun kini tidak ada lagi rahasia.

Setahun setelah pindah, Budi benar-benar menanam pohon mangga di depan rumah.

Bibitnya hanya setinggi lutut.

Sari berdiri di teras sambil membawa dua gelas teh.

“Mas.”

Budi menoleh.

“Kalau pohon itu sudah besar, kita mungkin sudah tua.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

Budi menepuk tanah di sekeliling batang kecil itu.

“Berarti kita berhasil bertahan sampai tua.”

Sari tersenyum.

Budi kemudian duduk di anak tangga teras.

Dari sana ia melihat rumah kecil mereka.

Catnya sederhana.

Perabotnya tidak mahal.

Di ruang belakang terdengar suara mesin jahit.

Di depan rumah tumbuh pohon mangga yang masih sangat kecil.

Namun tidak ada lagi ember penampung air hujan.

Tidak ada lagi Bu Wati mengetuk pintu menagih sewa.

Budi memandang tangannya sendiri.

Sepuluh tahun lalu ia pernah mengira seorang suami dianggap berhasil jika mampu membawa pulang gaji.

Ia salah.

Sari membuatnya mengerti bahwa rumah tangga bukan tentang siapa yang menghasilkan lebih banyak, siapa yang paling lelah, atau siapa yang paling berhak mengatur uang.

Rumah tangga adalah dua orang yang berjuang menuju arah yang sama.

Kadang salah satunya berjalan di depan.

Kadang yang lain menopang dari belakang.

Dan sering kali, pengorbanan terbesar justru dilakukan oleh orang yang paling sedikit membicarakannya.

Budi menoleh kepada Sari.

“Aku masih punya uang pribadi bulan ini?”

Sari mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Doni ngajak ngopi.”

“Berapa?”

“Lima puluh ribu.”

Sari memasang wajah serius beberapa detik.

Lalu ia masuk ke dalam rumah.

Budi menunggu.

Tak lama kemudian Sari kembali dan menyodorkan selembar uang.

Budi melihat nominalnya.

Dua puluh ribu rupiah.

Ia langsung melongo.

“Sar!”

Sari pecah tertawa.

Budi mengejarnya mengelilingi teras.

Tawa mereka memenuhi halaman kecil itu.

Dan untuk pertama kalinya, uang dua puluh ribu tidak lagi menjadi simbol kemarahan.

Ia menjadi pengingat tentang sebuah masa ketika mereka hampir saling kehilangan hanya karena tidak memahami cara satu sama lain mencintai.

Di bawah langit Cikarang yang mulai kemerahan, pohon mangga kecil di halaman mereka bergoyang tertiup angin.

Belum memberi buah.

Belum memberi keteduhan.

Namun akarnya sudah tertanam kuat.

Sama seperti pernikahan mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang