SEORANG MILIARDER TERPANA SAAT MELIHAT MANTAN KEKASIHNYA DI DALAM PESAWAT BERSAMA DUA ANAK KEMBAR LAKI-LAKI YANG WAJAHNYA BAGAI PINANG DIBELAH DUA DENGAN DIRINYA.

Nayla tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Raditya dengan mata yang dipenuhi sesuatu yang sulit diterjemahkan. Ada ketakutan, kemarahan lama, penyesalan, dan mungkin juga rasa lega karena rahasia yang selama ini ia jaga akhirnya menemukan jalan keluar sendiri.

Pesawat berguncang ringan saat melewati turbulensi.

Lampu tanda sabuk pengaman menyala.

Seorang pramugari mendekat dan meminta Raditya kembali ke kursinya.

“Nanti,” kata Nayla pelan. “Setelah anak-anak tidur.”

Raditya ingin membantah, tetapi ketika melihat Raka dan Rafi menatap mereka dengan wajah bingung, ia mengurungkan niatnya.

Ia kembali ke kursinya dengan dada seperti dipenuhi batu.

Dua puluh menit berikutnya terasa lebih panjang daripada tujuh tahun penantiannya.

Raditya tidak bisa membaca. Tidak bisa menonton film. Bahkan tidak benar-benar mendengar suara pengumuman kabin.

Sesekali ia menoleh ke belakang.

Raka sudah tertidur sambil memeluk bantal kecil, sedangkan Rafi masih memainkan ujung selimutnya sebelum akhirnya matanya perlahan terpejam.

Nayla menunggu beberapa menit lagi.

Kemudian ia bangkit.

“Ke galley belakang,” bisiknya ketika melewati Raditya.

Raditya mengikutinya.

Di dekat dapur pesawat yang sepi, Nayla berdiri membelakangi lorong sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Raditya berhenti beberapa langkah darinya.

“Jawab aku.”

Nayla mengangkat wajah.

“Iya.”

Hanya satu kata.

Namun kata itu menghantam Raditya lebih keras daripada apa pun yang pernah ia alami.

“Mereka anakmu.”

Raditya menatapnya tanpa suara.

Matanya memerah.

Ia menggeleng kecil seperti mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar.

“Mereka… anakku?”

Nayla mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak membangun perusahaan bernilai triliunan rupiah, Raditya merasa kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.

Ia bersandar ke dinding kabin.

“Tujuh tahun,” katanya lirih. “Kamu menyembunyikan anak-anakku selama tujuh tahun?”

Nayla langsung menatap tajam.

“Jangan bicara seolah semuanya sesederhana itu.”

“Sesederhana itu?” Raditya tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Aku bahkan tidak tahu mereka ada.”

“Aku datang menemuimu.”

Kalimat itu membuat Raditya terdiam.

“Apa?”

“Seminggu setelah aku pergi dari apartemen.”

Raditya mengerutkan dahi.

“Aku sudah tahu aku hamil.”

Nayla menarik napas.

“Aku takut. Aku marah. Tapi aku tetap datang karena kupikir kamu berhak tahu.”

“Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”

“Karena aku tidak pernah sampai bertemu denganmu.”

Nayla membuka tas kecil yang dibawanya lalu mengeluarkan ponsel. Setelah beberapa detik mencari sesuatu, ia menunjukkan sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan halaman sebuah gedung hotel di Jakarta.

Tanggal pada foto menunjukkan tujuh tahun lalu.

Di depan pintu masuk terlihat Raditya mengenakan jas gelap.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda bergaun merah.

Putri Pak Hendra.

Raditya langsung mengenalinya.

“Itu makan malam bisnis.”

“Aku tidak tahu.”

“Nayla, aku bahkan hampir tidak bicara dengan perempuan itu selain saat makan.”

“Aku sedang hamil, sendirian, dan baru saja mendengar laki-laki yang kucintai mengatakan bahwa keberadaanku menghambat hidupnya.”

Suara Nayla mulai bergetar.

“Aku datang ke hotel untuk mengatakan aku mengandung anakmu. Lalu aku melihatmu masuk bersama dia. Saat aku mencoba mendekat, asistennya Pak Hendra mengatakan acara itu pertemuan keluarga dan kalian sedang membicarakan masa depan.”

Raditya menutup mata.

Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Pak Hendra memang pernah mencoba menjodohkannya dengan putrinya sebagai bagian dari hubungan bisnis. Raditya menolaknya beberapa hari kemudian.

Namun Nayla tidak pernah tahu.

“Aku meneleponmu malam itu,” kata Nayla.

“Aku tidak menerima telepon apa pun.”

“Aku menelepon sebelas kali.”

Raditya menatapnya.

“Nomorku tidak pernah berubah.”

“Nomerku diblokir.”

“Tidak mungkin.”

Nayla tersenyum getir.

“Itu juga yang kukira.”

Raditya mendadak teringat seseorang.

Damar.

Asisten pribadinya saat itu.

Damar yang mengatur hampir seluruh jadwal, menyaring telepon, bahkan memiliki akses ke ponsel perusahaan yang sering digunakan Raditya ketika rapat.

Enam bulan setelah Nayla pergi, Damar mengundurkan diri dan pindah ke perusahaan milik Pak Hendra.

Saat itu Raditya tidak pernah menganggapnya aneh.

Sekarang tengkuknya mendadak dingin.

“Nayla, siapa yang bilang nomormu diblokir?”

“Damar.”

Raditya terdiam.

Nayla melanjutkan, “Aku bahkan datang ke kantor. Damar menemuiku di lobi. Dia bilang kamu tidak ingin bertemu dan memintaku berhenti mengganggu hidupmu.”

“Itu bohong.”

“Aku tahu sekarang.”

“Sekarang?”

Nayla memandang ke arah kursi anak-anak.

“Dua tahun lalu aku bertemu mantan resepsionis kantor lamamu. Dia bilang namaku tidak pernah masuk daftar tamu yang dilarang menemui kamu. Justru Damar yang memerintahkan keamanan agar setiap kali aku datang, mereka harus menghubunginya dulu.”

Raditya mengepalkan tangan.

“Kenapa kamu tetap tidak mencariku setelah tahu?”

“Karena tujuh tahun sudah hampir berlalu, Dit.”

“Kamu baru bilang dua tahun lalu.”

“Lima tahun tetap waktu yang panjang.”

Nayla menatap matanya.

“Raka dan Rafi sudah menganggap dunia mereka lengkap. Aku takut kamu datang dengan kekuasaanmu, pengacaramu, uangmu, lalu mengambil mereka.”

“Aku tidak akan melakukan itu.”

“Aku tidak bisa tahu.”

“Aku ayah mereka!”

“Dan aku ibu yang membesarkan mereka sendirian sejak hari pertama!”

Suara Nayla sedikit meninggi.

Ia segera menahan diri dan melihat ke arah kabin.

Raditya terdiam.

Kemarahan yang tadi membakar dadanya perlahan berubah menjadi rasa bersalah.

Ia membayangkan Nayla hamil sendirian.

Menjalani pemeriksaan tanpa dirinya.

Melahirkan dua bayi tanpa seorang laki-laki berdiri di sampingnya.

Menghadapi demam, tangisan tengah malam, biaya sekolah, ketakutan, dan pertanyaan anak-anak tentang ayah mereka.

“Kenapa Paris?” tanya Raditya akhirnya.

“Aku mendapat beasiswa master ketika mereka berumur satu tahun. Setelah lulus, aku bekerja sebagai konsultan desain digital. Sekarang aku kembali ke Jakarta karena Mama sakit. Kami akan tinggal di Indonesia.”

Untuk alasan yang tidak sepenuhnya ia pahami, bagian terakhir itu membuat Raditya merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

“Mereka tahu soal aku?”

Nayla menggeleng.

“Mereka tahu ayah mereka masih hidup. Aku tidak pernah mengatakan kamu meninggal atau meninggalkan mereka.”

“Lalu apa yang kamu katakan?”

“Bahwa ayah mereka dan Mama terpisah karena keadaan.”

Raditya menunduk.

“Boleh aku mengenal mereka?”

Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, tetapi Nayla tahu betapa besar artinya.

Ia menatap Raditya cukup lama.

“Aku tidak akan menghentikanmu menjadi ayah mereka.”

Mata Raditya langsung berkaca-kaca.

“Tapi jangan paksa mereka. Jangan datang lalu berharap mereka langsung memanggilmu Papa.”

“Aku mengerti.”

“Dan jangan bawa media, staf, atau siapa pun dari duniamu.”

Raditya mengangguk cepat.

“Aku datang sebagai Raditya. Bukan CEO Kusuma Digital.”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Nayla sedikit melunak.

Setelah pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta keesokan pagi, Raditya sengaja membatalkan mobil VIP yang biasa menjemputnya.

Ia berjalan bersama Nayla dan kedua anak itu menuju area pengambilan bagasi.

Raka tampak lebih aktif, sedangkan Rafi cenderung pendiam.

“Om kerja di Jakarta?” tanya Raka.

“Iya.”

“Kerja apa?”

Raditya berpikir sejenak.

“Bikin aplikasi.”

Mata Raka membesar.

“Game?”

“Kadang.”

“Om bisa bikin game dinosaurus?”

Raditya tertawa untuk pertama kalinya dengan tulus selama bertahun-tahun.

“Mungkin kalau kamu bantu desain.”

Raka langsung bersemangat.

Rafi berbeda.

Anak itu terus menatap Raditya diam-diam.

Ketika Nayla pergi ke toilet bersama Raka, Rafi berdiri di sebelah Raditya dekat troli koper.

“Om.”

“Hm?”

“Mama kenal Om dari dulu?”

“Iya.”

“Dekat?”

Raditya menelan ludah.

“Cukup dekat.”

Rafi memandang wajahnya beberapa detik.

Kemudian ia mengangkat tangan dan menunjuk alis Raditya.

“Bekas luka Om sama kayak aku.”

Raditya tersenyum kecil.

“Iya.”

“Papa juga punya?”

Pertanyaan itu membuat jantung Raditya berdegup kencang.

Ia berjongkok agar sejajar dengan anak itu.

“Kalau suatu hari kamu ketemu Papa kamu, kamu mau bilang apa?”

Rafi berpikir.

“Mau tanya kenapa lama banget.”

Raditya hampir tidak mampu menahan air matanya.

Ia hanya menjawab, “Mungkin dia juga sedang mencari jalan pulang.”

Tiga hari kemudian, dengan persetujuan Nayla, Raditya datang ke rumah kecil milik ibu Nayla di Depok.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada pengawal.

Ia datang membawa dua kotak Lego dan satu album foto.

Setelah makan siang, Nayla meminta anak-anak duduk di ruang keluarga.

Tangannya gemetar.

“Raka, Rafi… Mama mau cerita sesuatu.”

Raditya duduk di kursi seberang mereka.

Ketika Nayla akhirnya mengatakan bahwa Raditya adalah ayah mereka, Raka langsung terdiam.

Rafi malah menatap Raditya lama sekali.

“Jadi Om itu Papa?”

Raditya mengangguk perlahan.

“Iya.”

“Kenapa baru datang sekarang?”

Tidak ada kemarahan dalam suara Rafi.

Justru kepolosan itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Raditya tidak mencari alasan.

“Karena Papa baru tahu kalian ada.”

Raka menoleh ke ibunya.

“Bener, Ma?”

Nayla mengangguk.

“Ada banyak kesalahan orang dewasa yang membuat Mama dan Papa tidak bertemu.”

Raka menunduk.

Beberapa detik kemudian ia bertanya, “Papa bakal pergi lagi?”

Raditya merasa tenggorokannya tercekat.

Ia mendekat, tetapi tidak langsung menyentuh mereka.

“Kalau kalian izinkan Papa ada dalam hidup kalian, Papa akan berusaha tidak pergi.”

Rafi tiba-tiba berdiri.

Raditya mengira anak itu akan menjauh.

Namun Rafi justru mengambil sesuatu dari lemari.

Sebuah kotak kecil.

Ia membukanya dan mengeluarkan dua amplop penuh gambar.

“Ini buat Papa.”

Raditya menerimanya dengan bingung.

Di setiap kertas terdapat gambar seorang laki-laki tanpa wajah.

Ada yang berdiri di taman.

Ada yang memegang tangan dua anak.

Ada yang duduk bersama mereka di meja makan.

Raditya menatap Nayla.

Nayla sudah menangis.

“Mereka sering menggambar ayah mereka sejak TK.”

Raditya menunduk, lalu air matanya jatuh ke atas salah satu gambar.

Raka perlahan mendekat.

“Papa jangan nangis.”

Raditya tersenyum dalam tangis.

“Papa cuma telat tujuh tahun buat lihat gambar ini.”

Beberapa minggu berikutnya menjadi masa paling aneh sekaligus paling membahagiakan dalam hidupnya.

Raditya mulai mengurangi perjalanan bisnis.

Ia belajar mengantar anak sekolah.

Belajar bahwa Raka membenci tomat, sedangkan Rafi takut suara petir.

Ia menghadiri pertandingan futsal kecil mereka.

Membantu tugas matematika.

Mendengarkan cerita yang bagi dunia mungkin sepele, tetapi baginya terasa lebih penting daripada rapat direksi mana pun.

Hubungannya dengan Nayla juga berubah perlahan.

Tidak ada romantisme berlebihan.

Tidak ada permintaan untuk langsung kembali bersama.

Mereka belajar bicara lagi.

Kali ini benar-benar mendengarkan.

Namun Raditya belum melupakan satu orang.

Damar.

Melalui audit internal lama, Raditya menemukan bukti bahwa tujuh tahun sebelumnya Damar menerima pembayaran besar dari salah satu perusahaan milik Pak Hendra.

Tujuannya ternyata jauh lebih kotor dari sekadar menjauhkan Nayla.

Pak Hendra ingin Raditya menikahi putrinya agar pengaruhnya di Kusuma Digital semakin kuat.

Damar bertugas memastikan Nayla tidak kembali.

Raditya membawa bukti itu ke jalur hukum.

Tetapi bagian yang paling mengejutkan terjadi ketika Damar akhirnya bertemu Raditya.

“Ada satu hal yang harus Mas tahu,” katanya.

“Apa?”

“Waktu Mbak Nayla datang ke kantor dalam keadaan hamil, saya memang mengusir dia.”

Raditya menatapnya dingin.

“Tapi sebelum pergi, dia menitipkan sesuatu.”

Damar mengeluarkan sebuah amplop lama.

“Aku simpan. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena selama tujuh tahun aku tahu suatu hari dosa ini akan mengejar saya.”

Tangan Raditya bergetar ketika membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat hasil USG.

Dua janin kecil.

Dan tulisan tangan Nayla.

Dit, aku tidak tahu apakah setelah ini kita masih punya kesempatan memperbaiki semuanya. Tapi kalau kamu mau, pulanglah. Kita akan menjadi empat.

Raditya menangis malam itu.

Bukan sebagai miliarder.

Bukan sebagai CEO.

Hanya sebagai seorang laki-laki yang akhirnya memahami betapa mahal harga sebuah kesalahpahaman.

Setahun kemudian, pada tanggal empat belas Agustus, halaman rumah ibu Nayla dipenuhi balon sederhana.

Raka dan Rafi berulang tahun kedelapan.

Setelah meniup lilin, Raka tiba-tiba berteriak, “Papa, foto!”

Raditya berdiri di belakang kedua anaknya.

Nayla hendak menjauh agar hanya mereka bertiga yang masuk foto.

Namun Rafi menarik tangannya.

“Mama juga.”

Nayla tersenyum.

Mereka berdiri berempat.

Sebelum kamera mengambil gambar, Raditya menatap Nayla.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada cincin.

Hanya sebuah senyum kecil yang dijawab Nayla dengan senyum yang sama.

Klik.

Satu foto sederhana akhirnya menyimpan sesuatu yang selama tujuh tahun tidak pernah mereka miliki.

Sebuah keluarga dalam satu bingkai.

Dan Raditya baru menyadari bahwa selama ini ia selalu mengira keberhasilan berarti membangun sesuatu yang begitu besar hingga seluruh dunia mengenal namanya.

Ternyata keberhasilan terbesar dalam hidupnya justru jauh lebih sederhana.

Dua anak memanggilnya Papa.

Seorang perempuan kembali mempercayainya.

Dan setiap malam, ia memiliki alasan untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang