POLISI KORUP MENGHANCURKAN MOBIL KAKEK 78 TAHUN DI BAWAH TERIK MATAHARI HINGGA REMUK TOTAL — TANPA MENYADARI BAHWA PRIA TUA ITU ADALAH AYAH SEORANG KOLONEL TNI DAN JAKSA NEGARA YANG SEDANG MEMBURU JARINGAN KORUPSI BESAR

Malam setelah sedan biru Pak Sutrisno dihancurkan, hujan turun deras di Sukamaju.

Air mengalir di sepanjang selokan, membawa debu dan serpihan daun dari siang yang terik. Di sebuah klinik kecil dekat pasar, Pak Sutrisno duduk di atas ranjang pemeriksaan dengan perban melilit lengan kirinya. Luka akibat pecahan kaca tidak terlalu dalam, tetapi tekanan darahnya melonjak tinggi.

Dokter berkali-kali memintanya beristirahat.

Namun pandangan Pak Sutrisno terus tertuju pada jendela.

Sedan birunya terparkir di luar, atau lebih tepatnya, sisa dari sedan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari hidupnya.

Kapnya penyok parah. Semua kaca pecah. Lampu depan menggantung. Salah satu spion hanya menyisakan kabel. Di bawah hujan, kendaraan itu tampak seperti benda asing yang baru saja ditarik dari tempat rongsokan.

Pak Sutrisno menatapnya lama.

Ia tidak menangis lagi.

Entah karena terlalu lelah, atau karena air matanya sudah habis.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Budi masuk dengan ragu-ragu.

“Pak.”

Pak Sutrisno menoleh.

“Kamu Budi, kan?”

Budi mengangguk.

Pemuda itu duduk di kursi plastik di samping ranjang.

“Maaf saya baru datang. Tadi ada orang yang menghubungi saya.”

“Siapa?”

“Saya belum tahu pasti. Katanya dari tim pemeriksa internal.”

Pak Sutrisno mengerutkan dahi.

Budi kemudian mengeluarkan ponselnya.

“Saya merekam kejadian tadi, Pak.”

Pak Sutrisno terdiam.

Budi membuka video.

Hanya beberapa detik setelah rekaman diputar, Pak Sutrisno memalingkan wajah.

Ia tidak sanggup melihat dirinya sendiri berlutut di aspal.

“Sudah,” katanya pelan.

Budi langsung mematikan layar.

“Saya tidak bermaksud membuat Bapak sedih.”

“Bukan begitu.”

Pak Sutrisno menghela napas.

“Simpan baik-baik videonya.”

Budi mengangguk.

“Sudah saya salin ke dua tempat.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Pak Sutrisno tersenyum tipis.

“Kamu lebih hati-hati daripada saya.”

Budi menundukkan kepala.

“Saya cuma tidak mau mereka bilang Bapak yang salah.”

Kalimat itu membuat wajah Pak Sutrisno berubah.

Ia menatap pemuda di hadapannya.

Selama puluhan tahun hidup, ia selalu percaya bahwa orang kecil tidak harus memiliki jabatan untuk bisa menjaga kebenaran.

Kadang, keberanian justru datang dari orang yang namanya tidak dikenal siapa pun.

“Terima kasih, Budi.”

Tidak lama kemudian, suara kendaraan berhenti di depan klinik.

Beberapa orang masuk.

Yang pertama adalah seorang pria tinggi berusia sekitar lima puluh tahun dengan kemeja gelap sederhana. Tidak ada seragam militer di tubuhnya.

Namun cara berjalan dan sikapnya membuat orang-orang di ruang tunggu tanpa sadar memberi jalan.

Pak Sutrisno langsung mengenalinya.

“Dika.”

Kolonel Andika Sutrisno menghampiri ayahnya.

Beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.

Matanya melihat perban di lengan Pak Sutrisno.

Kemudian ia melihat memar di siku.

Rahangnya mengeras.

“Ayah.”

Pak Sutrisno tersenyum tipis.

“Kamu datang juga.”

Andika memeluk ayahnya.

Pelukan itu singkat, tetapi cukup membuat bahu Pak Sutrisno bergetar.

“Dika, jangan bikin masalah.”

“Ayah masih memikirkan itu?”

“Ayah tidak mau kamu menggunakan pangkatmu.”

Andika menarik kursi dan duduk.

“Aku datang sebagai anak Ayah.”

“Lalu setelah itu?”

“Setelah itu, hukum yang bekerja.”

Pak Sutrisno menatap mata putranya.

“Janji?”

“Janji.”

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan masuk.

Rina.

Ia tidak mengatakan apa pun ketika melihat ayahnya.

Ia langsung memeluk Pak Sutrisno erat.

“Maaf, Yah.”

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

Rina menarik napas.

“Karena selama ini kami mengejar orang-orang besar, tetapi ternyata orang seperti mereka masih bisa menyakiti Ayah di depan banyak orang.”

Pak Sutrisno menyentuh kepala putrinya.

“Jangan merasa bersalah karena pekerjaanmu.”

Rina mengangguk pelan.

Kemudian wajahnya kembali serius.

Ia melihat Budi.

“Anda yang merekam?”

“Iya, Bu.”

“Rekaman asli masih ada?”

“Ada.”

“Bagus. Jangan diedit. Jangan dikirim ke media dulu.”

Budi tampak sedikit khawatir.

“Kenapa?”

“Karena kalau mereka tahu apa saja yang kita miliki, orang-orang di belakang Agus mungkin akan menghilangkan bukti lain.”

Budi mengangguk.

Rina lalu memandang kakaknya.

“Aku baru dapat informasi tambahan.”

“Apa?”

“Agus bukan pemain utama.”

Andika menyipitkan mata.

“Ada siapa di atasnya?”

“Kompol Suryadi.”

Pak Sutrisno yang mendengar nama itu ikut menoleh.

Rina membuka sebuah berkas di tabletnya.

“Selama enam bulan terakhir, tim kami menyelidiki pengadaan pembangunan jalan, drainase, dan fasilitas desa di beberapa kecamatan. Nilainya lebih dari seratus dua puluh miliar rupiah.”

Andika diam.

“Sebagian proyek ada di atas kertas saja,” lanjut Rina. “Sebagian dikerjakan, tapi nilai anggarannya dinaikkan. Ada perusahaan fiktif, rekening penampung, sampai penarikan tunai lewat orang-orang tertentu.”

“Dan polisi terlibat?”

“Kami menduga beberapa aparat menerima uang untuk melindungi distribusi dana dan mengintimidasi orang yang mencoba bicara.”

“Agus?”

Rina mengangguk.

“Namanya muncul dalam enam transaksi. Nilainya tidak besar dibandingkan tokoh utama, tapi rutin.”

“Berarti dia tukang lapangan.”

“Kemungkinan.”

Pak Sutrisno mendengarkan dalam diam.

Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu, kenapa dia menyerang Ayah?”

Rina menatap ayahnya.

“Itu yang belum kami tahu.”

Pertanyaan itu ternyata menjadi kunci.

Karena pada pukul dua dini hari, sesuatu terjadi di Polsek Sukamaju.

Kompol Suryadi menerima telepon.

Ia sedang sendirian di ruangannya ketika suara seseorang terdengar dari seberang.

“Kakek tadi siapa?”

Suryadi berhenti memainkan korek api.

“Orang biasa.”

“Sudah dicek?”

“Sudah tua. Pensiunan. Tidak ada masalah.”

Suara di telepon menjadi dingin.

“Kamu yakin?”

Suryadi terdiam.

“Kenapa?”

“Video kejadian sudah masuk ke seseorang di kejaksaan.”

Suryadi langsung berdiri.

“Apa?”

“Dan ada nama Sutrisno.”

Wajah Suryadi berubah.

“Memangnya kenapa dengan nama itu?”

Orang di seberang tidak langsung menjawab.

Ketika akhirnya berbicara, suaranya jauh lebih pelan.

“Jaksa Rina Sutrisno.”

Tangan Suryadi membeku.

Ia tahu nama itu.

Semua orang dalam jaringan mereka tahu.

Rina adalah jaksa yang sejak berbulan-bulan terakhir membuat beberapa proyek mereka tertunda. Beberapa rekening sudah diblokir. Dua orang kontraktor mulai diperiksa.

“Jangan bilang…”

“Cari tahu hubungan mereka.”

Telepon terputus.

Suryadi berdiri terpaku.

Beberapa menit kemudian, ia memanggil Agus.

Bripka Agus datang dengan wajah mengantuk.

“Ada apa, Pak?”

Suryadi menatapnya seperti ingin menelan hidup-hidup.

“Kakek yang kamu hajar siang tadi.”

“Iya.”

“Kamu tahu siapa dia?”

Agus tertawa kecil.

“Siapa lagi? Orang tua sok keras kepala.”

Suryadi menendang kursi di sampingnya.

BRAK.

Agus langsung diam.

“Itu ayah Jaksa Rina Sutrisno!”

Wajah Agus perlahan kehilangan warna.

“Apa?”

“Dan kakaknya kolonel TNI.”

Agus mundur satu langkah.

“Pak, saya tidak tahu.”

“Kamu tidak pernah tahu apa-apa!”

Suryadi menarik napas kasar.

“Kamu direkam.”

Agus semakin pucat.

“Siapa yang rekam?”

“Itulah masalahnya.”

Agus mulai panik.

“Kalau begitu kita ambil videonya.”

“Bagaimana?”

“Cari orangnya.”

Suryadi menatap Agus.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat ruangan terasa dingin.

“Kamu sudah membuat masalah besar. Jangan membuatnya lebih besar lagi.”

Namun Agus tidak mendengarkan.

Ketakutan membuat orang melakukan hal-hal bodoh.

Pagi harinya, dua pria berjaket mendatangi rumah Budi.

Mereka mengaku ingin membeli rekaman dengan harga lima puluh juta rupiah.

Budi menolak.

Harga naik menjadi seratus juta.

Budi tetap menolak.

Salah seorang pria kemudian tersenyum.

“Mas punya keluarga, kan?”

Budi langsung memahami maksudnya.

Sebelum mereka sempat berkata lebih jauh, sebuah mobil berhenti di ujung gang.

Dua petugas berpakaian sipil turun.

Pria berjaket itu langsung pergi.

Budi berdiri di depan rumah dengan tubuh gemetar.

Salah seorang petugas menghampirinya.

“Saudara Budi?”

“Iya.”

“Kami dari tim pengamanan saksi.”

Budi menghembuskan napas panjang.

Pada hari yang sama, pemeriksaan internal terhadap Agus dan Suryadi dimulai.

Namun kabar itu belum dipublikasikan.

Rina sengaja meminta agar penyelidikan dilakukan senyap.

Mereka membutuhkan lebih dari sekadar bukti penganiayaan.

Mereka ingin mengetahui mengapa jaringan korupsi yang selama ini bergerak begitu rapi mendadak panik hanya karena seorang kakek tua.

Jawabannya muncul dari sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.

Sedan biru Pak Sutrisno.

Ketika mobil itu dibawa ke bengkel sebagai barang bukti, seorang teknisi menemukan sebuah benda kecil terselip di balik pelapis bagasi.

Sebuah flashdisk.

Pak Sutrisno tampak bingung ketika diperlihatkan benda itu.

“Itu bukan punya saya.”

Rina langsung meminta pemeriksaan digital.

Isinya membuat semua orang terdiam.

Ada puluhan dokumen.

Daftar proyek.

Nomor rekening.

Foto kuitansi.

Rekaman percakapan.

Dan sebuah daftar nama.

Kompol Suryadi termasuk di dalamnya.

Bripka Agus juga ada.

Tetapi bukan mereka yang paling mengejutkan.

Nama paling atas adalah seorang pengusaha terkenal bernama Hendra Wijaya, pemilik perusahaan konstruksi besar yang selama ini dikenal dekat dengan banyak pejabat daerah.

Rina menatap layar komputer.

“Bagaimana ini bisa ada di mobil Ayah?”

Mereka baru mendapatkan jawabannya dua hari kemudian.

Seseorang datang ke rumah Pak Sutrisno.

Namanya Pak Harun.

Usianya enam puluh lima tahun.

Mantan pegawai bagian keuangan salah satu perusahaan kontraktor.

Begitu duduk, tangannya langsung gemetar.

“Saya yang taruh flashdisk itu.”

Pak Sutrisno terkejut.

“Kapan?”

“Sekitar tiga minggu lalu.”

“Kenapa di mobil saya?”

Pak Harun menunduk.

“Karena saya takut.”

Ternyata Pak Harun mengetahui bahwa perusahaan tempatnya bekerja digunakan untuk mengalirkan dana proyek fiktif.

Ketika ia mencoba mengundurkan diri, seseorang mulai mengikutinya.

Beberapa kali rumahnya didatangi orang asing.

Suatu sore, ia melihat sedan Pak Sutrisno terparkir di masjid.

Mereka saling mengenal sejak muda.

Pak Harun tahu Pak Sutrisno memiliki anak yang bekerja di kejaksaan, meskipun ia tidak tahu posisi Rina secara detail.

Dalam kepanikan, ia membuka bagasi mobil yang kebetulan tidak terkunci sempurna dan menyembunyikan flashdisk di balik lapisan kain.

Ia berencana menghubungi Pak Sutrisno kemudian.

Namun malam itu, Pak Harun mendapat ancaman.

Ia langsung pergi ke rumah kerabatnya di Semarang.

Rina terdiam mendengar cerita itu.

“Jadi mereka sebenarnya mencari flashdisk ini.”

Pak Harun mengangguk.

“Mungkin.”

Potongan teka-teki mulai menyatu.

Agus memang arogan dan kasar.

Namun ternyata siang itu ia tidak menghentikan Pak Sutrisno secara kebetulan.

Seseorang telah memberi informasi tentang sedan biru tersebut.

Agus diperintahkan mencari sesuatu di dalam mobil.

Ia sengaja memancing keributan agar bisa melakukan pemeriksaan tanpa prosedur.

Namun ketika Pak Sutrisno terus meminta penjelasan dan warga mulai memperhatikan, Agus kehilangan kendali.

Ia menghancurkan mobil karena panik sekaligus marah.

Ironisnya, bagian yang paling ia rusak justru bagian depan.

Ia tidak pernah memeriksa bagasi secara menyeluruh.

Flashdisk itu selamat.

Rina segera memerintahkan tim memperluas penyelidikan.

Rekening dibekukan.

Dokumen perusahaan disita.

Beberapa saksi diamankan.

Dalam waktu kurang dari seminggu, tujuh orang ditangkap.

Bripka Agus menjadi salah satunya.

Ketika petugas datang menjemputnya, pria yang dahulu berdiri gagah di depan Pak Sutrisno itu tidak lagi terlihat arogan.

Tangannya gemetar.

“Pak, saya cuma disuruh.”

Petugas tidak menjawab.

Agus terus berbicara.

“Saya tidak pernah pegang uang besar. Saya cuma dapat bagian kecil.”

“Jelaskan nanti dalam pemeriksaan.”

Kompol Suryadi juga ditangkap.

Ia mencoba melarikan diri menuju Yogyakarta, tetapi kendaraannya dihentikan di sebuah jalan tol.

Di dalam mobilnya ditemukan uang tunai ratusan juta rupiah dan dua telepon seluler yang kemudian membuka hubungan jaringan lebih luas.

Nama Hendra Wijaya akhirnya masuk dalam daftar tersangka.

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Ketika penyidik memeriksa salah satu rekening perusahaan Hendra, ditemukan transfer rutin kepada sejumlah orang, termasuk pejabat, aparat, dan beberapa perantara.

Salah satu nama membuat Rina membeku.

Ia membaca ulang.

Kemudian sekali lagi.

Andika yang berdiri di sampingnya bertanya, “Ada apa?”

Rina menunjuk layar.

Sebuah nama tertera di sana.

Mayor Purnawirawan Surya Pratama.

Andika mengenalnya.

Sangat mengenalnya.

Surya adalah sahabat lama keluarga mereka.

Orang yang hampir setiap Lebaran datang ke rumah Pak Sutrisno.

Orang yang sejak kecil dipanggil Rina sebagai Om Surya.

Lebih mengejutkan lagi, dialah yang selama ini beberapa kali memberikan informasi tidak resmi kepada Rina mengenai dugaan korupsi tersebut.

“Kita dipermainkan,” kata Rina.

Surya ternyata memberikan informasi kecil agar penyidikan selalu mengarah pada orang-orang lapisan bawah.

Ia bertindak seolah membantu, padahal sebenarnya mengendalikan arah penyelidikan.

Dan dialah orang yang mengetahui bahwa Pak Harun mengenal keluarga Sutrisno.

Setelah Pak Harun menghilang, Surya menduga dokumen penting diserahkan kepada Pak Sutrisno.

Ia lalu memerintahkan Suryadi mencari flashdisk tersebut.

Malam ketika Surya ditangkap, Pak Sutrisno duduk di teras rumah.

Sedan birunya sudah tidak ada.

Kerusakannya terlalu parah.

Perusahaan asuransi menyatakan kendaraan itu tidak ekonomis untuk diperbaiki.

Andika datang membawa secangkir teh.

“Ayah masih memikirkan mobil itu?”

Pak Sutrisno tersenyum.

“Sedikit.”

“Kita bisa cari mobil lain.”

“Bukan soal mobilnya.”

“Lalu?”

Pak Sutrisno memandang jalan di depan rumah.

“Ayah cuma berpikir, kalau hari itu Agus tidak menghancurkan mobil Ayah, mungkin flashdisk itu tidak pernah ditemukan.”

Andika duduk di sampingnya.

“Kadang orang menghancurkan sesuatu karena merasa berkuasa.”

Pak Sutrisno mengangguk.

“Tapi dia tidak tahu apa yang sedang dia buka.”

Beberapa hari kemudian, Budi datang.

Ia membawa sesuatu.

Sebuah plat nomor lama sedan biru Pak Sutrisno yang berhasil ia selamatkan dari bengkel.

“Saya pikir Bapak mau menyimpannya.”

Pak Sutrisno menerima plat itu.

Tangannya mengusap permukaannya perlahan.

“Terima kasih.”

Budi tersenyum.

“Video saya akhirnya tidak sia-sia, Pak.”

Pak Sutrisno menatapnya.

“Bukan videonya yang paling penting.”

Budi bingung.

“Lalu?”

“Keberanianmu menekan tombol rekam ketika semua orang memilih diam.”

Budi terdiam.

Pak Sutrisno kemudian menggantung plat nomor itu di dinding garasi.

Bukan sebagai kenangan tentang mobil yang dihancurkan.

Melainkan sebagai pengingat.

Bahwa kekuasaan bisa membuat seseorang merasa kebal.

Bahwa ketakutan bisa membuat banyak orang memilih berpaling.

Namun kebenaran terkadang hanya membutuhkan satu orang untuk tetap berdiri.

Satu orang yang menyimpan bukti.

Satu orang yang menolak dibeli.

Satu orang yang berani mengatakan bahwa sesuatu yang salah tetaplah salah, bahkan ketika pelakunya mengenakan seragam dan memiliki kekuasaan.

Beberapa bulan kemudian, kasus Sukamaju menjadi salah satu penyidikan korupsi terbesar di wilayah tersebut.

Puluhan saksi diperiksa.

Aset bernilai miliaran rupiah disita.

Pejabat dan aparat yang selama bertahun-tahun merasa aman akhirnya duduk di ruang sidang.

Pak Sutrisno tidak pernah meminta perlakuan khusus.

Ia hanya datang sekali sebagai saksi.

Ketika jaksa bertanya apa yang ia rasakan saat Agus menghancurkan mobilnya, Pak Sutrisno diam beberapa detik.

Kemudian ia menjawab dengan suara tenang.

“Saya sedih karena mobil saya rusak. Tapi yang lebih menyakitkan adalah melihat seorang petugas merasa dirinya berhak merendahkan manusia lain hanya karena dia punya kekuasaan.”

Ruang sidang sunyi.

Pak Sutrisno melanjutkan.

“Mobil bisa diganti. Kaca bisa diperbaiki. Luka bisa sembuh. Tapi kalau masyarakat kehilangan keberanian untuk percaya pada hukum, kerusakannya jauh lebih mahal.”

Di bangku terdakwa, Agus menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak peristiwa di jalan itu, ia tidak sanggup menatap Pak Sutrisno.

Beberapa minggu setelah persidangan berakhir, sebuah mobil sederhana berhenti di depan rumah.

Rina turun sambil tersenyum.

“Ayah, keluar sebentar.”

Pak Sutrisno berjalan ke halaman.

Di sana berdiri sebuah sedan biru bekas, model lama, hampir sama dengan mobilnya dulu.

Pak Sutrisno terdiam.

“Andika yang cari,” kata Rina.

Andika muncul dari balik mobil.

“Tidak sama persis. Tapi tahun produksinya dekat.”

Pak Sutrisno berjalan mengelilinginya.

Tangannya menyentuh kap mobil.

Matanya berkaca-kaca.

“Kalian ini…”

Rina tertawa kecil.

“Anggap saja hadiah.”

Pak Sutrisno menggeleng.

“Ayah tidak butuh mobil mahal.”

“Memang bukan mobil mahal.”

Andika menyerahkan kunci.

“Hanya mobil tua untuk orang tua keras kepala yang masih suka pergi sendiri.”

Pak Sutrisno tertawa.

Mereka bertiga berdiri di halaman rumah, di bawah matahari sore yang lembut.

Tidak ada kamera.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada seragam.

Hanya seorang ayah dan dua anaknya.

Pak Sutrisno kemudian melihat plat nomor mobil lamanya yang tergantung di dinding garasi.

Ia tersenyum tipis.

Hari ketika mobil itu dihancurkan pernah terasa seperti salah satu hari terburuk dalam hidupnya.

Namun ternyata, dari serpihan kaca dan logam yang remuk itulah sebuah jaringan besar mulai runtuh.

Bripka Agus mengira ia sedang menghancurkan milik seorang kakek yang tidak berdaya.

Ia tidak pernah menyadari bahwa setiap pukulan tongkatnya justru membawa dirinya dan orang-orang di belakangnya semakin dekat menuju kehancuran mereka sendiri.

Karena kekuasaan mungkin mampu membuat seseorang menakutkan untuk sementara.

Tetapi ketika bukti, keberanian, dan kebenaran bertemu pada saat yang tepat, tidak ada seragam, uang, jabatan, atau ancaman yang cukup kuat untuk menyembunyikan kejahatan selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang